
Tak seorang pun yang bisa menghindari masa lalu karena setiap ingatan berawal dari sana. Masa lalu meskipun sudah pernah terungkap, tetapi tetap saja menjadi misteri karena ia menjadi hantu ketika di momen-momen tertentu. Larut di dalam rindu, benci, atau pun sekelabut rindu bercampur benci terkadang membuat fokusku hilang. David merupakan subjek yang sangat menguras emosional dan moral. Berkali-kali aku mengatakan jika ia merupakan pria lemah, tetapi cukup kuat untuk membuatku terpengaruhi.
Tidak ada pria seumuranku yang aku temukan memiliki mental selemah dirinya. Salah satu faktor yang membuat David seperti itu ialah dikarenakan ia dibesarkan oleh keadaan sulit, sementara ia tidak terlalu bisa mengikutinya. Ia terlalu melankolis, merasa paling tersakiti, dan lemah. Aku tahu itu dari setiap puisi-puisnya yang hanya bersajak patah hati. Setelah itu, ia mencari inang untuk berdiri dan tanpa sengaja memilih diriku. Aku harap Mawar mampu untuk membimbingnya jauh lebih baik.
Apakah aku memikirkan orang yang memikirkanku bali? Meskipun aku tidak peduli dengan peraaan orang lain kepadaku, tetapi aku suka diperhatikan. David orang yang perhatian dan manja. Rindu yang aku kenang tatkala ia mengeluh sakit karena ia sering demam. Sudah aku bilang seringlah keluar rumah untuk terkena cahaya matahari. Cahaya matahari bagus untuk membentuk daya tahan tubuh, aku rasa. Tapi ia selalu saja mengurung diri di kamar jika tidak aku panjat balkon kamarnya agar ia keluar rumah. Pantas saja Dika selalu mengejeknya karena punya tubuh yang kecil, berbeda dengan kedua saudaranya yang tinggi besar dan sangar.
Kami memasuki mall yang ditunjukkan oleh Nisa. Meskipun tidak sebesar pusat perbelanjaan di Ibu Kota, aku cukup senang melihat orang banyak setelah selama ini hanya melihat kerumunan ikan yang sedang makan ke permukaan laut. Razel dan Borneo seperti anak asuh konyol yang sedang berjalan memerhatikan pernak-pernik di dalam mall. Mreka mengomentari segala sesuatu dengan candaan. Sementara aku dan Nisa tertawa melihat tingkah mereka yang sedikit udik. Maklum, satu orang merupakan anak kampung nelayan, sedangkan yang satu lagi penghuni van di dalam hutan.
Restoran Jepang menjadi pilihan pertama kami ialah restoran Jepang sebagaimana janjiku tadi. Kami memesan berbagai makanan yang aku rasa lezat karena pernah mencobanya. Sementara aku dan Nisa dengan lancar memegang sumpit, aku menyarankan Razel dan Borneo untuk tetap menggenggam sendok mereka. Tidak cukup waktu untuk mengajarkan mereka makan dengan sumpit.
“Jadi Nisa, kamu kuliah?” tanyaku.
“Iya, aku kuliah Kak di Jurusan Satra Indonesia,” balasnya padaku.
“Oh gitu, Razel dan Borneo juga kuliah, Aku dosennya, hehehe ….,” candaku walaupun terdengar garing. “Kulit kamu cantik banget. Pasti banyak cowok yang ngedeketin.”
“Ah enggak juga, mereka takut ketemu Bapak paling hahah.” Nisa tertawa.
“Masa iya? Razel lancar-lancar aja tuh,” jawabku.
Borneo menyenggol lengan Razel. Sementara Razel hanya diam tanpa merespon sedikit pun. Ada kuah dari ramen yang menetes dari ujung bibir setelah aku mengatakan hal tersebut.
“Aku ingat Razel kok waktu aku berkunjung ke Jakarta,” ucap Nisa.
“Lah, masa kau enggak ingat? Tega sekali kau Razel.” Borneo mengompori.
“Sumpah gue enggak ingat loh. Aku ingatnya cuma Pak Salman\,” jawab Razel dengan panik. Kedua jarinya membentuk huruf `V`.
