Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 47 (S2)



EPISODE 47 (S2)


Begitulah Reira dengan segala tingkah jenaka yang tersirat sebuah kebaikan, walaupun etikat baiknya tersebut ia tunjukkan dengan gaya yang sedikit arogan, meninggikan diri, seakan merendahkan. Aku rasa dibalik segudang kelebihan orang lain terdapat hal-hal yang menjadi kekurangan diri individu tersebut. Aku merasakan benar bagaimana Reira yang sangat baik sekali, namun di sisi lain ia mempunyai harga diri yang tinggi sekali, hingga ia tak ingin kalah dari siapa pun. Itu pula yang menjadikan kebiasaannya untuk membungkam perkataan orang lain, tidak memikirkan orang lain akan menjadi benci pada dirinya. Namun, Reira santai saja. Ia tidak pernah memedulikan seseorang yang membencinya.


Entahlah, kadang aku bingung juga mengatakan hal itu sebagai kelebihan atau kekurangan. Namun, aku condong ... itulah kekurangan dari seorang Reira. Hanya saja, kekurangannya tersebut ditutupi oleh putihnya hati bak layaknya lembut pasir Tanjung Tinggi yang dipijak oleh beningnya kaki Mawar. Bertambah harmoni sekali apabila itu terjadi. Perpaduan itu yang dapat melambangkan hati dari seorang Reira.


Sebuah pesan singkat aku dapati dari Reira yang mengatakan bahwasanya Bang Ali akan datang menjemput kami. Aku pun terkejut ketika seorang ketua dari Mapala kampus jauh-jauh ke sini atas perintah seorang Reira. Pria seram dengan kulit bak sawo terlampau matang itu mau-mau saja mengiyakan permintaan Reira. Aku pun menyampaikan kepada Mawar agar tidak jadi memesan taxi online dari aplikasi.


Satu jam menunggu sembari bermain domino di salah satu kedai kopi tepi dermaga, akhirnya Bang Ali datang dengan napas yang tidak beraturan.


“Maaf, gue lambat banget. Soalnya mobilnya enggak mau hidup.”


Kami pun melongo melihatnya yang bertambah keling dengan rambut botak hasil dari sidang skripsi dan masih bertahan hingga saat ini. Pria itu sudah menunggu waktu wisudanya di semester paling akhir, yaitu semester 14. Apabila ia tak berhasil wisuda di semester depan, terpaksa kampus mendepaknya dengan sesegera mungkin.


“Ngopi dulu, napa? Buru-buru amat,” balasku. Aku geser kopi milikku.


Ia menyambut kopi tersebut, lalu menyeruputnya sedikit. Tangannya bergeser ke arah Mawar yang sedang menyaksikan pertandingan domino aku dan Candra melawan duet antara anak dan bapak, siapa lagi kalau bukan Kakek Syarif dan Razel.


“Ini siapa? Bening amat kaya batu cincin.”


Tangan Bang Ali menjulur untuk meminta bersalaman dengan Mawar. “Oh, kenalin gue Ali. Panggil aja Bang Ali, Ketua Mapala di kampus. Jangan manggil gue om, muke gue aja yang keliatan tua.”


“Mawar, Bang.” Mawar menyambut tangannya.


Aku memerhatikan wajah Bang Ali yang cengar-cengir disentuh oleh lembutnya garis-garis tangan Mawar. Tepat lebih dari detik ketiga ia bersalaman, aku pun menepuk telungkup tangan Bang Ali.


“Jangan lama-lama, kebiasaan nih, Bang ....”


“Yaelah ... gini, doang.”


Candra menghembuskan asap rokoknya di hadapanku. Lalu, menoleh kepada Bang Ali.


“Ini teman satu fakultas kami. Kebetulan orang Belitung dan kebetulan juga ke sini bareng kami.”


“Enak di belitung?” tanya Bang Ali. “Gue mau main pantai sama kalian, eh gue harus kerja jagain konter handphone. Mumpung gue liburan hingga wisuda semester depan. Ada oleh-oleh, enggak?”


