Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 130 (S2)



EPISODE 130 (S2)


Jika Tuhan Maha Adil, kenapa tetanggamu punya mobil mewah, tapi engkau hanya punya vespa butut yang sering sekali mogok di jalan?


Jika Tuhan Maha Adil, kenapa tetanggamu setiap malam makan di restoran, tapi engkau masih berbagi nasi bersama kucing yang tiap malam mengeong di kakimu, padahal itu bukan kucingmu?


Jika Tuhan Maha Adil, kenapa kucingmu tidak makan ikan asin, sedangkan kucing tetanggamu memakan makanan kucing mahal yang harganya melebihi modal makanmu sehari?


Jika Tuhan Maha Adil, kenapa Ia cabut nyawa kedua orangtuaku, sedangkan anak manja di luar sana dengan sombongnya memerkan harta yang masih belum sepenuhnya miliknya?


Aku pernah berpikiran seperti itu. Benciku mencuat tatkala mereka yang turun pada sebuah mobil mewah di parkiran restoran cepat saji bersama keluarga, lengkap dengan kedua orangtua dan adik-beradik. Sementara itu, aku berhujan-hujanan mencari warung yang masih buka di pukul hampir dini hari. Berharap malam ini akan kenyang oleh mie instan dan roti seribuan untuk sarapan berikutnya. Sementara itu, Dika mengutuk-ngutuk di rumah kenapa aku lama sekali pulang.


Benarkah Tuhan tidak adil? Padahal kita bertuhan yang sama. Mungkin kita beragama berbeda, tetapi aku memiliki keyakinan bahwasnaya setiap dari kita akan menuju ke subtansi Yang Maha Esa.


Seiring waktu berjalan dan kedewasaan yang memengarhui pola pikirku, aku pun mulai berpikir mengenai kehidupan. Seluruh luka, lara, dan rasa benci menyiratkan sebuah hal yang mengubah pola pikirku hingga saat ini. Tuhan menciptakan sebuah kekosongan pada setiap hamba-Nya. Kekosongan itu akan berbeda pada setiap hamba dan tidak akan pernah sama, bersentuhan pun tidak. Di sebelah lobang kekosongan itu, terdapat hal yang membuat manusia terpuruk hingga tak mampu ke permukaan. Ada pula beberapa memiliki hal yang menyanjungnya sebagai manusia, menerbangkanya ke atas sebagai kenikmatan dunia.


Lalu, mengapa Tuhan menciptakan kekosongan itu?


Itu karena Tuhan meminta kita berpikir untuk mengisi setiap kekosongan yang dimiliki oleh manusia yang lain. Seseorang miskin akan diisi kekosongan oleh hartawan dermawan, begitu pula para orang kaya yang diisi kekosongannya dengan pengajaran tentang rendah hati oleh para yang tidak punya. Semua saling mengisi, saling mengenal, saling membantu. Namun, manusia selalu saja menciptakan masalah yang akan diselesaikannya sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang tidak ingin mengisi kekosongan tersebut, sibuk dengan diri sendiri.


Aku pernah mengharapkan menjadi orang kaya raya seperti teman-teman SMA-ku yang saban hari membawa mobi, dan aku beruntung masih bisa menumpang dengannya. Namun, percayalah ... terkadang harapan itu apabila terjadi secara nyata, engkau tidak akan mampu untuk menanggungnya. Bisa jadi kekayaan itu yang membuatmu terpuruk nanti. Bisa jadi aku akan sombong, atau bahkan mengikuti jejak Rio yang menghabiskan uangnya untuk sepaket sabu. Kita hanya sibuk melihat ke atas, tanpa mau untuk membenahi yang di bawah, atau memperbaiki pijakan yang berbentuk sama dengan orang lain.


Kini, Reira telah membuka lobang kekosongannya sendiri. Selama ini, ia selalu mengisi kekosongan orang lain. Rintih tangis hati yang ia tahan sebetulnya mengharapkan ada orang-orang yang membantunya untuk mengisi kekosongan itu. Ia butuh tempat untuk mencurahkan segala rasa yang ia pendam, membantunya keluar dari keterpurukan ini.


