Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 107 (S2)



EPISODE 107 (S2)


Ada seorang wanita yang bernama Reira bertanggung jawab atas kepanikan malam ini. Aku kira malam ini akan seperti di film-film, di mana pembunuh berantai sekte sesat mengincar penyewa villa di malam dengan bulan terang untuk sesembahan setan. Aku tak abis pikir ketika suara itu benar-benar suara Reira. Bagaimana bisa ia ke sini? Bukankah aku menugaskan dirinya untuk mengelola cafeku untuk sementara? Aku kira anak itu merupakan anak yang bertanggung jawab atas tugas.


Namun, satu hal yang harus aku pertegas ialah wanita itu bukanlah manusia. Ia adalah alien betina yang sengaja turun di bumi untuk menginvansi Antartika yang penuh sumber daya alam. Kedoknya sebagai manusia dipergunakan untuk merekrut beberapa kalangan manusia untuk dibawa bekerja sama. Ia memanipulasi pikiran kami bahwasanya ia memiliki kapal tua berlumut dengan nama Leon. Padahal, itu merupakan kapal alien yang tembus pandang dan tidak terdeteksi oleh teknologi mana pun.


Jangan diseriuskan imajinasiku mengenai Reira Sang Alien Betina. Namun, aku hanya ingin mengatakan bahwasanya bukan Reira namanya jika susah untuk diatur. Ia punya pikiran yang bebas, gila, serta liar. Tidak ada satu orang pun manusia atau alien jantan sekali pun yang bisa mengintervensi pikirannya tersebut. Hanya satu orang mungkin, yaitu Kakek Kumbang yang kini sedang ia cari-cari keberadaan dalam ujung pangkal yang tak terang.


Aku membuka pintu. Kesal diriku melihat Reira dengan senyum liciknya yang khas dan juga pose bertegak pinggang itu. Sombong bukan main membusungkan dada untuk menunjukkan dominasi diri. Tak bercakap diriku dengannya, kecuali saling bertatap. Matanya terang benderang beseri-seri, aku saja yang padam melihat datar.


“Kami kira villa ini sedang dimasuki maling,” ucapku datar.


Aku lihat keluar area villa, tidak ada satu pun kendaran. Entah bagaimana anak ini bisa sampai ke villa. Jika dugaanku benar jika Reira adalah alien betina, sudah pasti ia menggunakan pesawat aliennya itu ke sini.


“Bagaiman lo bisa ke sini?”


“Apakah seperti itu pacar menyambut kekasihnya?” tanya Reira balik. Selalu saja begitu.


“Setidaknya bilang dulu, bukan tiba-tiba begini. Kami panik waktu pintu belakang terbuka tanpa satu pun orang yang tahu. Pak Dadang juga lagi enggak ada. Kami takut bukan main.”


Sengaja aku tutup pintu, lalu menguncinya sebagai hukuman. Aku ingin mendengarnya merengek sembari berkata maaf.


Namun, harapanku ternyata salah. Ia malah membuka pintu villa itu dengan mudah. Reira memiliki kunci cadangan.


“Villa ini milik gue, jadi gue bisa datang kapan aja.” Ia kembali tersenyum licik.


Tak aku tatap dirinya, begitu pula jawaban. Aku duduk saja di sofa sembari menyulut sebatang tembakau.


“Rei, kami takut bukan main tadi, tahu!” tegasku.


Ia ikut duduk di sampingku dengan menyempil di sofa tunggal. “Sorry, gue tadi kebelet aja main ke sini. Soalnya hari ini adalah hari terakhir kalian di sini. Gue pengen tahu duduk sama kalian ngelihatin Gunung Salak di pagi hari, atau menggaduh Pak Dadang nonton bola jam dua malam. Makanya, gue ke sini. Lo marah? Yaudah gue pulang aja ....”


