Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 61 (S2)



EPISODE 61 (S2)


Perkuliahan sudah dimulai dengan hiruk pikuk kesibukan kampus yang padat. Para mahasiswa tadi pagi sibuk duduk di gazebo fakultas untuk berdiskusi mengenai materi. Bagi adik tingkat, mereka mulai mendekati kakak tingkat untuk meminjam buku yang yang diwajibkan oleh dosen masing-masing. Terdengarlah dari teman-teman yang senang ketika adik tingkat cantik jelita menghubungi media sosialnya, padahal hanya untuk meminjam buku, bukan untuk mendekati. Urusan yang lebih intim, itu urusan masing-masing.


Tempat faforitku di kampus selain danau yang tenang adalah kantin yang biasa dijadikan tempat tongkrongan mahasiswa pemalas seperti kami. Normalnya mahasiswa yang penuh tugas akan mata kuliah selalu mendatangi perpustakaan untuk mencari buku, namun jika tipe seperti kami malah mencari sesajen kopi buatan ibu kantin. Tenang terasa tanpa hambatan yang berarti, diskusi kembali bercerita hingga senja mencari. Tugas pun tak jadi dikerjakan, malam mengutuk menyesal karena beban-beban.


Biasanya aku selalu duduk bersama Candra. Ia mulai bercerita mengenai deg-degan dirinya untuk menyambut jadwal seminar proposal yang akan diadakan seminggu lagi. Teorinya sudah rampung untuk dijadikan dasar melakukan penelitian akhir. Tinggal menunggu diuji oleh dosen sembari berharap nantinya akan lancar-lancar saja. Aku sedikit iri dengannya yang cepat mengerjakan proposal, hanya tinggal menunggu seminar. Sementara aku, masih berjuang mencari tanda tangan dosen bersangkutan. Aku cari ia tak ada, malah ia berkata sedang pergi umrah. Terpaksa dua minggu lagi aku akan mendatanginya.


Dosen itu seperti hantu yang bergerak cepat dan bisa menghilang, itu kata Bang Ali ketika ia memberikan wejangan kepada aku dan Candra. Perjuangannya kuliah empat belas semester tentu saja sudah meninggalkan luka-luka yang sekarang akan mengering. Ketika kita mencari dosen―sudah merasa pasti jika dosen tersebut berada di ruangannya―tiba-tiba saja tidak ada ketika memasuki ruangan itu. Padahal, sudah ada barisan kakak tingkat lain yang sedang mengantre untuk urusan yang sama. Belum lagi ketika kita sudah duduk di hadapan mejanya, dosen tersebut mengatakan ia makan dulu, mau ibadah dulu, mau istirahat dulu, dan ujung-ujungnya tidak jadi. Terpaksa pula kami harus mengantre untuk esok harinya.


Bincang kantin siang tadi kami membicarakan mengenai kebijakan penaikan BBM oleh pemerintah di masa harga minyak dunia menurun seperti sekarang. Ada banyak yang menolak, namun tak banyak juga yang mendukung. Alasan menolak yaitu harga minyak dunia yang turun, tapi di negeri ini BBM malah naik. Secara umum ialah mengkiritik bagaimana bisa BBM di negeri ini tinggi sedangkan jika kita gali tanah ini dalam-dalam, kemungkinan akan bisa mandi minyak mentah sepanjang tahun. Lain hal dengan yang menyetujui, jika hal itu untuk dialokasikan ke dalam anggaran negara, hal itu bisa dijadikan untuk menambal kekurangan dana di sana-sini. Contoh, memberantas kemiskinan.


Ya, semua itu ada dampak baik dan buruknya. Namun, secara pribadi tentu saja kau menolak. Mungkin saja naiknya hanya lima ratus perak atau kurang dari itu, namun coba saja dikalikan dengan jutaan kendaraan yang ada, ini adalah bisnis yang sangat menggiukan. Belum tentu keuntungan yang ada dipergunakan untuk kemaslahatan negeri, tentu saja oknum dan mafia yang bermain. Ini adalah bisnis, Kawan. Kita sama-sama tahu.


