Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 97 (S2)



EPISODE 97 (S2)


Lapangan basket kami habiskan untuk berkeringat ria. Aku memainkan Mawar yang sama sekali tidak pandai dan inilah kesempatan diriku untuk bisa membodohi anak itu. Ya, seperti yang dia bilang, tidak ada orang-orang yang benar jenius. Setiap orang punya jalan jeniusnya masing-masing. Peluh dan penat membuat kami menyelamkan kaki ke dalam kolam renang yang tepat berada di samping lapangan basket. Tidak ada yang harus dilakukan lagi, kami pun bingung harus berbuat apa. Setelah itu, barulah kami membersihkan diri dan tidur untuk memulihkan tenaga.


Aku mengangkat koperku ke kamar. Ia berada di kamar sebelah kamarku. Sedari tadi ia tidak ada membuka pintu. Aku rasa ia telah tertidur pulas, sementara itu aku masih bertahan menulis cerita. Otak yang sudah letih pun memaksaku untuk menyerah. Mata aku pejamkan di atas ranjang empuk bak hotel bintang lima ini. Entahlah, aku juga tidak tahu ranjang hotel lima bagaimana, setidaknya kamar ini mewah dengan segala fasilitas dan juga hiasannya.


Mataku yang tertidur pulas dikejutkan oleh tangan Mawar yang menepuk pipiku dua kali. Ia sama sekali tidak tersenyum, aku pun tak berharap untuk disenyumi olehnya. Kalimatnya memintaku untuk segera mencuci muka dan melaksanakan ibadah. Ia berkata bahwasanya harus segera pergi ke lokasi subjek wawancaranya itu. Targetnya harus pulang kembali ke villa sebelum malam menanti.


Setelah bersiap-siap, kami berangkat dari villa menuju Desa Sukasari yang dimaksud. Masih dengan memanfaatkan peta elektronik, aku memutar stir mobil sesuai perintah dan tunjuk jalan dari Mawar. Kami sedikit lebih cepat dari jarak tempuk yang telah disebutkan oleh Pak Dadang. Sekitar tiga puluh menit, kami sampai di gapura Desa Sukasari yang berbentuk susunan bambu runcing sisa hiasan tujuh belasan.


Jalan ke Desa ini mulus beraspal. Kiri dan kanan merupakan rumah sederhan warga dan di seberangnya merupakan sawah yang berbentuk terasering. Ya benar, desa ini terletak di ketinggian sehingga banyak sawah yang seperti anak tangga. Padi masih berwarna hijau dan terasa seperti tumpukan padi yang empuk karena luasnya sawah. Aku berpikiran gila untuk bisa terjun ke sana.


Hanya sekali saja kami berhenti pada sebuah kedai warung harian, warga di sana langsung tahu orang yang kami maksud. Jalan kami pun mulus tak tersesat hingga berhenti tepat di muka rumah sederhana dengan jalan setapak menuju ke dalam. Kiri dan kanan jalan setapak itu merupakan kolam dengan ikan yang mencuat-cuat ke atas. Aku rasa Mawar tertarik dengan hewan-hewan, hingga ia berjongkok sesaat dan melemparkan sehelai rumput dengan harapan ikan tersebut menyambarnya.


“Hei, lo ke sini untuk berjongkok di sana dan melihat ikan, atau melakukan wawancara?” sindirku.


“Waktu masih terlalu panjang untuk terburu-buru,” ucapnya tanpa ekspresi.


Aku mengangguk memahami kalimatnya yang terkesan cuek itu. Langkahku berlanjut menuju teras rumah semen yang terletak sebuah meja dan dua buah kursi kayu di sampingnya. Terasa sekali suasana rumah tua di sini. Dinding warna hijaunya sudah memudar. Jendela rumah masih dengan design lama serta pintu yang sedikit lapuk di bagian bawah. Tatkala aku mendongak, terdapat bolongan triplek yang memudar dikarenakan air seni pengerat. Tanganku pun mengetuk berkali-kali dan menyahut salam dengan penuh kesopanan.


Mawar masih bertahan dengan posisi jongkok memerhatikan ikan-ikan. Tidak lama kemudian, Mawar bertepuk tangan agar aku menoleh padanya.


“Dave, gue ketemu tali pancing yang masih ada kailnya!” sahut Mawar.


“Apaan, sih? Kaya anak kecil aja!” Aku kembali mengetuk pintu rumah dan mengucapkan salam.


Tanpa perlu menunggu lama, aku pun mendapatkan sinyal dari jawaban orang di dalam. Pintu pun terbuka. Aku lihat paras manis seorang gadis desa yang memakai baju daster. Beliau pun tersenyum dan bertanya mengenai diriku.


“Iya, mencari siapa?” tanya gadis tersebut.


Tepat ia bertanya di akhir suaranya, terdengar suara tangis seorang bayi dari dalam rumah. Beliau pun menoleh ke belakang. Dari sana aku pastikan bahwasanya wanita itu bukanlah seorang gadis, tetapi merupakan orang yang sedang dicari oleh Mawar.


“Nah, kami nyari Laras. Di sana ada Kak Mawar. Udah tahu, kan?” Aku menunjuk ke belakang.


