Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 113 (S2)



EPISODE 113 (S2)


Langkah yang keluar dari pintu menjadi pertanda bahwasanya inilah langkah terakhir kami di dalam villa. Aku akan kenang aroma khas villa ini dan menjadi pembicaraan di suatu saat nanti, bahwa ada sebuah tempat yang sangat nyaman untuk ditinggali. Ada pemandangan Gunung Salak yang megah jika di lihat dari dalam rumah melalui dinding kaca lebar. Ada pula pemandian air panasnya, sungguh nyaman sekali menikmati uap hangat air di kala dinginnya malam menyerang. Aku rasa esok aku ingin tinggal di daerah yang seperti ini, tetapi tidak sebesar milik mamanya Reira. Ya, memang ... aku tidak terlalu suka berumah besar.


Bergeraklah mobil seusai menyalami Pak Dadang yang sudah berbaik hati kepada kami semua. Aku senang jika dirinya sudah mengenali kera pemanjat kelapa yang kemarin membuatku terkejut, kera itu sangat marah kepadaku tanpa sebab. Bisa jadi, wajahku terlalu menyeramkan untuk seekor primata berekor panjang. Ucapan terima kasih Reira terlontar dengan manis tatkala sekantung plastik kresek jambu air diberikan oleh Pak Dadang. Pak Dadang berkata bahwa di dalamnya terdapat jambu tiga warna kesukaan Reira. Entah apa enaknya jambu tiga warna. Aku menyebutnya sebagai jambu yang belum matang.


Perlahan kami menjauhi pemandangan Gunung Salak. Semakin kecil dan kecil saja puncak gunung itu tatkala aku lihat ke belakang mobil. Reira bercerita kepada Mawar bahwa ia akan mendaki Gunung Salak yang penuh misteri. Sementara itu, Mawar hanya mengangguk ketika ia diajak oleh Reira suatu hari nanti. Aku di belakang memerhatikan mereka sembari berbaring, aku hanya sendiri di bangku belakang.


Sejenak aku mengingat kembali kalimat dar Reira, atau tak lagi bersama seorang pria sepertinya.


Entahlah, Kawan. Aku bingung apakah itu serius atau hanya sekadar bercanda. Namun, firasatku berkata lain. Ikatan batin yang aku jalin kepada Reira sudah membuatku mengenali bagaimana dirinya merespon sesuatu. Samar-samar, aku merasakan maksud lain. Jika aku salah, berarti ia hanya sekadar bercanda, selaras dengan apa yang ia katakan sebelumnya. Tetapi jika itu benar, aku berpikir ia sedang merasakan sesautu dan berusaha untuk mengetes wanita itu.


Tapi, hal yang membuatku bingung ialah rencana ini merupakan sebagian dari keinginan. Tidak mungkin seorang Reira tidak memikirkan matang-matang keputusan dan membuatnya menjilat ludah sendiri. Aku baringkan tubuku dengan nyaman, lalu aku usahakan untuk tidur nyenyak.


Tidur yang sangat nyaman membawaku terbangun hingga di muka gerbang Reira. Terkejut diriku yang tiba-tiba melihat gerbang rumah Reira dari balik kaca mobil. Menguap sebesar-besarnya Reira di bangku kemudi sembari meregangkan otot. Ia sama sekali tidak tidur dengan nyaman hari ini, sementara aku beruntung bisa tidur nyenyak di dalam mobil. Mungkin hal itu pula yang membuatku tidur panjang sewaktu di perjalanan ini.


“Yaudah, biar gue antar David ke rumahnya.” Reira melepaskan sabuk pengaman.


“Kenapa enggak gue aja?” tanya Mawar.


Reira tersenyum. “Makasih udah ngantarin kami sampai sini. Gue dan David ada perlu sebentar.”


Tangan Reira membuka pintu, diikuti oleh Mawar kemudian. Mataku sangat berat untuk dibuka, masih bertahan aku memejamkan mata di dalam mobil. Terdengarlah Reira menepuk pintu mobil untuk menggertakku segera bangun.