Aku memikirkan apa yang sedang terjadi hari ini di atas ranjang tidur. Malam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Masih belum ada kabar dari Reira bahwasanya ia akan pulang, padahal kuliah sudah dimulai. Aku khawatir dia malah keenakan di sana dan semakin betah untuk tidak pulang.


Mataku tertutup perlahan.


“David!” panggil seseorang dari balik pintu menuju balkon.


Kantuk di mataku yang hampir menembus batas antara sadar dan tidur, seketika dibuat membuka kelopaknya secara tiba-tiba. Darahku seakan tersedot keluar tubuh, hilang daya untuk berpikir kecuali mengenai hal yang menyeramkan. Aku menoleh ke pintu balkon, terlihat bayang-bayang manusia dari balik jendela.


“Gue Reira!” panggilnya kembali.


Aku mengigit lidah mendengar namanya. Segera mungkin aku membuka pintu balkon. Ternyata suara itu berasal dari seorang wanita yang tengah berdiri dengan meneteng plastik kresek putih. Terdapat perbedaan dari wanita berambut ikatan warna merah itu, pipinya sedikit membulat setelah sebulan penuh tidak berjumpa. Aku tak langsung memeluknya, tapi menutup pintu kembali.


“Lewat pintu bawah!” paksaku.


“Hei, ini gue Reira. Bukan hantu!” Reira kembali mengetuk pintu balkon.


“Apa lo enggak tahu sebuah teknologi paling sederhana yang disebut sebagai pintu? Udah gue bilang, jangan memanjat rumah orang malam hari.”


“Kalian berdua itu manusia ter-budeg sedunia. Gue teriak pun enggak bakalan kalian dengar dari bawah.” Ia mengetuk pintu kembali. “Bengkel Dika masih buka, tapi kata abang-abang bengkel dia lagi pergi. Gue teriak di bawah, lo enggak dengar.”


“Tapi kan lo bisa nelpon gue atau apa kek!”


Ia diam sejenak. “Buka atau gue paksa masuk?”


“Gue bilang lewat bawah, Rei.”


“Jangan paksa gue untuk melakukan sesautu.” Reira terlihat bergerak ke samping. Ia buka jendela tanpa terali tersebut.


Kebetulan sekali jendela itu tidak aku kunci agar udara dingin dari luar masuk ke dalam.


Ia pun masuk melalui jendela seperti seorang maling yang tengah bersilaturahmi ke rumah korban. Lalu, meloncat ke atas ranjangku seakan ranjangku ialah tumpukan kapas yang empuk. “Hmmm ... gue rindu bau tubuh lo. Kasur ini baunya persis seperti lo.”


Satu manusia yang tak bisa aku larang selain Dika ialah Reira. Aku menghela napas untuknya yang sudah membuat darahku naik ke kepala. Ia lagi-lagi memanjat rumahku dengan sebuah tangga, lalu merangkak di atas balkon seperti maling. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun dari tingkah anak itu yang tengah mengusuti ranjangku.


“Sejak kapan lo balik?” tanyaku.


“Dua hari yang lalu.”


Apa?! Dua hari yang lalu?!


“Trus, kenapa enggak kasih tahu gue?” tanyaku.


Ia mengubah posisinya menjadi posisi duduk, lalu meletakkan kresek putih itu di sampingnya. “Gue sibuk mengolah data kuantitatif lanjutan skripsi gue. Menghubungi lo berarti menganggu konsentrasi gue. Gue jadi kepikiran lo terus.”


Dia merayuku .... Aku pura-pura tidak melihat karena aku rasakan kini pipiku tengah memerah.


“Ya ... kan setidaknya lo bilang kalau lo udah datang. Apa susahnya?” tanyaku kembali.