Mawar pun berlari menuju ke sini. Namun, mataku terbelalak tatkala di langkahnya yang rapuh itu ternyata salah memijak tanah. Ia oleng ke kiri. Berbunyilah suara ceburan air hingga mencurah ke atas.


“MAWAR!” teriakku.


Mawar tercebur dengan bodoh. Rapuh sekali kaki jenjangnya itu. Aku dengan cepat berlari untuk menggapai anak itu dengan segera. Menyesal pula diriku tak langsung menggiringnya menuju ke depan pintu, tetapi malah asyik berjongkok dengan melempar-lempar ujung daun rumput.


“David! David!” teriaknya dengan suara parau.


Antara mau marah dan tertawa, aku tak tahu harus bersikap apa. Hal yang pertama kulakukan bukan menariknya naik, melainkan menggapai tas selempang miliknya tersebut. Barulah tangan kami bersentuhan untuk aku tarik ke atas. Basah kuyup Mawar sepinggang akibat hal bodohnya tersebut. Percikan air pun membasahi bagian tubuh atasnya, namun tak separah bagian bawah yang berlumpur kotor. Ia seketika menangis menutup wajahnya pada lenganku. Semakin aku tertawa, ia semakin mencengkram dengan kukunya.


“Jangan tertawa!” Mawar berang.


“Iya ... iya ... gue enggak ketawa ....” Aku menutup mulut agar menahan tawa.


Tidak hanya aku yang merespon sama, tetapi Laras pun sulit untuk menahan tawa. Mau tidak mau, aku membawa Mawar untuk mengeringkan tubuhnya. Ia masih membelakangiku karena malu, bersentuhan dengan jaket hoodie milikku untuk menutup wajah.


“Ya memang harus malu!” sindirku, “ Ya elo, sih! Ada-ada aja ....”


“Eh, kok gitu, sih?”


“Udah ... jangan dipikirin. Bersihin aja tubuh lo dahulu. Udah kaya anak kecil main comberan,” candaku.


Ia semakin marah, memukul-mukul punggungku berkali-kali. Aku hanya tertawa saja. Ternyata senang menertawai orang yang selama ini bersikap serius seperti diriku. Seperti ada kepuasan tersendiri tatkala ia mengerang marah.


Laras memintaku untuk ke belakang rumah melalui jalur samping. Terdapat sebuah sumur cincin yang tepat berada di belakang rumah. Sepertinya dijadikan tempat untuk mencuci pakaian, terlihat dari banyaknya sisa cucian yang belum terselesaikan.


Pembatasnya dengan area luar hanya berupa triplek yang disusun sedemikian rupa. Sementara aku menarik katrol sumur, Laras meminta izin masuk ke rumah untuk mengambil handuk.


Aku pinta Mawar berdiri di sudut area sumur ini. Baunya amis seperti bau kolam ikan. Ingin aku mengejek sekali lagi, tetapi aku rasa cukup. Matanya merah karena tangis menahan malu. Ya memang, basahnya tidak seberapa. Malunya itu tidak tahan. Mata Mawar tak sanggup menatapku yang sedari tadi memerhatikannya. Napasnya tersenggal-senggal karena isak, tetapi tidak urung membuatku kasihan. Jahat sekali aku.


“Ingin membersihkan sendiri, atau gue siramin?” tanyaku.


“Siramin,” ucapnya singkat.


Aku menggapai ember besar yang sudah aku isi air. “Yaudah, hadap ke belakang.”


Bercucuranlah lumpur-lumpur yang mengotori tubuhnya tersebut. Masih dengan menahan tawa yang sedari tadi ingin keluar, aku mengambil bros pembersih lantai dan aku gosokkan ke jeans yang ia pakai. Tidak pula aku mengelusnya dengan menggunakan tangan.


“Udah bersih?”


“Balik arah ke sini.”


Ia berbalik dengan cepat. Sementara aku berjongkok membersihkan lumpur-lumpur yang sulit hilang. Aku pun mendongak ke atas. Tertangkap Mawar menunduk melihatku dengan seksama.


“Kenapa?” tanyaku. “Gue kaya lagi ngebersihin anak umur dua tahun yang habis main becek.”


“Makasih.”


Aku rasa ia tak pandai berterima kasih kali ini. Atau memang senyumnya terlalu sulit untuk dilebarkan karena malu yang masih merundungi dirinya.


“Handphone dan yang lain?”


Ia menunjuk ke tas yang aku gantung di atas. “Semuanya ada di sana. Kayanya aman.”


“Syukurlah, sekarang lepas sendal lo ini.” Aku menarik alas kaki yang ia kenakan. “Maaf, gue sentuh pakai tangan. Kulit lo kaya bayi, sekali bros pakai ini langsung luka.”


“Yaudah ....”


Seperti mutiara yang dibersihkan dari tumpukan lumpur, begitulah kaki dan jemari yang kini aku bersihkan. Cerah merekah tatkala aku siram dengan air, lembut seperti kulit bayi ketika aku usap menggunakan ujung jemari. Aku siram sekali lagi, bertambah jelas urat-urat kaki Mawar yang biru di balik kulit beningnya tersebut. Seketika aku berhenti tatkala jemariku menyentuh tumitnya.


Kenapa gue melakukan hal ini?


***