Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 153 (S2)



EPISODE 153 (S2)


Dingin air aliran danau menggertak tubuh hingga menjalar ke gigi. Aku tak tahan dingin, salah satu alasan aku tidak menyukai hujan di masa lampau. Duduk aku dikerumuni di tepian sembari dikerumuni oleh anak-anak yang melihat layar handphone-ku. Aku rasa anak-anak setiap daerah sama, kenapa mereka selalu mengerumuni orang yang sedang bermain handphone. Padahal, aku sama sekali tak ada bermain game online, melainkan membalas chat dari Bang Ali yang menanyakan keberadaan kami. Beliau menyarankan kami untuk pulang sebelum magrib karena nanti ada acara di rumah.


Reira sibuk bermain dengan anak-anak, menyipratkan air ke wajah satu sama lain. Seperti bocah, ia sama saja dengan mereka. Kegirangan Reira disiram tepat pada kepala, lalu membalas ulang kepada anak yang menyerangnya. Suaranya nyaring ketika menghindar. Belum lagi ada bocah yang bersenggayut pada punggungnya, memanjat pundak Reira hingga bisa dirinya berdiri di atas pundak Reira. Aku tak menyangka, bocah itu melakukan aksi salto tepat di titik ia berdiri.


Aku tak sanggup masuk lagi. Tanganku mengeriput karena dingin. Air daerah pegunungan memang menusuk kulit. Tubuhku sedari tadi bergetar tak karuan. Angin yang lalu menambah dingin badanku.


“Rei ... kita pulang. Bang Ali nyuruh kita pulang,” ujarku padanya hingga Reira menoleh.


“Iya, bentar lagi ....”


Butuh sepuluh menit kira-kira aku membujuk Reira untuk naik. Reira pun mengalah, ia naik ke permukaan tanpa handuk. Aku pun memintanya untuk mengeringkan diri dengan hoodie milikku. Baju dan celana panjangnya basah, tak sepertiku yang masih bisa membuka baju ketika berenang.


Terdapat pedagang bakso bakar yang turut berhenti di atas bendungan. Ia melayani seorang penduduk desa yang membeli. Setelah mengeringkan tubuh, Reira melenggang ke pedagang bakso tersebut. Tangannya menyentuh kotak kaca penyimpanan bakso bakar.


“Berapa, Bang?”


“Seribu satu, Dek.” Logatnya terdengar medok. Sudah pasti ia orang Jawa yang tinggal di sini.


“Bukan, semuanya ini ....”


Apa? Gila lo?


Aku saja terkejut, apalagi sang pedagang yang tak disangka-sangka barangnya ditawar semua. Ia berhenti mengipas bakso yang dipanggang. Dahinya mengernyit heran. Mungkin saja baru kali ini ada orang yang membeli seluruh bakonya dalam satu waktu. Orang itu kini tepat di hadapannya dengan rambut basah. Reira menunjukkan wajah yakinnya, tak seperti pedagang tersebut. Aku tak bisa menyela kalimat Reira. Ia bebas melakukan apa saja kali ini, kecuali membeli sekalian kendaraan pedagang itu.


“Adek yakin beli semuanya?”


Reira menganguk dua kali Ia menyentuh seluruh permukaan kaca di depannya. “Saya beli semuanya sekarang. Berapa tusuk semua?”


“Beneran?”


“Iya, Bang. Saya beli semuanya. Kok enggak percaya, sih?”


Ia menatap ibu-ibu yang membeli bakso bakar miliknya. “Sebentar, ya. Biar pesanan ibu ini dulu.”


Bergerak kembali tangan pedagang itu untuk menyiapkan pesanan ibu-ibu yang berdiri sedari tadi, disela oleh kalimat Reira yang tidak masuk akal. Setelah pesanan ibu itu diberikan, kini sang pedagang menoleh pada Reira. Ia sudah menghitung banyak tusuk yang tersedia di dalam kotak kaca.


“Empat lima tusuh, Dek. Ini beneran mau beli, kan?” Pedagang itu masih tidak percaya.


Reira mengehela napas. Ia paling kesal apabila ada seseorang tidak merasa yakin dengan dirinya. Hal itu pula yang sering terjadi padaku. Ia buka dompetnya, lalu mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribu. Uang itu diletakkan di atas kotak kaca. Ia tatap pedagang itu kembali.