“Woi, bangun! Lo kira ini mobil lo!” sindir Reira.


“Iya, gue bangun. Enggak bisa nyantai apa!” kesalku. Segera aku mengangkat tas dan keluar dari mobil.


Terasa sekali perbedaan udara Ibu Kota dan pedesaan yang dua hari ini aku hirup. Terciumlah bau-bau polusi udara tanpa kesegaran seperti kemarin. Tidak ada pemandangan Gunung Salak dan bukit rimbun yang memanjakan mata, berganti dengan pagar rumah warga. Aku memejamkan mata, kepalaku terasa pusing. Perutku kembung, mungkin saja masuk angin.


“Rei, gue mual.” Aku berusaha memberitahukannya.


“Wah, apakah gue harus mengelus perut lo yang kembung itu?” tanya balik Reira dengan sinis. Lalu, dirinya menoleh kepada Mawar. Ia peluk Mawar dengan erat. “Makasih banget, Sayang. Semoga cepet lulus ya biar kita sama-sama wisuda. Nanti kita foto bertiga dengan Bang Ali.”


Kalimatnya menghentak diriku yang sangat tertinggal jauh. Proposal penelitian pun belum aku lalui, apalagi berpikir tentang pengambilan data.


Aku memegang bahu Reira, lalu bergantung di pundaknya. “Gue lemes banget, sumpah!”


Ia tidak peduli, masih menggenggam kedua tangan Mawar.


“Gue pulang dulu.” Mawar mengangguk senang. Ia tunjuk diriku sejenak. “Itu urusin cowok lo itu. Kayanya butuh perhatian.”


“Tadi malam lebih dari perhatian yang gue kasih.” Ia menoleh ke belakang. “Ya kan, Dave?”


Aku menggeleng. “Terserah, deh. Gue lagi lemes banget.”


“Jangan manja gitu jadi cowok. Masa kalah sama gue!” sindir Reira kembali.


Perutku terasa sangat tidak enak. Lambung seakan naik ke atas. Asam sekali lidahku yang menelan ludah. Tidak bisa aku tahan lagi perutku ini, aku segera berlari ke parit terdekat dan muntah sejadi-jadinya di sana. Keluarlah isi sarapan tadi pagi, berair mataku yang menahan sakitnya perut ketika memuntahkan sesuatu. Barulah tiba Reira yang sok tidak peduli itu dengan memijat punggungku.


“Kalau mau muntah, bilang-bilang dong. Kan gue ada minyak angin,” ucap Reira di belakang.


Perasaan gue tadi bilang kalau gue itu mual. Ah ... ga tau!


Mawar pulang setelah tertawa karena dipancing oleh Reira untuk mengejekku yang sedang tidak beres. Aku hanya melambaikan tangan sembari berjongkok di tepi parit, sementara itu Reira masih mengurut punggungku berkali-kali. Kemudian, Reira membawaku ke teras belakangnya. Tak ingin aku masuk seperti yang ia minta, sudah nyaman aku duduk di kursi belakang. Tampaklah Zainab yang sedang mengunakan selendang.


“Kamu kenapa, David?” tanya Zainab.


Aku tak selera untuk berbicara. Mataku hanya terbuka setengah menatap kandang ayam yang seakan mengejekku di sini.


“Biasa, kaya enggak pernah naik mobil aja. Pakai muntah segala.” Reira membalas. Ia tepuk pundak Zainab. “Buatin air jahe dong buat dia. Jahe sama gula merah ada semua di dapur. Gue mau balsemin nih anak sampai jadi mummy.”


“Aduh kasiannya .... Yaudah, biar aku buatin.”


Malah orang lain yang merasa peduli denganku. Reira menyimpan tawa di ujung pintu. Tidak lama kemudian, Reira kembali dengan membawa sebuah balsem di hadapanku. Ia kini berbaik hati dengan lembutnya membukakan pakaianku. Ia pinta aku untuk duduk di lantai dan membelakangi dirinya. Terciumlah balsem yang ia lumatkan di telapak tangan.


