
EPISODE 116 (S2)
Kesempatan ini tidak mungkin aku sia-siakan. Jarang sekali Pak Bernardo ingin berkunjung ke suatu tempat karena kesibukannya dalam bekerja, apalagi ke tempat seperti ini. Lebih baik dirinya pergi ke tempat yang lebih mewah. Untung saja Reira berhasil membujuknya untuk datang agar aku bisa berbicara dengannya secara langsung.
Namun, hatiku berdebar-debar membayangkan bagaimana wajah Pak Bernardo. Aku bukan seperti berbicara dengan penjaga pos ronda yang setiap hari aku temui, melainkan orang yang cukup penting di dalam sistem demokrasi negeri ini.
Tak tahu hal apa yang aku bicarakan, kecuali mengatakan bahwasanya aku adalah pacar dari Reira sendiri. Aku harap percakapan kami nanti seperti air sungai yang mengalir tanpa hambatan, berharap ia menerima segala kekuranganku sebagai orang biasa. Ya benar, bagaikan langit dan bumi diriku dan Reira, mesikpun Reira selalu berprinsip untuk hidup terus membumi. Aku pernah melarat, sedangkan dirinya tak pernah memikirkan keesokan hari makan akan dicari di mana. Aku coba untuk terus menenangkan diri agar nanti tidak grogi.
Berkali-kali aku tanyakan kepada Reira bagaimana penampilanku hari ini, apakah sudah rapi atau tidak. Aku tak memiliki satu pun pengalaman bertemu orangtua kekasih, kecuali Bu Fany sendiri yang tak pernah meminta lebih. Sementara yang ini, aku harus berusaha untuk tampil maksimal karena citra pertama sangatlah penting untuk keberlangsungan hubungan. Namun, Reira mengatakan tidak perlu untuk bersikap berlebih kepada Pak Bernardo. Ia menekankan padaku bahwasanya beliau sama saja seperti kita, makan nasi dan ke kamar mandi apabila sudah terdesak buang air. Akalku saja yang tak sampai ke sana.
Pengunjung datang satu per satu setelah Magrib usai. Sibuklah aku dan Reira menyiapkan segala pesanan yang diminta. Aku memegang di bagian makanan, sementara Reira yang menyiapkan minuman.
Dirinya turut menjadi kasir sementara. Cafeku sudah memiliki pengunjung tetap, sehingga mereka bertanya-tanya tatkala ada orang baru di sini atau kenapa Mawar tak datang setelah dua hari kemarin. Aku pun menjawab yang sebenarnya bahwasanya aku dan Mawar sedang berpergian kemarin, Reiralah yang menggantikan posisi kami di sini.
Aku hisap rokokku perlahan di container dan membuang asapnya di jendela samping. Reira tengah terduduk di depan kasir sembari bermain handphone dan mendengarkan kebisingan cafe di pukul setengah sembilan malam. Mataku berdiri ketika melihat mobil mewah mengkilap baru saja berbelok ke sini. Mobil itu terparkir paling depan, berjejer dengan mobil yang lebih sederhana. Aku pun menyahut Reira, menanyakan apakah itu mobil papanya tersebut.
“Itu Papa,” ucap Reira.
Jawaban itu membuatku berdiri. Terlihat di sana seorang pria tinggi berisi keluar dari pintu belakang, dibukakan pintunya oleh supir pribadi. Paras wajah pria tinggi itu sudah jelas bahwasnaya itu merupakan Bapak Bernardo. Beliau memakai kemeja lengan panjan dan celana bahan kain, rapi dengan rambut tersisir ke belakang. Kacamatanya mengkilap tatkala ia menoleh melihat papan nama cafe milikku. Seperti sedang kebingungan, ia melihat ke kiri dan ke kanan. Tatkala itu pula Reira bergegas untuk menjemputnya di luar.
Terjadi perbincangan singkat di sana antara Reira dan orangtua lelakinya. Tangan Reira melebar untuk menunjuk cafe kebangganku ini, aku harap ia melebih-lebihkan sesuatu di kalimatnya agar terlihat keren. Barulah Reira menuntun papanya untuk masuk melalui gerbang cowboy dan duduk di salah satu meja bundar bersama sang supir. Tak sekali pun beliau menatapku yang tengah mati kutu di sini. Seakan sidang skripsi, aku tegang bagaikan dicecar pertanyaan dosen yang membingungkan.
“Mau buat kopi untuknya?” tanya Reira. Sejenak wajahnya tanpa senyuman, mendekat kepadaku yang diam. Ia sentuh pipiku dengan lembut. “Sudahlah, biasa aja. Dia tidak makan orang.”
“Bagaimana kalau gue enggak seperti ekspetasi papa lo?” tanyaku balik.
Ia menggeleng. “Persetan dengan ekspetasi. Gue milih lo tanpa ekspetasi. Jika pakai ekspetasi, bukan lo yang gue pacari. Masih banyak di luar sana yang lebih tampan dan kaya.”
“Itu sangat menusuk,” balasku datar.
Ia menepuk dadaku. “Ayo, coba berdiri tegap ... hirup napas panjang, keluarkan dari bela ..eh keluarkan pelan. Anak Psikologi kok enggak paham ngatur emosi.”
