Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 41 (S3)



Semua orang harus terbangun, tetapi mereka harus tetap bermimpi. Pundak Borneo yang kokoh membuatku berpikir sebenarnya apakah mimpiku yang sebenarnya? Apakah bisa membedakan antara ambisi dan cita-cita? Pernah ditepian sungai di Pulau Belitung, di hadapan mereka-mereka yang ingin ikut bersamaku, aku mengatakan tidak pernah memiliki cita-cita yang pasti. Aku ingin menjadi apa saja tanpa pernah dikotak-kotakkan antara satu dan yang lain. Mungin aku bisa menjadi pelaut di siang harinya, guru di kala senja, dan menjadi penulis ketika malam datang.


Aku pun berada di ujung pemikiran jika aku bukan orang yang memiliki kepastian. Jika aku memberi kepastian kepada orang lain, bukan berarti aku memiliki itu juga. Borneo besar tekadnya menjadi seorang seniman sebagaimana yang ia inginkan sejak dahulu. Razel tetap ingin menjadi pelaut, meskipun aku paksa untuk berkuliah dengan harapan bisa berkontribusi di perusahaan yang nanti akan aku pegang, sementara Semara ingin mendedikasikan hidupnya untuk orang-orang yang tidak beruntung.


Lalu, aku akan jadi apa?”


Mungkin aku akan tetap jadi pengelana dengan kebebasanku untuk memilih. Sudah aku bilang, aku seperti air sungai yang berputar mengalahkan arus. Tidak semuanya air berada pada porosnya, terkadang ada yang berbalik untuk melawan itu. Tidak perlu dimengerti kata-kataku ini. Kalian hanya dari sekian banyak yang sungguh tidak mengerti, termasuk diriku sendiri ini.


Kita berjumpa di malam hari … aku ada tugas rahasia ….


Penggalan kecil itu aku tinggalkan di atas meja rias kamar penginapan. Ragaku berpergian menuju keramaian. Di sana aku temukan berbagai raut wajah riang menyambut suasana meriah. Seakan matahari berjumlah dua, kepalaku dipanggang sedemikian rupa di bawah terik panas yang membahana. Langkah berdebu, gerak yang terbatas pada pergerakan, aku tempuh untuk mencari orang yang dikira sebagai sosok hantu.


Seketika telingaku dikejutkan oleh suara pistol.


Mengira Kakek Tarab benar-benar melepaskan peluru, ternyata itu hanyalah suara juri garis awal pertandingan jalur. Jalur bergerak melaju di atas lintasan sungai dua terbagi atas dua bagaian. Tengah-tengahnya dibatasi oleh pancang atau kayu penanda yang dimaksud. Ada lebih dari lima pancang aku rasa, mataku tidak sanggup menghitungnya karena jarak yang jauh.


“REIRA!” Seorang pria menarik tanganku.


Aku menoleh. Di sana ada wajah Borneo yang panik karena aku telah menghilang.


“Kau ke mana aja?!”


Aku menepuk dahi. “Semara enggak bilang kalau aku lagi ada tugas rahasia?!”


“Iya, tapi aku ragu kalau kau bakal aman-aman aja sendirian. Razel bilang kalau kau lagi sendiri, bakal terjadi hal gila.”


“Pergi ke tempat mereka. Aku ada misi rahasia,” balasku.


“Aku ikut!”


“HAAH!” Aku menggaruk kepalaku. “Okelah … jangan mengacau.”


Terdapat banyak sampan pompon dari official panitia. Kami mendatanginya sebagai sarana untuk menyelusuri sungai. Borneo tampak heran kenapa aku berlaku tidak normal, memakai name tag kampus yang menyatakan jika diriku seorang jurnalis.


“Pegang catatan dan pena ini.” Aku memberikannya kepada Borneo. “Kalau ada yang nanya, bilang kau juniorku di jurnalis kampus. Soalnya kau enggak ada name tag.”


“Dari mana kau dapat barang seperti itu?”  tanya Borneo.


“Apa susahnya bikin ini di percetakan? Bahkan kau bikin di hape pun bisa.” Aku menuruni anak tangga yang menuju tepian.


Aku lihat kapal pompon ini disediakan sebagai pengawas sungai. Uniknya pada pertandingan pacu jalur, penari cilik yang ada paling depan jalur ada yang menjatuhkan diri, mungkin sebagai maksud untuk mengurangi beban sehingga bisa melaju lebih cepat. Kapal-kapal ini akan bergerak secepat mungkin untuk penyelamatan.


“Permisi Pak, kami dari jurnalis kampus mau minta izin naik kapal buat mengambil gambar berita dari dekat.” Aku memperlihatkan name tag serta kartu tanda anggota yang sengaja aku palsukan. Mereka ingin menanyai pihak kampus? Aku rasa ketua jurnalis mahasiswa di kampus akan mengenalku.


“Oh jauh dari Jakarta. Naik … naik … jurnalis boleh masuk.”


