Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 149 (S2)



EPISODE 149 (S2)


Mungkin itu kebebasan, kebebasan mengekspresikan diri dalam hal apa pun. Kayu tua yang lusuh bagian luar berbeda dengan yang di dalam. Aku sama sekali tak melihat rasa tua tersebut, melainkan seni yang tergambar disekelilingku. Mural indah melikuk membentuk tulisan-tulisan bermakna. Ukiran kayu dalam bentuk berbagai objek berjejer di satu sudut, seni rupa yang sangat mengangumkan bagiku. Belum lagi dengan kaktus kecil di dekat jendela, tak sedikit pun mencerminkan Bang Ali yang sangar. Ia menyukai kaktus, tak aku kira ia seperti itu. Mungkin saja aku dapat memaklumi dirinya yang menaruh gambar-gambar musisi, namun di sini berbeda sekali.



“Gue enggak lagi tidur di rumah semenjak SMP,” ucap Bang Ali.



Kami duduk di meja persegi, bersamaan dengan batu domino yang baru saja dihamburkan di tengah-tengah. Harum kopi racikanku menyeruak. Mawar dengan senang hati membuatkan kami dengan alat kopi yang ia bawa.



“Ngapain aja lo, Bang?” tanya Razel sembari menghisap rokok.



“Hmm ... karena ketahuan mabuk. Biasa ... anak ABG baru tahu kehidupan orang besar. Gue sumpah habis dibikin Bapak waktu itu. Dicemplungin ke sawah, disuruh berendam satu malam.”



“Pantes lo Bang sekarang kaya orang tekanan mental. Hahahah ...,” sindir Candra.



“Hahaha ... kalian beruntung dari kecil hidup di perkotaan. Gue di sini cara mendidiknya sangat tradisional. Setelah gue direndam, gue ditatar sama paman-paman. Mamak sebutan bahasa di sini untuk paman. Gue dibawa ke rumah *godang* atau rumah adat suku kami. Di sana gue dinasehatin.”



“Apa hubungannya dengan tinggal di sini?” tanyaku.



Batu diacak untuk mulai bermain. Aku dan Bang Ali melawan pasangan Candra dan Razel kali ini. Taruhan yang disetujui adalah rokok. Biar seru katanya, meskipun aku tak menginginkan adanya taruhan. Namun, mayoritas peserta di sini malah menyetujui.



Tangan Bang Ali menghentak batu pertamanya. Bergetar meja ini berkat tangan besarnya tersebut. “Gue takut sama Bapak. Gue tidur di rumah ini selama seminggu, masuk rumah cuma buat makan, itu pun diam-diam waktu Bapak ke kebun karet. Lama kelamaan, gue malah nyaman tidur di sini.”



“Kayanya pekerjaan di sini hampir sama dengan di Belitung, ya .... Pak Cik Milsa juga punya kebun karet.”



“Hmmm ... di sini memang komoditas utamanya karet, padi juga. Kalau Amak, panggilan gue sama nyokap, dia seorang guru, *alhamdulillah* udah PNS.”



Aku mengernyit memikirkan batu untuk dikeluarkan. “*Btw*, calon Abang orang mana?”



“Hahaha ... kalian pasti penasaran calon gue orang mana. Pastinya kalian enggak bakalan nyangka orang jelek gue bisa dapat bini cantik, putih bersih. Anak gue besok warnanya abu-abu. Hahahaha ....”



“Hitam tambah putih bisa jadi abu-abu ... hahaha.” Candra tertawa.



“Nah itu dia, gue beruntung nemuin dia waktu gue pulang kampung. Gue bilang ke Amak kalau gue suka sama dia, seminggu kemudian lamaran. Parah, enggak tuh?”



“Parah, sih ... berani banget lo, Bang?”



Bang Ali menatapku. “Hey, gue ini udah tua. Tamat kuliah tujuh tahun. Udah umur gue nikah sekarang. Dia pegawai bank di Pekanbaru. Kemungkinan besar, setelah wisuda gue pindah ke sana dan nyari kerja di sana. Beruntunglah gue nemuin orang yang mau nerima gue apa adanya. Kalau dipikir-pikir, mana ada orang yang mau sama gue. Tamat kuliah lama, boro-boro mau nyari kerja cepat, boro-boro juga nunggu mapan dulu. Rokok aja masih ketengan kadang.”



“Hidup sih, Bang. Perjuangan itu perlu. Kita semua beruntung lahir di keluarga yang enggak kaya, kita tahu cara berjuang.”



