
EPISODE 26 (S2)
Ah ... dalam renungku menatap redupnya cahaya lampu di atas, terpikirkan apa yang sedang dilakukan Fasha saat ini. Entah bagaimana pikiran ini datang tiba-tiba, sekelimut rindu sisa-sisa kembali terngiang di hatiku. Padahal, sudah lama aku ingin membuangnya jatuh ketika aku berpikir bahwasanya aku berasal dari sekumpulan orang-orang terbuang. Di mulai semenjak tragedi ironi puncak biang lala, berkata bahwasanya cintaku tak akan pernah bertahan lama. Fasha mengatakan hal yang sejujurnya jika ia telah memiliki Bagas.
Penyesalan terbesarku saat itu ialah ketakutanku sendiri akan kehilangan seorang Fasha. Namun, ketakutan itu pula yang membuatku benar-benar kehilangan dirinya. Kata yang tak terucap, tidak akan pernah dimengerti oleh wanita bergitar itu. Ia tak pernah memahami makna-makna, gelagat, sikap, dan perilaku yang selama ini menyimpulkan jika aku menyukai dirinya.
Namun, sudahlah ... semua itu sudah berlalu.
Hanya saja, aku prihatin dengannya yang memelukku di kala tatap wajah terakhir kali dengannya. Dengan sebuah undangan yang melekat padaku, kebahagiaan itu ternyata palsu. Pernikahan yang ia jalani tidak sebahagia yang di kira orang-orang.
Mungkin saja pertemanan yang aku jalin sebegitu lama dan sebegitu dekat telah menjalin ikatan batin yang terus saja menguat. Aku memahami bagaimana tatap wajahnya yang lusuh mengatakan bahwasanya ia akan menikah dengan Bagas. Seharusnya, setiap orang berbahagia menanti hari di mana ia akan bersanding berdua dengan pujangga hati. Namun, apa yang aku lihat, hanyalah sebongkah raut wajah yang penuh dengan getir kepiluan, memaksa waktu untuk berputar kembali bersamaku.
Satu hal yang aku simpulkan, kami pernah merasakan hal yang sama. Kami pernah sama-sama mencintai, saling menyayangi, saling mengirimkan doa pada renungan malam. Diam yang kami lakoni ternyata memperlihatkan sorot mata yang saling menatap sunyi. Namun, semua itu telah terlambat. Kami telah menjalani takdir masing-masing dengan pilihan masing-masing. Aku akan tetap menjadi temannya, tak akan bisa aku melepaskan peranku itu dari Fasha.
Sesekali aku lihat pada sungai beraliran tenang, tak ada sama sekali satu pun umpan kami yang disambar ole ikan. Padahal, aku telah menunggu momen teriakku tatkala menarik pancing yang disambar calon tangkapanku. Jangankan dapat ikan, disambar saja umpan itu sudah cukup membahagiakan bagi kaum-kaum yang tak pernah memancing sepertiku.
Sembari menunggu umpan disambar, Candra dan Razel sibuk bermain game online di handphone mereka masing-masing. Hujatan Candra kepada teman satu tim yang tak seperti diharapkan, terdengar dari mulut manyun pria berambut keriting itu. Sudah biasa bagiku mendengarnya seperti itu. Hal yang umum dilakukan para gamer sepertinya. Sementara itu, Razel hanya bisa mengutuk diri sendiri yang tak bisa memenangkan ronde di game tersebut.
“Kalau Kakek Syarif berangkat subuh ini dan kita belum pulang, elo bagaimana?” tanyaku pada Razel.
Ia meletakkan rokoknya pada bekas air minum kemasan yang dijadikan asbak.
“Ya kan gue menginap sama kalian, Bang. Enggak ada masalah.”
“Bukan, maksud gue ... pakaian lo bagaimana. Enggak mungkin Reira bikinin lo baju dari daun, atau dipaksain pakai baju anak-anak yang kita jual,” balasku.
“Oh, itu ... gue udah pesankan sama Bapak kalau letak aja tas gue di kedai dekat kapal. Kami udah kenal baik dengan pemilik kapal.”
