Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 33 (S3)



Berbicara mengenai tentang mitologi, apakah kalian percaya? Kita sering mendengarnya seperti harimau Sumatera, buaya putih, manusia pendek, dan makhluk-mahkluk lainnya  yang pernah diceritakan secara turun temurun. Di luar kita bisa menjumpai Bigfoot, naga di lautan China, naga daratan Eropa, dan Kraken si cumi-cumi raksasa. Dari sekian banyak makhluk mitologi yang dikenal, terdapat suatu pola yang sama, yaitu mereka dianggap suci dan terjadi di seluruh dunia ini.


Jujur, aku tidak terlalu mempercayai makluk mitologi itu ada. Jikalau ada, bisa jadi sebuah species langka yang masih sempat hidup dari ganasnya proses evolusi. Kita mengenal makhluk purba yang berjalanan bungkuk, ada di buku-buku sains sewaktu sekolah. Aku meyakini mereka sama dengan kita, hanya saja berbeda spesies. Jika kita homo sapiens, maka mereka homo-homo lainnya dengan karakteristik khas masing-masing. Aku lebih mempercayai jika itu bisa dibuktikan secara sains dan logika.


Ada banyak mitos di masyarakat yang berkembang. Wanita hamil harus membawa gunting agar bayinya tidak dimakan hantu, anak-anak tidak boleh keluar setelah senja karena akan dicuri genduruwo, atau menyapu tidak bersih maka suaminya brewokan. Pendapatku hanya tertumpu kepada jika wanita perlu membawa gunting agar ketika melahirkan ia bisa memotong tali pusa secara darurat. Anak-anak tidak boleh keluar setelah magrib karena gelap dan berbahaya, orang dulu mungkin lawannya predator yang masih ada di hutan. Wanita yang menyapu tidak bersih identik dengan lalai atau dia memang pemalas. Jika pasangan adalah interpretasi dari diri sendiri, mungkin ia akan dapat pria pengangguran, pria pengangguran identik dengan rambut urak-urakan dan brewok yang tidak terawat.


Ya, aku sudah gila jika berpikir sampai ke sana. Mitos harimau Sumatera yang melegenda itu manifestasi dari proses alamiah masyarakat setempat yang dekat dengan hutan. Mereka menghormati hutan sekitar, maka ia perlu menghormati harimau sebagai puncak dari rantai makanan. Tentu saja hilangnya salah satu rantai makanan akan berakibat kepada tidak imbangnya ekosistem hutan. Hal lain pun perlu dipertimbangan, harimau Sumatera itu predator yang bisa saja menyerang manusia. Orang-orang jaman dulu akan sangat takut dengan predator itu karena berbahaya, oleh karena itu harus dihindari untuk tidak bertemu.


Panjang aku bercerita mengenai ini dengan Hamzah. Ia tidak menerima itu karena meyakini jika ada aspek spiritual yang tidak bisa dijangkau oleh akal. Aku menghormatinya. Namun, diskusi kami tidak didengar oleh ketiga orang yang sedang tidur itu. Waktu sudah berjalan selama satu jam lebih, Hamzah aku minta untuk membangunkan Razel, Borneo, dan Semara.


“Perjalanan ini bisa empat jam sampai ke shelter selanjutnya,” ucap Hamzah sembari mematikan rokok pada embun daun. Aku senang jika dirinya mengantongi puntung rokok itu lagi.


“Kita santai aja, enggak usah ngebut,” ucapku.


“Ayo … gue enggak sabar mau merokok di puncak!” seru Razel.


Sembari menyentuh kedua pipi Semara, aku berucap, “Semangat, ini pengalaman yang enggak mungkin kamu lupain.”


“Iya … aku udah siap sekarang buat jalan lagi.”


Shelter dua menunggu kami di atas sana. Hamzah berkata jika rute ini paling panjang dari pos-pos yang ada. Aku senang dalam perjalanan hujan tidak lagi turun, tetapi jalanan tetap saja basah dan licing. Satu orang di belakangku beberapa kali membuat jantung copot, langkah Semara lemah sekali dan sering terpeleset. Namun, aku beruntung di belakangnya ada pria kuat yang selalu menolong.


Entah apa yang ada di atas sana. Relativitas waktu terjadi di sini. Semakin aku menunggu, maka semakin lambat waktu bergerak. Semakin lambat waktu bergerak, rasa sabarku terlalu menggebu-gebu. Teringat olehku perkataan Bang Andalas dan Kakek Erasmus mengenai Kakek Kumbang yang seperti hantu. Mencarinya tidak seperti menemukan orang dengan peta yang  pasti, lagi pula ia bisa dengan cepat berpindah-pindah. Mobilitasnya terlalu cepat dan rahasia.


Shelter Dua berhasil jam jajaki tatkala denting jam berada di pukul lima pagi. Untuk mengisi tenaga, kami duduk sebentar sembari makan mie instan. Aku meminta mereka untuk tidak duduk terlalu lama, meskipun sebenarnyaa aku ingin menunggu setengah jam lagi ketika matahari terbit. Kami kembali berjalan lagi selama satu setengah jam menuju Shelter Tiga.


“Hati-hati di Tanjakan Setan,” ucap Hamzah sembari menoleh ke belakang.


