
EPISODE 8 (S2)
Masih aku pegang erat di kepalaku mengenai kalimat dari Pak Cik yang berbicara layaknya seorang filsuf Yunani Kuno, meskipun ia adalah warga Manggar yang setiap hari menghirup udara laut. Kejadian dikejar oleh seeokor anjing murka itu membuat malu tersendiri bagiku. Sudahlah ditertawai oleh anak-anak di warung, aku pun dicemeeh oleh Reira yang mengatakan bahwasanya aku tidak pernah dikejar oleh anjing semasa kecilku. Apa yang dikatakan oleh wanita itu benar adanya, aku sama sekali tidak pernah dikejar anjing semasa kecilku.
Siang yang panas menunggu untuk diteduhkan, kami begitu gerah oleh teriknya mentari daratan tepian ini. Jika aku tuangkan telur mentah ke jalanan aspal itu, mungkin saja telur itu matang dan bisa dijadikan penghidang makan siang. Memikirkan makan siang, hidung aku dan Candra berdiri tatkala mencium wangi masakan dari rumah.
Sejenak aku dan ia duduk kembali di meja bundar tempat Pak Cik Milsa berfilosofi, tidak lama kemudian Pak Milsa memanggil kami ke dalam rumah. Candra sontak langsung memandangiku, sudah dipastikan keramahtamahan pemilik rumah membawa kami kepada jamuan makan hari ini.
Bukankah kami tamu hari ini? Apalagi kami tinggal di sini untuk beberapa hari. Namun, tentu saja kami tidak akan berharap untuk terus-terusan makan di rumah Pak Milsa. Reira sudah menjatahi kami uang makan darinya. Tidak sopan rasanya berharap Mak Cik memasakkan masakan kepada kami setiap hari. Sudah past Reira akan menceburkan kami ke laut jika berharap hal yang seperti itu.
“Masuklah … kalian pasti lapar,” ucapnya di ujung pintu.
Dengan senang hati kami mengikuti langkah Pak Cik Milsa ke bagian belakang rumah. Masih melewati ruangan tengah yang berhiaskan foto-foto lama hitam putih, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku ke sekitaran ruang tamu itu. Sangat kental dengan tata ruang tradisional. Hampir keseluruhan perabotan merupakan perabotan lama, seperti mesin jahit hitam dari besi itu yang hanya bisa digunakan apabila menginjakkan kaki pada pedal. TV lama petak dengan tombol di samping kanan terduduk tanpa colokan di atas sebuah laci kayu. Terdapat pula mainan kuda-kudaan kayu yang pernah aku mainkan semaca kecil, pertanda di rumah ini terdapat anak kecil. Tidak mungkin Zainab yang sudah gadis itu masih memainkan benda itu. Tapi, entahlah jika Candra berada di rumah ini. Jika aku bawa ke rumah, ia pasti antusias memainkannya.
Lorong yang kami langkahi sepanjang empat meter sebelum turun pada tangga empat tingkat di dapur. Terdapat kamar-kamar berpintu kayu lama di kiri dan kanannya, aku hitung ada empat ruangan yang terdiri dari dua kamar di sisi kanan dan dua kamar di sisi kiri. Jarak antar pintu terpampang kaligrafi ayat suci yang menguntai indah memanjakan mata. Aku rasa setiap pintu ini digantung tirai seperti kamar Reira tadi. Hanya satu pintu kamar yang tidak bisa aku lihat tirainya karena tertutup rapat.
Kami turun pada tangga landai empat tingkat yang tingginya hanya sepinggangku. Posisi dapur lebih rendah daripada bagian depan rumah. Aku lihat asap mengepul di seluruh ruang dapur. Asap itu masuk dari sebuah jendela kayu terbuka. Anehnya kompor-kompor yang berada di dapur tidak ada sama sekali yang menyentuh. Bahkan, Mak Cik, Zainab, dan Reira tidak kulihat batang hidungnya. Namun, di atas meja sudah tersedia beberapa mangkok besar yang berisikan nasi dan sendoknya. Tatkala aku mengedarkan penglihatanku, aku lihat Pak Milsa melambai untuk mengajak kami duduk bersamanya. Selembar tikar pandan menjadi pembatas tubuh kami dari lantai semen yang dingin.
“Di mana Mak Cik?” tanyaku pada Pak Cik Milsa.
