Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 17 (S2)



EPISODE 17 (S2)


 


Manusia merupakan makhluk yang memiliki hak untuk kebebasannya sendiri. Aku tidak pernah melarang siapa pun untuk melakukan apa pun, selagi itu benar. Dan setiap orang pun berhak memiliki perspektif kebenarannya itu sendiri karena tidak ada kemutlakan kebenaran pada setiap pikiran manusia. Dengan kebebasan masing-masing itu pula aku menyebut manusia itu sebagai makhluk yang unik. Keunikan manusia itu pula yang mendasari orang-orang memegang paham filosofis Individualisme, memandang setiap manusia itu berbeda dan memiliki keunikannya sendiri.


 


Jika manusia itu merupakan bagian dari kebebasan yang memiliki seluruh indera sebagai media kebebasan, bagaimana jika telinga, mulut, serta mata ditutup dan dibelenggu oleh sesuatu. Apakah manusia itu tetap ada? Aku rasa tidak ada bedanya kita dengan batu. Sejatinya manusia akan terus melihat realita tanpa ditutupi oleh aturan-aturan, karena realita itu merupakan bagian dari kebenaran. Manusia yang bebas akan terus mendengar segala sesuatu yang dapat ia dengar, mendengar suara tangis kelaparan tetangga, mendengar rindu sanak saudara, serta suara-suara hati nan jauh di sana. Manusia akan terus bersuara keberanan walaupun belati tengah menusuk tepat di urat leher. Tanpa semua itu, manusia tidak akan pernah menjadi manusia.


 


Tapi sangat aku sayangkan sekarang banyak orang menentang kebebasan itu. Atas nama Tuhan, katanya. Ia meneriaki orang-orang yang berusaha untuk bebas dengan memakai suara Tuhan. Padahal, Tuhan sendiri pun tak ingin suaranya dipergunakan untuk meneriaki. Bagiku, sangat bagus untuk menjadi religius, namun jangan menjadi bodoh di saat yang sama. There is no logic already! Kita terbelenggu oleh dogma tanpa logika yang jelas. Memang, aku tidak menyukai semua yang bersifat kebebasan. Kebebasan juga membawa kepada kemeleratan, salah satunya ialah kebebasan untuk menindas. Namun, kau harus tahu satu hal, Kawan. Pada yang ditindas pun memiliki hak untuk bebas. Pergolakan akan terus terjadi.


Eksistensi manusia dipertaruhkan tatkala ia memilih menjadi bebas atau tidak. Itulah yang aku lihat bagaimana perempuan di zaman sekarang memilih terlepas dari budaya patriaki yang merundungi kehidupan feminisme selama ratusan tahun. Perempuan yang dulu hanya boleh melangkah di belakang koridor laki-laki, kini bisa memilih jalannya masing-masing. Wanita yang dianggap hanya menjadi pengasap di ruang masak, kini bisa belajar setinggi mungkin agar tidak terlalu dengan sifat kodrati wanita. Aku rasa itu pula yang sedang ada dipikiran Reira saat ini. Ia tampak bebas dan tak dibelenggu oleh banyak aturan. Ia memberlakukan peraturannya sendiri untuk dirinya sendiri. Lihatlah wanita itu sekarang, berteriak layaknya pemaksaan untuk membeli barang yang kami jajakan.


Usaha Reira yang aneh ternyata berhasil menarik para pembeli. Ibu-ibu yang sedang membawa anak dengan wajah penuh bedak itu tampak berkerumun di sekitar lapak, membalik-balikkan pakaian anak-anak yang digantung maupun tergeletak di atas kayu. Reira semakin semangat mempromosikan pakaian kami. Semangat anak muda itu terlalu berlebihan aku rasa. Di tambah lagi awak kapal Reira berpromosi dengan cara mendatangi ibu-ibu satu per satu, hingga mereka tiba dengan membawa calon pembeli. Tinggal tugas kami di sini yang melayani pelanggan memilihkan baju yang cocok untuk anak mereka. Bahkan, Zainab rela memasangkan baju kepada anak-anak di balik tirai ruang ganti yang dibentuk sedemikian rupa.