“Ini penulis kami. Dia teman saya.” Aku menunjuk Borneo.


“Selamat siang Pak.” Borneo menyalami petugas tersebut.


Tanpa hambatan berarti, kami memasuki kapal pompon tersebut. Kameraku bergerak mengambil gambar apa saja yang mungkin bisa menjadi kenang-kenangan. Keberadaan kami di sini memudahkan kami untuk berpindah-pindah lebih cepat. Cukup jauh jembatan penyeberangan atau pun jasa kapal penyeberangan yang ada. Aku turut bercucur keringat jika harus berjalan kaki.


“Sebenarnya kita ngapain di sini?”


“Kita jurnalis!” Aku meniru kalimat Razel malam tadi yang kesal kepadaku.


“Sumpah demi Tuhan … kau itu pengangguran!” sindir Borneo.


Aku tidak marah karena memang fakta adanya jika aku seorang pengangguran.


“Cuma dia sendiri yang begitu di atas dunia ini?” tanya Borneo.


“Kau lihat di sekitar, apa ada kakek-kakek desa yang pakai jaket kulit dengan kacamata hitam. Terlalu keren untuk ukuran pedesaaan.”


“Baiklah … kalau aku lihat, nanti dibilang,” jawab Borneo dengan pasrah.


Seakan mencari jarum di atas tumpukan jerami, aku benar-benar mencari satu orang di antara ratusan ribu manusia yang ada di sini. Petunjukku cuma satu, di pancang terakhir di pertandingan final. Hanya saja, pasti ada kesempatan aku mendapati dirinya berkeliaran di tepian sungai.


Semakin lama kami di sini, hanya angin sungai yang kami dapati. Aku dan Borneo turun di seberang, tepat di paling depan tenda posko jalur salah satu desa. Desa-desa di sini mendirikan posko masing-masing yang menyediakan logistik bagi para atlit jalur desa.


“Kau ini gila, Reira. Mencari satu orang di antara sekian banyak orang di sini ….”


Mataku memicing tatkala seorang bapak-bapak meneriaki dukungannya melalui toa.


“Aku yakin kita bertemu dengan Kakek Kumbang hari ini.”


“Iya aku tahu, tapi rasanya mustahil aja kalau kita begini. Kenapa kau enggak ajak kami?”


“Haduuh … kau ini banyak protes. Aku cuma enggak mau merepotkan kalian. Cukup kalian duduk di tribun sambil menikmati pertandingan,” pungkasku.


Berbekal minuman seribuan, kami berjalan menelusuri jalan aspal kecil yang di kiri kanannya terdapat warga yang berjualan. Banyak barang unik yang aku temukan, seperti pernak-pernik pacu jalur, penjual perkakas tajam, serta judi ala pasar malam yang bisa dimainkan.


“Cari Warung Kopi Saborang Taluk,” pintaku.


“Ada apa di sana?”


“Kata Datul Bilal, mereka waktu muda sering main ke sana. Rumah buyutku juga ada di desa ini, tapi Datuk Bilal enggak bilang di mananya,” balasku.


Sesuai namanya, Desa Seberang Taluk berada di seberang alun-alun Kota Teluk Kuantan. Penjelasan dari Datul Bilal menyatakan jika buyut-buyutku berasal dari desa ini.


Borneo menunjuk sebuah warung kopi yang berada di sisi kanan jalan aspal. Di sana banyak dikunjungi oleh pria dewasa yang sedang menikmati kopi disertai lagu-lagu daerah dari pengeras suara besar. Kami pun menyambanginya, lalu bertemu dengan ibu-ibu yang sedang menyiapkan kopi di atas meja.


“Permisi Bu, apa ibu  tahu kakek-kakek yang bernama Kumbang?”


Ia diam sejenak, mungkin saja terkejut melihat logatku yang tidak biasa.


“Oh, setahu ibuk ni ndak tahu kami do siapa orang itu.”


“Kumbang? Mereka mungkin enggak tahu. Nama asli dari Kakek Kumbang dong,” bisik Borneo.


“Maksud saya Raja Ishak Al-Kuantany, Bu.”


“Ishak?” tanya ibu tersebut. “Oh … kata orang ni dia balek kampung, kemaren tu ke sini dia. Cuma ndak ada nampak ibu do.”


Aku dan Borneo saling memandang. Benar adanya jika Kakek Kumbang berada di sini selama pegelaran Festival Pacu Jalur. Aku tidak dibohongi oleh dirinya.


“Ada yang nyari Ishak?” tiba-tiba saja pria tua bertanya hal itu. Ia sedang duduk sendirian di sebuah meja.


“Iya, Pak. Saya nyariin dia. Apa bapak kenal?”


“Informasi tidak gratis di Kapal Leon,” balasnya sembari menuangkan batu domino ke atas meja. “Kami dulu menukarnya dengan donat.”


Ia memintaku untuk duduk di sana. Sudah bisa aku tebak, ia ingin berjudi denganku.


***