
EPISODE 59 (S2)
“Lo itu orang yang baik,” ucap Mawar ketika kami pulang dari panti asuhan.
Pujiannya melukiskan sebuah senyum di garis bibirku. Ada garis khayal yang aku lihat samar-samar dari sorot matanya yang sayu, sedikit gerakan memerengkan wajah dari Mawar, aku tafsirkan bahwasanya ia senang aku bawa untuk berbuat kebaikan hari ini. Aku ingat sekali bagaimana sentuh tangannya yang lembut mengelus tubuh belakangku, menenangkan aku agar terus menangis. Bagaimana bisa ia menenangkanku untuk terus menangis? Karena aku paham, sebagai anak paling jenius di jurusanku, ia tahu bahwasanya emosi itu harus diungkapkan, bahkan ketika menangis sekeras-kerasnya.
Ia berterima kasih padaku karena telah mengajaknya pergi. Tidak lupa pula tersipu malu dirinya ketika Dika tersenyum dipaksakan untuk manis―senyumnya tidak ada manis-manisnya sedikit pun―karena Mawar sendiri tidaklah terlalu bisa terbuka dengan orang baru. Sama halnya ketika kami pertama kali kenal, Mawar selalu diam tanpa kata. Hanya bersuara ketika di hal yang penting saja. Anak itu habis digoda oleh para pegawai Dika, bahkan Dika pun tak luput menanyakan kehidupan pribadinya.
“Ah, kalian ini!” Aku menarik tangan Mawar ke belakang.”Dia udah mau pulang, masih aja digoda. Lo mau disambar sama Reira? Hahaha.”
“Yaelah ... segitu protektifnya,” balas Dika.
Dika menaikkan alisnya pada Mawar. “Kalau ada apa-apa sama motornya, main aja ke bengkel Abang. Ini serius, enggak pake modus. Soalnya semua temen David gratis bawa motor ke sini. Masalahnya, temennya itu bermobil semua. Apalagi Reira, Hahaha ....”
“Iya, Bang. Masalahnya gue pakai sepeda,” balas Mawar.
“Tenang, kami apa aja bisa, selagi rodanya kurang dari empat. Becak pun bisa.” Dika menepuk dada untuk membanggakan diri. “Anak STM permesinan ini. Tidak ada barang yang tak bisa diperbaiki. Akhlak David aja yang enggak bisa diperbaiki.”
“Ih ... bisa-bisanya, ya?” tanyaku padanya dengan nada bercanda.
“Lo enggak ada diapa-apain sama David, kan? Bentuknya aja pendiam, sebenarnya buaya dia itu. Hahah ....”
Aku menggeleng pada Mawar. “Jangan percaya omongan anak satu ini. Udah sengklek otaknya gara bau oli.”
“Hahaha ... kalian kelihatanya akrab banget.”
Aku saling bertatap dengan Dika, lalu tertawa sejadi-jadinya. Bahkan, kami malah sering berseteru daripada berteman. Setiap pagi pasti saja ada masalah, contohnya berebut kamar mandi.
“Dika ini sama gue, udah sering berantem dari kecil. Enggak ada akrab-akrabnya,” balas Dika.
“Bener.” Aku mengangguk.
Kami sama-sama tahu. Sebenarnya ikatan emosional masing-masing dari kami sangatlah kuat. Hanya saja, tidak ada satu pun mungkin saudara sesama laki-laki yang secara frontal mengungkap kasih sayang. Bahkan, akan terasa aneh ketika mengatakan bahwasa sangat menyayangi saudaranya tersebut.
Mawar tampaknya tak jadi-jadi pulang. Ia malah sibuk diajak bicara terus menerus oleh Dika yang hobinya memang berbual. Padahal, sudah sedari tadi Mawar minta izin pamit, namun tak kunjung beranjak dari depan teras. Barulah ia benar-benar pergi ketika bunyi mengaji dari masjid terdekat didengar dengan jelas. Nyamuk-nyamuk pun sudah bertebaran di mana-mana hingga wajah Mawar terdapat bentol hasil gigitannya.
“Selesai Isya, lo ke sini. Kita bakar ayam.”
Mawar memerengkan wajahnya. “Bakar ayam?”
“Gue diam-diam udah nyiapin dari pagi.” Aku memberi jempolku. “Makanya gue pesen bakpao yang banyak. Bakalan ada Fasha, kok. Dia setuju kalau pergi dan udah dapet izin dari suaminya.”
Ia diam sejenak tanpa ekspresi. Hanya gerakan dari alisnya yang mengungkapkan bahwa Mawar setuju. Lalu, ia mengangguk kecil tanpa menjawab sepatah kata pun.
Aku ingin rasa syukur ini masih berlanjut sampai malam. Maka, tanpa sepengetahuan mereka, aku menyiapkan ayam untuk dibakar nanti. Fashalah yang aku hubungi terlebih dahulu. Ia setuju untuk membawa jagung yang akan ia beli dari salah satu lapak sayur dekat rumahnya. Aku kira, ia tidak ingin pergi karena sudah punya suami. Ternyata, ia malah memaksaku untuk mengajak suaminya sekalian. Aku tidak mempermasalahkan jika suaminya ikut. Masa lalu biarlah berlalu, maka tulislah kembali lembaran baru. Tidak ada apa-apa lagi di antara aku dan Fasha, atau bahkan perseteruanku bersama Bagas.