“Kasian juga ngelihat awak kapal gue yang dibawa balik,” sambung Reira. Ia bersandari di tepi pondok.
Aku menghela napas. Tanganku diam-diam meraih tangannya yang dingin, lalu aku sembunyikan pada samping tubuhku. Aku khawatir para jomblo yang sedang gila game di sana melihat diriku yang diam-diam meraih tangan Reira dengan mesra.
“Tenang aja, mereka pasti paham kok. Mereka anak-anak yang baik. Lo mengajarkan mereka banyak hal.”
“Semoga saja Alfian menyambut mereka seperti gue,” balas Reira.
Aku memandang ke wajahnya. “Alfian? Dokter spesialis paru itu?”
Reira mengangguk. “Iya, lain waktu gue kenalin lo sama dia. Selama ini gue enggak sendiri ... dia ada karena gue ngebutuhin orang pintar buat mengedukasi anak-anak didik gue.”
“Lo kok enggak pernah cerita?” Mataku memicing padanya.
“Lo enggak pernah bertanya,” balasnya singkat.
“Laki-laki?” tanyaku balik.
“Wanita mana di dunia ini yang bernama Alfian, lo kira?” Reira tiba-tiba melepaskan tanganku. “Kenapa sih?”
“Enggak ada ... aneh aja.” Aku membuang wajah.
“Kenapa aneh?” Jemarinya memaksaku untuk kembali menatapnya. “Lo cemburu, ya? Hahaha ....”
“Mana ada, semabarangan!” tegasku.
Ia tertawa kembali. “David ... dia itu anak dari teman papa gue yang punya rumah sakit swasta di kota. Kebetulan dia punya yayasan sosial yang menampung anak-anak yang enggak sekolah. Yaudah ... gue gandeng aja sebagai partner kemanusiaan.”
Aku menunjuknya. “Jangan macam-macam, ya.”
“Hah ... sejak kapan lo se-posesif ini? Gue pelukan sama Bang Ali, lo biasa aja.”
“Bang Ali beda ... dia itu udah kaya abang lo sendiri,” balasku.
Candra melempar botol mineralnya pada kami. Ia letakkan handphone-nya ke atas permukaan kayu karena kesal dengan timnya yang kalah.
“Urusan rumah tangga sendiri jangan dibawa ke sini, ya ....” Candra memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. “Aduh ... malam-malam gini kok banyak bocah main game, sih! Jadi kalah gue ....”
“Yaelah ... kaya pro gamer banget sih lo!” sindir Reira dengan melempar balik botol air mineral tersebut.
“Kasih tahu, Dave.” Ia menunjukku.
Aku pun mencolek tangannya. “Dia pernah menang turnamen game online se-kampus.”
Bibir Reira mencibir padaku. “Menang game seribu kali kalau enggak pernah menang lomba marathon se-kampus dari gue, apa gunanya!”
“Apa hubungannya game sama lari marathon sih, Alien!”
“Ih, jangan sebut gue alien!” tegas Reira.
“Marahin tuh pacar lo. Dia yang pertama kali yang ngenalin gue istilah itu.”
Aku tersenyum kecut padanya sembari menunjukkan dua jari perdamaian. Secuil cubitan manja bersarang pada samping perutku. Walaupun tangan itu kecil, namun cukup sakit juga. Tanganku menyentuhnya untuk tak lagi menyerangku dengan cubitannya.
Tiba-tiba ... terdengar suara lonceng kecil dari arah sungai yang membuat Reira meraih senter. Kami langsung bergerak ke tepian sungai, sementara itu Reira menyoroti ujung-ujung kail untuk memastikan pancing siapa yang telah beruntung disamar oleh ikan. Tangan Reira yang menunjuk membuatku bergerak. Ia menyebut namaku dengan kencang.
“Itu pancing lo, Dave!” teriak Reira.
Tak abis pikir, aku mengangkat pancing tersebut dan segera menarik katrolnya. Tekanan yang dibuat ikan aku rasakan sensasinya. Ternyata, beginilah adrenalin yang terpacu bagi para pemancing tatkala berhasil mendapatkan strike. Seperti aksi yang aku lihat pada acara-acara memancing di TV, aku meniru kuda-kuda yang mereka tunjukkan, lalu menarik katrol dengan perlahan. Tanpa menunggu waktu, aku menarik habis katrol tatkala ujung kail terlihat beriak bersama air. Permukaan sungai bergemuruh di hadapanku, pertanda ikan benar-benar sedang di depan mata.