Terasa hangat punggungku dengan pijat mesra dari seorang kekasih. Aku sampai memejam mata karena nyaman sekali tangannya itu, lembut dengan sedikit bumbu-bumbu cinta. Ingat sekali aku bagaimana Ayah yang sering dibalsemi oleh Ibu ketika malam hari, tepat tatkala Ayah mengelus masuk angin karena kerja lembur. Aku hanya memerhatikan dari samping bagaimana Ibu mengeroki punggung Ayah dengan sebuah koin. Tatkala itu pula Ayah mengeluh tentang pekerjaannya seharian, bercuhat mengenai rekan-rekannya, dan tidak lupa pula membahas perilaku Dika yang berandal. Ayah pun menasehatiku agar tidak seperti Dika, tetapi tirulah Rio Si Sulung yang penurut. Aku hanya mengiyakan pada saat itu, padahal tidak mengerti apa yang sedang Ayah bicarakan.


“Semoga kita tua selalu kaya gini, ya.” Reira tiba-tiba berkata lembut.


Kalimatnya tak seperti tadi yang sinis padaku, seakan benar-benar tidak peduli. Aku pun paham, Reira bukanlah orang yang mengumbar kemesraan di depan orang lain. Bahkan, ia lebih mesra dengan Bang Ali daripada diriku ketika kami sedang bersama-sama. Begitulah Reira, ia hanya ingin kami memadu kasih di momen-momen privasi.


Aku bersendawa, benar sekali aku sedang masuk angin.


“Doain terus biar kita terus sama-sama,” ucapku, “Btw, makasih ya udah pijitin.”


“Lah, kok Mawar, sih?” tanyaku sinis.


Kami diam sejenak. Reira berhenti memijatku untuk mengolesi balsem kembali pada punggungku. Barulah ia berbicara seiring dengan tangannya yang bergerak.


“Mawar itu orangnya baik banget. Apa pun yang terjadi masalah dengan orang lain, dia bakalan peduli. Dia pasti enggak banyak omong dan pasti cerita sama gue kalau terjadi apa pun dengan lo. Setelah itu, pasti gue minta dia buat ngolesin balsem ke punggung lo sendiri.”


Aku menarik napas. Angin di lambungku kembali naik dalam bentuk sendawa. Tak ada malu di antara kami berdua, jujur seakan tak ada sekat-sekat yang menghalangi.


“Tadi pagi juga, lo kaya ngetes Mawar gitu. Sekarang juga, kalau lo cemburu ... lo bilang ke gue. Gue enggak bakalan pergi kok buat ke sana. Cobalah jujur tentang masalah ini, Rei.”


“Cemburu tidak ada dalam kamus saya, selagi itu adalah orang kepercayaan.” Nada Reira datar.


“Baiklah kalau lo enggak cemburu, tapi ... jujur-jujur aja, ya. Lo berhak kok bilang ke gue biar enggak deket cewek lain, termasuk Mawar sendiri.”


Ia menepuk sekali lagi punggungku. “Okelah, sekarang gue minta lo buat ngejaga jarak dengan Mawar kalau itu yang lo mau. Hal ini dalam ruang privasi, misalnya lo berdua di satu waktu tanpa tujuan yang jelas. Beda hal kalau lo lagi di cafe berdua sama dia. Gue enggak bisa ngelarang, kan?”


“Rei ...,” panggilku.


“Apa?” tanya Reira balik.


“Jawab jujur, ya ... sebenarnya apa perasaan lo waktu ngebolehin gue pergi sama Mawar dalam satu villa yang setiap saat bertemu.”


Aku berusaha memancingnya karena aku kemarin itu sudah banyak sekali terjadi antara aku dan wanita itu.


Tangannya lebih kuat lagi memijatku.


“Oke ... gue cemburu,” balas Reira.


“Baiklah, terima kasih udah jujur sama gue. Tapi, kenapa lo malah ngebolehin gue sama dia pergi? Jelas-jelas lo udah cemburu dengan hal itu,” tanyaku kembali.