Ia sekarang suami dari sahabat baikku.
Sudah pernah aku bilang sebelumnya, masa lalu itu tidak akan bisa didamaikan. Masa lalu hanya bisa diatasi dengan rasa rela tanpa perdamaian. Tentu saja aku masih menyimpan kesal dengan kesalahan Bagas yang telah ia lakukan kepada Fasha. Aku tidak akan pernah bisa berdamai dengan hal itu, ia akan selalu teringat di dalam lembah hati terdalam karena pernah mengukir sebegitu rapih dan sangat menyentuh inti kecemasan. Namun, hanya rasa kerelaan itu yang bisa meredam semua kekesalan, hingga aku hanya bisa mengucap kata memaafkan.
Candra sudah aku beritahu bahwasanya aku ingin mengadakan pesta kecil-kecilan di depan bakaran ayam. Ia semakin semangat karena aku beritahu bahwasanya tersedia banyak bakpao buatan Mawar. Ia tak sempat memakan bakpao tersebut ketika di Manggar, maka dari itu malam ini menjadi kesempatan baginya untuk melahap seluruh bakpao Mawar, itu pun kalau ia bisa. Bang Ali menyambutnya dengan senang hati pula, walaupun ia harus menunggu jam kerja menjaga sebuah konter handphone. Ia berkata bahwasanya ia akan mengajak Redi, anak SMA petualang yang ikut bersama kami ketika mendaki Gunung Bromo sewaktu itu. Aku baru sadar bahwasanya mereka sangat dekat. Menurut Bang Ali, anak itu sering menginap di kosannya.
Hanya satu yang aku sayangkan, Reira tidak ada di sini untuk menikmati momen ini. Padahal jika ia datang, sudah pasti suasana akan semakin meriah. Entah kemampuan apa yang ia miliki sehingga bisa menciptakan suasana yang gembira. Aura positif dari Reira sangat berpengaruh untuk menciptakan suasana tersebut. Apalah daya jika sampai saat ini, belum ada titik terang jika ia akan kembali pulang. Aku cemas ia tidak akan pulang karena seminggu lagi jadwal perkuliahan akan dimulai. Memang, anak cerdas itu tidak ada mengikuti mata kuliah yang mengulang. Hanya saja, ia pasti ada jadwal bimbingan skripsi yang sedang ia selesaikan.
Tidak ada malam yang berarti tanpa cemerlang rembulan yang bergelantung di langit. Aku menatapnya di samping rumah, di sepetah halaman rumput kecil yang dijadikan tempat membakar ayam. Seluruh peralatan sudah aku persiapkan, tinggal membakarnya saja. Masih dengan pemikiran gilaku, aku kepikiran mengenai material yang membentuk sebuah bulan. Bulan itu masih terbuat dari keju kuning yang bisa di makan secara cuma-cuma apabila berhasil ke sana, pikirku begitu.
Sejenak, aku kepikiran mengenai nasib Dika nantinya. Ia sudah dewasa dan sudah waktunya untuk menikah. Aku rasa ia sedang kasmaran sekali dengan anak gadis Pak RT tersebut, sang primadona komplek yang sering menjaga kedai harian di rumahnya. Tentu saja Dika akan meninggalkanku sewaktu-waktu apabila ia telah menemukan pasangan hidup. Dahiku berkerut ketika membayangkan aku kembali sendiri.
Entahlah ... aku tidak tahu jika Dika akan tetap di rumah besar ini ketika sudah memiliki istri. Ada kemungkinan ia akan mencari suasana baru dengan keluarga kecilnya itu, lalu menyewa ruko kecil sebagai tempat usaha bengkelnya yang baru. Apabila ia masih menetap di sini, apakah pasangan hidupnya menerimaku sebagaimana Dika yang memahamiku? Aku belum yakin akan hal itu. Aku pun juga bukan orang yang rapi, istrinya pasti akan mengomel diam-diam ketika melihat asbak yang penuh puntung rokok di ruang tengah.
Selain itu, siapakah keluarga kami yang akan datang di pesta pernikahan anak itu? Kami sama sekali hilang kontak dengan keluarga Ayah semenjak Ibu tiada. Dika masih bisa menghubungi mereka di kala itu untuk mengabari jika Ibu sudah meninggal. Namun, selang beberapa bulan kemudian ketika Dika menghubungi karena kami benar-benar di bawah, tidak ada satu pun kontak yang bisa dihubungi. Paman yang masih satu kota dengan kami pun sudah berpindah kediaman.
Itulah, kami berdua benar-benar sendiri tanpa sanak saudara. Selama ini, hanya teman-temanlah yang kami anggap saudara sendiri, tanpa terkecuali.
