Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 24 (S2)



EPISODE 24 (S2)


Satu hal yang aku pikirkan darinya ialah hanyalah kegilaan. Anak DPR mana yang ingin mengotori tangan bersihnya itu dengan bau amis ayam yang masih berkokok hendak dilepaskan dari tangannya. Harusnya ia menghabiskan tangannya itu untuk luluran dengan lotion mahal online shop, seperti yang dilakukan oleh Fasha. Lalu, melumuri kuku kecilnya dengan kutek berkemilau yang akan dipamerkan tatkala menongkrong bersama teman-teman hedonnya iu. Belum lagi aku lihat tidak sengaja ayam itu mengeluarkan kotoran dan Reira terpaksa menaburi tangannya dengan pasir di bawah. Aku rasa tangannya itu tidak akan gatal-gatal, tangannya sudah tebal seperti tangan Candra yang tiap hari membersihkan belasan wadah pembuangan kotoran kucing di pet shop-nya.


Aku segera ke bawah dan mengambil alih ayam itu, sebelum Reira mempermainkannya seperti boneka.


“Buat apa ayam ini?” Tanganku meraih kaki ayam yang terikat.


Anak itu masih menggosok tangannya yang terdapat sedikit lumuran kotoran ayam di pasir.


“Lo kira Minerva mau dikasih pelet kucing?” balas Reira.


Aku dibuat menghela napas panjang. Anak ini tampak kumal dan berbau seperti anak-anak yang baru pulang petang. Persis seperti Dika sewaktu kecil yang baru saja bermain di tepi kali kota bersama teman-temannya, lalu dicerocos oleh Ayah dengan karpet selamat datang di muka rumah karena ia tidak kunjung cepat mandi.


“Cepat mandi.” Aku mendorong tubuhnya ke depan. “Lo kaya bocah yang baru aja main di comberan.”


“Daripada lo ... kaya bau bayi!” tegasnya.


Aku mengendus tubuhku. Rasanya tidak pernah aku memakai minyak angin bayi sehingga Reira berani-beraninya mengatai diriku berbau bayi.


“Gue bau bayi?” tanyaku.


“Iya ... bau bayi!” Reira berjalan ke atas tangga menuju teras rumah.


Aku menoleh pada Zainab yang masih terkikik kecil di sampingku.


“Kalian habis dari mana?” tanyaku padanya.


Zainab tersenyum. “Baru dari rumah Paman buat menangkap ayam.”


“Ada-ada saja! Ayam ini bisa buat lauk Paman lo satu hari, malah buat jadi makanan Minerva bodohnya itu.”


“Bapak yang menyuruh kami. Hahaha ....” Ia pergi meninggalkanku.


Baru saja aku kasihan terhadap Reira yang terkulai lemas dalam tidurnya tadi, kini malah dibuat terheran-heran dengan tangannya yang bau kotoran ayam. Reira malah mendekatkan tangan baunya itu kepada Candra, sontak Candra langsung menepuk tangannya yang jahil itu. Perkumpulan diskusi meja bundar di teras panggung itu tertawa melihat aksi jahil Reira yang tak henti-henti ia tunjukkan kepada Candra.


Aku letakkan ayam ini pada kandang ayam yang posisinya tepat di bawah rumah pangung. Langkahnya yang kecil masih sempoyongan karena kau melepas ikatan kaki yang kuat itu. Suara ayam itu parau, berterima kasih pasrah padaku karena telah menghindarinya dari orang gila yang sudah membuatnya seperti itu. Aku biarkan ia bersenang-senang sementara dengan teman-teman baru, sebelum disembelih dan berakhir di perut kecil Minerva.


Benar juga apa yang dikatakan oleh Reira, Minerva akan menghina kami jika diberi pakan kucing. Semenjak ia bersama kami, burung hantu kecil itu diberi makan potongan mentah daging ayam oleh Pak Cik. Ia masih terkurung di dalam gudang bersama sangkar yang membelengunya. Tentu saja sebagai karnivora, Minerva suka dengan daging. Apalagi aku sodorkan jemari Candra, ia sudah pasti dipatok olehnya.


