
EPISODE 54 (S2)
Fasha bertahun-tahun yang lalu pernah mengatakan padaku bahwasnya ia akan mencari pendamping hidup yang memiliki sifat-sifat sepertiku. Aku tidak pernah mengerti defenisi sifat-sifat seperti itu. Mungkin saja hanya aku yang memahaminya luar dalam sebagai pria, sehingga ia mendefenisikan pria yang sempurna ialah orang yang seperti itu. Bagaimana tidak aku memahaminya sejauh itu, ialah teman dekat satu-satunya yang aku punya, walaupun teman dekatku merupakan seorang wanita.
Bagiku, satu hal nyata yang paling sulit dipahami adalah wanita. Memang, tidak bisa digeneralisasikan pada setiap orang. Namun, itulah pendapatku. Wanita itu selalu mengatakan kalimat yang kadang tidak bisa aku cerna dengan logikaku sebagai seorang pria. Ia terlihat tidak suka jika aku dekat dengan wanita lain, namun ia bebas untuk dekat dengan siapa saja. Logikaku memeras gelegatnya tersebut dengan tafsir bahwasanya ia tak ingin jauh dariku, namun itu sangat bertolak belakang dengan realita yang terjadi.
Kini pun defenisi pendamping hidup itu pun berubah, tak lagi sepertiku seperti yang ia katakan padaku. Bagas sama sekali bertolak belakang, aku sangat tidak sama dengannya. Dan itu merupakan pilihan yang tepat untuk tidak mencari pendamping hidup yang memiliki sifat-sifat sepertiku. Bagas punya segalanya yang tidak aku punya, sedangkan aku hanya merokok dan mengopi di depan teras rumah pun sudah bahagia. Mereka berdua di pelaminan tengah memancarkan pesona sebagai pengantin baru. Tersenyum riang di hari bahagia yang dinantikan.
Ya ... begitulah cinta yang tak bisa ditebak apa ujungnya. Cinta itu diibaratkan sebagai labirin yang membawa manusia pada ujung pintu yang beragam. Hanya satu pintu yang paling terang dan paling benar, yaitu takdir. Hati manusia yang menaruh cinta kepada orang lain, apabila ia bukanlah takdirnya, maka tidak akan bisa mencapai pintu yang paling terang tersebut. Ada banyak cinta yang tak bisa mencapai takdir, karena takdir selalu berbicara mengenai hal yang mutlak. Sedangkan, cinta dan rasa itu bukanlah sesuatu yang mutlak diciptakan oleh Tuhan. Jika cinta tercipta sebagai hal yang mutlak, manusia akan mati berkubang rindu di setiap ujung malam selamanya.
Makan malam kami santap bersama-sama. Bang Ali malah menambah ronde makannya sekali lagi. Katanya untuk menghormati kami yang belum makan sehingga ia mengambil piring kembali bersama Reira. Aku pun menyindir bahwasanya ia sedang merangkap makan siang yang belum, atau merangkap sarapan pagi esok hari. Ia pun tertawa mendengarkan hal tersebut.
“Kita salamin Fasha, yuk ....” Reira baru saja membersihkan bibirnya dengan selembar tissue.
“Hah ... kenyang banget.” Bang Ali tanpa malu menepuk-nepuk perutnya. “Yuk, Mawar ... Abang gandeng.”
Mawar tersenyum kecil. Ia tidak terlalu merespon rayun Bang Ali. Ia malah berdiri terlebih dahulu untuk bersiap-siap. Geraknya turut kami ikuti dan dipimpin oleh Reira yang maju duluan untuk bersalaman.
Fasha masih belum di dalam tatapannya padaku. Mungkin saja ia masih belum tahu jika kami turut menghadiri pesta kebahagiananya itu. Mata Fasha masih fokus dengan para undangan yang menyalamnya satu per satu, hingga diajak berfoto bersama sebelum beranjak pergi. Sementara itu, kami masih menunggu giliran ke atas panggung pelaminan. Setelah giliran kami tiba, barulah kami melangkah menaiki tangga kecil di samping panggung.
