Captain Reira

Captain Reira
40



Matahari menampakkan diri di pukul setengah empat. Tuhan menunjukkan keagungannya melalui semburat cahaya yang mulai merambat membelai wajah. Serat-serat cahaya fajar membentuk garis-garis lurus yang menembus awan. Perlahan-lahan namun pasti, ia merangkak untuk menyambut kami. Bumi yang mulanya gelap gulita, kini perlahan terang oleh cahaya mentari. Sebagian penduduk bumi akan berbahagia, bahwasanya perintah untuk bertebaran di muka bumi sudah dimulai sebagai penyambung hidup mengais rezeki.


Mataku terkena oleh kemuning fajar yang merambat. Kepalaku terasa berat untuk terangkat dan mataku mulai berkunang-kunang. Aku tetap berjalan mencari Reira, meskipun sesekali berhenti karena padanganku mulai kabur. Kaki sudah mulai berada di titik pertahanan terakhirnya. Lututku terasa getir sekali, ditambah lagi dengan demam yang sedang kutanggung. Kembali kuingat wajah Reira, tulisan Reira yang penuh perasaan itu. Surat itu telah berjanji bahwa mentari akan membalas senyum manis Reira di puncak Bromo.


Langkahku berhenti ketika kembali ke titik di mana aku menyaksikan awal dari semburat cahaya fajar menyambut. Tidak kutemukan Reira dengan senyum yang ia janjikan itu, bahkan wangi tubuhnya yang khas itu pun tidak. Rasanya tidak sanggup lagi berkeliling untuk ketiga kalinya. Aku rasa, kini aku telah mencapai titik terakhir. Aku tidak sanggup lagi untuk melanggakah. Lututku rapuh, hingga tertatih di tanah gunung.


Terdengar serak suara memanggil namaku dengan khawatir. Ketika aku menoleh, kutemukan wajah yang sebening lautan itu. wangi lautan seakan tercium ketika ia mendekat. Tatap matanya begitu tegas melihatku yang berjongkok untuk menopang lemahnya tubuhku kali ini. Aku dengan jelas melihat terpaan cahaya fajar pada wajah cemasnya itu. Aku seakan berada di dunia lain, bertemu dengannya dengan segala kemungkinan yang kecil.


Ia berlari ke arahku ketika aku berusaha untuk berdiri. Tangisnya pecah tatkala dirinya memeluk diriku dengan erat.


"Gue berdosa karena menyimpan rasa sama," ucapnya dalam tangis. "Maaf, gue menghancurkan semuanya."


Aku tidak bisa menahan air mata. Ia mengalir begitu saja tanpa halangan. Tidak peduli jika kami berada di tengah decak kagum pendaki yang memuji keagungan Tuhan, biarkan rindu kami lepas dalam satu pelukan. Cahaya mentari yang merambat tidak sehangat pelukan Reira. Ia memberikanku sebuah sentuhan yang berartikan sebuah perjuangan. Ia melarangku untuk menyusul, tapi aku melanggarnya. Ada sesuatu yang menjadi pendorong selama ini, yaitu cinta.


"Enggak, Rei. Gue yang paling hina karena udah menampar lo. Andai saja─"


Seketika semuanya gelap ketika aku memejamkan mata. Tidak ada lagi daya yang bisa menegakkan tubuhku. Aku sepenuhnya jatuh dalam pelukannya. Sura Reira yang memanggil namaku perlahan mengecil, hingga semuanya benar-benar gelap dan sunyi.


***


Aku terlahir dengan fisik lemah. Sedari kecil aku sering sakit-sakitan. Acap kali Ayah dan Ibu bertengkar karena saling menyalahkan tidak memerhatikan kondisi fisikku. Tubuhku juga yang paling kecil di antara Rio dan Dika. Kondisi itu masih kurasakan hingga sekarang. Aku tidak bisa menahan kelelahan seperti orang lain lakukan. Demam bisa menyerang setiap kelelahan yang kualami.


Tidak tahu apa yang terjadi setelah aku menjatuhkan diri pada pelukan Reira. Hanya suara panggilan Reira yang kuingat terakhir kali, hingga aku terbangun di kamar penginapan Pakde. Tubuhku sudah berganti pakaian, tidak lagi berselimut jaket bulu tebal. Seseorang telah menyelimutkanku ketika tertidur. Tidak hanya itu, ia meninggalkan barang yang menjadi ciri khasnya.


"Reira?" Mataku mengedar ke sekitar ketika mendapati ikat rambut Reira tertinggal di sampingku.


Kepalaku terasa sedikit berdenyut ketika berdiri. Kupaksa kakiku melangkah walaupun sedikit sempoyongan. Memang, aku tidak lagi demam seperti di puncak gunung, namun kondisiku belumlah pulih sempurna.


Suara tawa terdengar dari bawah. Kayu yang kupijak bahkan sedikit bergetar. Entah apa yang sedang mereka bincangkan di sana. Ketika aku menuruni tangga, asap tembakau tengah mengepul di tengah-tengah mereka. Piring-piring kotor tampak ditimpuk menjadi satu. Beberapa mangkuk sambal sudah tidak lagi tersisa. Pakde datang membawa teko besar yang berisikan kopi hitam hangat. Adrian menyambut teko besar itu untuk dituangkan ke cangkir-cangkir kecil di hadapan mereka.