Malam tiba dengan tenang menghampiri masyarakat Manggar yang sedang ingin beristriahat. Mulailah aktivitas malam pada semak-semak berbunyi berkat suara serangga yang saling bersahutan. Bulan sabit akhir bulan menunjukkan eksistensinya di langit, di balik gumpalan awan di sana, dewi malam tersenyum padaku yang menadahkan penglihatan ke atas. Selepas sembahyang Magrib, Kakek Syarif dan anaknya masih bertahan di rumah sembari menonton acara kartun Malaysia yang berbahasa Melayu. Razel yang sudah setua itu masih sangat antusias dengan kartun anak-anak, apalagi Candra yang berada di sampingnya. Ia berkali-kali mencoba logat Melayu yang ia dapati dari tontonannya.


Aku pun kembali masuk ke dalam rumah. Nyamuk di sini ternyata berpesta pora melihatku yang sedang sendiri.


“Jadi, bagaimana anak-anak aku, Kakek?” tanya Reira yang sedang duduk bersila di hadapan Kakek Syarif. Wajahnya menghindari asap tembakau yang terhembus dari bapak tua itu.


“Reira ingin mereka Kakek bawa, atau langsung Kakek pulangkan ke rumah?” tanya Kakek Syarif. Ia memetik ujung tembakau sesaat. “Itu keputusanmu.”


“Hmm ... aku enggak ngelarang mereka dalam hal apa pun. Mereka bebas mau ikut yang mana. Tapi, Lampung terlalu jauh dari rencana awal. Aku khawatir jika orangtua mereka cemas.”


“Sebaiknya kamu bilang ke mereka.” Ia melihat ke sekitar sesaat. “Aku segan sama Milsa, kalian sudah menumpang di sini. Tidak mungkin mereka juga ikut menginap di sini.”


“Reira juga pikir begitu, Kakek. Menurutku, mereka dipulangkan aja. Akan ada teman Reira yang menyambut mereka di gedung itu.”


“Baiklah ... karena kami akan berangkat subuh hari, kau harus ke kapal malam ini buat memberitahu mereka.”


Reira sekejab berdiri. “Ayo ke kapal Leon. Candra lo harus ikut!”


Kami berpamitan dengan Pak Cik dan Mak Cik untuk pergi ke dermaga mengunjungi beberapa anak remaja yang dibawa oleh Reira. Kakek Syarif, Candra, dan Razel lebih dahulu pergi dengan bergonceng tiga seperti anak remaja tanggung yang baru saja pandai bermotor ria. Kesempatan Reira untuk mengejek Candra yang terpaksa duduk paling ujung jok, apalagi motor CB memiliki jok yang kecil. Mereka saling berdempetan untuk memberi ruang.


Pak Cik Milsa mengizinkan aku untuk membawa motor King tua miliknya yang tersimpan di gudang belakang. Reira meminta untuk mengendarainya, tapi aku tidak mengizinkan wanita itu untuk mengendarainya. Motor King bukanlah motor matic yang biasa ia gunakan, melainkan memakai kopling. Selain itu, tarikan motor King tentu saja lebih cepat daripada motor-motor biasanya. Untung saja anak itu mengiyakan saranku.


“Ambil dulu ayamnya,” pinta Reira sembari menarikku ke kandang ayam. Padahal, kami sedang menuju ke gudang belakang.


“Buat apa, sih? Ngapain lo bawa ayam ke kapal?” tanyaku.


“Nanti lo juga tahu. Ambil aja, gue udah mandi!” paksanya dengan mendorongku ke muka pintu ruang kandang ayam itu.


“Rei, lo bilang buat makan Minerva. Tapi, ini buat apa lagi? Jangan hal gila lagi!” tegasku.


Ia tersenyum dalam gelap. Jemarinya menghidupkan cahaya senter di dari handphone-nya. Sementara tangannya yang lain mengeluarkan seutas tali rafia dari kantung celana.


“Jangan nolak ... lo lihat aja nanti.”


Aku tidak mengerti dengan rencananya, namun wajahnya yang licik itu memaksaku untuk masuk ruang bawah panggung rumah yang dijadikan tempat tidur bagi para ayam peliharaan. Sementara aku masuk ke dalam dan mencari ayam betina hitam miliknya itu, Reira menunggu di luar dengan menyuruhku jangan salah memilih ayam. Aku tahu persis ayam miliknya itu, memiliki warna bulu hitam dominan daripada ayam-ayam yang lain.