Ia tepuk pundakku dan ia pinta untuk berhadapan. Tangannya menarik kakiku untuk dipanjangkan. Aku berterima kasih di dalam hati tatkala Reira dengan sukarela memijatkannya untukku. Terasa nyaman otot-ototku yang sejak malam tadi tegang akibat berpetualang sejenak demi menggali harta karun berharga. Wajahnya tampak serius setelah aku menanyakan hal itu. Tak ingin ia tatap wajahku, matanya fokus melihat kaki yang sedang ia pijat perlahan.


“Kan gue udah bilang, Mawar adalah permata berharga gue. Gue akan selalu ngejagain dia. Orang yang tepat buat ngejaga dia adalah elo sendiri, terutama semasa ia ngelakuin wawancara. Enggak mungkin gue bawa Bang Ali yang otaknya ga beres, atau Candra, apalagi Razel. Alasan ya satu, karena lo dapat dipercaya, meskipun sebenarnya gue cemburu. Siapa yang enggak cemburu coba pacarnya pergi ke villa sama cewek lain? Gila tuh cewek kalau enggak ngerasa lain.”


Aku mengelus rambutnya dengan lembut, turun sedikit ke bagian alis. Jempolku menyentuh alisnya yang rapi itu, tak seperti alisku. Perlahan, telunjukku menarik dagunya dan akhirnya bibir kami saling bersentuhan untuk sejenak.


“Entah di mana gue bisa nemuin cewek kaya lo, kecuali di malam festival seni,” pujiku.


“Jangan pernah mencari cinta seperti gue karena sangat mahal harganya. Gue ini langka kaya badak bercula satu, unik kaya burung cendrawasih, liar seperti harimau sumatera.”


“Entahlah Rei, terkadang gue masih enggak percaya punya cewek seorang Reira. Gue kira, gue bakalan ngejomblo selama-lamanya.”


Ia tersenyum seraya menaikkan alis. “Di awal gue pernah bilang, gue menyalamatkan setiap orang, terutama yang sedang patah hati. Lo adalah jomblo yang terselamatkan.”


“Hahaha ....”


Jujur sekali kami kali ini. Ia tampak begitu bersahaja dengan kerendahan hatinya itu. Aku benar-benar melihat putih hatinya saat ini, mengkilap dan terang.


Ia menatap diriku. “Gue tahu semuanya, kok.”


“Tentang apa?” Aku mendongak.


“Hey, Kawan. Mawar itu orang paling jujur sama gue, bahkan melebihi diri lo sendiri. Gue tahu lo lagi main game, tapi izinnya lagi ngelanjutin revisian. Dika sendiri yang bilang ke gue. Nah, gue tahu semuanya apa yang terjadi sama kalian di villa itu.”


Wajahku padam. Ternyata benar, tidak ada celah bagiku untuk menutupi suatu hal darinya. Ia bagai punya banyak mata dan telinga. Ia sudah tahu bahwasanya aku berada di satu momen di mana Mawar berbusana yang tak seharusnya aku tatap penuh sempurna.


“Maaf, gue salah. Gue minta maaf banget,” ucapku penuh penyesalan.


Ia menyentuh tanganku. “Gue paham kok. Lo cuma pengen cerita. Lo pengen tahu banyak tentang gue melalui Mawar sendiri. Cuma, momennya aja yang enggak tepat. Enggak ada manusia yang sempurna, Dave.”


“Jika ada hal tepat yang bisa bikin gue dimaafin, gue bakal ngelakuin itu semua,” pintaku.


Ia tersenyum lebar. “Udah, kok.”


Kepalaku memereng. “Apanya yang udah?”


“Kemarin itu nikmat sekali,” tatapnya menggoda.


***


yaa guys, sebenarnya Reira itu cemburu looh. Semenjak Mawar kasih tahu momen malam itu sambil minta maaf banget, Reira langsung ngusulin paginya ke sana. Ikuti terus yaa, masih banyak petualangan yang menanti, nanti kita pindah pulau lagi.