
Tidak pernah aku mengira hubungan kami akan serumit ini. Sekelumit risalah hati menyeret kami kepada sebuah titik, di mana hati kami saling menatap. Ia juga telah berbohong karena mengatakan bahwa hati itu terbuat dari magnet yang memiliki kutub yang sama. Tidak akan saling tarik-menarik, selalu akan tolak- menolak. Aku akui, rindu yang merenungi hati ini telah menumbuhkan sebuah rasa yang tidak bisa aku jelaskan. Hatiku jatuh memandang kepada sela-sela senyum yang ia tampakkan dalam setiap momen tidak terduganya.
Seminggu telah berlalu semenjak kejadian itu, tidak ada sedikit pun kabar mengenai gadis laut itu. Waktu menambah durasi rindu yang tumbuh di atas rasa bersalah. Dentingan jam yang kulalui tidak berarti apa-apa, kecuali memikirkan suara tawanya yang khas itu. Setiap rambut terjuntai dalam ikatan pada gadis kampus, imajinasiku menuntunku kepada sebuah raut wajah sesejuk laut yang mendung. Aku gila, rindu yang membuatnya.
Kata maaf yang terjepit di sela bibirku, tidak sanggup untuk disampaikan. Tidak ada yang bisa disampaikan, kecuali kepadanya langsung. Kuharap nyanyian asap tembakau yang mengawang di udara membuat seluruh sendu ini sirna. Namun, rindu ini terlalu kuat untuk diluluhkan. Hati terlalu lemah untuk menerima kenyataan. Kepulan asap hanya menari-nari dan terbang begitu saja.
Riuh suara kantin membuyarkan semua renungan yang terlintas. Suara televisi menyiarkan suara pembawa acara berita yang berbicara tiada henti. Beberapa senior duduk menyaksikan sembari menikmati kopi serta tembakau yang tinggal setengah batang. Petugas kantin akhirnya bisa sedikit untuk berleha-leha karena jam makan siang perlahan dilewati. Suara angin di terik matahari membawakan sensasi tersendiri saat memasuki ruangan kantin yang terbuka. Gesekan antar daun menambah seleraku untuk kembali mengisap tembakau yang kubakar.
Kulihat Candra datang dengan rambutnya yang kriwil itu. Ia datang dengan tangan yang masih berbau pelet makanan kucing. Sudah pasti ia baru saja dari menyalin makanan kucing ke puluhan kantong plastik bening untuk dijual.
"Sesekali tangan lo dikasih parfum kucing," saranku padanya.
"Maaf, gue baru abis kerja abis-abisan. Udah beberapa hari ini gue enggak jaga toko." Ia membuka tasnya, lalu memberika sepucuk surat padaku. "Gue dapat kabar dari Reira."
Kalimatnya membuatku terbatuk. Tenggorokanku terasa panas oleh asap yang tersentak keluar.
"Apa?" Kulihat kertas putih itu berisikan untaian tulisan dengan tinta yang menyesap hingga menembusnya.
"Gue rasa, lo yang lebih pantas membacanya. Gue enggak tahu apa-apa, kecuali mama gue yang bilang kalau surat ini dapat dari cewek bernama Reira. Kemarin, surat ini diantar sama Reira ke pet shop gue."
Kuperhatikan setiap lekukan tulisannya yang bertintakan pena hitam yang tebal. Aku tahu tangannya tidak halus seperti tangan wanita manis pada umumnya. Tulisannya membentuk lekukan dengan sudut yang tegas. Ia menulisnya dengan keadaan miring, gaya tulisan yang sama ketika ia berusaha menulisan alamat café-nya padaku.
Untuk asisten kapal gue ...
Mungkin, hati lo gundah ketika gue enggak ada memberi kabar sedikit pun. Hal yang panjang terjadi dalam perjalanan panjang yang gue alami. Seminggu yang lalu, gue pergi ke sebuah negeri dengan bangunan yang sangat terkenal dengan romatismenya. Gue ke Paris bersama orangtua gue buat melihat kakak gue yang baru aja wisuda di sana.