“Ya ... malah nanyain oleh-oleh.” Aku mencibirnya. “Lihat tuh Reira lagi kemalangan.”


Mawar mengeluarkan sesuatu dari tas sandangnya berupa wadah kotak yang berisikan bakpao. “Gue cuma ini ... tadi subuh dibuat di kapal.”


“Waduh ... selain cantik lo juga pandai masak. Wifeable banget, nih.” Bang Ali menyambar sebuah bakpao dari Mawar.


“Ih ... ingat muka, Bang ... lo sama dia anaknya jadi abu-abu.” Candra berdiri sehabis mengambil bakpao tersebut. “Ayo, kita balik ... gue mau tidur panjang sampai besok.”


Kakek Syarif menghabiskan sisa kopi di cangkirnya. “Kalian mau pulang? Biar Kakek bayar kopinya.”


“Wah ... terima kasih, Kakek,” balasku dengan penuh hormat.


Kami pergi menuju kendaraan yang dibawa oleh Bang Ali. Terlihat sebuah mobil carry van lama yang berwarna putih, biasanya dijadikan mobil travel antar daerah. Teringat sekali aku pernah menaiki mobil tersebut sewaktu kecil.


Tercium jelas bau mesin solar yang membuatku mual saat itu, hingga kini pun aku masih bisa membayangkan betapa mualnya menaiki mobil tersebut.


“Lo enggak ada mobil lain, Bang?” tanyaku.


“Ih ... udah untung dijemput. Kalau enggak karena Reira, mana mau gue ke sini.” Bang Ali membuka pintu depan. “Nona cantik di depan, ya ...”


Mawar menunduk tanpa menjawab, lalu masuk ke dalam mobil.


Aku menoleh pada Kakek Syarif. “Terima kasih untuk semua bantuannya, Kakek. Buat Razel juga. Ini pengalaman yang sangat bermanfaat.”


Ia tersenyum. “Laut selalu menyimpan segala hal yang punya kenangan. Baiklah ... hati-hati di jalan. Semoga kita bertemu lain waktu.”


Kami menyalami Kakek Syarif dan Razel yang melepas kami untuk pulang. Tampak wajah mereka yang tidak ingin melepaskan kami, terutama Razel yang sangat akrab sekali dengan Candra. Tenang saja, aku akan selalu berkunjung ke sini untuk merokok dan mengopi bersama Kakek Syarif, terutama di atas kapal Leon yang kini sedang bersandar di tepi dermaga.


“Apa enggak ada musik lain nih, Bang?” tanya Canda.


“Tinggal dibawa minum, lo udah naik nih pake lagu ini. Hahaha ....” Bang Ali tertawa terbahak-bahak.


“Kami anak baik-baik, Bang. Emang kaya situ. Jangan sampe ngobat, deh. Ntar gila kaya abang gue,” balasku.


“Hahaha ... enggak bakalan. Jauhilah narkoba, dekati adik yang dari tadi diam aja.” Bang Ali melirik Mawar.


“Apaan sih, Bang?” Wajah Mawar menatap lucu kepadanya.


“Oh, ya ... lain kali main ke sekre Mapala. Abang kenalin sama anak-anak alam yang ganteng dan jomblo pula. Mereka enggak macam-macam, kok. Alam aja dijaga, apalagi wanita. Hahahah ....”


“Gombalan receh dari mana itu?” tanyaku.


“Dari Reira ... dia ngenalin gue sama cewek. Eh, ceweknya enggak mau sama cowok botak.” Ia memegang kepalanya yang hampir pelontos itu. “Andai gue masih gondrong, pasti gue ganteng banget.”


“Perasaan sama ajalah,” pungkasku.


“Hahahah ....”