Terdengar suara langkah seseorang yang berjalan di teras. Ia memanggil namaku dan mengetuk pintu. Dari suaranya sudah bisa aku tebak bahwasanya wanita itu ialah Mawar. Mawarlah orang pertama yang ada di sini.
“Gue di samping ....” Aku mematikan rokokku di atas rumput.
Kemudian, Mawar melangkah ke samping rumah dan aku dapati ia sedang menenteng satu plastik besar minimarket. Dari guncangan plastik tersebut, terdengar renyahnya makanan ringan.
“Wah, baru gue yang datang?” tanya Mawar.
Aku mengangguk. “Iya, baru lo ... paling bentar lagi bakalan datang. Ngomong-ngomong, lo bawa apa?"
Ia duduk di sampingku, tepat di sebuah parit kecil selebar telapak tangan tanpa air, kami duduk dengan memanjangkan kaki ke arah rumput. Ia letakkan plastik tersebut di antara kami.
“Ada kripik, minuman bersoda, lalu sirup.”
“Aduh, repot-repot banget ... padahal gue yang punya pesta,” balasku.
Ia tersenyum. “Gue tahu laki-laki itu selalu enggak punya persiapan matang sebelum mengadakan acara. Apa adanya, yang penting bisa makan. Makanya, gue bawa ini.”
“Lo cukup paham laki-laki.” Aku menaikkan alisku.
“Lo yang kurang paham tentang wanita,” balasnya tidak ingin kalah.
“Aku paham wanita, wanita itu layaknya sebongkah rembulan terang yang berpijar di pertengahan malam, lalu menanti pagi yang terlalu panjang untuk menyambut mentari yang gagah berani.”
“Hahaha ... baru kali ini gue berteman dengan seorang pria yang secara frontal berpuisi seperti ini. Ada berapa wanita yang lo gombali dengan puisi lo?” tanya Mawar.
Aku menggeleng. “Gue berpuisi enggak ada maksud buat menggombali. Gue bukan Dilan kepada Milea.”
Mawar menghela napas. Pandangannya jauh jatuh tenggelam ke langit gelap. “Pria itu bagaikan kunang-kunang yang menitik di kegelapan, berharap dicari dengan sentuhan, lalu menghilang dengan meninggalkan harapan.”
Aku merasa tidak percaya ketika Mawar mampu merangkai kata seperti itu. Ia membuatku terbungkam oleh kata-kata bermakna tersebut, yang mengkritik para pria yang hanya bisa meninggalkan harapan-harapan. Pada akhirnya, semua harapan itu digantung sejauh jarak realita yang buta.
“Lo pandai juga merangkai kata,” pujiku. Ia tersenyum mendengarnya. “Dari mana belajar?”
“Gue ini kutu buku, baca buku apa saja, termasuk sastra.”
“Lo berteman dengan orang yang tepat kali ini.” Aku diam sejenak. Rangkaian kalimat dari Mawar seakan menghentakku untuk mengalahkanya. Mana bisa seorang penyair dikalahkan oleh seseorang yang hanya membaca buku sasta. “Cinta tidak membutuhkan jarak karena cinta bukan dihubungi oleh sebuah jalan yang membentang di antara hati. Hanya perasaan yang terlalu lemah untuk menghadapi waktu, hingga dirimu hancur berkabung rindu.”
“Wow ... lo curhat?” Ia memandangku sinis.
“Tidak ada kata yang bisa menggambarkan rindu kecuali bayang ingatanku mengenai dirimu yang masih kusimpan semenjak titik terakhir sorot mata kita bertemu. Aku tak butuh sentuhan tanganmu karena aku hanya butuh suara, suara manja memadamkan api kecil yang kusebut sebagai rindu.”
“Oke, kita ingin beradu puisi?” Aku membakar sebatang tembakau karena perbincangan ini terasa begitu seru. “Sungguh, Tuhan mengapa kau siksa sukmaku dengan bunga-bunga rindu yang semakin besar di setiap ujung waktu. Kirimkan hujan-Mu lebih deras, biarkan ia turut mati juga di dalam lubuk rindu yang menusuknya.”
“Hahahah, orang-orang berbalas pantun, kita berbalas puisi? Hahahah ....” Mawar tertawa puas dengan pertandingan merangkai kata ini.
“Puisi satu hal yang menarik untuk dipertandingkan,” balasku.
“Biarlah rindu ini menusukku, jangan biarkan sirup ini meronta-ronta untuk dikeluarkan. Seperti kata-kata cinta yang terpendam di dalam lubuk hati paling dalam, ketika cinta bertepuk sebelah tangan terus dipendam.”
Aku kembali menggeleng mengagumi kalimatnya tersebut. Segera aku sentuh botol sirup yang ada di dalam plastik. Di saat itu pula tangan kami saling bertindih satu sama lain dalam satu sentuhan. Mataku tidak sempat mempertimbangkan jika ia turut memegang ujung botol tersebut.
“Oh, maaf ....”
***
author ga pernah ngombalin cewek pakai puisi ya ... hahaha ....