Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 2 (S2)



EPISODE 2 (S2)


 


Mentari menujukkan eksistensinya di ujung langit timur yang terang benderang. Cahaya membelai tubuh kami, menyelimuti kami dengan kehangatan yang ia pancarkan. Dari balik awan gemawan dalam bentuk gugusan panjang tersebut, tersibak sekat-sekat cahaya yang menjorok ke barat. Indah sekali pemandangan pagi ini, bagaikan tepian surga yang secara fiktif kurasakan melalui imajinasi. Aku pun beradu dengan terpaan angin di ujung kapal, namun tak seromantis film Titanic dengan seorang wanita berparas cantik. Reira mana mau melakukan hal itu, apalagi aku, apalagi jika Candra yang melihatnya. Terpaksa aku hanya berpelukan bersama bayangan yang turut tersenyum padaku yang lebih gelap daripada dirinya.


 


Laut begitu biru cerah seperti langit pagi hari ini. Birunya laut mengingatkanku atas puisi-puisi sebelumnya yang turut menghadirkan harmoni laut di tengah derai rindu, selalu berhubungan dengan hal itu. Aku dengan leluasa menadahkan wajah mencari titik celah untuk aku menghina hari yang sedang berlangsung, namun aku tidak kunjung menemukannya. Terlalu indah untuk kulewatkan segala kenanganan ini.


Ujung Kota Manggar tampak oleh kapal-kapal yang menepi di sebuah perkampungan nelayan. Segaris bangunan kecil kulihat memanjang dalam gerak lambat pandanganku yang bergoyang mengikuti alunan gerak kapal. Beberapa kapal nelayan turut bergerak satu arah bersama kami membawa segudang ikan di dalam penyimpanan, semoga malam tadi malam tadi mereka mendapatkan ikan-ikan yang banyak. Nelayan di dalam kapal tersebut melambai kepadaku yang berdiri tenang di ujung sini, memperhatikanku memegang sebongkah kentang rebus buatan Reira.


Tenangnya pagi ini membawaku untuk membakar ujung tembakau yang sedari tadi kuselipkan di balik telinga. Bagaimana tidak kami akan diracuni selama liburan ini, Candra membeli rokok berbungkus-bungkus untuk mengantisipasi kekurangan racun. Anak itu parah sekali, kurasa. Namun tidak apa, aku turut menikmatinya juga. Ujung tembakauku bergemeretak hingga ke pangkal tatkala kapal benar-benar sampai ke tepian, tepatnya pada sebuah perkampungan nelayan.


Terdapat banyak sekali kapal-kapal ikan yang bersandar di tepi dermaga kecil tersebut. Kuli pengangkat kotak gabus berisikan ikan lalu-lalang di dermaga untuk mengantarkannya pada pengepu. Teriakan nelayan dalam Bahasa Melayu Belitung menyeruak di telingaku tatkala mereka saling bersahutan antar kapal. Klakson kapal Leon milik kakeknya Reira berseringai nyaring, aku terkejut dibuatnya hingga menjatuhkan kentang rebus ke dalam laut.


“Besar sekali suaranya,” ucapku.


Kakek Syarif tampak memerintah awak kapalnya untuk mengangkut goni-goni pakaian yang masih tersimpan di bawah. Sementara itu, Reira masih tertawa bersama anak remaja hasil buruannya di jalanan. Padahal, ia terdapat bawaan jualan pakaian anak yang akan kami jajakan di pasar.


Wajah kantuk Candra akhirnya kulihat, ia baru saja turun dari ruang kemudi.


“Lo enggak tidur?” tanyaku. Kantung matanya semakin hitam, selaras dengan rambut keriting se-telinga yang tak terurus.


“Razel anaknya asyik juga, jadi gue enggak bisa tidur. Dia cerita tentang masa SMA-nya yang sering tawuran.” Candra merogoh kantung celanaku. Setelah mendapatkan kotak tembakau yang ia inginkan, Candra langung menoleh kepada Reira. “Woi, Reira! Kita harus angkat bawaan kita!”


“Gosok dulu gigi lo dan cuci muka, kusut banget!” balas Reira dengan santai, lalu wanita itu kembali tertawa bersama para remaja yang ia sebut sebagai awak kapal tersebut.