Aku senteri ayam satu per satu yang sedang nyaman duduk di tanah. Mataku melihat seekor ayam yang sedang duduk di samping tiang penyangga, itulah ayam milik Reira.


Namun, menangkap ayam bukanlah satu hal yang sederhana, melainkan butuh ketenangan tersendiri agar ia tidak lari ke mana-mana. Aku bawa ayam itu berjalan ke sudut dan satu kesempatan tepat aku cengkram dengan cepat. Ayam pun berkotek saat aku genggam kuat.


“Cepetan, Dave,” pintanya di luar.


“Iya, ini ayamnya udah di tangan gue.” Aku membalikkan ayam untuk mengikat kedua kakinya. “Lo diam aja di luar. Gue kesusahan di sini. Panas dan amis!”


“Itu resiko lo!” balasnya.


“Kenapa jadi gue―” Kalimatku terhenti tatkala kurasakan ada secuil bahan basah yang sedang mengenai tanganku. Baunya yang tak sedap membuat wajahku kecut. Ayam sialan itu mengotori tangan suciku yang terpaksa melaksanakan perintah gila Reira di malam hari.


“Udah?” tanya Reira sekali lagi.


“Lo bisa masuk sebentar?” tanyaku. Aku menghentakkan tangan ke bawah agar membuat kotoran ayam yang menempel. “Ayamnya berak di tangan gue!”


“Tunggu bentar.”


Terdengar suara pintu kandang ayam berdecit tatkala Reira buka. Cahaya yang aku sorot padanya, memperlihatkan Reira yang sedang menunduk agar kepalanya tak terhempas ke langit-langit. Perlahan, senyum licik yang aku benci itu pun terlihat. Ia tertawa kecil melihat aku yang sedang malang.


“Hahah ... enak kan kotoran ayam?” tanya Reira seraya tertawa.


“Diam ... pegangin ayamnya dulu. Sumpah gue jijik!”


“Bagaimana lo bisa jijik, besok anak kita tiap hari lo bersihin popoknya.”


Kalimat lembutnya itu sungguh menyentuh. Bisa-bisanya ia bercerita mengenai sebuah momen yang ditungu mengenai tangis seorang buah hati ketika ia meminta untuk dibersihan. Tapi, ini bukanlah momen yang tepat untuk bercerita seperti itu.


Aku menyenteri tanganku yang berlumuran kotoran ayam. Tatkala cahaya senter menyentuh dinding, terlihat sebuah tas ayam rotan yang bergelantung di sebuah paku kecil. Aku mengambil dan menyerahkannya kepada Reira.


“Pakai ini, letak ayamnya di atas. Biar mudah dibawa,” pintaku.


“Bukannya lo bercerita kalau tiap hari kita bakalan bersihin popok bayi nantinya?” balasku.


“So sweet.” Kata datar tanpa nada berarti itu mengakhiri lekuk senyumnya padaku, lalu ia pergi meninggalkanku yang masih berpanasan di dalam.


Seperti membawa seorang petarung sabung ayam, aku agak khawatir ketika melewati depan rumah. Pak Cik Milsa pasti kebingungan melihat kami membawa seekor malam, apalagi aku tidak mengetahui rencana yang akan dibuat oleh Reira sendiri. Anak itu masih merahasiakannya dariku. Setelah melewati muka rumah, barulah aku tancap motor King tua yang masih kokoh menggelegar di tengah jalan. Reira memelukku dengan erat berkat kecepatan yang aku mainkan. Motor-motor seperti ini tentu saja sangat asyik dibawa dengan kecepatan tinggi. Apabila motor ini di tangan Dika yang notabene orang bengkel, sudah pasti menjadi motor-motor kontes yang membuat iri preman pos ronda.


Dermaga sunyi apabila di malam hari. Hanya kedai kopi kecil yang buka dengan beberapa pengunjung sedang bermain domino di atas meja. Aku lihat Pak Syarif dan rombongannya sudah tiba, motornya terparkir tepat di beton pembatas dermaga.


“Ayamnya mau lo bawa ke dalam?” tanyaku.


“Enggak ... gila aja. Gue enggak mau Kakek gue menangis di alam baka karena kapal kesayangannya berlumuran kotoran ayam,” balasnya sembari turun.