Ia berdiri dari sisiku. Namun, tidak aku biarkan. Aku tahan tangannya karena suara lembut itu telah meluluhkan hatiku. Bagiku, suaranya yang memelas sudah menjadi tanda maaf darinya. Pantang sekali Reira mengucap maaf secara tegas kepada orang lain. Harga dirinya yang terlalu tingi itu masalahnya.


“Mau ke mana?” tanyaku.


“Mau pulang. Ke mana lagi? Soalnya lo ngambek. Kaya abege labil aja.” Wajahnya kini benar-benar terlihat kesal.


Ngapa gue yang harus merasa bersalah, ya?


Aku tarik tangannya untuk kembali duduk di sampingku. “Sekarang cerita ... apa yang terjadi.”


“Nah, gitu dong, Sayang ....” Ia tersenyum, lalu menyentuh hidungku. Jarang-jarang sekali dirinya menyebutku dengan sebutan sayang.


“Gue suka ngelihat lo ngambek. Soalnya jarang-jarang lo kaya gini.”


“Jangan mengalihkan pembicaraan, Nona Muda anak anggota DPR yang partainya paling banyak korupsi.”


“Gue harap dia diincar KPK malam ini. Hahaha ....” Ia tertawa puas mendengar candaanku. “Jadi gini, tadi kemarin gue pengen ke sini, tapi tadi pagi udah enggak tahan lagi. Jadi, gue numpang sama Bang Ali yang mobil travelnya lagi di-booking buat ngejemput orang. Sampailah gue ke sini siang tadi, tapi kalian malah enggak ada. Gerbang digembok kaya sel penjara. Gue panjat aja itu pagarnya.”


“Kami baru sampai tadi selesai magrib. Tapi, kenapa lo bisa buka kamar di atas?”


Ia memandangiku dengan aneh. “Lo tahu sesuatu tentang kamar itu?”


“Gue dengar dari Pak Dadang kalau itu kamar pribadi Kakek Kumbang. Cuma dia sendiri yang punya kuncinya. Tapi, lo malah bisa buka.”


“Ngomong-ngomong, cafe gue dianggurin begitu yaa ....” Aku menyindir.


“Enah aja ... ada Reina di sana. Asal lo tahu, pegawai pertama Mama itu adalah Reina. Jadi, dia lebih tahu tentang kopi-kopian dari lo sendiri atau Mawar.”


“Setidaknya aman, kan?”


Ia menepuk dahiku, lalu berdiri. “Selagi di atas titah gue, semuanya aman terkendali.”


Tangannya menarikku untuk berdiri. Ia mengajakku untuk ke area belakang. Kalimatnya mengatakan ingin melihat rembulan. Berhentilah kami di tepi kolam renang. Kakinya menyelam setengah, sementara tubuh kami duduk di tepian.


Bergemericik air oleh permainan kakinya yang naik turun. Tangan kami tak lepas bergenggaman, seakan tak membiarkan aku hilang dari sisinya.


“Mama kembali memburuk kesehatannya. Padahal, udah operasi berkali-kali. Papa berangkat ke Singapura kemarin. Kalau ngelihat dari perkembangan kesehatan Mama, gue enggak yakin Mama bertahan lama.”


Suarnya lebih rendah dari biasanya. Turun wajahnya tak berseri-seri seperti tadi. Ada terdapat beban yang tak bisa ia tanggung sedari tadi, tetapi ia selalu saja bersikap seakan semuanya berjalan baik-baik saja. Aku baru paham, anak ini hanya ingin bercerita ke sini, tak peduli jarak yang ia tempuh untuk menjemput diriku yang jauh ini. Meskipun Bang Ali kebetulan tak sedang berpergian, aku yakin Reira akan sampai juga ke sini. Ia pandai sekali memanipulasi raut wajah seperti tadi.


Seketika seluruh air matanya tumpah terisak-isak. Teringat kembali bagaimana isakan tangisnya di dalam mobil, kini kembali aku tatap raut wajah yang sama. Sedih yang begitu dalam kini merundungi wajahnya yang selalu ceria. Sebisa mungkin ia tak bersuara, tetapi itu menyiksa dirinya sendiri.