Tidak ada harga berlebihan yang dipasang oleh Reira. Ia murni berniat hanya untuk menghabiskan uangnya yang banyak itu, tentu saja dengan cara yang berbeda. Ia tidak terlalu mematok harga, sekitar lebih lima ribu rupiah dari harga modal satu pakaian. Harga totalnya pun rata-rata hanya belasan ribu, cukup terjangkau untuk masyarakat menengah ke bawah.


 


Menurut Reira, tidak semua anak yang bisa merasakan baju baru. Banyak dari mereka yang hanya menikmati baju baru di kala hari raya keagamaan. Hal itu pula yang menjadi motivasi Reira untuk merencanakan ini. Semua ini bagian dari kebebasan Reira dan kami ikut turun serta di dalam kebebasan itu sendiri.


 


“Harganya cuma lima belas ribu, Ibu.” Aku memberikan baju tidur anak yang sudah aku bungkus sebelumnay dengan kantung plastik hitam.


“Terima kasih,” balasnya padaku.


Aku bernapas dengan tulus melihat senyum senang para orangtua yang bisa membelikan baju baru untuk anaknya.


“Banyak juga yang beli,” ucap Candra sembari bertegak pinggang. Matanya aku lihat sedang melirik Zainab yang tengah memasangkan baju kepada seorang anak.


“Matanya ke sini aja,” sindirku pelan ke telinganya.


“Apaan sih!” Ia menjauhkan kepalaku. “Tapi jujur, kadang gue salut lihat cewek lo itu.”


“Nah, lo juga punya sisi manusia juga ternyata.” Aku menghela napas melihat Reira yang tengah berpeluh di tengah jalan setapak pasar. Ia tampak sudah akrab dengan pedagang sekitarnya, seakan sudah pernah ia kenali sebelumnya. “Di balik Reira yang sering ngejahilin lo, sebenarnya ia punya hati yang lembut, selembut bulu kucing warna jingga yang sering gue elus di petshop lo.”


“Benar juga, kadang-kadang. Reira enggak pernah melihat nominal. Ia selalu bergantung pada moral.” Ia menggeleng sesaat. “Tapi gue tetep aja kesel! Lo tahu enggak, waktu itu Reira ngasih kucing gue tulang ikan. Padahal gue udah bilang, kucing gue bukan kucing kampung!”


“Hahah ... kalau itu, lo marahin aja dia.”


Kami tertawa bersama membahas hal itu.


 


Tidak lama kemudian, aku berusaha memancing Candra yang terlihat melakukan pendekatan dengan anaknya Pak Cik Milsa itu.


 


“Lo lagi kasmaran, kan?” Aku memajukan bibir ke arah Zainab yang duduk di atas papan lapak.


“Apaan! Jangan ngawur lo!” Ia menunjukku tegas. “Jangan lo bahas sama Reira. Anak itu bakalan ngejekin gue.”


Aku mengangkat bahu. “Ya kali aja lo suka sama Zainab. Ngapain aja kalian tadi malam? Pasti duduk di depan keras sambil dibuatin kopi, kaya tadi pagi. Hahahah.”


“David, lo ini―” Kalimatnya terhenti tatkala memukul punggungku. Reira datang ke hadapan kami dengan sebatang kayu bambu yang berisikan sesuatu di dalamnya.


“Hai, kalian lagi bicarain apa?” tanya Reira.


“Enggak ada!” Candra menginjak kakiku. Itu peringatan agar aku tidak memberitahukan hal yang sedang kami bahas. Ia tahu jika Reira semakin membuatnya kesal jika Reira tahu akan hal itu.


“Lo bawa apa?” tanyaku.


Reira mengangkat benda yang sedang ia genggan. Bambu sepanjang lengan orang dewasa itu terlihat bernoda hitam karena bekas bakaran. Ia mendekatkan hidungnya ke permukaan bambu, lalu menciumnya dalam-dalam seakan ada sensasi lebih yang ia rasakan.


“Ini lemang. Enak dimakan pakai durian.”