“Udah gue bilang, itu mengangguk konsentrasi gue. Lo tahu, semuanya tahu, apalagi Bang Ali. Dia pasti udah ke rumah pakai motornya yang bikin pekak telinga. Minerva jadi jantungan nanti.” Ia mengarahkan bingkisan itu padaku. “Buat lo ... maaf, mungkin aja enggak seberapa.”


Perlahan tanganku menyambut bingkisan hadiah yang ia berikan. Aku lihat di dalam tersebut ada empat buah kotak coklat khas oleh-oleh Singapura, lalu dua buah lembar kaos wisata yang bertuliskan We love Singapura.


Aku pun tertawa pelan.


“Lo kira gue ini berharap lebih, apa?” Aku mendekatinya, lalu mencubit kedua pipinya sepuasku. “Ini aja udah cukup bagi gue. Walaupun enggak bawa apa-apa, wajah ini udah paling mahal bagi gue. Ngomong-ngomong, pipi lo kok ngelumer begini, sih?”


Aku melihat dirinya dari ujung kaki hingga ke kepala. Berat badannnya kelihatan naik dan berisi. Biasanya ia terlihat kurus, namun kini lebih molek dari biasanya.


“Heheh ... gue makan enak di sana. Kali aja itu yang bikin berat badan gue.” Ia melepaskan tanganku dari pipinya. Kemudian, ia menggenggam kedua tanganku. “Gue bawa coklat buat cemilan dua kalian, lalu kaos ... satu buat lo dan Dika. Gue heran, kok kaosnya made in Indonesia. Padahal gue belinya di sana. Gila ....”


“Hahah ... peci sama sajadah di Arab aja datang dari Tanah Abang, apalagi Singapura yang deket banget.”


Ia berdiri dan melangkah ke arah cermin sembari menyentuh pipi bulatnya. “Ganti baju sekarang. Kita ke suatu tempat.”


“Ke mana?” tanyaku.


“Selama ini gue mengajarkan arti kehidupan, kini lo harus belajar arti dari keadilan. Seluruh kampus dua hari ini akan melaksanakan demo di depan DPR. Lo harus ikut gue di rapat tertutup aliansi mahasiswa kampus kita.”


Baru saja ia datang, ternyata sudah membawa hal baru yang ia paksa aku untuk ikut di dalamnya. Ternyata benar desas-desus yang kami diskusikan di kantin tadi, akan ada demo besar-besaran untuk menolak kenaikan BBM tersebut. Namun, di kala itu kami hanya membahasnya berdasarkan berita prediksi yang ada di internet. Ternyata benar, sudah ada rencana untuk melakukan hal itu. Baru saja Reira tiba di rumahku malam ini, ia langsung memaksaku untuk ikut di dalamnya. Tidak ada ia berikan aku jeda untuk menjawab ajak tersebut. Hanya satu yang ia inginkan dariku, yaitu harus ikut.


Reira kembali memperingatiku untuk cepat menganti baju ketika ia menginjak tangga. Barulah aku bergerak tatkala kepalanya tak lagi tampak karena sudah turun seperti maling baru pulang bekerja.


Aku dapati Reira tengah berdiri tegak di muka bengkel. Tidak ada kendaraan apa pun yang ia bawa.


“Lo ke sini naik apa?” tanyaku.


“Naik ojek online. Ayo naik vespa lo,” pintanya sembari melangkah ke dalam bengkel. “Gue yang bawa.”


Dika terkejut melihat Reira yang datang tiba-tiba. Ia bangkit dari kursi kasir dan menggeleng-geleng ketika Reira meminta kunci vespa.


“Sejak kapan di sini?” tanya Dika.


“Dua hari yang lalu.” Ia menaiki vespa itu tanpa beban sedikit pun. “Cepetan mana kuncinya.”


“Widih ... bijimane bisa adek gue dapet cewek bar-bar begini,” balas Dika. Ia mengambil kunci tersebut di dalam laci, lalu melemparkannya kepada Reira. “Ada oleh-oleh, enggak?”


