Captain Reira

Captain Reira
22



Demamku beberapa hari yang lalu perlahan membaik. Reira membawakan minuman jahe setiap hari hingga tenggorokanku terasa melepuh karena keseringan meminumnya. Reira berpendapat bahwa dirinya turut bertanggung jawab atas sakit demam yang kudapati. Selain itu, bermain dengan anak-anak jalanan itu sangat menyenangkan. Untuk sementara waktu, aku bisa melupakan kesibukan dunia yang melanda. Mereka sangat perhatian padaku. Setiap kali aku berkunjung, mereka selalu bertanya mengenai keadaanku yang sudah pulih atau tidak.


Matahari menunduk hingga tak menampakkan diri sejak empat jam yang lalu. Bulan tidak tampak oleh awan tebal yang bertebaran. Bintang gemintang hanya tampak di langit bagian selatan. Aktivitas bengkel Dika perlahan senyap. Tidak kudengar lagi bunyi alat-alat bengkel yang mereka gunakan. Biasanya, Dika dan pegawainya masih bertahan untuk sekadar mengopi dan bermain domino di dalam.


Di dalam baringku, masih teringat wanita yang menyisakan luka hingga terbawa dalam bunga tidur. Aku rindu padanya, sudah seminggu ini kami tidak bersapa. Ketika kami masih baik-baik saja, ia selalu menyempatkan diri mengundangku untuk masuk ke dalam mobilnya sembari menonton permainan bola di lapangan kampus. Ketika aku ingin menyalakan tembakau, ia akan menepuk tanganku hingga aku menjatuhkan pemantik yang kupegang. Dengan sedikit alunan lembut musik folk dari pemutar musik, kami merendahkan sandaran hingga setengah berbaring. Saling bertatap mata dalam tawa yang ia tunjukkan.


Balkonku bergemuruh. Perhatianku tertuju ke pada jendela yang terbuka. Acap kali kucing tetangga menyelinap hingga menjatuhkan pot bunga berkali-kali. Berkali-kali pula Dika mengomel padaku untuk jangan meletakkan bunga di atas balkon. Bayangan seseorang jatuh di bawah sela-sela pintu menuju ke balkon. Geraknya tampak sedang mondar-mandir mencari celah untuk masuk.


"Jangan paksa gue untuk masuk lewat jendela. Jendela lo enggak punya terali," ucapnya dari luar. Aku dengan cepat bisa mengenali suara itu. "Gue tahu lo lagi di dalam."


Wanita itu berbuat ulah lagi dengan memanjat rumah orang jam di sepuluh malam. Mataku melihatnya dari celah pintu untuk memastikan orang itu merupakan Reira. Bunyi kunci pintu berdetak. Seakan rumah sendiri, Reira langsung masuk dan berbaring di atas ranjangku. Kepalanya ditutup oleh hoodie dari sweater yang ia kenakan.


"Lo enggak pernah diajarin masuk lewat pintu?" tanyaku.


Ia berlagak seakan tidak peduli. Jemarinya menunjuk pintu balkon. "Bukannya gue masuk lewat pintu?"


"Bukan itu maksud gue, setidaknya lo enggak manjat rumah orang malam-malam begini. Kalau ketahuan, lo bisa diarak satu kampung gara-gara dikira maling." Aku menggaruk rambutku. "Ah ... sia-sia gue bicarakan ini sama lo. Lo enggak akan ngerti."


"Gue udah satu jam menunggu di bawah, tapi enggak ada yang buka pintu. Sementara itu, lampu kamar lo masih hidup. Daripada menunggu, lebih baik gue panjat." Ia meraih jaketku yang tergantung di belakang pintu. "Ayo, ikut gue. Ada sesuatu yang ingin gue tunjukkan sama lo."


Jaket mendarat ke tanganku ketika ia melemparkannya. "Andai saja Dika tahu lo di dalam, gue bakal dibunuh sama dia."


"Kayanya itu bakal terjadi." Reira dengan cepat masuk ke bawah tempat tidur.


Langkah Dika terdengar dari luar kamar. Seketika gagang pintu bunyi dan bergerak ke bawak, pertanda Dika sedang membukanya dari luar. Kepalanya muncul duluan dengan tatapan aneh ke padaku. Mulutnya masih berisikan makanan ketika berusaha untuk berbicara.


"Lo bicara sama siapa?" Matanya mengedar ke seluruh kamar.


"Yakin? Lo sedikit aneh akhir-akhir ini. Kemarin mengigau nama Reira waktu tengah malam. Sekarang, malah bicara sendiri." Ia berjalan selangkah untuk memerhatikan seisi kamar. Merasa sudah yakin, ia berbalik. "Oh iya, gue mau bilang kalau uang bulanan lo udah gue transfer. Jangan boros, ya."


"Oke, thanks Dika. Lo baik banget," balasku.


"Pujian lo datang kalau lo lagi dapat duit doang," cibirnya. Tangan kasarnya menutup pintu sedikit keras.


Helaan napasku terasa panjang ketika ia sudah berada di luar kamar. Namun, aku kembali tegang saat Dika kembali membuka pintu kamar.


Mata Dika kembali menatap aneh. "Sejak kapal lo pakai parfum cewek?"


Baru aku sadari bahwa parfum Reira begitu tercium di kamar ini. Mendengar itu, Reira sedikit gaduh di bawah tempat tidur. Bisa kudengar suara gerak tubuhnya yang panik di bawah sana.


"Oh itu, gue mau ganti parfum. Bosan yang kemarin. Harum, kan?" jawabku dengan santai.


"Kayanya lo benar-benar aneh." Ia masih merasa tidak yakin. Perlahan Dika menutup pintunya kembali. "Besok gue minta parfumnya, ya. Gue suka wanginya. Kaya parfum Reira waktu itu."


Helaan napasku terasa panjang setelah merasa Dika benar-benar sudah pergi. Aku tidak ingin ia berpikir yang tidak-tidak jika melihat Reira berada di kamarku, apalagi tanpa seizinnya. Dika bisa tiba-tiba merasa rumah ini miliknya seorang, sehingga mengusirku untuk pergi. Ah ... tidak kubayangkan jika itu benar-benar terjadi.


Kepala Reira menongol dengan hati-hati untuk memastikan keadaan sudah aman.


"Dika punya selera parfum yang bagus." Ia tertawa sejenak, lalu melangkah ke balkon untuk turun melalui tangga kayu. "Gue tunggu lo di mobil lima menit lagi."


Tanganku mengepal kesal. Ia benar-benar sudah gila karena berani memanjat rumahku. Sudah dua orang yang pernah memanjat seperti itu di rumah ini. Jika tidak maling yang ingin menerobos, maka si gadis laut itu. 


***