Perhatian mereka tertuju padaku. Tidak ada yang bisa kulakukan, kecuali menyimpulkan senyum kecilku yang kecut tidak bertenaga.


"David, kamu udah bangun. Ayo makan siang," kata Pakde sembari bergeser untuk memberikan ruang untukku.


Aku mengangguk. Pikiranku tidak langsung tertuju kepada makana, melainkan cara melepaskan candu yang tergugah oleh terselipnya tembakau di sela-sela jari mereka. Tanganku dipukul oleh Candra ketika aku mengambil bungkus rokoknya. Ia mendekatkan bakul nasi serta lauk kepadaku.


"Makan dulu, baru rokok!" protesnya padaku. "Enggak nyadar kalau lo tadi pingsan. Kalau sakit, bilang-bilang."


"Sorry, gue enggak mau ngerepotin kalian." Aku menyendokkan nasi ke atas piring.


"Reira mana?" kepalaku kembali melihat ke segala sudut untuk mencari Reira.


"Dia baru aja pergi setelah kita sampai ke sini." Candra membentuk asap menjadi bulat-bulatan kecil dari bibirnya. "Dia itu Reira, bukan gadis biasa yang mudah diatur. Selalu ada dunia yang membuat orang kaya dia tertarik."


Aku terdiam.


Dia pergi begitu saja ...


Terlalu cepat baginya untuk berlalu. Sementara itu, rindu ini belum terlampiaskan sempurna. Masih ada ruang di hatiku yang masih ingin merengkuh senyum seindah lautan itu. Bromo hanya memberikan kami sedikit waktu untuk membagi rindu. Tidak cukup bagiku untuk menceritakan segala sendu yang tengah mengusik kegelisahanku. Ada yang tidak tersampaikan kepadanya. Ucapan perasaanku belum kuungkap. Masih tertahan oleh perpisahan yang ia ciptakan.


Semakin aku menggalau, semakin banyak puntung tembakau yang tergeletak di atas asbak. Sepanjang sore aku habiskan di balkon belakang rumah yang langsung menghadap ke Gunung Bromo. Belakang rumahnya masih berupa semak belukar dan pohon-pohon yang tumbuh rimbun. Suara nyaring dari serangga terdengar saling bersahutan.


Berkali-kali Candra mencoba menembakkan peluru dari senapan angin yang ia pinjam dari Pakde. Adrian mengajarkannya cara menembak burung yang banyak bertengger di atas pohon. Jika kaukira ia akan berhasil, maka tembakanmu salah. Ia bukan dibesarkan di alam yang seperti ini. Candra merupakan pria kota yang hanya mengerti dengan gadget, bukan dengan simbol-simbol petulangan alam.


"Gue enggak pernah salahin lo suka sama Reira. Namun, bisakah perasaan berubah begitu cepat? Apa arti Fasha bagi lo sekarang?" tanya Candra sembari memidik di senapan anginnya.


"Dia tetap orang yang pernah membuat hidup gue berwarna, walaupun hitam sekali pun. Gue menghargai Fasha yang sudah mengizinkan gue untuk jadi orang terdekatnya." Aku menghembuskan asap tembakau yang kuhisap. "Tapi, Reira lebih dari itu. Dia mengajarkan gue arti kehidupan yang sebenarnya. Ada sesuatu yang harus kita lewati, yaitu zona nyaman. Reira enggak pernah berada di sana."


"Ya, Reira memang seperti itu. Selalu melakukan apa yang dia suka. Waktu itu dia datang ke pet shop gue, ia malah bawa jalan-jalan salah satu anjing yang dititipin sama pelanggan."


Aku tertawa kecil. Tidak disangka jika gadis laut itu berkunjung ke tempat kerja Candra. "Dasar Reira ..."


"Dia malah marah sama gue, harusnya gue yang marah ke dia. Dia bilang kalau setiap binatang perlu kebebasan. Setidaknya udara segar," balas Candra.


"Itulah yang gue suka dari Reira. Pada akhirnya, gue kalah. Gue jatuh cinta sama dia," balasku sembari tersenyum mengingat wajahnya.


Candra menatap aneh kepadaku. "Entahlah, gue kurang ngerti sama cinta."


"Makanya jatuh cinta. Atau jangan-jangan lo hom─"


Ia mengarahkan senapannya kepadaku. "Gue masih normal. Mau gue tembak?"


Hari merangkak meninggalkan siang. Bulan menampakkan diri beserta bintang kecil yang berulang kali mengedipkan diri kepadaku. Hari ini merupakan hari terakhir dalam perjalananku menyusul gadis laut itu. Besok aku akan kembali Kini aku kembali tidak mengetahui keberadaannya. Ia bisa jadi sudah berada di suatu tempat yang memuaskan hasrat berpetualannya. Ia mungkin tengah berada di perjalan menuju gunung selanjutnya. Entahlah, aku hanya menebak. Setidaknya ia telah memberikanku kesempatan untuk merengkuh peluk padanya.


Tidurku sedikit lebih nyenyak karena beban rinduku dapat sebagian aku lepaskan. Tujuanku untuk menyusulnya sudah tercapai, walaupun tidak sepenuhnya seperti yang aku harapkan. Satu hal yang kuinginkan, ia akan kembali ketika diriku terbangun di penghujung malam, ketika embun pagi merembes melalui celah-celah dinding kayu.


***