Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 53 (S3)



David dan Mawar, mereka tampak serasi berdua satu meja. Saling bertatap bagaimana sepasang kekasih pada umumnya, lalu berbalut senyum yang tidak lepas di bibir mereka masing-masing. Aku duduk saja di meja barista untuk memerhatikan wajah sangar Borneo. Ia jarang tersenyum padaku, hanya sedikit melebarkan bibir tatkala ada cewek cantik yang datang memesan kopi. Pria itu sempat menanyakan kenapa David bersikap emosional tadi, tetapi aku jawab tidak ada apa-apa. Ia hanya butuh bersikap begitu untuk melampiaskan kekesalanku menghilang bertahun-tahun.


Mereka pulang di satu jam kemudian. Sembari menggenggam tangan, mereka menghampiri diriku yang berdiri diam menyaksikan romantismenya. Mawar mendekat untuk mendekatiku. Dirinya pun berbisik dengan pelan.


“Gue enggak akan melepaskan David, Rei.”


Mataku melebar menatap David yang dua langkah di belakang Mawar. Tidak aku jawab karena rasanya memang pantas dan sudah bisa aku tebak dari Mawar. Perjanjian aku dengan dirinya memang menyerahkan David kepada wanita itu. Namun, tidak ada diksiku dalam pelarangan untuk merebutnya kembali. Semua ini murni seperti genderang perang dari Mawar yang ingin melampauiku.


“Hati-hati di jalan ….” Aku tersenyum kepada Mawar.


“Kami pulang dulu.” Tangan David memberikan tinjunya kepadaku, lalu aku sentuh dengan telungkup jemari.


“Lain kali, datanglah ke café David. Gue ada di sana malam,” sambung Mawar.


“Kerjaan lo pasti banyak, siang jadi Psikolog, malam membantu David,” balasku.


Ia hanya tersenyum sembari mengangguk, lalu pergi meninggalkanku. Borneo mendekat dengan selembar lap tangan. Matanya memerhatikan David dan Mawar pergi.


“Tadi Mawar bisik sesuatu ke kau. Ada apa?” tanya Borneo.


Aku pun merangkul pria itu. “Andai aja kau bisa bikin David cemburu, pasti udah aku pacari. Sayangnya kau terlalu jelek.”


Wajah Borneo berubah datar. “Siapa juga yang mau sama kau?!”


Ia berbalik ke meja barista kembali.


Ya begitulah\, aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan David. Kami sekadar teman biasa\, bahkan aku ingin melupakan title `mantan` yang bersemat padanya. Satu fakta yang aku dapati dari pria itu\, Nauren ternyata berani menyentuh David. Sebelumnya\, aku sudah memberitahukan jika David tidak ada hubungan apa-apa dengan kasus kami berdua.


Hari-hari aku lewati dengan menolak ajakan Mawar untuk berkumpul dengan mereka. Aku beralasan karena sibuk di café dan mengurusi kandang ayam yang mulai berantakan. Kotorannya berserakan di mana-mana, Borneo tidak ingin membersihkan sendirian. Selain itu, aku turut menghabiskan waktu di kampus selama pendaftaran program magister. Terdapat sejumlah tes yang aku lewati untuk menemui kata lulus. Sebenarnya aku bisa saja menyogok direktur magister karena kenalan dekat dari Bapak Dekan. Namun, itu sama saja mengambil hak orang lain.


Yayasan yang aku asuh berjalan dengan baik. Aku beberapa kali masuk menjadi guru pelajaran IPS untuk anak SD. Bagi mereka yang lama denganku, pasti sudah tahu aku siapa, mereka sangat menghormatiku melebihi seorang guru. Ya … mau bagaimana pun, aku Ketua Yayasan dengan boneka bernama Alfian. Namun, bagi mereka yang anak-anak baru, aku hanya sekadar guru baru. Mungkin aku seperti mahasiswa keguruan magang yang turut diterima sebagai tempat melakukan tugas kuliah.


“Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme di sebut apa?” tanyaku di akhir jam pelajaran.


“KKN Bu!”


“Hebat …!!!” Aku bertepuk tangan di hadapan mereka. “Sekarang … kalian boleh istirahat. Jangan main kejar-kejaran di lobby ya. Lantainya licin.”


Aku berdiri setelah segerombolan anak SD tersebut berlari mengejar pintu. Tidak lama kemudian, ponselku berbunyi. Terdapat nama Reina tertera di layar.


“Hallo, Reira di sini ….”