Inilah, Kawan ... pengalaman pertama kalinya aku mendapatkan ikan di sungai.
Pengalaman ini sangat berharga, aku berterima kasih pada wanita itu.
“Syukurlah ... kita dapat ikan untuk pertama kali di malam hari ini!” seruku pada mereka.
Reira mengambil baskom yang kami bawa, lalu meletakkan ikan yang bergerak brutal tatkala bergantung di ujung kail.
“Lo harus ikut acara Mania Pancing,” pujinya.
“Mantap!” balas Reira dengan tegas.
Tangkapan ikan yang aku dapat lumayan besar. Kami tidak tahu persis ikan apa yang kami dapati. Kepalanya besar seperti ikan kerapu. Razel si anak laut pun tidak mengetahui ikan yang didapat karena tidak terlalu sering memancing di air payau. Setidaknya, ember wadah ikan kami kali ini telah diisi oleh sebuah tangkapan. Tinggallah kami menunggu ikan-ikan lain yang menyambar umpan.
Tanaman bakau menjadi dominasi pemandangan di seberang sungai. Cukup seram jika terlalu lama menatap ke arah pemandangan yang gelap. Namun, kami kini tengah duduk berbaris pada satu titik untuk menunggu lonceng pancing kami berbunyi. Masih dengan semburan asap tembakau malam yang menghangatkan tenggorokan, kami saling berbincang satu sama lain mengenai hal yang dicita-citakan.
Benar ... cita-cita merupakan sebuah hal yang lazim dipikirkan oleh setiap orang semenjak masih belia. Jika aku ingat, aku tidak terlalu tahu mengenai cita-citaku semasa kecil. Aku hanya menggeleng kepada guru SD tatkala maju dan ditanyai aku ingin menjadi apa ketika sudah besar. Hingga sekarang, aku pun tak punya tujuan pasti selain tetap berdiksi dan bersyair. Aku orang yang tipe mengikuti arah angin, tidak terlalu fokus dalam satu tujuan. Kesempatan aku raih sebanyak mungkin dan memilih salah satu darinya.
“Gue jelas dong ingin menjadi seorang pelaut!” tegas Reira pada kami. Kepalanya menadah pada langit gelap, seakan berbicara pada bintang gemintang di sana. “Gue mau ke Antartika, trus melintasi antar benua, lalu tinggal di Greenland.”
“Itu bukan cita cita. Menjadi pelaut kalau lo enggak menghasilkan uang mana bisa! Kerjaan lo cuma jalan-jalan,” sindir Candra.
“Eh, keriting!” Ia menoleh pada Candra. Candra pun dibuat menelan ludah akibat semprotan kata dari Reira. “Kalau aku punya banyak modal, aku bakalan jadi pengusaha kapal atau punya jasa pengantaran barang jalur laut.”
“Ya bilang, dong. Gue kira lo cuma jalan-jalan.”
Reira menoleh padaku. “Kalau lo, Dave ... lo pingin jadi apa?”
“Candra duluan, baru gue. Gue masih mikir.”
Anak itu mengangguk sembari menghemuskan asap tembakaunya ke depan.
“Gue mau jadi HRD di sebuah perusahaan. Senang rasanya jadi pengelola SDM buat perusahaan. Gue rasa, David juga pernah bilang kalau ujung-ujungnya sarjana Psikologi kebanyakan bakalan ke sna.”
“Kebanyakan sih begitu. Setiap perusahaan butuh sarjana Psikologi, bukan?” balasku.
“Jadi, lo mau jadi kaya Candra juga? Enggak kreatif banget ... beda dikit, dong! Gue enggak terlalu suka sama orang kantoran yang tiap hari pakai kemeja. Kaku!” Reira menaburkan pasir ke atas kakiku.