Riang wajah Fasha tak bisa ia hindari. Rona merah pada pipinya dari hasil rias, kini bertambah merah akibat kedatangan kami. Senyumnya tampak lebar menyambut Reira yang paling depan, lalu berbincang sesaat untuk mendengar wejangan dari wanita laut itu. Reira sangat pandai sekali memberikan nasihat, seakan ia sudah pernah menikah sebelumnya. Setelah itu, bergantian pula dengan Candra, hingga yang paling terkahir adalah aku.
Entah kenapa, canggung sekali berada di hadapannya. Mata kami saling memandang satu sama lain seakan semua kisah itu kembali terputar dalam ingatan yang abstrak. Seakan aku memandangi Fasha seperti di dalam sebuah bioskop, kembalilah terputar momen-momen di mana kami sama-sama berbaring pada masing-masing bangku mobil, dan menyaksikan pertandingan liga bola kampus. Belum lagi momen-momen di mana ia membawa gitar ke kamarku, lalu bernyanyi dengan merdu di atas balkon. Masih jelas teringat bagaimana perasaanku yang kasihan ketika ia berseteru dengan papanya yang keras, lalu menangis tersedu-sedu dalam pangkuanku bahwasanya ia sangat ingin menjadi musisi.
Ya, semua itu kami lalui bersama-sama tanpa beban dan tulus sekali, walaupun atas nama persahabatan. Tidak menutup kemungkinan jika aku pada saat itu menyimpan rasa padanya. Namun, apalah daya ketika tidak ada kekuatan untuk aku mengungkapkannya. Ungkapan itu seakan menjadi hinaan bagiku. Aku tahu apabila aku melakukan hal itu, semuanya akan berubah drastis. Fasha akan menjauh dariku, menghindariku, tanpa senyum dan tawa darinya setiap senja yang suci. Janjiku akan selalu abadi, ia akan tetap menjadi temanku. Teman terbaikku, jauh sebelum aku mengenal Candra kebih dalam.
Entahlah, Kawan. Aku tidak tahu hal apa yang membuatku meneteskan air mata di depan pasangan yang sedang berbahagia di atas panggung pelaminan. Akankah air mata ini akan berhenti? Ia masih tak kunjung berhenti selagi aku masih di hadapan Fasha.
Sementara itu, teman-temanku yang lain sudah menunggu di bawah sana. Seketika aku di depan Fasha dan aku merasa asing dengannya. Ada batas kini yang membentang di antara kami. Aku cukupkan, aku berhenti menangis kembali untuk wanita itu. Mungkin saja aku sedang bahagia haru saat ini.
Aku memulainya menyalami Bagas dan kedua orangtuanya, lalu berhenti di hadapan Fasha kemudian.
“Rembulan namanya, anakku jika perempuan ... akan aku beri nama Rembulan. Jika laki-laki, akan aku beri nama Mentari, walaupun seperti nama perempuan. Dan jika aku punya anak lagi, akan aku beri nama Gemintang. Lalu, Senjani Merah, Anugerah Fajar Jingga, lalu apa lagi ya yang bagus?” Fasha memulai percakapan.
Aku tersenyum kecil ia menyebutkan judul puisi yang pernah aku ciptakan. Ternyata ia masih mengingat puisi-puisi itu. Sering sekali ia aku jadikan samsak latihan membaca puisi dan membiarkan ia menilai bagaimana caraku berpuisi. Jika soal keindahan, dirinyalah ahlinya.
“Kamu masih ingat, ya? Hahah ... kadang aku lupa dengan puisi-puisiku,” ucapku.
“Bagaimana hari kamu akhir-akhir ini? Bahagia, kah?” tanya Fasha.
Harusnya aku yang bertanya mengenai hal itu. Namun, ia malah mengajukannya terlebih dahulu.
Aku pun memandang Reira yang masih melihatku berbincang. “Reira ... itulah alasan aku lebih bahagia. Oh, bukan lebih bahagia ... aku lebih tenang, lebih bersyukur, dan dia mengajariku banyak hal.”