Reira tersenyum senang karena Dika menanyakan hal itu. “Udah ... sama David. Ada kaos We Love Singapura buat kalian berdua. Ada coklat juga.”


“Gemukan lo sekarang. Heran gue,” balas Dika.


“Tentu saja, dong. Emang elu yang makin kurus.”


“Haha parah lo ya ... heran kenapa David suka sama lo. Tapi, untung aja lo baek.” Dika menarik Vespa agar Reira mudah mengeluarkannya.


Vespa pun diengkol oleh Reira sendiri. Aku ragu ia bisa mengendarai sebuah vespa karena motor ini berbeda dengan motor pada umumnya. Dari gelagatnya yang berada di atas motor, ia kelihatan yakin untuk mengendarai motor tersebut.


“Sorry, helm gue hilang. Baru aja dimaling waktu gue singgah ke rumah Mawar,” balasku.


“Hilang? Kok bisaa?” tanya Reira dengan tidak yakin.


“Ya ... gue ninggalin helmnya di motor. Lewatlah sama maling helmnya.”


Reira menatap datar diriku. Tangannya menepuk jok belakang. “Udah ... naik aja. Ga perlu pakai helm. Deket kok, cuma di kampus.”


“Cuma di kampus?”


Kami menelusuri malam yang sunyi dengan bunyi vespa menggelegar di penjuru jalan. Reira ternyata pandai mengemudi vespa, aku kira tidak. Ia malah menambah kecepatan seakan ada lawan yang ingin diajak jalan. Aku harus berpegang dengan bagian kiri dan kanan motor, takut tiba-tiba anak ini tidak bisa mengendalikan kecepatan. Apa pun kendaraan, sepertinya Reira merasa menjadi pembalap. Makanya, setiap berkendara aku tidak ingin Reira yang menjadi supir.


Rute yang ia ambil memutari kawasan kampus. Ia memasuki gang kos-kosan dekat kampus. Tibalah kami pada sebuah kos-kosan tiga tingkat yang masih ramai tanda-tanda kehidupan. Anak kos mana ada yang tidur cepat, apalagi ada keterangan khusus laki-laki. Mereka yang sedang menongkrong di lesehan lantai bawah, langsung menatapi kami yang sangat menarik perhatian. Apalagi yang sedang mengendarai ialah seorang perempuan.


Kami parkir di antara motor yang berbaris rapi di muka kos-kosan. Tidak lupa pula aku menggembok ban motor vespa agar tidak kemalingan. Vespa ini sudah pasti menjadi incaran para tangan nakal. Dijual seken pun harganya bisa belasan juta. Tatkala kami melewati warga kos yang sedang menongrkong, Reira menatap sinis pada mereka.


“Apa liat-liat? Kurang senang?” tantang Reira.


Aku sontak menatapnya aneh. Tidak ada badai atau pun hujan, anak itu langsung menyambar setiap mata yang melihat kami sedari.


“Anak mana lo? Tiba-tiba aja ngegas,” tanya salah satu dari mereka.


Tanganku menarik tangan Reira untuk tidak jauh berurusan.


“Bilangin sama Bang Ali, gue parkir di sini. Jagain vespanya.”


“Oh, lo anggotanya Bang Ali?” Nadanya merendah. “Okelah, sorry ... gue kira orang lain. Mereka udah pada ngumpul di sana.”


“Oke, mantap.” Reira menarikku untuk segera pergi.


Hampir saja jantungku ingin copot ketika Reira menantang mereka. Aku tidak sanggup jika mereka mengamuk dan menghajar kami.


“Mereka siapa? Ih ... Rei ... jangan begitulah. Tiba-tiba aja ngegas,” sindirku.


“Siapa suruh ngeliatin gue sinis. Kaya baru pertama kali gue ke sini. Kayanya mereka anak baru. Kalau orang lama, pasti tahu gue.”