“Hmmm ... gue sebenarnya kurang tertarik sama hal yang terikat. Sepertinya gue ingin membuka sebuah bisnis atau tetap menulis. Gue pingin banget buka toko buku, trus ada cafe-nya juga. Jadi, orang bisa minum kopi sambil baca buku.”
“Nah, itu baru David-nya gue. Gue harap segera terwujudkan,” puji Reira.
Tanganku merangkul Razel yang berada di samping kiriku. “Nih, adik kita mau jadi apa setelah besar? Tanyain juga.”
“Dia bilang kemarin mau jadi bandar sabu! Hahahah ....” Candra tertawa keras.
“Sembarangan lo, Bang! Hahaha ....” Razel ikut tertawa mendengarnya. Lalu, ia diam sejenak untuk berpikir. “Gue memang ditakdirkan menjadi pelaut. Setamat SMA, gue langsung melaut. Sementara temen-temen gue pamer sama kampus-kampus mewahnya.”
“Lo kenapa enggak kuliah?” tanyaku. “Masalah biaya?”
“Kakek Syarif kekurangan biaya? Anda bercanda .... Bentuknya saja seperti orang susah. Tapi, gue tahu dia enggak pernah kekurangan ekonomi.”
“Ah, enggak begitu juga, Kak,” balas Razel.
“Gue menolak kuliah gara-gara memang enggak cocok bagi gue. Gue bukan tipe pemikir, gue tipe orang pekerja. Ujung-ujungnya gue jadi pelaut bersama Bapak.”
“Selagi lo punya biaya, kenapa enggak coba kuliah aja? Dengan kuliah, lo punya keilmuan khusus buat ngembangin komunitas nelayan di sana,” sambungku.
Razel tetap menggeleng. “Enggak, ah! Gue tetap melaut. Seperti kata Kak Reira, kami ini keturunan pelaut. Memang gue enggak sekolah kaya temen-temen gue yang punya segudang buku dan teori. Tapi, mereka mana tahu tentang arah angin, rasi bintang, bagaimana kalau kapal karam di tengah laut, mengemudi kapal antar pulau. Gue tamatan SMA udah bisa hal-hal yang seperti itu. Mereka harus baca buku dulu.”
Aku menoleh ke depan. Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga perkataan Razel. Pengalaman lebih berpengaruh daripada sekadar teori. Anak itu dibesarkan dalam kerasnya ombak lautan sehingga ia belajar bagaimana menghadapi situasi sulit yang sebenarnya. Sementara itu, orang-orang sepertiku masih berkutat dengan teori-teori yang kadang saja membuatku pusing sendiri.
“Lain kali, gue kenalin sama abang gue, Dika. Dia enggak sekolah dengan bener, tapi bisa sukses dengan kerjaan bengkelnya. Cuma pengalaman main sama anak bengkel, trus ikut balap liar, sampai jadi pembalap beneran. Alhasil, dia pandai tentang mesin tanpa pernah kuliah permesinan.”
“Nah itu yang gue bilang, pengalaman lebih penting. Kalian harus tetap mencari pengalaman. Makanya gue tekankan kepada anak-anak didik gue itu, walaupun mereka enggak sekolah, tapi mereka harus terus mencari pengalaman.”
“Gue harap kita bisa mengubah diri kita sendiri.”
Bunyi lonceng selanjutnya pun berbunyi. Dengan sigap Reira mencari arah lonceng pancing yang menjadi tanda umpan telah dimakan oleh ikan. Giliran Razel yang menjadi bintangnya kali ini. Tak sedikit pun merasa canggung baginya untuk menarik katrol pancing. Gerakan yang ia ciptakan menandakan ia sudah terbiasa memancing. Dengan mudah, ia ikan pun muncul di permukaan, lalu diseret menuju daratan. Menggelepar ikan tersebut hingga berakhir di wadah baskom yang dibawa Reira. Alhasil, malam ini kami sudah mendapatkan dua ikan untuk dibawa pulang.