Candra menoleh padaku kembali dengan wajah datar. “Nah, lo lihat … anak itu─”


“Hahah … sudahlah, dia itu Reira, bukan Fasha yang suka bermanis-manis dengan lo.”


“Lo kok bisa pacaran sama dia, sih?” tanya Candra. Kami melangkah ke gudang untuk mengambil jualan kami.


Aku tersenyum. “Lo kok bisa enggak pernah suka sama cewek, sih?”


“Oke … oke … kalian berdua sekarang mirip, suka mencela perkataan orang lain. Hahahaha ….”


Kami pun menarik tiga orang remaja yang dibawa oleh Reira untuk membantu mengangkat empat karung goni besar yang berisikan pakaian anak yang dibeli Reira dari hasil memeras Ayahnya. Bukanlah urusan kecil bagi Reira untuk meminta uang. Anak anggota DPR negara ini tak pernah bermasalah dengan uang, namun uangnya jarang sekali ia gunakan untuk bermanja diri. Selalu untuk orang lain dan kesusahan dirinya sendiri. Itulah yang aku kagumi dari sosok yang selalu berpakaian lusuh bekas berburu kupu-kupu di kompleknya itu, lalu dijadikan pajangan bersamaan dengan sepetak kulit harimau dari buruan pamannya sewaktu muda.


Entahlah, anak ini memang keturunan petualang kurasa.


Gelap ruangan kini terang oleh cahaya lampu minyak yang dibawa oleh awak kapal Kakek Syarif yang berjumlah belasan orang. Anak-anak nelayan putus sekolah ini dimanfaatkan oleh kakek harmonika berjanggut putih itu untuk melaut bersamanya. Lihat saja tangan-tangan kekar mereka yang berbekas hasil perjuangan mengangangkat jangkar, begitu pula hitam legam dahi dijilat mentari laut yang ganas.


“Angkat dua goni di sana, biar kami yang di sini,” ucapku pada salah satu awak kapal milik Reira.


“Besar banget ya, Bang,” balasnya.


“Makanya, angkatnya satu-satu. Cukulah satu goni buat tiga orang sekali angkat. Ayo …”


“Baik, Bang! Laksanakan demi Kapten Reira!” pungkasnya dengan semangat."


Aku dan Candra pun tersenyum senang melihat semangat yang mereka tunjukkan itu. Aku tidak tahu apakah mereka masih bersekolah atau tidak. Semoga mereka masih pejuang pemutus kemiskinan di garis pendidikan. Senyum tulus mereka itu ialah harapapan keluarga tertinggi selain berkumpul di malam hari dengan lantunan ayat suci yang dibaca sehabis Magrib.


Candra menepuk diriku. “Giliran kita, goni ini cukup besar.”


“Tenang … hidup gue lebih berat daripada goni ini.”


“Terserah lo, deh!”


 


Kami mengangkat karung goni besar ini dengan bersusah payah, bahkan dengan tenaga dua orang sekaligus. Berbeda hal dengan awak kapal Kakek Syarif yang sanggup menangkat beban yang sama, mereka mengangkat karung goni ini sanggup hanya dengan satu punggung. Reira tampak menertawakan kami bersama beberapa remaja jalanan yang turut mengikuti gelagat kapten mereka itu. Aku hanya bisa menjulurkan lidah membalas candaan yang ia lontarkan bersamaan.


 


Tidak apa, ia bebas menertawakan kami karena dirinyalah motivasi kami untuk ikut di dalam perjalanan. Selain itu, semua keperluan kami juga dipenuhi oleh dirinya sendiri, kecuali urusan candu kami berdua. Aku dan Candra patungan untuk hal itu. Sama hal seperti perjalanan kami ke Bromo untuk menjemput Reira, Candra malah membelikan uang patungan kami untuk berbungkus-bungkus tembakau tanpa memikirkan jika kami juga harus makan. Alhasil, kami melakukan barter makanan dan rokok dengan kelompok Redi, teman Reira itu.