“Ini saya beli sekarang. Tolong pedas manis. Kalau bisa ada kejunya,” ucap Reira.


Matanya memandang sinis padaku. “Yaudah, deh. Pedas manis aja, Bang.”


Ada mungkin belasan tusuk yang ia ambil dari kotak itu, lalu dioleskan bumbu-bumbu yang sudah dipersiapkan. Berdesis suaranya ketika saos yang diolesi jatuh ke bara api panggangan. Bakso yang dibakar mengeluarkan aroma yang nikmat, aku pun turut menjadi lapar. Asap menyeruak ke mana-mana, lebih banyak dari pesanan ibu-ibu yang tadi. Bagaimana tidak, sekali panggang ada lebih dari belasan tusuk di atasnya. Baru kali ini aku melihat orang membeli habis bakso bakar seperti ini. Pedagang mendapatkan untung banyak karena kehadiran Reira.


Tak berhenti pedagang itu mengipas bakso yang sedang dibakar. Aku lihat tangannya tegang karena terus-terusan bergerak ke atas dan ke bawah. Melihat pedagang bakso bakar yang kerepotan, Reira berinisiatif dengan meminta izin untuk mengipaskannya. Pedagang itu sempat segan memberikan kipasan itu pada Reira, tetapi Reira tetap memaksanya hingga kipas daun pandan cokelat itu beralih tangan.


Sepuluh bakso dimasukkan pada satu plastik. Kini, lima plastik berada di tangan Reira. Pedagang itu pulang dengan membawa uang yang lebih cepat didapat.


“Woi, kalian lapar, enggak?!” Reira berteriak kepada anak-anak yang berenang di bawah sana. “Kakak ada bakso bakar buat kalian!”


Berhambur anak-anak itu ke atas, berebut satu sama lain untuk mendapatkan giliran pertama. Tangan Reira memberikan satu tusuk padaku.


“Lo cuma dapat satu, jangan lebih.”


Aku menangambilnya dari tangan Reira. “Iya, deh. Makasih!”


Riang wajah anak-anak berkerumun di sekitar kami. Bau air danau tercium dari kulit cokelat mereka yang mengkilap karena basah. Tak satu pun yang berbaju, bahkan ada yang hanya memakai celana pendek bermotif kartun di belakangnya. Reira riang menasehati mereka agar tidak berebut dan menyarankan mereka agar berbagi dengan teman yang lain. Alhasil, lima plastik bakso bakar itu pun ludes diambil oleh anak-anak. Ia bertepuk tangan puas, melihat anak-anak yang makan sembari duduk di tepian bendungan.


“Kakak dari mana?” tanya salah satu anak-anak. Ia sudah tahu sedari tadi kami sama sekali tidak memakai bahasa mereka karena tidak pandai.


“Dari suatu tempat yang kalian mungkin pernah di sana.” Reira bermetafor dengan kata-katanya.


“Apa itu, Kak?”


“Ketiadaan, kita semua berasal dari ketiadaan. Berusaha buat jadi ada dengan bergerak.”


Aku memandanginya dalam diam. Dalam sekali kata-kata itu. Penuh makna untuk aku selami lebih lanjut dan melengkapinya di dalam setiap tulisanku. Aku tidak tahu bagaimana ia mendapatkan kalimat itu, entah dari buku apa ia mengutipnya. Sayang sekali, ia mengatakan hal itu kepada anak-anak yang bahkan satu tambah satu mereka tidak bisa menjawab. Jangankan anak-anak, aku berusaha memutar balik pikiranku untuk mencerna setiap kalimat yang Reira ucap.


“Ingat, Kapten Reira! Kalian bakal dengar itu suatu saat kalian kalian besar!” teriak Reira sembari melambai.


Aku di belakangnya. Sangat dekat jarak antara sepeda kami. Namun, aku menatapnya jauh ke dalam, lebih dalam dari danau yang kami lewati. Dari balik rambut basahnya yang bergoyang, aku pun bertanya di dalam hati.


Apakah kita akan bisa bergerak ke ketiadaan itu sendiri?


Maksudku, apakah subtansi ada itu bisa menjadi tidak ada?


Termasuk cinta kita sendiri.


***