“Wah, udah habis yaa ... mau nambah, engggak?” tanya Reira tatkala kami kembali lagi ke meja.


Ia pandai sekali memanipulasi ekspresi di hadapan orang banyak. Senyumnya luar biasa palsu dan aku benci hal itu. Namun, aku tidak bisa melarangnya untuk melakukan hal tersebut. Tidak tepat rasanya untuk menghentikan suka cita ini.


Mayoritas dari anak-anak tidak ingin menambah kembali makanan. Namun, Reira malah memaksa untuk membeli kembali makanan agar bisa dibawa pulang. Aku dibawanya untuk memesan ayam goreng sebagai oleh-oleh bagi kelompok mereka yang tidak turut membersamai. Setelah membagikan makanan, kami pun bergegas pulang ke rumah masing-masing. Masih dengan titik diam―karena Reira masih tidak ingin membeberkan berita di malam ini―aku hanya membawa santai pembawaan ketika di dalam mobil bersama Mawar.


Berterima kasih sekali aku kepada anak punk yang sudah menyemarakkan suasana malam ini. Mereka kembali pulang dengan vespa gembel mereka dan berujar akan menghabiskan ayam goreng itu di depan lampu merah. Sementara itu, anak-anak awak kapal Reira pulang bersama wantita itu dengan mobil. Aku tahu kode mata Reira untuk merahasiakan hal ini hingga esok. Aku balas dengan mencium keningnya sembari berucap agar ia tetap tegar hingga kedatangan jenazah Bu Fany.


Tinggalah aku dan Mawar di depan bengkel Dika yang tutup.


“Ayo ke cafe sebentar ....”


“Pakai mobil, kan?” tanyaku.


Alisnya naik sebelah. “Gue boleh request?”


“Request?”


“Kita naik vespa. Gue pengen nikmatin angin malam. Lumayan deket juga, kan?”


“Oke, enggak apa-apa.”


Ya, aku rasa sudah terbiasa untuk berboncengan berdua dengan anak itu. Reira juga tidak pernah melarangku, bahkan ia menyuruhku untuk membonceng Mawar apabila ia tidak ada kendaraan. Berangkatlah kami berdua dengan suara vespa yang menggelegar di malam hari. Agar tidak terlihat aneh, aku pun mengganti kostum casual. Sementara itu, Mawar aku pinjamkan hoodie agar tiak terlalu dingin di jalan.


Cafe hanya tersisa beberapa meja yang masih berisi. Tampak Zulqarnaik duduk di hadapan mesin kasir untuk menunggu pelanggan pulang. Kepalanya berdiri ketika kami datang.


“Wah, selamat ya buat Bang Dika.” Ia menyalami diriku. “Kalau waktu nikahannya, gue pasti datang.”


Aku tersenyum. “Iya, makasih banyak buat malam ini. Lumayan banyak malam ini?”


“Kaya kemarin ... tapi masih bisa teratasi.” Ia memberikan jempolnya.


Melangkah aku ke mesin kasir untuk mengambil pecahan uang seratus ribu. Aku langsung menempelkannya ke tangan Zulqarnain. Tahu betul aku bagaimana ekspresi seorang mahasiswa yang baru saja diberi bonus, senang bahagia membayangkan besok ingin makan di mana.


“Hahah ... udah ambil aja. Itung-itung gue juga lagi senang malam ini.” Aku membalikkan tubuhnya dan mendorongnya ke depan. “Sekarang pulang, bawain temen kos nasi goreng atau apalah biar mereka kenyang. Biar kami urusin selebihnya.”


Ia berbalik diri. “Iya, Bang ... gue serahin selebihnya sama Bang David dan Kak Mawar. Btw ... kalian berdua cocok banget malam ini.”


Aku dan Mawar saling bertatapan.


“Makin malam makin ngaco otak lo. Udah sana pulang! Hahah ....”


“Hahah ... iya ....”