“Trus, mau diletak di mana?” tanyaku.


“Lihat dan pelajari.” Tangan Reira mengeluarkan seutas tali rafia yang masih tersisa. Ia mengikatkan tali itu pada gagang kantung ayam rotan dengan rapat, sehingga ayam tidak bisa bergerak sama sekali. Penjara kecil itu membuat ayam merenung di tepi laut, sembari digantungkan pada stang motor. “Masalah terselesaikan.”


Tak kujawab, aku hanya melanjutkan langkah menuju kapal.


Reira sudah berjasa membuat kapal itu lebih estetik dari kapal-kapal lain yang sama-sama bersanding di tepian dermaga. Lampu kelap-kelip sengaja ia beli untuk dipasang sekeliling kapal agar ia berbangga diri jika ada pelaut lain yang iri melihatnya.


Namun, pelaut mana yang iri dengan kapal dihiasi seperti rumah remang-remang lokalisasi. Entah kenapa aku menyamakan bentuk hiasan itu dengan tempat nyaman bagi para pria hidung belang. Setidaknya, aku melihatnya seperti itu tatkala suatu malam Dika membawaku ke sana untuk sekedar menanya harga, tanpa membungkus pulang. Ia yang menantangku ke sana. Dasar saudara gila!


Tanpa ragu Reira mendahuluiku karena sudah tidak sabar melihat wajah belia awak kapalnya itu. Mereka terlihat duduk bermain gitar di ujung kapal, sembari menggoyangkan kepala ke kiri dan ke kanan. Suasana harmoni tercipta pada malam yang terang. Luasnya laut menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Alunan petikan gitar berpadu dengan bayang-bayang bulang yang jatuh di permukaan.


Reira memeluk mereka satu per satu tak ubah layanya adik kandung. Mereka turut bersenang hati disambut begitu mesra oleh panutannya itu. Tak aku lihat keberadaan Candra dan Razel di sekitar mereka, melainkan sedang berada di ruang kemudi yang terang oleh lampu berwarna putih.


“Kalian sudah tahu kabarnya?” tanya Reira. Ia duduk dan mengambil kacang rebus yang kebetulan hadir di tengah-tengah mereka.


“Hmm ... mau bagaimana lagi, Kak. Sepertinya kami harus balik,” balas salah satu dari mereka yang paling besar.


“Apa kalian enggak tertarik buat melaut bersama Kakek Syarif.” Ia memelankan suarnaya, “Ia memang Kakek yang pemarah, namun penyayang.”


“Hahaha ... kami berkali-kali kena marah gara-gara menjatuhkan nasi ke atas lantai.” Ia diam sesaat memandangi wajah Reira. “Mau sih mau ... tapi janji kami kepada orangtua cuma pergi ke Belitung.”


“Kalian enggak apa kalau pulang?” tanya Reira kembali.


“Enggak apa-apa, Kak. Rencana kami setelah pulang, kami mau melukis gedung terbengkalai itu. Benar, kan?” Ia melempar senyumnya pada yang lain.


Mereka mengangguk bersama-sama. Tidak ada beban yang aku lihat tatkala menyadari bahwasanya kami akan berpisah esok hari.


Reira menghela napas panjang.


“Baiklah kalau itu keputusan kalian. Jaga diri baik-baik waktu perjalanan pulang. Sesampainya di sana, Kakek Syarif bakalan ngasih sejumlah uang buat kalian. Selain itu, Kakak Dokter yang kemarin akan menyambut kalian di sana.”


“Kakak dokter spesialis paru kemarin?” tanya remaja itu balik.


“Iya ... kalian akan diantar sampai ke rumah. Jangan lupa ambil ilmu baru darinya, oke?” Reira mengepalkan tangannya.


Negosiasi antara Reira dan awak kapal kecilnya itu berhasil menemui titik terang. Mereka akan kembali pulang ke Jakarta dengan disambut oleh seseoang yang belum pernah aku lihat seseorang. Aku tidak mengetahui jika Reira memiliki teman seorang dokter spesialis paru. Yang aku tahu, Reira memiliki teman-teman gila sejenis anak-anak Mapala kampus yang rambut-rambutnya yang gondrong itu. Namun, tidak mengherankan Reira memiliki banyak relasi dengan orang-orang hebat dari pergaulannya yang luas.