“Apaan itu lemang?” Aku sama sekali tidak mengetahui benda itu.


“Itu tuh ... kalau di kita namanya nasi ketan.”


“Oh, benda yang sama.” Aku mengangguk.


 


“Oh, iya ... dagangan kita lumayan loh banyak terjual.”


 


Reira berlagak melipat tangan pada dada.


 


 


“Syukurlah ... sesuai rencana,” pungkasku.


Siang semakin naik di langit Manggar bersamaan dengan teriknya yang tak bisa kami elakkan. Walau pun berbalut terpal yang tebal, namun gelombang panasnya kami rasakan di bawah sini. Para awak kapal Reira terlihat kelelahan mencari pelanggan, mereka duduk di bawah kami dengan mengipas-ngipaskan tubuh dengan sekoyak kecil karton yang mereka temukan di jalanan. Aku tampak kasihan dengan mereka dan aku pinta untuk kembali ke kapal. Reira juga mengatakan demikian karena di sana lebih nyaman untuk beristirahat. Namun, kesetiaan dan loyalitas kepada Sang Kapten selalu mereka junjung tinggi, walaupun lelah dan penat sedang menanti di badan.


Perut belum diisi sama sekali. Setelah menjalankan ibadah siang, Reira belum juga memerintahkan kami untuk menggulung lapak. Sementara itu, hari sudah menunjukkan pukul dua siang. Hanya sedikit pengunjung pasar yang datang karena operasional pasar hanya ramai di pagi hari. Sebagian lapak sudah kosong, penjaja mulai membubarkan diri perlahan. Sementara itu, Reira meminta Candra mengantarkan Zainab untuk pulang. Gadis itu pasti dibutuhkan oleh Mak Cik untuk keperluan rumah. Reira memahami itu dan tidak memaksa Zainab untuk ikut dengan kami sepenuhnya.


“Kita angkut lagi, yuk,” pintaku pada Reira.


Ia berpikir sejenak. Raut wajahnya menyiratkan jika wanita itu masih ingin bertahan. Namun, tangannya berkata lain. Ia melipat salah satu pakaian asal\-asalan, lalu memintaku mengambilkan karung goni.


“Ayo kita bereskan tempat ini.” Reira akhirnya pasrah. “Adik-adik, bantu Kakak masukin bajunya lagi.”


Para awak kapalnya mengindahkan permintaan Reira. Kami bekerja sama untuk memasukkan pakaian-pakaian tersebut ke dalam karung penyimpanan. Masing-masing jenis pakaian sudah ada tempat khusus, misal baju atasan ke dalam goninya masing-masing, begitu pula dengan yang lain. Perut yang sudah memberontak semakin membuatku cepat-cepat untuk menyelesaikan tugas ini.


Tiba\-tiba terdengar suara tangis seorang anak kecil di sekitar kami. Tangan yang sedang bekerja ikut berhenti untuk mencari arah suara tersebut. Tepat beberapa meter di belakang lapak, tampaklah anak kecil sekitar lima tahunan sedang menangis menutup mata. Kuncir rambutnya bergerak-gerak tatkala ia menggeleng. Entah apa yang sedang ia tangiskan, tidak ada siapa pun orang\-orang yang memerhatikannya karena lapak jualan di sekitar anak itu sudah kosong tak berorang sama sekali.


“Anak kecil itu,” ucap Reira.


“Coba hampiri,” pintaku padanya.


Pekerjaan kami tinggal sedikit lagi. Para awak kapal Reira tetap melanjutkannya ketika kami melangkah menghampiri anak kecil yang sedang menangis itu.


Air matanya berlinang basah menuju sudut pipi. Cairan di hidungnya berkali-kali ia tarik dan terdengar menyedihkan. Baju merah corak bunga-bunga khas orang Tionghoa yang sedang ia kenakan tampak kusut karena ia menutup wajah dengan bagian depan pakaiannya. Tampaklah dalam singlet bernoda yang menutup bulatan pusarnya. Reira membuka kedua tangan anak kecil itu yang sedang menutup raut wajahnya. Bulat wajah dengan mata sipit tampak kecut menatap Reira yang tiba-tiba menghampirinya. Seketika tangisnya semakin kuat seiring aku yang berjongkok tepat di samping Reira. Entahlah ... mungkin saja wajahku tampak seram bagi anak itu.


