
“Kita pulang ….”
Aku mengangkut genggam tangan Abimana menuju keluar kerumunan. Semua orang bertanya kenapa aku begitu cepat pergi. Minerva aku jadikan alasan karena ia belum diberi makan. Tentu saja mereka heran berkat aku bukan orang yang suka terlalu dini untuk berlalu. Namun, rasanya tidak ada alasan bagiku untuk berada di sini karena bajingan itu.
Sungguh, kesalahan terbesarku saat ini karena tidak berani dan enggan menuntup masa lalu. Sesuatu yang aku sebut sebagai hantu selalu saja menggerogoti setiap detik perjalananku saat ini. Aku meninggalkan hal yang sangat besar di belakang, tanpa mampu aku sadari bayangnya terus saja mengejar.
Mobil melaju lebih dari seratus kilometer per jam. Kakiku bergetar menginjak pedal gas yang semakin liar ketika gemerlap lampu jalanan laksana kibas cahaya cepat. Pria homo di sampingku berkali-kali bercarut karena takut. Jalanan sangatlah sepi untuk dia berteriak meminta tolong, tiada satu pun yang dapat mendengar.
Tubuh kami terhempas ke depan ketika mobil berhenti tiba-tiba di tepi fly over. Aku menghentak pintu mobil, lalu melangkah ke tepian.
“BANGSAAAT!!!!” Aku menarik napas sekali lagi. “ANJIYNG SEMUANYA!!!”
“Reira! Lo kenapa hei!” Ia menarikku ke belakang.
“Psikater gue bilang lebih baik gue teriak kaya orang gila daripada gunain peluru terakhir …..” Wajahku tertutup oleh telapak tanganku yang berbau krim blueberry kue ulang tahun Mawar. “Semua orang kaya tai sekarang.”
“Gue lo bilang tai?”
“Pengecualian.” Aku membalikkan diri menghadap gedung-gedung megah. “Gue pernah mati dulu. Sekarang gue cuma hantu penasaran.”
“David?” tanya Abimana. Wajahnya tersenyum kecil tatkala aku mengangguk. “Ya terkadang pria juga menyakitkan. Gue juga pernah disakitin pria.”
“Entahlah Abimana … semua ini salah gue. Gue cuma ngejar ambisi gue, menyelamatkan diri gue sendiri, ternyata itu membunuh gue juga. Gue kehilangan hal terbesar yang pernah gue dapatin.”
“Hey … David bukanlah yang terbesar. Lihat diri lo sekarang, punya perusahaan, punya orang-orang setia yang ngikutin lo, punya yayasan, dan punya kapal. Cewek mana yang punya kapal selain lo dan Bu Susi. Lo lebih dari David.”
“Benar, gue selalu lebih dari David. Keberhasilan David cuma sebesar kuku kelingking gue. Tapi, kelemahan wanita itu terletak pada pria. Gue feminis, tapi gue tetap seorang wanita. Hukum alam enggak akan pernah merubah fakta genetik kalau gue cewek.”
“Sini kepala lo.” Ia menempelkan wajahku pada pundaknya. “Ini kan yang lo butuhin? Sejatinya kita enggak terlalu butuh kekasih, kita cuma butuh tempat bersandar.”
“Berhenti berdiksi, gue jijik dengerin orang yang suka berdiksi sekarang.”
“Lo itu keras kepala memang!”
Aku menatap wajahnya. “Apa Isaac cemburu kalau kita begini?”
“Ya … tentu aja. Tapi kami saling mempercayai.”
“Rasa percaya, ya?” Aku menutup mata. “Persetan dengan rasa percaya. Semua itu udah hancur.”
“Udah saatnya lo move on. Pria enggak cuma David,” balasnya.
“Entah kapan itu saatnya, Abimana. Gue masih belum bisa memastikan ….” Aku menoleh padanya. “Lo suka naik gunung?”
Wajahnya ragu untuk menjawab. “Gue lebih suka mencari jamur daripada mendaki.”
“Oh iya, lo bukan Borneo atau Razel.” Aku melepas pundaknya dari wajahku. “Antar gue ke kapal. Bawa aja mobil gue ini. Malam ini gue mau tidur di sana.”
“Oke, lo ratunya ….”
Bukan selayaknya teman kencan yang mengantarkan gadisnya ke depan teras rumah, ia malah aku pinta untuk memberhentikanku di tepian dermaga berombak. Ia pergi bersama mobilku agar bisa mengajak Isaac jalan-jalan dengan mobil mewah esok hari. Sementara itu aku memilih memasuki geladak kapal dan menelusuri pintu rahasia menuju ruang pribadi Kakek Kumbang.
