Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 45 (S3)



Aku terduduk di hadapa sungai yang membelah kota. Sungai tersebut menjadi saksi bisu berkembangan kota ini yang awalnya hanyalah sebuah pasar kecil. Pasar kecil itu didatangi oleh berbagai pelancong, mereka menyebutkan sebagai pekan baru yang berarti sebagai pasar baru. Dimulai dari satu wilayah kecil, hingga selama berabad-abad berkembang menjadi satu kota yang turut dipertimbangan di Sumatera dalam sektor ekonomi. Banyak industri yang berpusat di sini, kapitalisme pun menjamur menggeser usaha-usaha masyarakat kecil yang berjuang dengan keminiman modal.


Sosialisme itu napas masyarakat, meskipun sekarang aku bergerak di perusahaan kapitalis. Aku berbicara ini di depan umum? Boomer akan menyerangku.


Mataku memandang tepian dermaga kecil yang dulu tempat berhentinya Kapal Leon untuk bersender mengantarkan barang. Biasanya, ada satu karyawan setiaku yang tinggal di sebuah rumah triplek. Aku tidak melihatnya lagi setelah aku berkenalan dengan seseorang pemuda pengganja yang tinggal bersamanya. Rasaku pemuda itu orang yang potensial untuk akua jak berlayar, tetapi aku harus mengakhiri waktu melautku untuk merancang masa depan.


Aku menguap bosan. Siang ini akan diadakan Rapat Umum Pemegang Saham untuk menentukan siapa yang akan memimpin perusahaan selanjutnya. Hari ini Reina datang, ia menawarkan diri karena tidak rela perusahaan dipimpin oleh orang di luar golongan kami. Sudah aku pastikan ia akan terpilih. Track record dan kedekatan dengan pemilih saham lainnya tidak diragukan lagi bagi Reina,


Namun satu hal yang membuat inti dari termenungnya diriku hari ini.


Sebuah novel berjudulkan namaku kini ada di hadapan. Reina memberikanku novel tersebut yang ditulis oleh orang dari masa lalu. Aku menyentuhnya dan menghirup wangi kertas yang biasa khas.


“Buku bodoh, harusnya gue dapat royalit karena judulnya sama dengan gue.” Tanganku memulai ancang-ancang untuk melemparkannya ke dalam laut.


“Woi, kenapa kau buang?”


Borneo yang sedari tadi aku pinta merokok di belakang kini berbicara. Berkat itu, aku kembali menurunkan tanganku.


“Ini tulisan David. Dia menuliskan cerita yang seharusnya enggak dia publish seperti ini,” balasku.


“Aku enggak peduli seberapa kesalnya kau dengan orang bernama David. Tapi percayalah, buku itu sebuah karya. Aku tahu rasanya penat berkarya, lalu karya itu dibuang sama orang lain.”


Mataku memicing padanya. “Sejak kapan kau seperfeksionis ini?”


“Enggak perlu perfeksionis, kalau pikiranmu jernih, pasti bisa mikirin itu.” Ia menarik  buku itu dari tanganku, lalu memasukkannya ke dalam tas. Lalu, ia duduk di sampingku. “Hari ini kau berhenti jadi pimpinan perusahaan. Kenapa?”


“Aku mau bebas, Borneo. Menjadi orang formal bukan jalannya aku.”


“Lalu, kau mau pergi ke mana?”


“Ke mana yang gue mau.”


“Aku ikut dengan kau. Di sini gerakku terlalu terbatas. Ajak juga Razel untuk ikut juga.”


“Aku bisa melukis dan bermusik di mana aja. Seni itu bukan hal yang ribet.”


Tanganku menyentuh dahi. Sebenarnya aku enggan untuk membawa Borneo. Rasanya sudah cocok sekali dirinya sendiri di sini dengan berbagai aktivitas seni yang ia lakukan. Lukisannya banyak dibeli orang, ia juga hobi membuat konten musik di internet. Tapi, aku juga butuh seseorang pendamping yang selalu siap siaga ada untuk diriku. Borneo merupakan orang yang kuat dan tangguh, sangat cocok untuk itu.


“Kau ikut denganku. Tapi, kau harus bantu pekerjaanku aku mengelola café. Aku punya café peninggalan Bunda. Rasanya, aku mau ke Jakarta lagi.”


“Kau yakin mau ke Jakarta lagi?”


“Bukan mengenai David, tapi orang-orang yang di luar itu. Gue mau fokus di yayasan, bisnis kreatif yang enggak kaku seperti ini, dan bersekolah. Kalau aku selamanya di sini, aku bakal jadi kura-kura di dalam tempurung.”


“Oke … aku bereskan barang-barang aku malam ini. Aku ikut kau ke Jakarta.”


Aku merangkul bahu kekarnya. “Itu baru awak kapalku.”


Keberuntunganku bertemu dengan Borneo adalah dirinya memiliki loyalitas, meskipun aku turut berdebat dalam beberapa hal karena ia juga tidak bisa aku atur sebagaimana Razel. Borneo punya pemikirannya sendiri, mungkin hasil dari dirinya yang berkelana selama ini. Berbicara mengenai Razel, ia tegas menolak untuk ikut denganku. Ia sudah jatuh cinta dengan kota ini dan pekerjaan yang sedang ia lakukan. Aku memintanya nanti mengurusi operasional kapal bagian Bengkalis, sekaligus bisa dekat dengan sanak keluarga di sana. Razel setuju dengan hal tersebut.


Seminggu setelah pengangkatan Kak Reina sebagai Direktur Utama perusahaan, kami dilepas di Bandara Sultan Syarif Kasim II untuk perjalanan ke Jakarta.  Sekitar dua jam perjalanan, kami disambut oleh Alfian ketika sampai di Jakarta. Ia tidak langsung mengantarkan kami ke rumah Bunda, melainkan ke sebuah mall yang ramai dikunjungi oleh orang-orang.


Borneo kedinginan, ia terlalu kuno untuk masuk ke dalam mall. Sementara aku kebingungan kenapa Alfian tidak kunjung memberikan aku penjelasan kenapa kami berada di sini. Setelah naik ke lantai dua dan bersandar di besi pembatas, Alfian menunjuk ke bawah. Terdapat seraut wajah yang sedang duduk di sebuah kursi di hadapan para muda-mudi.


“David … dia jadi penulis sekarang.”


Aku memandangi pria itu. Ia sedang berbicara sesuatu mengenai seorang wanita fiksi yang ada di buku terbarunya tersebut.


“Dari dulu dia memang berbakat. Gue udah menduga kalau hal ini bakal terjadi.” Aku menoleh pada Alfian. “Rehabilitasnya lancar?”


Ia menghela napas. “Satu kali rehabilitas mandiri, satu kali tertangkap oleh BNN dan gue arahkan untuk rehabilitasi, tapi itu masih belum merubah kebiasaan David. Sekali lagi dia tertangkap, David bisa dipenjara. Karirnya hancur ….”


Mataku kembali ke mata lemah David yang memandang orang banyak. Ia tidak sesegar dulu. Entah apa yang sedang terjadi padanya.


***