Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 28 (S3)



“Semara … aku ada misi rahasia. Jadi kau cari aja dulu hotel untuk menginap, jangan balik ke rumah. Aku takut nanti ada tetangga yang melihat. Oke ….”


Pesan singat itu aku tuliskan kepada Semara sesaat tangisku berhenti di ujung dagu. Gelapnya ruangan kecil ini hanya terang oleh cahaya ponsel yang menerangi wajah murungku. Tidak sanggip rasanya menyampakkan wajah di hadapan Semara dengan keadaan begini. Malu dari tangis itu tidak mampu aku simpan.


Langkahku tertatih menyelusuri jalanan kampus yang penuh kenangan. Basah dahiku berarah ke danau kampus di mana aku dan David sering menghabiskan waktu di sana. Bercak riaknya seakan masih berbekas tatkala kami sama-sama terjatuh. Davi pada saat itu dengan bodohnya melompat untuk mengambil topi kertas yang secara simbolik pertanda ia sudah jadi awak kapalku. Ponselnya rusak, lalu ia demam karena memikirkannya. Untuk pertama kalinya aku setelah itu memanjat kamarnya dengan diam-diam untuk memberikan ponsel baru.


Seperti hantu yang mengejar, kenangan pun tampak pohon kayu putih belakang secretariat Mapala. Aku dan David sering duduk berdua di atas papan yang berada di pohon tersebut, lalu minum kopi kalengan sembari menghitung warna mobil mahasiswa yang lewat. Lembut terasa kepalanya yang jatuh ke pundakku pada saat itu. Ia pun mulai bercengkerama dengan hal-hal yang membuatnya gundah. Curhat pun terbentang satu sama lain untuk bercerita dari hati ke hati.


Ya benar, aku adalah orang yang jahat. Aku manipulatif memperalat orang lain demi tujuanku sendiri. Aku egois, tidak memikirkan perasaan orang lain. Perasan bukanlah alat permainan yang bisa aku gunakan sesuka hati. David telah menjadi korban. Namun, aku hanya mencoba menyelamatkan diri dan juga keluarga yang sudah hilang arah.


Langkahku berjungkir balik dalam kebingungan yang akan aku tuju. Aku duduk di emperan toko sembari melihat gelandangan yang sedang meminta-minta. Tangisku sudah hilang, tapi sembabnya hati masih bersisa. Gundah yang aku helat tidak hilang, hingga aku memutuskan untuk mengunjungi tempat hiburan di kala sore hari.


Musik jazz lembut dari sebuah bar memanjakan pandangku ke vokalis yang sedang bernyanyi. Aku terlalu mubazir untuk dua sofa yang saling berhadap-hadapan, padahal aku hanya sendirian meminum Jagermeister pesanan. Aku sebenarnya tidak sanggup minum sebotol penuh karena efek alkohol tiga puluh lima persen. Namun, untuk sebentar aku mampu melupakan hal-hal yang membuatku gundah.


Benar, manusia akan terus berlari. Ia tidak pernah nyaman pada suatu tempat, baik itu menyenangkan maupun menyakitkan. Setiap orang pun butuh pelarian kepada hal-hal yang membuatnya lupa akan masa lalu. Aku tidak ubahnya dengan David yang sudah jadi pecandu ganja. Namun, menurutku alkohol lebih tidak berisiko daripada narkoba.


Aku lihat seorang pria mendekat. Sayu mataku setengah memicing ke arahnya. Di hadapanku kini ia duduk sembari menarik botol alkohol milikku.


“Lo mau bungkus gue?” tanyaku padanya. “Gue free malam ini.”


“Lo lagi mabuk, Rei ….”


“Kenapa lo datang?”


Alfian menarik sloki yang sedang aku pegang, lalu menyampakkannya ke lantai. “Kita pulang yuk. Lo kenapa sih bisa di sini? Tiba-tiba aja bilang gue harus ke sini.”


“Lo kan dokter. Gue penasaran apa dokter juga minum alkohol. Ayo dong minum sama gue.” Tanganku memaksa, tetapi ia tetap menyingkirkannya. “Kalau lo ga mau, ya udah pergi sana. Ada banyak pria di sini yang mau duduk sama gue.”


“Lo udah ga beres.” Ia membantuku untuk berdiri. “Sesekali jangan lari ke alkohol!”


“Gue ga mau!”