“Nah itu dia ... masih mendingan elo, sih. Kecil kalian masih bisa main ke mall orangtua. Lah gue, harus nyadap karet dulu, nyari keong sawah buat dijual ke pasar, kadang ngumpulin pinang trus diantar ke pengepul. Cuma buat ngerokok, doang. Hahaha. Bener yang elo bilang, kita tahu arti berjuang.”



“Enggak kaya Reira, kaya dari lahir. \*\*\*\*\*\*\* dia itu! Hahaha ....” Aku menghentak batu terakhirku. Sorak gembira keluar dari Bang Ali. Kami memenangkan satu putaran ini dengan jumlah batu yang banyak dari lawan.




Sadar-sadar, aku terbangun ketika celah kayu memancarkan cahaya pagi yang terang. Layar handphone memperlihatkan pukul sembilan pagi. Pintu rumah panggung terbuka dan terdengar orang ramai sekali di luar. Aku duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawa. Candra dan Razel tepat di ujung kakiku, bertindih tangan satu sama lain. Tepat di kala perut yang keroncongan belum sarapan, aku melihat lontong sayur terletak di atas meja persegi.



Terdapat empat piring, salah satunya sudah digunakan. Pertanda Bang Ali yang menyantap lontong tersebut. Agar tidak dilihat orang, aku pun menutup pintu untuk sarapan. Aku buka satu lontong sayur yang masih dalam plastik itu, lalu sarapan nikmat yang terlambat. Candra dan Razel masih tidur pulas. Tak ingin aku bangunkan mereka. Aku biarkan mereka agar bisa masuk ke mimpi satu sama lain.



Perut sudah kenyang. Sendawaku menggelegar sembari menepuk perut yang besar. Terkejut diriku tatkala seseorang membuka pintu dengan brutal, lalu menepuknya berkali-kali.



“Woi, bangun! Lo kira ini rumah lo bisa tidur sampai siang!” Reira teriak di ujung pintu.



Tubuhnya kumal berkeringat. Wajahnya terdapat noda lumpur, entah dari mana ia tadi. Ia menaiki tangga, lalu menginjakkan satu kaki ke dalam rumah. Terlihat Reira yang sedang memakai sepatu boot, turut penuh dengan lumpur. Yang unik, kini ia sedang memakai topi jerami khas orang ladang.



“Lo dari mana?”



“Dari mana-dari mana ...! bangun kalian! Orang pada kerja! Woi!”



Tepukan selanjutnya membuat Candra dan Razel terduduk. Persis di camp militer, seorang senior membangunkan prajurit kadet yang malas.



“Iya ... iya ... kami bangun. Jangan teriak-teriak, dong. Malu diliatin orang,” ucapku sembari minum. Anak ini apabila tidak diindahkan perkataannya, bisa makin menjadi-jadi.



“Pak Musarin yang nyuruh.”



“Siapa Pak Musarin?”



“Bapaknya Bang Ali!”



Aku, Candra, dan Razel saling menatap satu sama lain. Kami kini teringat hal yang sama, mengenai orangtua lelaki Bang Ali yang menyeramkan. Bang Ali saja dulu direndam di sawah sewaktu kecil. Segera kami berhambut keluar rumah panggung untuk melihat dunia yang sudah terang.



Takjub diriku melihat sekeliling yang hijau tanpa bangunan megah seperti di kota. Uniknya, gelap di malam tadi tak memberikanku kesempatan melihatnya lebih detail. Ternyata, sekitar sepuluh meter di samping rumah Bang Ali terdapat sawah yang luas, meskipun belum ditumbuhi oleh padi. Air menggenang hingga sepinggang orang dewasa, terlihat para orang desa bergumul di sana dengan memegang tangguk ikan yang besar. Tepat di belakang rumah, kebun karet bergoyang dihembus angin. Orang-orang sedang ramai di sana.



“Wah, ramai banget,” ucapku. Aku menoleh pada Reira. “Lo dari mana?”



Dirinya menarikku menuju tepi sawah. Di sana ada Mawar yang sedang terduduk dengan melipat lutut. Daster merahnya selaras dengan ikat rambut yang berwarna merah. Tersenyum Mawar di pagi hari, secerah mentari yang bersinar di atas.



“Kita nyari keong sawah.”



Reira mendorongku dengan kakinya. Aku tercebur ke dalam sawah.



“Woi, anak seta―”



\*\*\*