Lilin aku hidupkan dua buah. Musik Melayu dari P. Ramlee terputar melalui piringan hitam. Aku berselimut hangat arak Bali hingga tertidur pulas sembari menggenggam apa yang aku sebut sebagai peluru terakhir. Revolver-nya pun berdekatan denganku yang tersimpan di bagian rak meja.
Aku dibangunkan oleh suara langkah seseorang yang menyatu di lantai kayu kapal. Pagi hari pukul tujuh yang dingin membuatku menarik revolver. Kakek Syarif sedang melakukan pengantaran ke Lampung hari ini, sehingga tidak ada satu pun orang yang bisa memasukinya. Suara langkah itu mendekat disertai garukan kuku-kuku tajam di hadapan pintu berornamen kumbang. Bunyi itu berhenti, bertepatan dengan aku yang sudah bersiap di hadapan pintu. Jika rumor itu benar, aku sedang berhadapan dengan sosok tersebut.
“Aku enggak mengganggu,” ucapku untuk menenangkan dirinya.
Memang, aku sudah beberapa kali mendengar garukan suara kuku di dinding-dinding kapal. Tapi tidak pernah sedekat dan sejelas ini.
Seketika teleponku berbunyi dari panggilan Alfian. Aku segera mengangkatnya.
“Keluarlah dari kapal. Aku bawa seseorang ….”
“Dari mana lo tahu gue ada di sini?” Aku menghela napas. “Berhenti nakutin gue di depan pintu!”
“Siapa yang di depan pintu!” Ia terdengar kesal. “Gue di tepi dermaga.”
Mataku bernanar menuju ornament kumbang di hadapan. Sesegera mungkin aku menjauhinya agar tidak terjadi sesuatu. Aku mungkin pemilik kapal ini, tetapi aku tetap penumbang di hadapannya.
Dari geladak kapal, aku menyaksikan Alfian bersama seorang bapak tua yang hampir sama tinggi dengannya. Wajahnya putih seperti Reina, tetapi berhidung mancung selayaknya diriku. Mata kami saling berhadapan seakan beresonansi satu sama lain. Aku pun keluar dari kapal. Pria itu melambai kecil seperti orang canggung.
“Sejak kapan lo bergaul dengan politisi?” tanyaku pada Alfian.
“Tugas gue cuma mengantar. Kalau mau berdebat, silahkan kalian berdua aja. Gue ingatkan, ini bukan meja paripurna. Oke?” Ia berbalik diri dengan cepat. “Gue harus ngurus pasien dulu. Ada yang sakit maag kronis.”
Tinggallah aku dengan Papa di sini. Angin memulai perbincangan sunyi di antara kami, menyelinap di sela-sela jarak tubuh yang canggung.
“Udah sarapan?”
“Belum ….”
“Mau sarapan?”
“Aku enggak terbiasa sarapan.”
“Mau pangsit cina Kedai Ahiong?”
Aku terdiam mendengar nama kedai makan chinesee yang sering aku kunjungi bersama Papa sewaktu kecil. Makanan faforitku di sana ialah pangsit tanpa irisan sayur.
“Tapi dia udah tutup ….bukan dia lagi yang jual. Tangan yang bikin pasti beda.”
“Kita datang ke rumahnya langsung.”
Pandanganku beralih ke sekitar. Hanya ada satu Camry mewah tanpa pengawal. Biasanya, ia selalu membawa pengawal ke mana-mana.
“Udah merasa aman berkeliaran di tengah kota?” tanyaku sembari melihat ke arah lain. “Ada banyak mahasiswa yang mau lempar mobil pejabat dengan telur.”
“Temanmu Ali itu udah enggak ada lagi di kota ini, kan?”
Aku tersenyum sedikit. Awal-awal perkuliahan menjadi saksi di mana Bang Ali mengancam papaku dengan sebutir telur. Pada saat itu, Papa mengkritik Bang Ali selaku koordinator masa demo kampus.
“Dia udah punya anak. Demo bukan idealisme Bang Ali lagi.”
“Ayo, kita ke rumah Bapak Ahiong ….”
“Kenapa Papa ngajak aku?”
Sama sekali aku tidak melangkah ketika dirinya beranjak.
“Sekarang aku ulang tahun. Satu-satunya orang yang aku harap mau merayakannya cuma kau, Reira.”
Kalimat itu membuatku tertegun. Aku tidak ingat sudah berapa tahun aku tidak merayakan ulang tahunnya yang penuh wanita muda pada saat itu. Sekarang, ia hanya pria tua. Berjalan aja sedikit ngos-ngosan, kesepian, tanpa harapan.
Aku pun mengikutinya dari belakang.
“Selamat ulang tahun ….”
Papa berbalik menatapku. Wajah suramnya berubah menjadi senyum. Cerahnya selayaknya mentari pagi ini.
***