Reira menarikku ke atas ruang kemudi, tepat di mana Candra dan Razel berada. Kebetulan sekali Pak Cik Syarif ada di sana. Pria tua berbau rokok lintingan itu sedang menyetal radio tua miliknya. Razel pernah diceburkan ke dalam laut karena menjatuhkan radio tuanya itu. Terkadang, aku tidak menyangka Kakek Syarif bisa sesangar itu, padahal pembawaannya penuh kasih sayang.


“Kakek, kami pergi memancing, ya?” Reira ikut berjongkok di bawah lantai bersama Kakek Syarif yang sedang mengotak-atik radionya.


“Kalian ingin memancing?” Ia menatap Reira. “Di mana?”


“Di mana Razel?” tanya Reira.


Razel menurunkan kakinya dari atas kemudi kapal. “Biasa, Pak ... di Sungai Mirang. Tempat yang pernah kita jadikan tempat memancing.”


“Pernahkah aku melarang kau, Reira? Tumbenan meminta izin. Hahaha ....” Ia kembali ke menatap radionya kembali. “Pergilah ... tapi hati-hati. Kau belum tahu Sungai Mirang itu rawan. Di sana ada kenalan Kakek yang mengawasi kalian.”


“Rawan apa, Kakek?” tanyaku.


“Buaya muara ... kalian anak kota melihat buaya air tawar aja jarang, apalagi buaya muara. Berbahaya ... apalagi malam hari karena buaya aktif di malam hari.”


“Gila lo, Rei ... bahaya loh!” ucap Candra di samping Razel.


Reira tertawa kecil. “Sejak kapan kalian mengira gue waras. Udah berkali-kali kalian gue bilangin kalau gue ini gila.”


Tangan Kakek Syarif menepuk pundak Reira.


“Reira, kau jaga Razel karena ia akan menginap di rumah Milsa. Ia merengek untuk ikut kalian kaya anak kecil.”


“Benarkah itu?” Ia melihat Razel yang membuang muka karena menyadari sifat kekanak-kanakan dari seorang Razel. “Lo merengek buat ikut kami?”


“Ah ... mana ada!” Razel melipat tangannya.


Langkah Reira pergi menuju Razel. “Tenang ... kalau lo sama gue, semuanya aman. Ikuti aja kata kapten baru lo ini.”


“Siap, Bu!” Razel memberikan tangan hormat padanya.


Kami mempersiapkan semua peralatan pancing yang tersimpan di gudang kapal. Lima alat pancing menjadi senjata utama kami malam hari. Umpan cacing ternyata masih tersedia dari sisa mereka mereka memancing tadi malam, selain itu umpan roti menjadi tambahan kami apabila cacing sudah habis dilahap oleh ikan-ikan kelaparan.


Malam ini akan menjadi malam yang panjang kembali. Tiga hari berturut sudah kami tidak terlalu nyenyak tidur di di malam hari. Reira malah membawa kami ke petualangan malamnya lagi kali ini, walaupun aku tidak terlalu tahu teknik memancing dengan benar. Berbeda dengan Reira yang sudah berkali-kali ikut memancing bersama Bang Ali, ketua Mapala itu.


Satu hal yang aku khawatirkan ialah mengenai rumor buaya yang berkeliaran di aliran Sungai Mirang. Kakek Syarif kembali mengingatkan kami sebelum kami melangkah pergi dari kapal. Tepat di ujung dermaga, aku kembali bertanya mengenai hal itu dengan Reira. Aku curiga, ada apa dengan ayam ini.


“Rei, lo sadar enggak memancing di malam hari dengan buaya muara yang berkeliaran itu hal yang berbahaya?” tanyaku sembari menarik stang motor.


Ia kembali menyandang ayam yang terikat itu.


“Bahaya belum terbukti kalau kita enggak membuktikannya.”


Aku pun melirik ayam itu kembali. “Rei ... jangan bilang malam ini lo―”


Ia menyentuh bibirku. Aku pun terdiam. Namun, pupilku melebar menatapnya.


“Benar, malam ini kita akan melihat eksistensi buaya muara.”


Aku harap kami pulang dengan anggota yang utuh.


***


SELAMAT MERAYAKAN HARI RAYA IDUL FITRI ^_^