Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 42 (S3)



Pria itu kira-kira seumuran Papa. Ia memakai kacamata berbingkai warna keemasan dengan kumis tipis di atas bibir. Tatkala tersenyum, aku merasakan aura yang tidak biasa setelah ia menyebutkan nama kakekku. Hentakan batu domino di atas meja turut mengantarkanku untuk duduk bersamanya. Ia mulai menutup batu domino satu per satu sembari membakar rokok sebatang. Bukan gerakan tangannya yang mengaduk batu menjadi perhatian, melainkan sebongkah batu pada pengikat cincin yang hampir sama denganku.


“Apa Bapak awak Kapal Leon sebelumnya?” tanyaku.


“Iya, kamu kira aku dapat ini dari mana?” Ia menunjukkan batu cincin tersebut. Lalu, ia melihat Borneo. “Aku tahu kau, Borneo. Jadi duduklah main sama kita.”


“Maaf, Pak. Kita belum pernah bertemu sebelumnya.” Borneo ikut duduk bersamaku berhadap-hadapan.


“Tapi Chen bilang sama aku kalau ada anak China yang ikut ke Kapal Leon.”


“Oh, Chen … dia sekarang di mana?” tanya Borneo.


“Sekarang menetap di Medan. Dia menikah.”


Aku sama sekali tidak mengerti apa pembicaraan mereka. Siapa itu Chen, atau siapa pria yang bersama kami kali ini, aku tidak mengenalnya.


“Maaf, Pak. Kalau boleh tahu, nama bapak siapa?”


“Aku Yunus … awak Kapal Leon sebelum Pak Kumbang tenggelam.”


“Sekarang di mana Kakek Kumbang berada?” tanyaku.


Ia tersenyum. “Informasi tidak gratis di Kapal Leon. Kau menang lawan aku dan partnerku, aku beritahu di mana.”


“Kalau aku yang kalah?”


“Kumbang minta kau balik ke Jakarta.”


Aku mengepalkan tangan. Ada-ada saja yang diminta oleh Kakek Kumbang bodoh itu padaku. Ia memintaku untuk berjudi demi informasi dirinya di mana, tidak sebanding dengan apa yang aku dapatkan jika kalah.


Datanglah seorang anak kecil, mungkin ia sudah SMP. Ia duduk berhadap-hadapan dengan Pak Yunus. Dirinya akan menjadi partner bertarung beliau, sementara Borneo sudah siap dengan rokoknya untuk bertandem denganku. Aku memang pandai bermain domino, waktu itu aku sering bermain bersama Dika dan pegawai bengkelnya. Namun, aku tidak pernah melakukannya demi sebuah perjudian.


“Jika aku kalah, itu enggak sebanding Pak dengan apa yang aku dapatkan.”


“Bermain atau pergi, itu saja.”


Aku menghelap napas sembari meminta dua gelas teh tarik dingin kepada ibu warung kopi. Domino kini diaduk dengan sempurna oleh Borneo. Tangannya lihai seperti pemuda warung kopi yang berjudi tiap malam demi sebungkus rokok untuk hari esok. Wajahnya tampak serius, aku tidak ragu jika ia pandai bermain domino. Semasa pengasingannya di Teluk Ratai, ia memutar uang di perjudian demi uang makan esok hari.


“Baiklah … sekali ronde, kalah atau menang.” Aku mengambil tujuh batu domino milikku.


Tujuh batu yang aku lihat, ternyata tidak terlalu menyedihkan. Meskipun jarang ada batu bermata sama untuk mengendalikan permainan, tapi sama sekali tidak memiliki balak. Aku harap Borneo memiliki batu yang bagus kali ini.


Batu terhentak di atas meja, mengguncangkan permukaan teh tarik dingin yang baru saja sampai di atas meja. Borneo memerhatikan diriku yang mendapatkan giliran kedua. Kode permainan terdapat pada pergerakan pertama. Namun, tatkala gilirannya datang, ia mengeluarkan batu mata enam. Ada dua pertanda, ia banyak memiliki batu bermata enam atau ia memiliki balak enam yang bisa merugikan kami.


“Bunuh balak enam,” ucap remaja di samping kiriku. Benar, ia menutup mata enam yang diminta oleh Borneo.


Giliran Borneo tetap berlaku hal yang sama, ia mengeluarkan batu bermata enam. Namun, remaja itu tidak mampu menutupnaya. Aku pun membuka jalan batu enam di kiri dan kanan. Alangkah terkejutnya aku jika Pak Yunus yang memiliki batu balak enam. Keadaan menguntungkan kami, Borneo bisa melakukan kunci batu untuk memperlancar permainannya. Benar, ia mampu mengadu batu ketika batu dirinya tinggal tiga buah.


“Tiga mata ….” Borneo memperlihatkan mata batunya yang berjumlah tiga buah. Hal itu pertanda jika ia memiliki mata batu berjumlah sedikit.


“Good job,” pujiku.


“Kalian hebat juga main domino. Terutama kau, cucu Kumbang.”


Perhitungan perputaran pertama kami unggul tiga puluh mata batu ketika pihak yang kalah menghitung batunya. Borneo tersenyum senang karena banyak balak dari pihak lawan yang tidak bisa berhasil keluar.


“Baru sekali putar, udah segini aja.” Borneo menyombongkan diri. “Pak Tarab itu pejudi paling handal sedermaga, tapi kalah dariku.”


“Kau kenal Tarab?” tanya Pak Yunus.


“Iya, aku tinggal dengan Pak Tarab beberapa bulan.”