Satu per satu karung milik kami akhirnya berangkat ke daratan melalui dermaga kayu kecil yang rapuh. Kami ikut gamang ketika decit kayu dermaga semakin kuat berbunyi seiring langkah para awak kapal kakek Syarif lalu-lalang dan para nelayan yang mengangkut ikannya. Kami terduduk bersama tiga orang remaja jalanan yang kutarik dari lingkar canda Reira saat itu. Peluh mereka jatuh ke kaos lusuh yang bau matahari. Aku tahu kami belum sama-sama makan yang cukup, namun aku tidak tahu daya tahan tubuh mereka apakah sama dengan kami yang sudah dewasa.


Batas antara laut dan daratan berupa beton semen sebagai penghalang abrasi air laut. Kami duduk berjejer untuk menikmati angin laut yang datang menuju ke daratan. Perlahan peluh kami terhapus oleh segarnya pagi ini, walaupun mentari pelan-pelan merangkah menambah ganas cahayanya.


“Kalian merokok?” tanya Candra kepada tiga remaja jalanan tersebut.


Aku pun sadar, ketika kami seumuran mereka, kami pun turut sembunyi-sembunyi menghisap rokok di tempat tongkrongan. Lalu, rokok disembunyikan ketika terdapat tetangga yang lewat.


“Enggak, Bang. Terima kasih.”


Telingaku naik mendengarnya. Dugaanku salah ternyata. Candra terlihat menarik tangannya yang menawarkan, lalu beralih mencampakkan bungkus tembakau itu padaku.


“Aku kira anak-anak yang besar di jalanan seperti kalian pada merokok semua.”


Mereka saling bertatap sembari tersenyum.


“Dulu sih iya, Bang. Tapi Kak Reira melarangnya. Kami nurut sama dia,” balasnya.


Candra menoleh dengan cepat. Tangannya menunjuk Reira yang lagi bersandar di kapal. “Kalian takut sama cewek itu? Ngapain … hahaha.”


“Eh, elo itu!” Aku menepuk bagian belakang kepala Candra. Ia pun masih meneruskan tawanya.


“Jadi, Reira bilang apa ke kalian?” tanyaku.


“Hmm … itu Bang … Kak Reira bilang merokok itu bisa menyebabkan kanker paru-paru. Waktu itu ada temen Kak Reira yang dokter speliasis paru yang mengajarkan kami di gedung kemarin itu,” balasnya.


“Spesialis … bukan speliasis,” sambung salah satu kawannya.


 


Kami sama-sama tertawa mendengarkan remaja belia itu yang salah menyebutkan kata.


“Oh, begitu … Kak Reira memang punya banyak teman. Gue aja enggak tahu kalau Reira punya temen yang dokter spesialis paru,” balasku.


 


Pandanganku jatuh pada Reira yang melambai di atas kapal. Suaranya parau terdengar menyebutkan sebuah nama, yaitu namaku. Aku pun menepuk Candra dan remaja yang berbicara padaku tadi. “Abang ke sana dulu, ya … Kak Reira manggil. Kalau abang keriting ini nawarin rokok ini ke kalian, tolak aja dia ke bawah biar nyebur.”


 


“Oke, Bang!”


Mereka memberikan jempolnya padaku. Sedangkah Candra menepuk kakiku tatkala langkah lari kumulai menuju dermaga kembali. Kulihat Reira menungu di kapal masih dengan lambaian tangannya yang menyabutku. Wajahnya tak secerah Fasha yang selalu melakukan perawatan, namun cukup menarik jika diterpa mentari seperti saat ini. Tatkala aku tiba, ia langsung menarik tanganku menuju sisi Timur kapal. Kemudian, memaksa kepalaku untuk melihat ke bawah laut.


Aku lihat segerombol anak-anak yang tengah berenang di bawah sana. Kapal besar ini pun mereka pukul-pukul untuk menarik perhatian kami. Dalamnya laut biru tak menjadi masalah bagi anak-anak nelayan yang tengah berteriak memanggil-manggil kami di atas sini. Semakin berteriak mereka, semakin tangan Reira mencengkram pundakku. Ia memanjangkan tangannya ke pundakku yang lain seakan ingin melemparku ke bawah sana.


“Kak, hujan duit!” teriak mereka di bawah sana.