Alfian memaksaku untuk pulang. Kesadaranku benar-benar hampir mendekati setengah. Melihat tubuhnya saja sudah berbayang dua. Aku tidak mampu melawanan tatkala ia paksa diriku untuk masuk ke dalam mobil. Deru gerak ban mengarah ke sebuah hotel yang sama sekali tidak aku ketahui. Barulah aku ingat jika Semara aku pinta untuk memesan hotel untuk menginap. Seperti wanita malam yang mabuk dibawa ke kamar, aku dirangkul oleh tangan seorang sahabat.  Terdengar suara panik Semara tatkala aku sudah sampai di sana.


“Kamu kenapa Rei?”


Aku tidak menjawab, hanya berbarik di atas ranjang.


“Dia mabuk … gue enggak tahu dia kenapa.”


“David … David sialan! Kenapa lo datang lagi ke gue?!” teriakku tiba-tiba. Namun, aku tidak sanggup untuk menjelaskannya.


“Kalian tadi ketemu David?” tanya Alfian.


“Iya … kami hadir ke perkuliahan, lalu David ada di sana,” jawab Semara.


Aku pun tertidur panjang di dalam mimpi yang campur aduk. Membayangkan mimpi seseorang yang demam, begitulah yang aku tampakkan kali ini. Aku dihempas, ditarik, terancam oleh situasi yang sama sekali tidak aku mengerti. Absurditas berpengaruh pada dua duniaku, nyata maupun khayal.


Menunggu pagi adalah aktivitasku hari ini. Terbangun kesiangan tidak akan ada lagi yang memarahi, begitulah hidup tanpa siapa-siapa, hanya diri sendiri sebagai pengingat. Gerak tangan Semara melepas tidurku di pukul sepuluh pagi. Sungguh panjang aku memejam mata, hingga kepalaku pun menjadi sakit. Ia berkata jika Alfian sudah menunggu di parkiran bawah. Aku diminta untuk segera berkemas-kemas karena hari ini aku akan kembali ke Kota Bengkulu.


Selesai sarapan, kami segera menghampiri Alfian. Aku sebenarnya tidak tahu kapan jam kerjanya, tetapi ia selalu ada ketika aku membutuhkan. Ia mengantarkan kami ke bandara karena dua jam lagi merupakan jadwal penerbangan.


“Di sini aja …” Aku menahan kaki Alfian yang ingin mengikuti kami meninggalkan kawasan parkiran bandara.


“Seperti biasa, lo enggak pernah mau ada yang ngelepas di bandara.”


“Gue bukan cewek di drama film,” balasku sembarri bertegak pinggang.


“Rei … kalau David itu racun buat lo, segeralah lepasin. Itu enggak baik buat kesehatan mental lo. Gue enggak mau baca dua kali surat dioagnosa lo dari temen gue yang psikiater. Oke?”


“Jangan pernah atur hidup gue, Alfian. Urus aja hidup lo sendiri ….”


Ia menghela napas, sepertinya ia sudah tahu mengenai keras kepalaku ini, meskipun aku sangat memahami maksud itu.


“Lo ini!” Ia menjentik dahiku cukup keras. “Beri gue pelukan.”


“Apa? Ngapain?!” protesku.


“Gue enggak bakalan tahu lo ada di mana dan kapan kembali lagi,” ucapnya.


“Baiklah sini ….” Aku memeluknya dengan erat.


Bagaimana pun itug, ia teman satu-satunya yang menjadi tempat untuk diriku mengadu. Telah banyak jasanya selama ini kepadaku, meskipun ia tidak pernah suka dengan semua kegilaan yang aku kerjakan. Dirinya tegas menolak rencanaku untuk berkelana, tetapi entah kenapa ia melunak. Mungkin karena ia paham jika aku tidak akan bisa dihentikan oleh dirinya sendiri.


“Lo juga Semara ….” Alfian memeluk wanita itu. “Jaga baik-baik Reira. Dia memang merepotkan.”


“Iya, akan aku jaga,” balas Semara.


Aku menepuk tangan Alfian. “Jangan lama-lama!”


“Iya-iya!” Alfian dengan segera melepaskan pelukan itu. “Jika lo ketemu dengan Kakek Kumbang, pukul kepalanya.”.


“Iya, gue selalu ingat janji itu,” pungkasku.


Alfian selalu berpesan kepadaku jika aku harus memukul kepala Kakek Kumbang. Alfian menganggap jik kakek tua itu turut memberikan kerepotan di dalam hidupnya.


Aku dan Semara pun pergi. Tidak sabar rasanya ingin bertemu dengan dua cecunguk itu lagi. Semoga mereka makan dengan baik selama aku tidak ada.


***