“Apa hubungannya mereka sama Bang Ali?” tanyaku penasaran.


“Bang Ali ngekos di sana. Dia ketua kos-kosan. Kalau nyebut nama Bang Ali, aman deh semuanya. Mana berani mereka ngelawan.”


Aku mengehela napas panjang. Aku kira anak ini tidak ada persiapan apa pun ketika melakukan hal itu. Untung saja ia seorang wanita. Jika saja aku yang melakukannya, baku hantam kesehatan jasmani pun tidak bisa bisa dihindari. Terlebih lagi Reira membawa nama Bang Ali, ia pun semakin percaya diri menantangi mereka. Ada-ada saja anak itu.


Kawasan yang kami lalui merupakan bagian belakang kampus. Kondisi jalan di sini ramai karena masuk daerah kos-kosan mahasiswa. Pedagang makanan masih buka di tepi jalan, begitu pula masih banyak kendaraan yang lalu-lalang. Aku mengikuti Reira ke mana pun ia melangkah. Tibalah kami pada tembok yang membatasi kampus dengan daerah luar. Di sana terdapat sebuah kursi berdiri tepat di tepi dinding. Reira langsung memanjatnya dan meloncat ke seberangnya.


“Woi, kaya anak SMA cabut aja pakai manjat segala!” Aku memanjati pagar.


“Cepetan, takut ada orang kampus yang lewat di jalan.”


Kakiku menginjak tanah kampus. Rumput basah yang dipijak berbunyi ketika aku hantam dengan kedua kaki. Aku lihat Reira sudah berjalan lebih dahulu.


“Kita mau ke mana?” tanyaku.


“Sekre Mapala. Seluruh wakil dari setiap fakultas sedang berkumpul di sana.”


Anak ini jalannya cepat sekali. Aku terpaksa menyamai langkahnya.


“Kenapa diam-diam begini?” tanyaku.


Reira melihat ke sekeliling kampus, takut ada yang melihat.


“Perkumpulan sedikit dilarang semenjak ada desas-desus demo. Tidak ada tempat yang bagus untuk berdiskusi kecuali di kampus itu sendiri. Sekre Mapala yang paling sempurna untuk itu. Kalau malam, satpam enggak bakalan ada yang curiga karena anak Mapala selalu tidur di sana.”


“Oh, begitu ... dasar kampus! Perkumpulan diskusi kok dibatasi!”


Reira menarikku ke sebalik pohon. Ia mengintip ke jalan kampus karena ada satpam yang sedang melintas menggunakan motor. Setelah keadaan aman, ia kembali melangkah ke sebuah bangunan rumah yang dijadikan sebagai sekre Mapala tersebut.


“Kemarin setiap BEM Fakultas disurati rektor untuk menyarankan jangan mendemo. Tidak ada ancaman, tapi hanya saran. Tapi, jangan berani melarang sifat kritis alami mahasiswa.”


“Lo ini bukan anggota BEM, bukan di organisasi mana pun, malah jadi perwakilan.”


“Gue ini independen,” balas Reira. Ia menunduk sementara dan mengambil sebuah sampah minuman gelas plastik yang tergeletak di atas rerumputan. “Tapi, gue dipakai selalu buat audiensi.”


“Oke ... gue paham itu.”


Sampailah kami di belakang sekre Mapala yang gelap, walaupun bagian tengah sekre tersebut terang oleh penerangan. Terdengar suara diskusi yang khas di dalam sana. Suara tersebut bergantian berubah karena setiap orang ingin berbicara. Reira membuka pintu belakang sekre seperti sudah biasa memasukinya. Tatkala ia membuka, ternyata terdapat seseorang yang tengah menjaga di muka pintu. Pria tersebut sedang duduk sambil merokok. Matanya tertuju kepada kami setelah ia menyadari seseorang telah datang.


“Wah, elo Rei ... lambat banget.”