Reira menatapku. “Lo lihat mereka, kan? Lucu sekali!”


Suara Reira terdengar gemas oleh tingkah laku anak-anak di bawah sana yang memanggil kami berulang-ulang.


Aku pun mengambil sebuah uang koin dan selembar uang kertas untuk kusajikan pada mereka. Reira langsung mengambil dompetku, lalu menarik uang kertas jumlah terkecil yang kupunya. Tidak apa-apa, ia bebas melakukan apa pun saat ini. Setidaknya demi hal gila yang ingin ia lakukan padaku.


“Kalian mau duit?” teriak Reira.


Reira menatapku dengan harap. “Lempar sama-sama, ya … satu … dua … tig─”


Belum sempat ia menyemurnakan kalimatnya, Reira sudah lebih dahulu melemparkan uang miliknya. Aku pun mengikuti hal yang sama. Belum sampai uang jatuh menuju ke laut, mereka sudah berteriak senang dengan apa yang kami lakukan. Tangan mereka menadah ke atas menyambut sejumlah rejeki yang kami punya. Senyum yang mereka belai dari wajah basah mengkilap itu sungguh begitu tulus, tiada beban walaupun tengah bersusah payah mengapung di atas kedalaman air. Uang yang kami lempar pun tercemplung ke laut, mereka langsung berebut untuk meraih uang kertas. Sebagian dari mereka menyemplung untuk mencari uang koin yang sudah lebih dahulu tercemplung.


“Lagilah, Kak!” teriak mereka kembali.


Reira tertawa senang melihat tingkah lucu mereka di bawah. Seakan merasa tertantang, Reira mengeluarkan dompet miliknya.


“Ambilkan gue kantung plastik,” perintahnya padaku.


Aku mengernyitkan dahi. “Buat apa?”


“Lakukan saja, itu kantung plastik ada di ruang kemudi, Razel masih ada di atas sana. Gue siapkan kantung plastik buat jaga\-jaga kalau kalian muntah perjalan laut.”


“Lo sampai segitunya!”


Aku berlari menuju ruang kemudi untuk melaksanakan titah pertama seorang kapten kapal pagi ini. Entah apa yang akan ia lakukan jika aku menolak untuk melakukannaya. Bisa jadi ia akan mengeluarkan semua kartu penting, lalu dompet beserta uangnya ia lemparkan ke laut sana untuk dihadiahkan kepada anak-anak nelayan itu. Alien betina itu tidak akan ragu-ragu untuk melakukannya jika ia mau. Melumuri mobil Bagas dengan telur saja ia berani, padahal ia adalah pria terpopuler di fakultasku.


Terlihat Razel sedang menghisap tembakau dengan kaki dinaikkan pada kemudi kapal. Ia terlihat santai sekali pagi ini. Kedatanganku membuattnya terkejut, hingga ia hampir terjatuh dari kursinya.


“Oalah .. gue kira Ayah gue! Dasar lo, Bang!” protesnya.


Aku pun tersenyum curiga. “Oh, lo takut ketahuan merokok, ya? Hmmm awas ….”


“Hahaha … jangan kasih tahu, Bang. Gue bisa dibuang ke laut. Mau apa?” tanya Razel.


“Ada kantung plastik?” tanyaku.


“Kantung plastik?” Ia berpikir beberapa saat, lalu membuka laci di yang berada di dalam jangkauan tangannya. Dua buah kantung plastik ia berikan padaku. “Bang Candra muntah, ya? Kata Kak Reira, kantung plastiknya buat kalian berdua kalau muntah.”


Aku meraih kantung plastik tersebut.


 


“Enggak, Kak Reira cuma minta. Tapi, enggak tahu buat apa.”


 


“Tumben Kak Reira muntah. Minum anggur merah sebotol aja dia biasa aja,” balas Razel.


“Emang dia pernah minum anggur merah?”


Aku juga tidak heran jika ia pernah minum alkohol. Di malam sebelum kami berangkat puncak Bromo, kami pun menuang wine bersama yang ia dapatkan dari kakaknya di Prancis. Harganya pun sangat mahal, menyentuh angka puluhan juta jika dirupiahkan.