Ia mengantarkan kami ke rumah masing-masing. Mulai dari yang terdekat, yaitu Candra, hingga ke kediaman Mawar yang membuat kami tercengang melihat rumah tingkat dua yang modern. Beda sekali dengan kediaman kami yang sederhana. Memang, rumahku pun tingkat dua. Hanya saja tidak terurus seperti dulu lagi. Setelah itu, barulah Bang Ali mengantarkanku tepat di muka rumah. Baru saja kami sampai, bunyi bising dari bengkel Dika yang sedang ramai menyambut kami dengan hangat.


Tampak Dika keluar dari bengkelnya dengan mengenakan kaos otomotif yang bernoda oli. Tangannya terpegang sebuah velk motor yang akan dipasang. Aku turun menghampirinya dengan senyuman. Sudah seminggu ini kami tak bertemu dan mengeluh lapar bersama-sama, serta berdebat siapa yang akan membeli makanan kelaur. Tos tinju kami saling beradu bersama-sama, tepat layaknya seperti seorang teman akrab.


“Wih, naik travel ke sini,” ucap Dika ketika Bang Ali keluar dari mobil.


“Dia bukan supir travel. Dia temennya gue di kampus, temennya Reira juga.” Aku menoleh kepada Bang Ali di sampingku. “Nih, kenali abang gue. Dia punya bengkel ini. Kalau ada apa-apa sama motor CB lo, ke sini aja.”


Mata Bang Ali melihat ke arah bengkel ke Dika. “Widih ... bisa nih gue sesekali ke sini buat nyetel motor. Oh, ya ... kenali gue Ali, gue temen satu kampus David, walaupun enggak satu fakultas.”


“Oh, gue Dika, Bang. Bawa aja motornya ke sini. Motornya apa, Bang?” tanya Dika.


“Motor CB ... gue baru beli buat hobi baru. Sesekali deh gue bawa ke sini kalau servis.”


Kedua alis Bang Ali naik ketika melihat sebuah motor modifikasi yang sedang dites bunyinya oleh pegawainya Dika. “Wah ... ada motor balap, nih. Mau turun gunung di mana?”


Dika tertawa sembari menunjuk motor itu. “Ah ... masih balap liar di jalanan lurus. Rencana kami mau ikutan balap resmi juga. Udah rancang-rancang bikin tim sama temen-temen.”


“Boleh, nih ... biar gue jokiin motornya. Soalnya gue hobi balap juga di kampung,” balas Bang Ali.


“Bisa, nih ... gratis tapi ... hahaha.”


“Bayar, dong! Hahahah.”


Percakapan mereka berlanjut dengan membawa Bang Ali untuk melihat-lihat bengkel. Aku yang tak tahu banyak tentang dunia permesinan, hanya bisa diam duduk sembari menikmati tembakau. Mereka terlihat cepat sekali untuk akrab, apalagi mereka sama-sama hobi dunia otomotif. Sempat pula Bang Ali mencoba motor modifikasi Dika ke jalan dan memuji hasil setting-an mesin mereka.


Keakraban mereka pun berakhir. Bang Ali pamit pulang kembali ke rumah. Aku pun turut berterima kasih banyak kepada pria itu yang sudah mengantarkan kami langsung tepat di depan rumah. Bergeraklah mobil carry putih itu keluar komplek. Tepat tatkala mobil bang Ali berbelok arah, Dika mencolekku.


“Oleh-oleh gue mana?” tanya Dika dengan wajah licik penuh pengharapan.


Aku memasang wajah datar. “Malah nanya oleh-oleh.”


“Lah, lo ngapain aja di sana? Masa enggak ada oleh-oleh.”


“Kami enggak sempat belanja oleh-oleh.” Aku menyandang tas untuk bersiap-siap menuju ke rumah. “Mama Reira masuk rumah sakit. Makanya kami pulang lebih awal.”


Ia pun mengelus dada semabari mengucap kecil di bibirnya. Aku tahu, ia memiliki perasaan yang sama denganku. Kami pernah sama-sama di fase yang sama.


***