Fasha tersenyum. “Dia wanita yang baik, lebih baik dariku. Semoga kalian menyusul.”
Aku menggeleng. “Aku belum sampai berpikir sampai sana, yang aku fokuskan ialah memperbaiki diri lebih dulu. Barulah aku melangkah sama-sama seperti di sini.”
“Semoga dipermudah,” balas Fasha.
“Amiin ... kamu juga, selalu bahagia.” Aku menoleh kepada Bagas di sebelah kiri. “Gue pamit dulu.”
Ia hanya menaikkan alis. Masih terdengar jelas ucapan samar yang ia ucapkan ketika aku menyalaminya tadi, lo enggak akan pernah menang dari gue. Selangkah pun tidak.
Aku dekati dirinya, lalu membisikkan sesuatu di telinganya.
“Gue enggak pernah merasa kalah, gue hanya mengalah .... ******* .... Sekali lo nyakitin Fasha, lo yang habis di tangan gue.” Aku menarik kepalaku dari dekat telinganya. “Gue punya satu kapal bajak laut dan seorang kapten gila.”
Aku pun beranjak dari panggung pelaminan, mencari raut wajah yang sedang menungguku di sana. Tepat di bawah, Reira menaikkan alis dua kali.
“Ada hal yang terjadi?” tanya Reira.
“Hanya ada masalah kecil antara lelaki.”
“Kapan kita akan menghancurkan kapalnya lagi?” tanya Reira.
“Tunggu saja tanda meriam dari dia,” balasku.
“Ayo, foto studio ....” Aku melangkah ke depan.
Candra, Bang Ali, dan Mawar terkejut mendengar ajakanku. Sebetulnya itu bukanlah ajakanku juga, namun dari Reira sendiri. Kami pun merancang-rancang rencana ini di luar lokasi pesta. Terpilihlah studio foto di dekat kampus yang biasanya dijadikan tempat foto keluarga bagi para mahasiswa yang baru saja selesai wisuda. Mawar yang tadi hanya naik taxi online, kini beralih ke mobil Reira. Sementara itu, Candra dan Bang Ali sama-sama berbongcengan naik motor berdua.
“Lo tadi nangis, ya?” tanya Mawar tiba-tiba ketika aku menyetir.
“Bayangkan saja, gue selalu bersama Fasha dulu. Sekarang, sahabat gue itu malah ninggalin gue karena nikah. Siapa yang enggak terharu?” Aku tersenyum di sebalik cermin kecil yang terganting tepat di atasku.
“Fasha ... seorang wanita sialan yang pernah bikin patah hati.” Reira menyambung percakapan.
“Hey, jangan berkata seperti itu. Bagaimana pun, dia temen gue,” balasku.
“Hmm ... mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Dan lo udah gue selamatin hingga sekarang.” Reira tersenyum padaku. Lalu, wanita itu menoleh ke belakang. “Oh iya ... gue udah belikan seluruh peralatan make up yang disaranin sama Zainab.”
“Wah ... kapan nih kita bisa mulai?” tanya Mawar.
“Kapan saja ... malah ini pun bisa.”
Aku tertawa sejenak. Ada-ada saja Reira mengajak Mawar ke gedung tersebut malam-malam begini. Mereka entah ada atau tidak berkumpul di jam sekarang. “Gila aja lo malam ini.”
“Heheheh ... gue bercanda,” balas Reira sembari menepuk lenganku. “Kapan lo bisa aja. Gue ngikut lo, kok.”
“Oke, deh ... selambat-lambatnya, hari besok udah gue kabarin,” pungkas Mawar.
Sesampainya di sana, aku mengatakan bahwasanya masing-masing dari kami untuk sumbang-menyumbang karena tentu saja foto ini tidak gratisan, lagi pula Reira berkeinginan untuk langsung mencentak foto tersebut dan masing-masing dari kami mendapatkannya. Apabila tidak aku diskusikan, satu-satunya orang paling royal sekali terhadap uang akan langsung menyatakan bahwasanya ia membayar semua biaya. Aku tidak ingin Reira yang selalu di depan apabila soal uang.