“Enggak, kok … gue canda. Hahaha ….” Razel tertawa terkikik sembari menghisap tembakaunya kembali.


“Ah, bodo!” pungkasku sembari melangkahkan kaki menuju tangga ke bawah.


Reira menungguku dengan wajah tak sabarnya. Tatkala aku sampai, ia langsung meraih kantung plastik yang kubawa. Terlihat dirinya mengeluarkan uang lembar merah seratus ribu Rupiah, lalu dimasukkannya ke dalam kantung plastik tersebut.


“Jangan dilakukan, hanya orang kaya yang melakukannya,” sindir Reira.


“Iya, gue tahu … gue bokek. Cuma bisa ngasih mereka lima ribuan!” balasku membuang muka.


“Mau hal gila pagi ini?”


Ia mulai merayuku kepada rahasia yang akan segera terjadi. Entah apa yang ingin ia lakukan padaku. Alien betina ini sedang berusaha memengaruhiku untuk masuk ke dalam pikirannya.


“Mau ngapain?” tanyaku.


Reira membuka sepasang sepatu yang ia pakai beserta kaos kaki yang ia masukkan ke dalamnya. Turut pula handphone dan dompet berharga miliknya itu ia letakkan di atas lantai kayu kapal.


“Kita terjun pagi ini. Menjemput anak-anak di sana.”


“Lo gila?” protesku.


“Sejak kapan lo mengira gue ini orang waras?” Ia memegangi kedua pundakku.


 


“Percayalah sama gue, gue ini Reira. Selagi gue sama lo, enggak akan hal bahaya pun yang terjadi.”


 


Bibirku pun bergetar, bingung untuk menjawab apa. Perlahan tanpa kusadar, ia membuka kaos yang kukenakan. Wajahnya seakan memandang remeh diriku yang pengecut ini. Sedari dulu aku selalu dirundung takut oleh banyak hal, lalu dilindungi oleh berbagai orang yang begitu sayang padaku. Hingga, hal itu sendiri yang membuatku terjebak ketika segala yang kupunya sirna ditelan takdir yang berbicara. Aku dengan tegas melepas kedua sepatuku.


“Ayo, kita kalahkan rasa takut!” tegasku padanya.


Reira tersenyum senang melihat tekad itu.


 


“Itu baru asisten kapal gue!”


 


“Untuk Kapten!”


“Mau uang, kan? Tunggu, ya … setelah uangnya dapat. Kalian menghindar karena kakak ini mau melompat.” Ia menekan kepalaku ke bawah.


“Lagi, Kak! Ayo!” balas teriak mereka.


Ia menatapku dengan sorot mata dalam.


 


“Lakukan, ini perintah Kapten!”


 


Titah kedua seorang Kapten kudapati. Plastik yang berisikan pecahan seratus ribu tersebut kupindahtangankan padaku. Dengan penuh harapan, aku lemparkan plastik tersebut ke bawah agar mereka dengan tepat mengambil uang tersebut lalu dimasukkan ke dalam tas sandang yang mereka jadikan tempat pengumpulan uang.


“Ayo, kita sama-sama.” Reira naik ke atas pembatas kapal dengan berani. Diikuti olehku yang turut melakukan hal yang sama. Ia gagah bertegak pinggang menghampiri angin laut yang menerpa kuat. “Ini adalah hal gila pagi ini, gue suka!”


“Gue selamatkan lo tiba di bawah,” balasku.


“Gue ini seorang Kapten, gue yang menyelamatkan diri lo!”


“Terserah, deh.”


Tanpa memperpanjang perdebatan, kami melompat bebas bersama-sama dengan berpegangan tangan. Kurasakan sensasi berbeda tatkala bersamanya kali ini. Penuh gairah, tantangan, dan tanpa rasa penyecut yang selalu saja menghantui diriku. Ia adalah pembawa sebuah rasa yang sedang menghantui diriku.


Kami pun tercebur bersama-sama ke dalam asinnya air laut. Air segera membasahi sekuju tubuh tatkala kami menyelam hingga dua meter ke bawah. Reira memelukku erat tatkala di bawah, kakinya melipat pada pinggangku.


Tanpa kusadari, bibir kami tulus bersentuhan.


***