“Mereka betige ade di belakang, sedang masak di tungku,” balasnya sembari bergeser sedikit ke kiri.
Kami duduk tepat satu meter di muka pintu yang langsung memperlihatkan barisan polybag cabai. Ayam-ayam pun turut tampak melintas di luar sana.
“Bapak selain punya kolam, punya kebun cabai juga,” ucap Candra.
“Hmm … cabai mahal. Mending tanam sendiri dan petik sendiri. Iye, kan?”
Aku tersenyum. “Benar juga, Pak Cik.”
“Nah, itu mereka ….” Pak Milsa menggeser plastik tembakau keringnya itu padanya.
Mak Cik, Zainab, dan Reira bersamaan tampak dengan memegang piring\-piring berisikan hidangan lauk pauk siang ini. Layaknya gadis desa yang pandai dalam segala hal, Zainab begitu anggun duduk melipatkan kaki ke belakang untuk menghidangkan lauk pauk. Beda hal dengan Reira, ia duduk dengan cara mendempetkan lutut ke dagu, lalu tersenyum padaku. Anak ini memang tidak ada malu-malunya sedikit pun. Setidaknya ia meniru hal yang dilakukan oleh Zainab. Namun, ia mana pernah terlihat anggun. Selalu unik dan apa adanya.
“Latihan buat besok,” ucapnya pelan.
“Buat apa?” tanyaku balik.
“Berumah tangga.” Ia menyimpan senyumnya itu tatkala berbalik menjemput makanan kembali.
Ada-ada saja yang sedang ia bicarakan. Di saat aku tak pernah memikirkan mengenai ruang indah yang orang sebut sebagai rumah tangga, ia malah menyebutkan kata itu padaku. Aku pun dibuat tersenyum malu olehnya. Untung saja Candra tidak mendengar kalimat memalukan itu. Ia pasti membuang muka jika menyadarinya. Sudah aku bilang, ia harus segera menemukan pacar. Namun, tidak sekali pun aku mendengar jika ia menyukai seorang wanita. Apakah ia seorang gay? Namun, akun sosial medianya pun berisikan akun wanita-wanita cantik yang berasal dari fakultasnya.
Seluruh hidangan tersajikan dengan sempurna. Kepulan uap dari nasi hangat mengawang di udara. Lauk pauk sederhana seperti ayam cabai, goreng ikan, gulai nangka kuning, dan lalapan menjadi sajian kehormatan bagi kami yang kelaparan. Sudah lama aku tidak merasakan suasana yang seperti ini semenjak ditinggal oleh kedua orangtua. Padahal, setiap malam dahulu aku selalu berkumpul di atas tikar untuk menikmati sajian malam, kecuali jika Ayah sedang dinas keluar kota. Semenjak mereka sudah tiada, aku semakin tidak pernah merasakan makan bersama dengan sederhana. Aku dan Dika biasanya makan dengan masing-masing dan lebih banyak makan di luar karena tidak ada satu pun dari kami yang berniat memasak. Jika kami terniat untuk memasak, itu pun jarang terjadi.
“Silahkan makan, jangan malu-malu.” Pak Cik Milsa mengawali mengambil nasi.
Aku dan Candra langsung menyambar piring dan menyendokkan nasi yang diberikan oleh Mak Cik. Demi menjaga agar terlihat sopan, aku mengambil nasi dengan porsi sedikit, begitu pula lauk pauk yang tidak aku bantai mengambil semuanya. Memang, Candra hanya mengambil satu goreng ikan dan cabai dari ayam, namun nasinya sudah seperti gunung. Layaknya seorang kuli, ia sangat membutuhkan nutrisi karbohidrat yang berlebih.
“Siti, ini mereka datang bersama Pak Syarif. Mereka ingin berjualan baju di pasar untuk beberapa hari,” ucap Pak Milsa pada istrinya.
Baru aku tahu jika ia istrinya tersebut bernamakan Siti. Berarti aku memanggilnya dengan Mak Cik Siti.
Mak Cik Siti memandangi kami. “Makanlah sepuas kalian selagi kalian masih di rumah ni. Kalau orang Pak Syarif bebas mau tinggal di sini.”
“Terima kasih, Mak Cik. Maafkan jika mereka berdua itu makannya banyak,” sindir Reira pada kami. Sontak hal itu langsung membuat Candra melihat padanya.