“Rei … lo bisa masuk ke rumah Papa. Ijazah SMA gue ada di sana. Lo ambil di kamar gue, kuncinya ada di laci kamar Bunda.”


“Lah, buat apa lo ijazah SMA?”


“Ga ada gunanya sih, tapi gue enggak mau aja ijazah gue masih di sana. Gue baru ingat ternyata benda itu ada di rumah Papa.”


Aku bertegak pinggang. “ Elo ini bikin kerjaan aja. Lo tahu sendiri kalau gue paling males ketemu Papa.”


Aku diam sejenak. Reina sama saja denganku. Nanti pasti ada saja hal-hal menjengkelkan yang terjadi jika aku tidak menuruti perkataannya.


“Baiklah … gue masuk pintu belakang aja.”


Untuk sekian kalinya, aku akan melewati pintu belakang secara diam-diam. Tidak mungkin David aku ajak lagi. Razel juga sudah kapok karena menangis di hadapan security rumah Datuk Bilal, Bupati Kuantan Singingi, ketika kami masuk diam-diam. Maka, Borneo kali ini yang kembali menjadi korbannya.


Malam harinya, kami berjalan diam-diam di samping rumah Papa. Borneo diam sejenak sembari bertegak pinggang melihat betapa besar dan luasnya rumah Papa.


“Apa? Ini rumah Papa lo?! Apa rasanya tinggal di rumah sebesar ini?”


“Ya sama seperti kebun binatang, luas sekali.” Aku memanjat pagarnya. Tidak aku pedulikan CCTV yang menatapku di sana. Siapa juga yang berkasus masuk ke dalam rumah papa sendiri.


“Kita masuk secara illegal, Reira. Jangan bikin aku spot jantung lagi.”


Aku berhenti tatkala di puncak pagar. “Ini rumah gue, jadi jangan khawatir ketahuan. Papa pasti sibuk di kamar. Sekarang malam jumat.”


“Kau ini!”


Mau tidak mau, Borneo memanjat pagar tersebut. Kami menyelinap berjalan di antara gelap menuju pintu belakang. Biasanya, dulu aku selalu menyelipkan kunci di suatu tempat agar tidak ketahuan pulang terlalu malam. Namun, kini kami sudah memiliki duplikatnya semenjak benar-benar pindah dari rumah ini.


Pintu belakang dibuka dengan mudah, tanpa gembok pula. Papa mana sempat memerhatikan detail kecil seperti itu karena sibuk bekerja. Security pun terlampau asyik setiap malam untuk menonton bola di posnya. Kamar Reina berad di lantai dua, tepat bersamping-sampingan dengan kamarku. Satu pintu bertuliskan namaku, satu pintu di sampingnya tertuliskan nama Reina. Terciumlah wangi kopi dari pengharum ruangan kamar tersebut tatkala kami masuki.


“Kamarnya sebesar ruang tengah rumah Pak Tarab,” puji Borneo sembari menutup pintu dengan pelan.


Kamar Kak Reina memang tertata rapi, berbeda denganku yang sudah banyak poster-poster tokoh terkenal, band metal, serta coretan tangan mengenai isi hati yang terpendam. Jika ditelisik kembali, terdapat perbedaan fasilitas yang ada pada diriku dan Kak Reina. Kak Reina merupakan anak kesayangan Papa karena ia lebih penurut dibandingkan diriku. Tentu saja barang-barang yang ia punya jauh lebih mahal.


“Ambil apa yang kau mau, walaupun bantal sekali pun.”


“Buat apa aku bantal punya kakakmu itu,” balas Borneo.


Aku membuka lemari miliknya. Terdapat koper yang dimaksud oleh Reina. Tatkala aku buka, tersimpan didalamnya berkas-berkas penting, termasuk ijazah SMA miliknya.


“Ini udah dapat.”


“Ayo kita keluar, sebelum Papa lo selesai dengan bini barunya.”


“Apa kita enggak mau mengintip apa yang mereka kerjain?” tanyaku bercanda.


“Lebih baik kau buka hape kau itu, sama saja bentuknya.” Borneo menarik diriku agar segera kabur.


Borneo pun membuka pintu. Mata kami melebar tatkala ada seorang wanita muda yang cantik menawan sedang bertegak pinggang di hadapan kami. Aku semula mengira apakah aku punya saudara perempuan yang lain, ternyata itu istri baru dari Papa.


“Lo siapa?” tanyaku. Seharusnya, beliau yang bertanya seperti itu.


***