“Ah elo Razel. Mudah banget ngelupain orang lain,” pungkasku.
“Pembicaraan macam apa ini! Lanjut ke topik tadi, kita bicarin kuliah … aku enggak kuliah, udah!”
“Malah panik,” balas Borneo.
“Jangan mau sama Razel, dia itu pelaut. Pelaut jarang pulang. Pak Salman aja sampai dilarang istri, ya kan?” Aku memancing Borneo yang juga merupakan seorang pelaut.
“Iya benar. Aku setuju,” seru Borneo.
Wajah Borneo tidak sanggup melihat Nisa yang tepat berada di hadapannya. Malang sekali pemuda itu karena sudah kami kerjai. Aku berharap ia berkata sepatah kata untuk Nisa, tetapi dari tadi ia tidak kunjung mengucapkan kalimat. Aku heran kenapa dia tiba-tiba bisu, biasanya dia paling besar suaranya padaku.
Kami berakhir di coffee shop Starbuck yang harganya bisa membuat anak kos tidak makan selama seminggu. Hanya Aku dan Borneo yang mengopi. Nisa dan Razel pergi ke hypermart di plaza ini untuk membeli keperluan keluarga Nisa dan dua cecunguk. Aku bukan penikmat kopi sejati, tetapi nongkrong di tempat itu memang nikmat, apalagi di tengah kumpulan muda-mudi berpamer ponsel logo potongan apel, lalu mengupload kegiatan di laman media sosial mereka. Aku ingin sekali melakukan hal itu dengan teman-temanku saat ini, tetapi mustahil sekali aku melakukan itu di masa pengasingan ini.
“Kau biarin si Razel berdua dengan Nisa heheh ….” Borneo tertawa kecil.
“Ah, biar dia kenal sama cewek sesekali. Aku cuma tahu kalau teman ceweknya itu ya cuma aku sendiri.”
Tawanya pada setelah aku mengucapkan kata-kata itu.
“Kau punya pacar?”
Pertanyaan itu seakan tombak romawi yang menghadang kuda-kuda pasukan padang pasir. Aku terjerembab di dalam imajiku sendiri, berkutat kepada kenangan-kenangan masa lalu.
“Untuk apa kau tahu? Ada pentingnya?”
“Hmm … aku beritahu semuanya tentang aku. Aku harap kau juga,” balas Borneo.
Aku menghela napas, lalu menyeruput mocachino dari ujung cangkir.
“Aku enggak punya pacar. Semuanya udah aku tinggalin di kota. Bahkan celana dalamku juga. Aku beli baru setelah itu di pasar dekat rumah Razel. Kau bayangkan aja itu.”
“Plis jangan membicarkan ****** ***** di sini ….” Borneo melihat ke kiri dan kanan karena takut ada orang lain yang mendengar.
“Ada hal yang mengganjal?” tanyaku.
“Aku cuma mendengar percakapan kau dengan Razel. Bukannya aku menguping, cuma kau aja yang bicaranya kaya sedang orasi. Jadi, aku dengar nama David berkali-kali.”
“Hmm … dia awak kapalku sebelumnya. Anaknya penurut kaya anjing peliharan, ya aku suka bilang dia itu anjing, dalam artian kasar.” Aku mengehela napas panjang. “Dia seorang penulis. Kebiasaannya di kampus cuma bikin puisi yang enggak ada satu pun yang membacanya, kecuali aku untuk menghargai. Enggak ganteng sih, wajahnya pucat, badannya kecil dan mudah dihembus angin laut. Hmm …. Dia itu manja … suka mengadu ini itu. Apalagi yaa … oh iya, dia pecandu ganja.”
“Wow, kau panjang sekali menjelaskannya …..”
Tanpa aku duga, air mataku menetes tatkala mendengar Borneo mengucapkan itu. Aku menunduk dan menangis terisak-isak. Seketika Borneo menyentuh kepalaku untuk tidak menangis di sini. Tentu saja ia bertanya-tanya kenapa aku menjadikan meja kami pusat perhatian.
“Reira?” Borneo membantuku untuk berdiri sembari membawa kopi pesanan Razel. “Ayo kita keluar ….”
“Enggak di sini aja. Biarkan orang lain melihat gue nangis.”
***