Aku memeluk Reira dengan erat, mengecup rambutnya yang sehalus sutera.


“Sabar ya, Reira. Semuanya bakalan baik-baik aja, kok.”


“Gue enggak percaya setiap orang yang bicara seperti itu sama gue. Semuanya enggak bakalan baik-baik aja. Mama lagi satu-satu napasnya di sana dan gue hina masih bisa makan enak di sini. Mama enggak ngebolehin gue ke sana, Papa juga!” Ia turun berpangku di pahaku. Basah pundakku yang sempat dialiri air mata olehnya.


“Gue pernah lebih dari in, Rei. Gue paham banget perasaan lo saat ini, ketika setiap orang bilang kalau semuanya bakalan baik-baik saja.” Aku pun tak bisa menahan air mata ketika mengingat masa lalu, “Semua itu omong kosong. Tapi, gue butuh perkataan itu buat nguatin hati hati gue. Cuma satu yang gue bisa bilang, lo harus bisa bertahan dengan keadaan ini.”


“Kadang, gue ngerasa jadi orang muka dua yang sok-sokan selalu tersenyum. Gue terkadang capek, tapi gue enggak pengen orang kecewa dengan gue. Cuma lo tempat gue nangis begini, cuma lo yang bisa paham gue.”


Aku mengelus rambutnya kembali. Tangisnya sedikit lebih mereda. “Jangan sok kuat, gue benci itu. Ceritalah kapan aja lo butuh gue. Gue selalu ada, kok.”


Ia tak menjawab setelah aku mengatakan hal tersebut. Jika dilihat dari sebelum-sebelumnya, Reira selalu tertidur setelah menangis hebat seperti ini. Napasnya lebih dalam dan lebih lambat dari yang tadi.


“Ayo, berenang ...,” ucapnya tiba-tiba. Ternyata, ia tidak tertidur. Kepalanya bangkit dengan mengusap air mata.


Tangannya merayap ke dadaku, lalu membuka kaosku dengan sempurna. Dingin menyeruak dari lambatnya angin malam. Tatap kami saling menyatu sama lain kemudian. Giliran dirinya membuka pakainnya, dari bawah hingga ke atas. Tersingkaplah seluruh tubuh Reira di hadapanku. Bergairah hatiku melihatnya yang jujur seperti ini. Dengan hanya menggunakan pakaian dalam yang sangat terbuka, ia melingkarkan tangannya, merengkuh tubuhku dengan erat.


Tepat di saat wajahnya mendongak ke atas, kurasakan seketika Reira menyentuh bibirku dengan mesra. Tangannya memaksa untukku menyentuh bagian belakang tali temali agar berharap diriku membukanya segera. Namun, kuatnya hati untuk semua ketidaksiapan menahanku untuk melakukannya. Semakin aku menahan, semakin Reira liar untuk memaksaku memasuki dunia yang sedang ia ciptakan untukku. Sempat aku menyentuh, Reira memaksaku semakin dalam hingga terpejam matanya yang kecil itu.


Aku menghela napas. Aku buang dompet serta handphone-ku ke samping. Aku tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Biarkan ruang dan waktu membawaku kepada nikmat dunia yang fana.


Tanganku bergerak ke tepian, bergeser menyentuh dengan lembut, lalu membawanya jatuh ke dalam air.


Aku tak ingin kalah darinya. Hanya ini untuk menghindari dari dosa yang lebih besar.


Sudah aku bilang, aku masih takut dengan sang pemilik semesta, meskipun tak setaat kalian.


Basah kuyup kami berdua di dalam dinginya air daratan tinggi. Terlepas sentuhan yang sempat ia paksa dariku. Lalu, sama-sama kami timbul ke atas. Ia tersenyum sembari menyentuh wajahku.


“Lo bodoh ... tapi gue suka,” ucapnya dengan lembut.


***