Gue benci karena harus menaiki pesawat. Gue ini seorang pelaut. Namun, gue orang yang paling bodoh kalau memilih menaiki kapal ke sana. Kata Kakek, butuh berbulan-bulan untuk sampai ke Eropa. Lagian, tidak ada jalur kapal untuk sampai ke Paris langsung.
Tidak ada oleh-oleh untuk lo, kecuali surat ini. Jangan berharap lebih.
Di saat lo terima surat gue, mungkin gue sedang berada di perjalanan menakjubkan yang bakal gue alami selanjutnya, atau gue sedang melihat hamparan sawah di bawah langit yang sama ketika kita tatap. Mungkin aja, gue berada di sebuah tempat berombak besar yang gue arungi seperti yang dirasakan kakek saat menyeberang ke Australia. Gue bisa berada di mana saja, asal hanya ada gue dan suara hati yang merintih dalam penyesalan.
Di sisa tinta pena yang gue ukir di kertas pinjaman kakak gue, akhirnya gue memutuskan sebuah tujuan. Jangan lo susul gue, walaupun sebenarnya gue berharap. Jangan lo cemaskan gue, walaupun gue ingin untuk dicemaskan. Jangan lo benci gue, walaupun hati ini ingin dibenci untuk sebuah kesalahan. Sebuah benih yang tumbuh membentuk sebuah rasa yang selama ini bersemayam.
Semoga lo membayangkan bagaimana senyum gue ketika melihat matahari membalasnya di puncak Bromo.
Mataku bergetar tatkala melihat akhir dari perjalanan tintanya menyesap di sebuah titik kecil. Kubalikkan tanganku yang telah menampar paras manisnya itu. Malu rasanya jika mengingatnya kembali. Ingin sekali kehilangan setengah umurku, sebagai imbalan untuk membalikkan waktu yang telah terjadi. Harusnya aku yang pergi sendiri dan merenungi seluruh penyesalan yang tengah membadai.
Kalian telah berbohong! ucapku ketika meninggalakan Candra menuju ke sebuah tempat.
Langkahku berlari cepat menuju bangunan kecil yang selalu ramai oleh senior berambut gondrong. Reira sesekali mengajakku untuk sekadar bersantai di sebuah rumah pohon yang mereka buat. Hammock-hammock yang bergantung di antara pohon menjadi saksi ketika kami menikmati indahnya bayang-bayang daun pohon yang jatuh.
"Reira ke sini, kan? Kalian bohong!" teriakku pada Ali, ketua Mapala kampus.
Setiap orang dalam rumah kecil itu menyaksikan diriku yang telah berkata keras kepada ketua mereka. Ali memegangi kerahku dengan kuat dan mendorong tubuhku hingga keluar rumah itu. Sebuah kepalan tangan tepat menempel pada pelipis kanan. Rasa panas oleh hantaman tangan kekarnya terasa begitu melekat.
"Gue aja yang dulu benci banget sama Rei, enggak pernah nampar Reira sekali pun. Lo yang baru kenal, udah berani nampar Rei," balas Ali.
Candra membantuku untuk berdiri. Ia menahan tubuhku untuk tidak kembali lagi mendekat. Ia sadar jika kami kalah jumlah. Namun, aku tidak takut. Aku ingin tahu Reira sedang di mana.
"Gue terima surat dari Reira. Kalau dia seminggu ini ke Perancis. Dan sekarang dia sendirian ke Bromo. Lo tahu itu, kan?" tanyaku lagi.
"Iya, kami tahu semuanya. Reira yang minta buat nyembunyiin itu dari lo."
"Kenapa?"
Ali mendekatkan telunjuknya padaku. Sementara itu, Candra melangkah maju untuk menghindari. "Karena dia suka sama lo, dan dia enggak mau lo tahu dia di mana. Dia kepingin sendiri!"
***