“Hahah … makan yang banyak. Padi tinggal ditanam kalau habis. Hahaha ….” Nasi dari bibir Pak Milsa berjatuhan ke piringnya. Kemudian, ia menunjuk Reira. “Kalau dia ini, cucunya Pak Kumbang. Reira namanya.”
Tatap tidak percaya tersimpulkan dari wajah Mak Cik Siti. “Pak Kumbang? Berarti Reira anaknya Fany?”
“Mak Cik kenal sama mamanya aku?” tanya Reira dengan antusias.
“Pantas kau mirip sekali sama Fany!” Suara Mak Cik Siti terdengar bersemangat.
“Bagaimana kami tidak kenal, ia teman Mak Cik dulu waktu Fany tinggal di sini. Mak Cik rindu sekali same die!”
“Benarkah ibuku pernah tinggal di sini?” tanya Reira.
Pak Milsa mengangguk. “Tiga bulan dia jadi warga Manggar. Tapi, logatnya masih bercampur dengan logat Jakarta. Ini adalah rumah orangtuanya Pak Cik. Orangtuanya Pak Cik kenal dekat dengan Pak Kumbang. Jadi, sewaktu itu Pak Kumbang tinggal sebentar di sini bersama Fany. Tapi, ibu kau ditinggal dua bulan karena Pak Kumbang kembali berlayar bersama Pak Syarif.”
“Wah, lama sekali Mama ditinggal di sini.” Reira tersenyum.
“Bukan waktu yang lama bagi anak yang tidak mau diatur. Fany itu sangat susah diatur, kerjanya cuma main dan berenang di laut mencari ikan. Temannya semua laki-laki, termasuk Pak Cik.”
“Lah, apa bedanya sama Reira? Hahaha,” sindirku. Ia ternyata tidak jauh beda dengan Bu Fany semasa muda.
“Fany sempat sekolah sebentar di sini, makanya Mak Cik bisa kenal sama ibunya engkau. Kami sering mencari cangkang keong dan kerang di laut, lalu dijadikan kalung. Tapi, setelah itu ia kena pukul dengan sapu oleh bapaknya Pak Cik Milsa gara-gara pulang setelah Magrib.”
“Hahah, itu pesan Pak Kumbang. Kalau Fany nakal, pukul saja dengan sapu. Bahkan, sapunya sudah disediakan untuknya. Kau tahu Reira, Fany pernah melempar rumah Kepala Desa karena anaknya pernah menganggunya,” sambung Pak Milsa.
“Hahaha … Ternyata kami hampir sama,” balas Reira. “Kami sama-sama bebas dan tidak suka peraturan.”
“Tak Mak Cik sangke ketemu anaknya Fany di sini. Kau cantik seperti ibumu.” Mak Cik Siti memegangi kedua pipi Reira. “Semoga kau dan Zainab berteman baik.”
Reira memberikan tinjunya kepada Zainab. Melihat isyarat itu, Zainab pun memberikan tos tinju kepada Reira. Seperti sudah lama akrab, ia menjalin perkenalan sangat cepat dengan setiap orang.
“Jadi, kapan kalian mulai berjualan? Pasarnya di dekat dermaga.” Pak Milsa menghabiskan suapan terakhirnya.
“Kami kayanya besok udah bisa jualan,” balas Reira.
“Berapa hari?” tanya Pak Milsa lagi.
“Mau berapa hari?” Reira menoleh padaku.
Aku pun bingung mau menjawab apa. Padahal, ia yang memiliki rencana ini.
“Kurang lebih tiga hari, Pak Cik. Soalnya, minggu depan ada acara nikahan teman.”
“Oh, begitu. Sebut aja apa yang kalian butuhkan sama Pak Cik. Sebisa mungkin Pak Cik penuhi.”
“Sepertinya kami butuh tempat untuk jualan─”
Kalimat Reira dipotong oleh Pak Milsa.
“Tenang, kalau soal itu kami punya lapak di pasar. Tinggal pasang kayu penyangga same terpal saje.”
“Syukurlah, akhirnya kami dapat tempat juga,” sambungku.
“Kalian tidak akan mungkin menjual semua baju di dalam goni itu. Setelah itu, biar bapak beli semuanya.”
Sontak Reira langsung memberikan salamnya pada Pak Milsa. “Senang berbisnis dengan Pak Cik.”
Kami pun tertawa bersama-sama melihat tingkah Reira itu.
***