“Kayanya, biar lo aja deh yang buat kopi.”
“Kenapa enggak lo aja? Kan bagus?” Reira tersenyum.
“Apa lo enggak curiga kalau gue bakalan masukin bubuk siandia?” candaku.
Reira tertawa pelan. “Hahah ... emangnya lo tokoh di sinetron yang mau ngambil harta mertua?”
“Hahah ... gue bercanda. Lo aja deh yang buat kopinya. Kalau gue, nanti takutnya kurang sempurna.”
Reira mengangguk. Ia tepuk bokongku agar segera menghindar. “Sediakan rokok beratmu. Dia perokok, mereknya sama.”
“Selera yang bagus.”
Pak Bernardo masih duduk dengan nyaman di sana. Sebatang rokok dihelat bersama-sama supirnya. Sementara aku dan Reira masih menyelesaikan pesanan pelangan yang lain. Rasa berdegup di hati masih aku rasakan. Terpikirkan apa yang aku bicarakan tatkala memasak pesanan. Dinginnya sikap Pak Bernardo di sana semakin membuatku bergetar. Ia hanya menghisap tembakau dalam satu tatap lurus, tidak ingin menoleh selain ke sana.
Ketukan di punda membuatku menoleh. Reira sudah selesai menyeduh espresso pesanan papanya tersebut.
“Antar, biar gue selesaikan makanan.”
“Lo bisa?” tanyaku.
“Serahkan aja sama gue, jangan khawatir.” Ia tersenyum ringan.
Aku bawa pesanan tersebut ke meja Pak Bernardo. Ia masih belum menoleh tatkala aku antar ke sana, jelas-jelas supirnya memberikan sinyal bahwa pesanan sudah datang. Barulah aku sapa untuk pertama kali dalam hidupku, sang calon mertu yang aku usahakan untuk menjadi nyata. Tak ada senyum yang terlontar, matanya lurus melihat kopi sembari berterima kasih.
“Pesanannya, Pak,” ucapku.
Bukan aku yang mengambil, melainkan supirnya tersebut. Semakin ciut diriku setelah menyadari sebegitu spesial perlakuan padanya. Berbeda jauh sekali dengan Bu Fany, Kak Reina, apalagi Reira. Kesan mewah tak bisa aku hindari dari tatap mata. Mengkilap jam tangan mahal serta handphone generasi terbaru yang digandrungi oleh impian para anak muda.
“Kau David?” tanya Pak Bernardo.
Pupilku melebar tatkala ia menyebut nama dengan jelas. Ia sudah pasti tahu bahwasanya Reira meminta ke sini agar ia bisa berbicara padaku empat mata.
“Iya, Pak. Saya David,” balasku dengan penuh kegugupan.
“Benar kau pacarnya Reira?” tanya Pak Bernardo sekali lagi.
Aku hanya mengangguk pelan tanpa menjawab. Ditarik senyum sedikit yang aku harap bisa mencairkan suasana.
“Baiklah, duduklah ....” Ia menjulurkan tangan sebagai isyarat agar aku bisa duduk di hadapannya. Kemudian, ia menoleh kepada supirnya tersebut. “Pak, biarkan kami berdua dulu.”
Supir Pak Bernardo mengiyakan permintaan tersebut. Ia mengalah untuk duduk mejauh, ke bagian belakang yang tanpa kanopi.
Duduklah aku di hadapannya dengan penuh rasa tegang. Kacau pikiranku melihat mata Pak Bernardo yang begitu serius. Kumis tipis sedikit uban itu tak selebat waktu pertama aku melihatnya di kantor polisi, tetapi masih memberikan kesan sangat kepadanya.
“Merokok?” tawar Pak Bernardo. Ia menggeser bungkus rokokya ke hadapanku. “Jangan sungkan, biasa aja. Kau terlihat tegang.”
“Saya baru pertama kali ketemu Bapak empat mata seperti ini. Jadi, sedikit deg-degan. Haha ....” Aku sedikit tertawa di akhir, walaupun terdengar hambar.
“Saya? Terlalu formal. Aku ...,” pintanya.
Pintanya agar diriku menyebut diri sendiri dengan kata aku, tak bisa aku sanggupi. Aku rasa kata aku terlalu tidak etis disebutkan kepada orang spesial sepertinya.
“Iya, Pak. Makasih banget udah datang ke cafe-nya David.” Teringat olehku bahwa aku sama sekali belum berkenalan secara resmi. Tapi, ia pasti sudah tahu jika diriku bernama David. Tidak aku pedulikan, aneh sekali rasanya jika salam perkenalan sekarang. Seharusnya tadi di awal.
“Wah, aku suka dengan anak muda yang kreatif seperti ini.” Ia mengangguk sembari melihat ke seluruh penjuru cafe.
“Reira banyak jasa untuk berdirinya cafe ini,” balasku.
“Tentu ... dia tahu banyak karena mamanya pengusaha cafe yang cukup terkenal.”
“Oh, iya ... David selalu berdoa untuk kesehatan Bu Fany. Dia orang yang baik banget.”
