Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 127 (S2)



EPISODE 127 (S2)


Selalu ada konsenkuensi dari ketidakmengertian. Orang bisa menghindar dan hanyut bersamaan dengan ketidakmengertian. Maka, aku pun memilih hanyut di dalamnya. Dalam riang teriak Reira yang merasa seru di atas vespa gembel, aku tersenyum di dalam mobil ketika memerhatikannya. Entah dari mana Reira mendapatkan teman-teman seperti itu. Sekali lagi ia membuka tabir yang tak pernah aku temui sebelumnya, bahwasanya Reira memiliki teman dari kalangan anak punk jalanan.


Terdapat simbol tersirat dari gurat wajah mereka yang memandang jalanan, yaitu kebebasan. Aku tak pernah memandang anak punk sebagai orang-orang yang menggelandang di jalanan dengan meminta uang kepada pengguna jalan. Dari paras seram lagi nyentrik itu, aku berusaha mengulik sisi lain dari mereka, yaitu seni kebebasan. Mereka sebagian dari seni itu, seni memilih kebebasan mereka sendiri.


Pikiran mereka seperti kapal yang terombang-ambing, lalu menghias kapal tersebut dengan berbagai karya seni. Tato perlambangan dari seni kebabasan, bagiku. Tindik manifestasi bahwasanya tubuh merupakan otoritas diri sendiri, meskipun aku sama sekali tidak ingin melakukan hal tersebut.


Pandangan itu terbebas dari perilaku menyimpang yang terkadang mereka lakukan, seperti minum-minuman keras misalnya atau mungkin saja melinting ganja di tepi jalan. Selagi perilaku itu tidak menganggu orang sekitar, bagiku tidak ada masalah. Urusan dosa, biarkan masing-masing diri yang mengurusinya. Kita bukan Tuhan yang menghakimi mereka nanti. Tidak ubah layaknya para mahasiswa galau yang saling menyumbang sebotol anggur merah di kosan, biarkan diri masing-masing yang mengintropeksi.


Aku tengah bersama Mawar di dalam mobil. Candra dan Bang Ali sudah lebih dahulu pulang karena ada urusan yang harus dikerjakan. Razel tidak dibolehkan ikut oleh ayahnya sendiri karena harus pulang segera bersamanya. Fasha juga tidak mungkin ikut dengan hal seperti ini, terlebih lagi ia sudah memiliki jabang bayi yang harus dijaga. Terpaksalah hanya aku dan Mawar yang turut serta mengikuti iring-iringan gila vespa gembel dari belakang.


Seperti biasa, ia selalu memakai warna merah ketika di acara penting. Agar terlihat lebih santun, ia memilih lengan panjang dan bagian bawah yang menjuntai hingga mata kaki. Rambutnya tersanggul indah, meliuk dalam ikatan yang tak biasa. Seperti tokoh jelita bawang merah, aku rasa Mawar yang versi baiknya. Selaras dengan nama wanita itu, beraromakan warna merah yang merekah. Jika aku sentuh tangannya, mungkin tanganku akan kesakitan oleh duri moral yang membatasi kami.


Wanita itu berkaca pada cermin kecil di atas. Tersenyum bibirnya untuk memastikan parasnya kini dalam keadaan sempurna.


“Apa Zulqarnain enggak apa-apa sendirian di cafe?” tanya Mawar.


“Gue rasa dia bisa ... kan udah gue bilang sebelumnya, mau libur atau enggak. Kalau mau libur, ya silahkan. Kalau mau tetep buka, bakal gue kasih bonus.”


“Anaknya belajar cepat, ya ...,” puji Mawar.


Aku mengangguk. “Iya, soalnya dia juga punya pengalaman tersendiri di bidang kuliner. Urusan bikin kopi, dia belajar cepat dari lo. Tinggal ngedapetin feel-nya aja dari pengalaman.”


Mobil berbelok menuju keluar komplek. Iring-iringan di depan aku lihat tambah serusaa. Tidak ada rasa malu yang ditunjukkan. Seluruhnya bersuka cita di malam hari in. Aku rasa Dika saja yang merasa aneh. Bagaimana tidak aneh, dirinya baru pertama kali dibawa ke dalam hal gila bagi Reira.


“Reira dapat teman kaya gitu dari mana?”


Mawar mempertanyakan hal yang aku tanyakan sebelumnya. Aku sama sekali tidak tahu bahwasanya Reira memiliki teman yang seperti itu. Namun, bagiku tidak aneh pula bagi Reira jika kenal dengan mereka. Lingkup pergaulannya yang luas sudah membawa Reira mengenali banyak orang dan mendapatkan pengalaman dari hal tersebut.


“Entahlah, gue sendiri juga enggak tahu dari mana dia dapet temen yang punya vespa gembel.”


“Jadi, itu yang namanya vespa gembel?” tanya Mawar kembali.


Aku menoleh padanya. “Lo masa enggak tahu?”


Ia mengangkat kedua bahu. “Ya ... mana tahue. Enggak penting juga buat gue tahu.”


Tawa aku gelakkan di dalam hati. Aku rasa banyak hal di dunia ini yang tidak akan dapat ia baca di dalam buku-bukunya. Salah satunya ialah mengenai fenomena vespa gembel yang banyak menyeruak di masyarakat urban perkotaan. Karya seni―bagiku vespa gembel adalah karya seni―umumnya dihasilkan oleh mereka yang hidup di jalanan, penuh kebebasan, salah satunya ialah anak punk.