“Adik kecil yang manis ... bilang sama Kakak kenapa kamu nangis? Di sini aman dengan Kakak,” rayu Reira dengan lembut.


*Adik kecil yang manis, kaku sekali*! ucapku di dalam hati. Namun, begitulah Reira dengan segala kelembutannya dengan orang yang jauh lebih muda.


Anak itu tidak menjawab. Tangisnya malah semakin kuat setelah ditanyai. Aku rasa walaupun ia tinggal dengan wilayah berbahasa Melayu, ia juga mengerti dengan bahasa kami yang berlogat berbeda.


“Lo semakin membuatnya nangis,” sindirku.


“Ih! Usaha lo apa, sih?” protes Reira. Ia mengeluarkan handphone miliknya. Lalu, membuka aplikasi pemutar video.


 


Terdengarlah nyanyian lucu dari sebuah kartun berbahasa Inggris yang Reira putar. Tangannya membalikkan layar handphone kepada anak kecil itu. Tampak ia tertarik dengan nyanyian dari kartun tersebut.


 


Tangis anak kecil itu perlahan mereda, walaupun masih terdengar isak kecil yang tak separah yang tadi.


“Adik, itu lucu kan suaranya,” tambahku. “Ayo jangan nangis lagi. Nanti Kak Reira belikan eskrim.”


“Eskrim? Anak ini bakalan sakit tenggorokan di siang panas begini!”


“Ya kan biasanya anak-anak suka eskrim.”


Reira tampaknya ikut emosian ketika udara semakin panas. Namun, wajahnya berubah menjadi lembut tatkala menatap kembali adik kecil yang sipit itu.


“Rumah kamu di mana? Kamu ke sini dengan siapa?” tanya Reira.


Ia tidak menjawab, namun malah asyik menonton kartun berbahasa Inggris di dalam genggaman. Anak zaman sekarang sepertinya sangat tertarik dengan gawai. Tidak sepertiku dulu yang diam sebelum mendapatkan benda-benda mainan yang cukup sederhana dan tradisional sekali.


“Jagain adik ini, jangan sampai dia banting handphone gue.” Ia menepuk pundakku, lalu melangkah kembali ke lapak.


Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan menunjukkan jempolnya padaku.


“Ngapain?” tanyaku.


“Bilang sama mereka buat kembali ke kapal dan meminta Kakek Syarif bawa barang kita ke kapal. Sekalian ngasih uang makan buat mereka.” Reira berjongkok kemudian dan menyentuh kedua pipi adik kecil tersebut.


 


“Ayuk kita cari rumahnya atau orangtua anak ini.”


 


“Hmm ... menurut gue ide yang bagus. Kita tanyain ke kedai itu,” pintaku.


Reira mengangguk, lalu kembali menoleh ke wajah adik itu. “Ikut Kakak dulu, ya. Kamu boleh nonton kartun itu sepuasnya.”


“Iya, Kak.”


Hanya kalimat itu yang terdengar dari suaranya semenjak kami menghampiri adik itu. Reira memegangi tangan kirinya, sementara itu tangannya yang lain sibuk menggenggam handphone Reira yang terputar film kartun. Tanganku tertarik untuk mengelus rambutnya yang dikuncir agar ia semakin tenang. Tak ada lagi tangis yang ia keluarkan, berganti dengan tawa kecil dari hasil menonton film kartun yang menurutnya menarik.


Langkah kami bersanding bertiga seperti sepasang kekasih yang sedang membawa sang buah hati jalan-jalan. Aku menatap wajah Reira yang penuh makna, memberikan aku arti sebuah rasa untuk selalu bersama. Akankah datang suatu hari di mana aku dan ia saling menggenggam sang peri kecil? Aku berharap hari itu akan datang menghampiri kami berdua. Cinta aku padanya akan tetap sama di masa depan.


 


***