Ia menatap mataku kemudian. “Wah, terima kasih. Jadi, kamu benar pacarnya Reira?”
Tentu saja saja, tidak perlu dipertanyakan kembali. Pak Bernardo kelihatan sekali berbasa-basi.
“Iya, Pak. David pacarnya Reira. Kesempatan ini tepat banget buat kita kenalan.”
“Kau cinta sama Reira?” tanya Pak Bernardo.
Pertanyaan itu membuatku tersudut.
Bukannya aku tak akan menjawab itu, tapi terlalu sulit untuk menggambarkan kata cintaku padanya. Jika aku bisa berpuisi di hadapan Pak Bernardo, sudah pasti aku akan bersyair sekeras-kerasnya. Tidak bisa pula aku merangkai kata puitis untuk disampaikan padanya, pasti akan terdengar aneh sekali.
“David cinta sama dia. Perkenalan kami ngebuat David ngerasain itu. Dia orang yang unik, beda sama cewek lain. Sederhana banget, walaupun terlahir di keluarga kaya raya.”
Ia tersenyum mendengar kalimatku. Angin segar aku rasakan dari balik pancaran cahaya wajahnya yang aku tafsirkan sedang riang. Hatiku berbunga tatkala Pak Bernardo merespon seperti itu.
“Ya, dia memang anak yang unik. Ambisius seperti mamanya sendiri. Saking uniknya, dia membocorkan ban mobil dinas Bapak. Hahaha ....”
“Hahah … ada banyak hal gila dari Reira. Terkadang kami pusing sendiri, tapi itu seru,” balasku.
Telunjuknya memetik ujung tembakau ke asbak. “Jarang sekali Reira cerita tentang kisah asmaranya.”
“Oh, ya? Dia memang begitu, Pak?” tanyaku balik.
“Iya, termasuk dirimu.”
“Maksudnya?” Aku bingung dengan jawaban itu.
“Sebagai pacar, apa kau enggak pernah tahu kisah asmara Reira. Jika aku jadi kau, akan aku tanyakan waktu pendekatan.”
Benar, aku sama sekali belum tahu bagaimana kisah asmara Reira sebelum dirinya bersamaku. Namun, aku tidak pernah peduli apakah ia mempunyai segudang mantan atau tidak. Hal penting bagiku ialah dirinya yang sekarang. Tak pernah pula kau tanyakan mengenai itu kepada Reira. Dasarnya, bukan diriku yang mendekati, melainkan Reira sendiri. Hal tersebut menjadi pertanda tidak ada siapa-siapa yang tengah dekat dengannya. Tidak mungkin seorang Reira memacari seseorang, sementara dirinya sedang memiliki kekasih.
“Kami enggak pernah bicara tentang hal itu.”
“Kau anak yang baik, kata Reira. Aku harap begitu juga. Jadi, coba ceritakan bagaimana keseharianmu, apa yang kau kerjakan, bagaimana keluargamu. Aku harus tahu itu.”
Pertanyaannya bagaikan sebuah interview kerja di mana seseorang pewawancara harus tahu latar belakang kliennya. Aku dengan senang hati dan jujur apa adanya ketika menceritakan diriku. Senyumnya melingkar ketika aku memberitahukan minatku di bidang sastra. Dirinya kagum tatkala aku sebut bahwasa pertemuan pertama aku dan Reira sangat tidak biasa. Aku jujur mengenai latar belakang keluargaku yang sebatang kara, tak lagi berorangtua. Selama ini, kami benar-benar berjuang sendiri tanpa siapa-siapa untuk bertahan hidup.
“Kalian sangat mandiri. Tuhan sudah baik sama kalian. Aku teringat waktu ayahku meningeal sewaktu masih Sekolah Dasar. Kami sangat terkatung-katung karena hal itu.”
“Ya, begitulah, Pak. Bersyukur kami akhir-akhir ini bisa membaik secara ekonomi. Abangnya David lumayan lancer usaha bengkelnya dan café ini bisa bikin beban kami berkurang,” balasku.
Ia melihat jam tangannya. Puntung rokok pun ditekan pada asbak. Tidak lama kemudian, Pak bernardo memberikan sejumlah uang.
“Ini buat bayar kopi, ambil kembaliannya.”
Sangat besar pecahan yang ia berikan. Uang tersebut masih belum aku sentuh.
Kemudian, tangannya mengeluarkan secarik kartu nama padaku. Dirinya berdiri sembari memperbaiki kerah baju. Senyumnya yang melebar sangat memuatku senang, Perkenalan ini berjalan lancar, hangat, tak seperti yang aku kira sebelumnya.
“Itu kartu namaku. Sebut saja jumlah uang yang kau kau butuhkan agar menghindar dari Reira.”
Aku terdiam mendengar kalimat itu. Belum ada kata yang sangat menusuk dari ini, kecuali terlontar dari mulut Pak Bernardo. Bergelimang air mata di hatiku seketika. Seluruh senyum yang ia berikan adalah palsu. Sangat palsu tanpa arti bagiku.
Ibu, ini sangat sakit ….
Baru kali ini aku bercuhat pada yang tak ada.
***