Kebahagiaan kami mendapatkan ikan semakin membuat kami semangat untuk menunggu. Namun, menunggu merupakan hal tersulit dalam menjalani waktu apabila ekspetasi tak kunjung dipenuhi. Selesai pula kami beribadah malam dan baring-baring kembali hingga tengah malam, namun ikan tak satu pun menyambar umpan. Candra dan Razel sampai muak bermain game beronde-ronde, apalagi hanya sedikit meraih kemenangan. Mata yang lelah membawa mereka untuk berbaring samping-sampingan, hingga tertidur pula diiringi oleh jangkrik yang berdendang pada semak belukar.
Malam semakin sunyi tanpa hujatan kotor seorang Candra ketika bermain game. Razel tak lagi mengoceh panjang mengenai kebanggaan dirinya yang tak seberapa itu ketika bermain bersama Candra. Tinggallah aku dan Reira yang masih bertahan menunggu umpan berhasil mendapatkan ikan. Sembari bersender pada tepi pondok, Reira perlahan menggenggam tanganku. Kepalanya jatuh perlahan pada pundakku dan bernyanyi irama kecil tanpa lirik dari suaranya.
“Tetaplah bermimpi, Dave. Gue yakin lo bisa menggapai cita-cita lo,” ucapnya pelan.
“Iya, lo juga. Jangan pernah berhenti dengan langkah lo itu. Gue akan selalu ada di belakang,” balasku.
“Boleh gue tidur di sini hingga esok pagi?” tanya Reira sembari menyentuh pundakku dengan tangannya.
“Dengan senang hati.”
Tubuh kami saling berdempet untuk tidak memberikan ruang yang memisahkan. Reira memejamkan mata perlahan dan hilang dalam alunan napas yang dalam. Tiada aku sangka anak itu tertidur dengan cepat dengan posisi seperti ini. Tatkala aku tatap hidung mancingnya itu, ingin sekali aku cubit hingga ia marah karena tak lagi bisa bernapas. Namun, aku hanya mengusap rambut panjang tergerai, berharap akan membawa lambaian mimpi indah pada tidurnya. Kami saling memejamkan, jatuh pada tirai kantuk yang tertutup. Tanpa aku sadari, kepalaku jatuh tepat pada rambutnya dan kami pun hilang bersama-sama.
Suara langkah membuatku terbangun. Kepalaku tak lagi pada posisi di mana Reira jatuh pada pundakku. Aku lihat jam, ternyata aku dan Reira sudah dua jam bertahan dalam posisi yang sama dari tengah malam tadi, tetapi Reira ta lagi berada di sampingku. Candra dan Razel pun sekarang hampir berpelukan, tangan Razel menyentuh dada Candra yang kembang-kempis bernapas.
Sontak aku melihat ke tepian, aku dapati Reira berjongkok di atas permukaan berumput. Aku segera menghampirinya untuk memastikan apa yang terjadi.
Perkiraan bahwasanya ia menarik pancing ikan ternyata salah. Ia berjongkok pada lokasi tongkat pancang yang ia tanamkan ke tanah. Tongkatnya tak lagi tetanam di sana, kini hanya berupa gemburan tanah pertanda tongkat itu lepas secara tiba-tiba. Ia tersenyum padaku dengan bahagia, walaupun gelapnya malam tak mendukung suasana.
“Buaya itu benar adanya,” ucapnya pelan. “Umpan kita dimakan malam ini. Tidak mungkin ikan menarik tali sebegitu kuat hingga kayu yang gue tancapkan bisa lepas kaya gini.”
“Selamat, lo udah bisa ngebuktiin kalau buaya itu benar-benar ada.” Aku mengelus rambutnya. “Tapi, kayanya kita harus pergi dari sini. Jangan-jangan buayanya ada di belakang lo.”
“Ayo, gue juga takut, nih. Hahaha ....” Ia segera berdiri.
“Ternyata lo punya rasa takut juga,” balasku.
“Manusia mana yang enggak takut sama mulut buaya.” Tanpa diduga ia berlari dengan cepat. “Hiii!!! Gue bener-bener seram kali ini!”
Akhirnya Reria berhasil untuk membuktikan eksistensi buaya muara Sungai Mirang yang sering menampakkan diri ke permukaan. Baru kali ini aku mengenal dekat seorang wanita yang berani menggaduh buaya, yaitu Kapten Reira. Hanya dia seorang.
***