Membaca buku memang membuka wawasan kita terhadap ilmu pengetahuan. Dari buku banyak kita jumpai teori-teori yang bisa di aplikasikan ke dalam kehidupan. Seperti orang bilang, buku adalah jendela kehidupan. Namun, terlalu banyak membaca buku bagiku dapat membuat seseorang seperti kura-kura di dalam tempurung. Mereka sibuk dalam idealismenya sendiri, tanpa ingin melihat keluar sedikit.


Maka, aku ingin menyimpulkan bahwasanya seseorang harus dapat pula membuka mata sekaligus membuka hati. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Kakek Syarif bahwasnya ilmu pengetahuan bukan menjadi penjamin seseorang dapat bisa membuka matanya terhadap jendela dunia, melainkan ada faktor lain yaitu pengalaman. Pengalaman hanya bisa didapati melalui diri yang telah mampu membuka mata terhadap dunia, lalu menafsirkannya dari hati yang terbuka.


Ya ... terkadang aku pernah kesal dibandingkan sewaktu kecil dengan anak dari tetangga. Aku yang sering keluyuran keluar rumah dibandingkan oleh seorang anak yang saban hari belajar di rumah, padahal ia merupakan anak lelaki. Anak tersebut hanya keluar rumah jika bersekolah dan pergi bimbingan belajar. Pantas saja kulitnya putih bersih seperti anak gadis, tidak sepertiku yang berpanggang panas mengejar layangan. Terkadang kami berluka darah akibat terjatuh sehabis main bola dan berdebu wajah tatkala berkelahi menentukan bola masuk atau tidak.


Namun, aku tertawa saja ketika aku lebih pandai membuat layangan dan kerajinan tangan di kelas daripada dirinya. Beranjak remaja, aku lebih pandai memegang gagang palu daripada dirinya. Beranjak dewasa, aku pun lebih pandai mencari uang daripada dirinya. Ya, ternyata Kakek Syarif pun benar, semuanya berkat pengalaman.


Sinis matanya memandang padaku. “Emangnya enggak boleh? Buku adalah jendela pengetahuan.”


“Ya, memang jendela pengetahuan. Tapi, kenapa lo enggak bisa tahu vespa gembel. Dan ... sebenarnya apa pendapat lo tentang anak punk?” Aku ingin mengetes pengetahuannya.


Kembali ia arah matanya ke depan. Hela singkat napasnya terdengar olehku. “Mereka yang meninggalkan rumah demi hidup di jalanan, sebagian dari mereka sebenarnya masih ada keluarga untuk ditinggali. Dianggap negatif karena mereka sering melakukan perilaku menyimpang.”


“Perilaku menyimpang seperti apa?” tanyaku kembali.


“Minum-minuman keras, tatoan, pemalakan, ngelem, **** bebas mungkin. Ya ... kita cukup tahu aja, sering kok kita lihat di lampu merah.”


Aku tersenyum. “Itulah kenapa gue bilang lo itu terlalu sering baca buku.”


“Gue masih belum paham.”


“Mereka dan Reira itu sama saja. Perilaku menyimpang mereka itu sama saja dengan anak kampus kita. Lo pasti tahu siapa aja yang sering bawa cewek ke kosannya, atau siapa aja yang udah narkoboy.”


“Jadi, kesimpulannya?”


“Kebebasan ... itu yang mereka cari. Mereka berani menantang arus dunia di mana mereka terkekang karena hal itu. Sama dengan Reira, Reira mencari hal yang sama. Namun bedanya, Reira lebih gila dari mereka dan masih dalam koridor nilai etik yang berlaku. Dan ... itu enggak bakalan bisa lo dapat, kecuali lo sendiri yang membuka mata.”


Mawar menoleh padaku. Matanya lebar seketika. Mungkin saja ia terkejut mengapa aku lebih cerdas darinya saat ini. Aku pun teringat oleh perkataan Mawar yang pernah mengatakan bahwasanya setiap orang itu pintar dalam hal yang ia kuasai. Maka, tidak adil ketika seseornag mendefenisikan orang lain sebagai penyandang predikat pintar, tetapi masih dalam defenisi umum.


“Oh ... begitu. Makasih, udah ngajarin gue.” Singat sekali jawabannya.


Aku tersenyum melihat tingkahnya yang seperti itu. Jentikku mengarah ke keningnya.


“Jangan ngambek, dong. Kan gue cuma mau bilang begitu.” Aku tertawa sejkenak. “Iya, deh ... maaf karena gue udah menyela hobi lo baca buku.”


“Siapa sih yang ngambek?” balas Mawar.


“Iya ... muka lo itu kaya enggak nerima perkataan gue.”


“Enggak, kok. Sebenarnya gue berpikir ... apa yang lo bilang itu benar adanya. Gue terlalu kuat di dalam teoritis, tetapi lemah dalam aplikasi.”


“Hahah ... enggak apa-apa. Ya, enggak ada orang sempurna, kan?” pungkasku padanya.


Mawar tersenyum lebar menyadari hal tersebut. Secercah kesadaran ia dapati dari perbincangan yang singkat ini. Kita hanya perlu saling memahami dari berbagai sudut pandang. Hanya dengan cara itu kita membuka dunia.


Mobil yang sedang aku bawa sedikit melambat karena dua buah vespa gembel di depan berbelok ke kiri. Alangkah terkejutnya aku ketika melihat logo restoran ayam goreng cepat saji berdiri di sana. Reira sedang gila membawa mereka semua untuk makanan di sana.


“Melihat kesombongan bertekuk lutut, oh ... gue paham sekarang.” Aku turut membelokkan mobil ke sana.


***