“Maksudmu apa dengan Tanjakan Setan?”


“Lihatlah ke depan,” balasnya.


Kami sedang berdiri tepat di tubuh lereng Gunung Kerinci. Aku melihat tanah pendakian yang curam. Akar-akar pohon melintang di tengah perjalanan mengingatkanku dengan hutan larangan di film Harry Potter. Akar tersebut bahkan mengharuskan kami menunduk untuk masuk di bawahnya. Lutut kami tidak jarang menyentuh tanah karena merangkak dan merayap merupakan cara terbaik satu-satunya.


“Ah … gue enggak kuat,” keluhku. Gunung ini bukan seperti yang pernah aku tanjaki.


“Ayo … lihat langit … matahari udah terbit. Ini lebih menyenangkan dari sebelumnya!” ucap Hamzah sembari duduk di atas akar. Ia malah membakar rokoknya kembali.


Langit menampakkan pesona indah pancaran mentari pagi. Sepeerti bola basket oranye, matahari tersenyum padaku yang sedang bermuka merah karena lelah. Kami lebih leluasa melihat trek perjalanan yang sungguh menginterpretasikan julukannya, Tanjakan Setan.


“Gue enggak mau mati konyol di sini, setidaknya harus ditempat terbuka!” Aku kembali merangkak di atas akar pohon.


Rangkah demi rangkak kami lakukan, hingga perjalanan mulai bisa dilalui dengan pendakian kaki. Aku lihat orang-orang menunggu kami di Shelter Tiga. Tenda berdiri sebagai tempat peristirahatan sebelum kembali berjuang menuju puncak. Tempat itu sangat terbuka, aku bisa melihat hamparan hutan yang sangat luas dari atas sini. Teriakanku membahana membentuk sebuah gema yang berbalik lagi seperti kata sebelumnya. Razel tersenyum padaku, tetapi Borneo masih dengan muka datar seperti biasa.


“Sudah aku bilang, pengalaman yang enggak bisa dilupakan.”


Aku melarang Razel untuk mendirikan tenda. Tuhan sudah menciptakan tenda terbaiknya di sini, yaitu langit pagi yang cerah. Untuk apa berlindung dari anugerah seperti itu. Lebih baik aku berbaring di atas tanah sembari menghirup udara segar.


“Sudah berapa lama kau jadi pendaki?” tanyaku pada Hamzah yang sedang duduk di atas gundukan batu. Aku di bawahnya lagi berbaring.


“Semenjak tamat SMA, sudah dua tahun,” balasnya.


“Lalu kalau kau enggak mendaki, apa pekerjaanmu?”


“Hmm … membantu bapak di ladang. Biasa anak petani, lahir dari tani, besar dari tani, balik lagi ke tani. Kau bagaimana?”


“Aku? Lahir dari kebebasan, besar dari kebebasan, dan balik lagi ke kebabasan.” Aku tersenyum padanya.


“Setiap orang enggak bisa bebas, kau juga enggak bisa bebas dari rasa lapar.”


“Tapi kau punya kebebasan buat mengatasi rasa lapar itu, kau punya hak buat bekerja apa saja demi mengatasi rasa lapar.”


Ia tersenyum padaku. “Kau ini aneh.”


“Ya … aku memang aneh.” Aku kembali berdiri. Otot-ototku sudah mulai membaik. “Ayo kita jalan lagi.”


“Jalan?” Hamzah melihat ke atas puncak. “Ayo kita ke puncak. Masih ada dua jam lagi.”


“Mau berapa jam pun itu, aku tetap berjalan.”


Kami kembali memasang tali penguhubung agar tidak berpisah. Perjalanan dihiasi oleh trek berkrikil dan batu-batu dengan ujung yang tajam. Angin gunung berhembus dengan kencang, kupluk berkali-kali ingin tanggal. Setelah satu setengah jam menguji dada yang berdetak kencang, kami sampai di titik yang disebut sebagai Tugu Yudha.


Yudha Sentika, seorang remaja pemberani tahun 1973 yang menghilang dari kelompoknya ketika ingin dalam perjalan turun. Perpisahan itu ternyata tidak meninggalkan jejak bagi sosok Yudha, sampai saat ini tidak pernah ditemukan jasadnya. Sebagai penghormatan terakhir, dibuatkan tanda persegi yang bertuliskan namanya.


“Sosok Yudha jadi icon pendaki Gunung Kerinci,” ucap Hamzah sembari menunduk. “Bapakku ikut mencarinya waktu dulu untuk membantu petugas. Namun, gunung terkadang menelan orang-orang yang tersesat. Kita enggak tahu mereka di mana.”


“Semoga ia tenang. Semangatnya masih melekat bagi orang yang menginjak daerah ini.” Aku melihat puncak Gunung Kerinci yang sudah sangat dekat.


Namun, aku melihat sosok tinggi tegap yang tersenyum padaku di sana. Ia berkumis dan berjanggut tebal dengan kacamata hitam khas. Hatiku seakan jatuh melihat sosok itu hingga membuka pengunci tali penghubung. Aku berlari sekencang-kencangnya tidak memedulikan orang-orang yang aku bawah.


“REIRA!!!” Borneo meneriakiku.


***