Satu per satu pelanggan pun tutup. Kami pun memberesi seluruh meja untuk ditumpuk dalam satu area. Memang, area yang tertutup kanopi masih beresiko untuk dimasuki oleh maling, tetapi aku berpikiran positif saja karena aku selalu berpesan dengan pemilik toko di sekitar agar selalu mengawasi. Aku berencana akan menutup seluruh area utama dengan dinding kaca. Tentu saja aku akan merombak ulang design dari cafe. Tapi, itu masih lama aku rasa. Saat ini, yang paling penting untuk diamankan hanya bagian di dalam container.


“Ada sesuatu yang terjadi dengan Reira?” tanya Mawar secara tiba-tiba.


Aku berhenti menutup jendela container. Mataku terarah padanya. “Lo tahu sesuatu?'


“Bukan tahu sesuatu, tapi gue ngerasa ada ekspresi yang berbeda. Terutama semenjak dia permisi keluar.”


Helaan napasku terasa berat tatkala ia mengatakan hal tersebut. Ia terlalu detail mengobservasi seseorang, hingga hanya dirinya sendiri yang tahu mengenai itu. Janji untuk menahan pesan ini sampai esok hari, akhirnya aku langar dengan sendirinya. Bersandar aku di samping Mawar.


“Bu Fany meninggal, bahkan sebelum dimulainya acara lamaan Dika.” Aku menatap wajahnya. “Apa yang lo pikirin tentang Reira?”


Wajah wanita itu menatap tidak percaya mendengar kalimatku. Namun, aku tahu persis ia akan mempercayai langsung hal ini. Tidak ada alasan bagiku untuk berdusta.


“Dia bodoh nyembunyiin itu. Tapi, hal itulah yang paling tepat buat dilakuin. Gue enggak bisa ngebayangin bagaimana bisa Reira menahan wajahnya itu.”


“Dia psikopat handal.,” balasku singkat.


“Gue rasa begitu.” Ia berubah posisi berhadapan denganku, lalu bersandar ke kulkas di belakangnya. “Percayalah ... Reira bakalan menghilang.”


Kepalaku berdiri. “Anak itu enggak dapat ditebak. Dia selau menghilang kalau ada masalah besar.”


“Mengenai curhatnya tentang rencana Reira akan menghilang ke sebuah tempat yang damai ... penuh dengan hijaunya tanaman kebun, bersama satu orang yang ia percaya, lo kini merasa yakin kalau Reira bakalan ngelakuin itu?”


“Gue bukan enggak percaya, tapi ... ada kemungkinan Reira bakalan ngelakuin hal itu.”


“Lo masih bisa mikir siapa satu orang yang dipercaya itu?”


“Gue harap itu gue. Gue rela ke mana aja dengannya.”


Mawar menggeleng. “Bagaimana kalau itu Kakek Kumbang?”


“Itu bagus ... Kakek Kumbang udah berhasil ditemukan.”


“Gue dibesarkan dari keluarga scientist. Gue enggak percaya tahayul atau mitos tentang keris sakti. Hipotesa yang paling mungkin adalah Kakek Kumbang udah benar-benar mati. Gue menganalisis perkataan dia dengan kesimpulan bahwasanya Reira berharap akan ada suatu tempat damai di mana ia ada bersama kakeknya. Tempat damai itu metafora dari surga.”


Aku mengetuk keningnya. “Gue menyela hipotesa lo. Reira bilang orang terpercaya itu yang bakalan ngerawat dia sewaktu sakit, ada di waktu senang, dan lain sebagainya. Surga enggak bakalan ngerasain sakit.”


“Bisa kalau lo yang memintanya sendiri. Itulah paradox dari surga. Jika seluruh permintaan dikabulkan, seharusnya kita boleh meminta untuk disiksa atau meminta untuk tidak dimasukkan ke surga.”


“Hahah ... jauh sekali pikiran lo. Surga bukan tempat yang administratif dengan dalil seperti itu. Penjaga surga bukan PNS yang ngelakuin sesuatu sesuai peraturan baku.”


Kami berdua tersenyum bersama setelah perdebatan kecil ini. Namun, keyakinanku timbul bahwasanya ia akan benar-benar menghilang. Terutama semenjak Reira menceritakan sepucuk revolver beserta kegunaannya. Namun, masalah apa yang ada saat hal itu benar-benar terjadi? Aku tidak tahu.


***