“Ada urusan ....” Ia menunjuk diriku. “Ini pacar gue, anak Psikologi.”


“Widih ... lo punya pacar ternyata. Gue kira lo mau sama gue. Heheheh ....” Ia mengode kami untuk terus ke melanjutkan langkah. “Gue disuruh jaga pintu kalau ada satpam yang masuk. Tinggal nyuruh mereka masuk kamar dan tidur. Pintu depan juga dikunci.”


“Sebegitunya, ya? Hahah ...” Reira tertawa sebentar. “Kami lanjut dulu.”


“Permisi, Bang,” ucapku dengan menunduk.


Reira mencolekku. “Jangan heran ada Mawar di sini. Gue memaksa Ketua BEM kalian buat masukin Mawar di dalam daftar atas nama gue.”


“Sejak kapan lo kenal sama Ketua BEM kami?” tanyaku dengan heran.


“Jangankan ketua BEM, cleaning service fakultas lo aja gue kenal.” Ia melangkah ke depan.


Setiap pasang mata memandang pada kami ketika Reira menunjukkan wajah untuk pertama kali. Terdapat lebih dari sepuluh orang yang duduk di ruang tengah. Ruang tengah ini cukup besar ternyata. Mereka masih bisa menjaga jarak satu sama lain.


Reira menyalami satu orang yang berdiri memberikan arahan, sementara itu aku mengikutinya dari belakang. Orang tersebut merupakan Ketua BEM universitas yang dikenal sangat frontal dan kritis. Sementara itu, di paling belakang terlihat Mawar yang tengah duduk bersama tiga orang dari fakultasku. Dua di antaranya ialah Ketua BEM Fakultas Psikologi dan sekretarisnya. Di antara mereka duduklah Mawar seperti patung, tanpa bergerak dan ekspresi. Aku rasa ia merasa aneh satu ruangan dengan orang sebanyak ini.


Ketua BEM adalah teman satu angkatanku. Aku mengenalnya, namun jarang sekali bertemu karena aku sedikit menghindari orang-orang politik seperti mereka. Namun, di keadaan yang seperti ini, tidak ada lagi bawa latar belakang organisasi. Semuanya berada di satu suara tanpa ada unsur politik sama sekali.


“Wah, ada elo, Dave ...,” sapanya sembari menghembuskan asap rokok. “Nih, rokok ....”


“Iya, makasih ....” Aku duduk di belakang mereka, lalu mengambil bungkus rokok yang ia tawari.


Namanya adalah Syaid, Ketua BEM fakultasku tersebut.


“Lo kok sama Reira?” tanya Syaid.


“Dia cewek gue,” jawabku singkat. ”Tiba-tiba aja datang ke rumah dan ngajakin ke sini. Lo kena sama dia?”


“Gue rasa semua pentolan organisasi tiap fakultas kenal sama dia. Soalnya kami ngadain diskusi rutin tiap minggu di Gedung Kegiatan Mahasiswa.” Ia menoleh padaku. “Beneran lo ceweknya Reira?”


“Tanya Mawar ... hehehe ....” Aku tersenyum.


Mawar mengangguk pelan. “Iya, David benar. Cukup gila, kan?”


“Lo cowok yang beruntung,” puji Syaid.


Ketua BEM universitas mengetuk papan tulis di belakangnya.


“Dua hari lagi kita akan bergerak dari pagi. Pastikan seluruh mahasiswa yang ada di fakultas untuk ikut. Akan ada lima bus kampus yang kita gunakan untuk ke Paripurna. Gue akan segera urus administrasinya. Urusan berhadapan rektor, biar urusan gue sama Reira karena kami udah terlanjur sering berhadapan dengannya. Ingat ... kita ini satu bendera. Jangan ada bawa bendera organisasi masing-masing. HIDUP MAHASISWA!”


“HIDUP MAHASISWA!”


Satu kata perjuangan yang sering membuat bulu kudukku merinding ialah kata seruan tersebut.


***