Ia menutup batu miliknya. “Dua orang temanku mati di tangan Tarab. Kau beruntung enggak mati di tangannya.”


“Kami berhasil Pak ngambil emas itu,” ucapku.


“Iya … itu misi dari Kakek Kumbang. Kami berhasil.”


“Jika aku menang, perlihatkan aku emas itu,” balasnya.


“Jika aku menang, aku ambil cincin batu Bapak.”


Balasanku membuatnya terdiam, lalu mengangguk sembari membuka batunya kembali. “Perbandingan yang enggak adil.”


“Mari kita lanjutkan.”


Dua putar batu kami kalah dari Pak Yunus dan partner. Batu terhitung imbang, kami memiliki kedudukan yang sama. Perputaran selanjutnya pun berlangsung sengit. Kami saling memacu. Aku berhasil mengungguli, kemudian Pak Yunus pun bisa memacu. Skor pun berakhir di kedudukan mata batu sembilan puluh pada masing-masing piihak. Hal itu pertanda perputaran batu kali ini menjadi penentu. Mereka yang kalah, maka mencapai mata baru seratus. Jika itu terjadi, aku diminta oleh Kakek Kumbang untuk balik lagi ke Jakarta.


“Sial,” ucapku dengan pelan. Batu yang aku miliki benar-benar tidak mendukung. Terdapat tiga buah balak yang akan susah sekali untuk keluar. Pak Yunus pasti akan menutup batu yang aku pinta kepada Borneo.


Namun, tatapan Borneo membuatku kembali melihat batu sendiri. Ia terlihat cemas dengan batunya sendiri. Keadaan membuat kami terus bermain. Giliran demi giliran dilakukan. Aku dua kali di-skip oleh remaja sialan yang cukup mahir bermain domino. Aku beharap kepada Borneo yang sedari tadi lancar-lancar saja. Ia mengeluarkan batu bertama besar di awal permainan. Aku berharap ia hanya bersisa batu bermata kecil di akhir.


Tanganku bergetar tatkala Pak Yunus mengeluarkan batu untuk diadu. Ia mengeluarkan satu batu yang hanya menampakkan satu titik, berarti ia hanya memiliki satu mata untuk diadu. Jantung ini benar-benar berdetak tidak karuan tatkala Borneo menatapku. Memang, ia sama-sama hanya menyisakan satu batu, sementara aku masih bersisa tiga buah batu yang masing-masing memiliki titik berjumlah banyak.


“Satu mata … buka batu kalian,” pinta Pak Yunus. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam sebagai permulaan merayakan kemenangan.


“Maaf ….” Aku mengeluarkan batu berjumlah besar.


Sementara remaja di samping kiri turut mengeluarkan batu berjumlah kecil. Namun, aku dan Pak Yunus melebarkan mata dari yang ia keluarkan. Bukan mengenai besar kecil mata batu yang ia punya, melainkan batu bermata kosong sama sekali belum keluar dan tidak dimiliki oleh mereka berdua.


“Sebaiknya, pikir-pikir dulu buat mengadu batu Pak.” Borneo mengeluarkan batu bermata kosong. Ia pemenang peraduan batu kali ini.


“Kita menang!” seruku kepada Borneo.


Wajah Pak Yunus menunduk kalah. Ia telah dikalahkan oleh seorang wanita sepertiku yang jika dipikir-pikir lagi, mustahil untuk bisa bermain domino. Beruntung Bang Ali mengajarkan aku bermain batu domino ketika kami sama-sama memutuskan untuk cabut jam kuliah.


“Sesuai janji, Pak. Beritahu kami di mana Kakek Kumbang berada,” ucap Borneo.


Ia mengeluarkan ponsel jadul bersenter miliknya. “Kumbang … aku dikalahkan oleh cucumu. Entah darimana dia pandai bermain domino.”


Aku terkejut tatkala ia berbicara langsung dengan Kakek Kumbang.


“Sekarang sebutkan dia di mana,” pintaku.


“Temui di pancang terakhir.”


Aku segera menghabiskan teh tarik dingin milikku, lalu menjatuhkan uang seratus ribu rupiah tanpa kembalian di meja kasir. Borneo mengejarkku yang lebih dulu kabur. Jalanan yang padat tidak aku pedulikan. Borneo memanggil-manggil diriku di belakang karena takut kehilangan jejak. Namun, aku sudah tidak sabar ingin menggosokkan batu balak enam yang aku ambil tadi ke kepala Kakek Kumbang. Ia telah berani menjual diriku di meja judi batu domino.


Tepat satu garis yang sama dengan pancang terakhir, aku melihat sosok pria tua berjaket kulit warna cokelat dengan kacamata hitam. Selayaknya Kakek Syarif, ia mengenakan topi kopi untuk melindungi dari teriknya panas matahari.


Aku melemparnya. Batu balak enam itu menghantam tepat di kepala hingga terpantul jatuh ke dalam sungai.


“Sekarang Kakek kalah,” ucapku padanya.


Ia masih menggosok kepalanya dengan tangan. Batu balak enam tadi sangat keras menghantam kepalanya.


“Sebelum itu, ikut Kakek dulu.”


“Percayalah Kakek … Reira enggak bakal ngebiarin Kakek kabur lagi. Jakarta menunggu kita, Reina akan ada di sana nanti.”


“Ikut aku dulu, baru kau ngomel-ngomel.” Ia memutar kepalaku ke belakang agar melihat ke sana.


“Kita ke mana?”


“Ke kuburan nenek buyutmu.”


Aku baru sadar jika selama ini aku mempunyai nenek buyut dari Rantau Kuantan.


***