Setelah membayar sejumlah biaya yang sudah dihitung oleh pemilik studio, barulah kami berangkat ke sesi foto.
Sang fotografer yang ternyata masih mahasiwa kampus kami―ia sempat bertanya asal kami dari mana dan ia mengaku dari kampus yang sama―mengatur posisi duduk kami pada properti fotografi yang ada. Mengatur mereka sangat susah sekali, sampai-sampai fotografer menggaruk kepala untuk mengaturnya. Terdapat satu orang biang keladi yang sok tahu tentang posisi terbaik. Reira malah jadi sok tahu dan mengatur posisi duduk kami.
“Udah, Bang. Suka-suka dia aja. Hahah ...,” ucapku.
“Hahah ... oke, deh.” Fotografer itu memberikan jempol padaku.
Reira kembali ke depan dan melihat kami dengan ujung jempolnya. “Nah, gini kan sempurna. Bang Ali yang megang boneka beruangnya.”
Aku tatap Bang Ali yang sedang memeluk boneka beruang tersebut. Boneka beruang itu hampir sebesar dirinya dan sangat tidak cocok dengannya yang mirip sekali dengan preman. Reira malah suka sekali Bang Ali memeluk boneka tersebut, ketimbang Mawar yang memegangnya sendiri. Padahal, sudah cocok sekali Mawar duduk berdekatan dengan boneka beruang besar tersebut.
“Oke ... semuanya udah siap ....” Fotografer mendekatkan wajahnya ke kamera. “Satu ... dua ... tig―”
Cahaya itu berbinar dan membekas menjadi sebuah kenangan yang akan dicetak nantinya dalam sebuah foto. Cahaya-cahaya tersebut yang akan kami ingat suatu hari nanti dan kembali mengulas betapa susahnya fotografer tersebut mengatur gaya duduk kami. Setelah beberapa kali berfoto pada masing-masing latar yang berbeda, kami pun tinggal menunggu hasil dari foto tersebut.
Setelah menunggu sekitar tiga pulu menit agar editor dari studio mengedit dan mempercantik foto kami, aku pun dipanggil oleh pemilik foto studio tersebut. Ia tunjukkan cetak foto yang diminta untuk masing-masing dari kami. Satu paket foto terdapat lima foto yang berbeda dan kami mendapatkan semuanya itu masing-masing.
“Wah ... gue cantik banget!!!” Reira memegangi kedua wajahnya ketika aku menunjukkan foto tersebut ada mereka.
“Jelas, dong ... harganya mahasiswa pula. Hahaha ... enggak salah gue minta kalian foto di sini.”
“Gue kok agak putihan, ya?” tanya Bang Ali dengan heran.
“Editor di sini adalah editor berkelas, Bang. Jelek jadi cantik, cantik pun tambah cantik. Abang jangan khawatir,” balasku.
Aku pun membagi paket foto tersebut kepada mereka masing-masing dan kembali melangkah pulang.
Mawar sudah kami antar. Tinggallah aku dan Reira di dalam mobil, hingga sampai ke kediamannya. Garasi dibuka dengan perlahan oleh Reira. Wanita itu pun menyempatkan diri menyapa Minerva tatkala ia melakukan hal tersebut.
Aku lihat Kak Reina sedang menunggu kami di depan pintu. Tangannya melipat di dada, aku kira ia akan memarahi Reira karena sudah pulang larut malam. Namun, wanita itu malah memeluk Reira dengan erat.
“Siapkan barang-barangmu, besok kita akan ke Singapura. Keadaan Mama melemah malam ini, subuh nanti ia akan berangkat dengan pesawat ambulance.”
“Lo enggak bercanda, kan?” tanya Reira.
“Apa ada anak yang membercandai mamanya sendiri seperti ini?” tanya balik Kak Reina.
***