
EPISODE 154 (S2)
Sudahkan paham mengapa Reira melakukan itu semua? Aku tidak tahu apakah ia memang benar-benar ingin memberi kepada sesama, atau demi kepuasan hati yang senang melihat orang lain kenyang, atau bisa jadi agar aku melihat betapa menakjubkan wanita itu. Opsi terakkhir itu mungkin aku tepis jauh-jauh karena Reira tidak suka dengan pencitraan diri. Ia benci dengan citra diri orang lain, bahkan citra dirinya sendiri. Acap kali citra diri itu ia buang jauh-jauh agar subtansi eksistensi diri tampak ke permukaan, apa adanya, tanpa cangkang penutup yang dihias cantik agar semua orang melihat.
Semua orang boleh berpendapat, tidak ada peraturan di dunia ini yang melarang orang berpikir Bahkan, di dalam undang-undang pun seseorang di hukum atas dasar perilakunya, bukan pemikirannya. Bagaimana bisa seseorang menilai dari pemikiran? Apakah ia cenayang yang bisa mendengar suara hati orang lain? Aku rasa ia memang murid dari kakek mistis bertato kumbang sehingga ia bisa melakukan hal-hal seperti itu.
Aku tidak serta merta menilai bahwasanya Reira itu merupakan orang yang sepenuhnya baik. Urusan niat tidak bisa aku tebak sendiri tanpa ada perilaku yang mengiringinya. Bahkan, ketika perilaku-perilaku itu muncul pun tak bisa membuatku membuatku menilai bahwasanya seseorang itu baik. Kesimpulan itu hanya bisa di dapat dengan kolaborasi dinamika perilaku yang terjadi, hidup bersama dirinya sepanjang hari, observasi menyeluruh, barulah dikatakan niatan seseorang itu murni untuk kebaikan.
Satu hal pula yang aku ingin katakan pada kalian. Niatan murni untuk kebaikan tidak bisa serta merta bisa menyebutkan bahwasanya seseorang itu adalah orang baik. Bagaimana parameter baik itu? Kita belum menemukan alat ukur yang jelas, selain pendapat subjektif diri sendiri. Namun, hanya Tuhan yang memiliki parameter yang jelas, seperti meteran yang manusia buat untuk mengukur luas tanah rumahmu, lalu bersengketa lagi dengan tetangga karena ukurannya berkurang. Parameter Tuhan tak pernah berkurang, sangat objektif, tidak pula bertambah karena bukanlah suatu pengukuran subjektif.
Kita sebagai manusia hanya bisa berpendapat. Pendapat itu benar apabila dianggap benar oleh diri sendiri maupun orang lain, bukan berarti itu sebuah kebenaran murni. Kebenaran hanya ada karena perspektif, ketika sudut pandang diri diyakini bisa menjadi pelurus realitas, apalagi sama dengan orang lain. Maka, aku ingin menyimpulkan bahwasanya naif sekali jika seseorang mengatakan diri ini orang yang baik, atau pun orang yang benar. Kau baik dan kau benar hanya karena dianggap itu baik dan itu benar. Bisa jadi membunuh seseorang menjadi benar apabila’ dianggap benar oleh diri sendiri dan orang lain.
Setidaknya, aku berharap Reira akan selalu berbuat baik. Aku tidak peduli apakah ia orang baik atau tidak, yang penting ialah buah tangan dari keterbukaan hatinya, mencerminkan isi pikiran dan jiwa, bermanfaat bagi orang lain. Itu saja harapanku.
Pulang diriku dan Reira, tepat lima belas menis sebelum kumanandang adzan di surau. Para lelaki membersihkan diri di air pancuran yang terdapat samping surau, sedikit masuk ke dalam dengan jalan landai. Setelah balik, kami melihat rumah ramai oleh orang desa, terutama ibu-ibu. Tikar dibentang di seluruh permukaan lantai. Anak-anak berumun di tengah-tengah sembari bermain permainan tangan yang disertai nyanyian seperti masa kecil kami. Beberapa di antara anak-anak berbedak tebal itu tampak berlarian mengejar satu sama lain, sehingga letak karpet menjadi tidak beraturan. Di luar sini, terdengar suara ibu-ibu yang memarahi mereka dengan bahasa setempat.
Aku duduk di ujung pintu rumah panggung sembari menghisap tembakau malam. Fokusku pada ujung tembakau buyar, seseorang dengan wajah yang gelapnya sama dengan malam terlihat menghampiriku. Itulah Bang Ali yang berpakaian baju Melayu, bersongket warna merah batik, lalu mengenakan penutup kepala seperti raja Melayu.
“Ramai banget?” tanyaku.
“Malam berinai. Semacam menghias diri dengan inai sebelum nikahan.”
“Serius lo bakalan dipasangin inai? Hahaha ... lo lebih cocok dikasih tato, Bang.”
Tangannya meraih kotak rokok milikku, lalu menyelipkan sebatang di ujung bibirnya.
“Ya ... begitulah budaya di sini. Kalau bisa request, gue minta dilukisin naga nanti, biar malam pertamanya sangar.”
“Waduh, ngebicarain malam pertama, nih. Emangnya besok malam pertama lo, Bang?” Aku mengetesnya.
“Eh, bejat-bejat gini gue enggak suka celap-celup sana-sini.” Ia menepuk rambutku.
Tawanya memancingku untuk bergelak bersama. Ada-ada saja pembicaraan kali ini.
Seperti biasa, tidak lepas Candra dan Razel dari game online yang mereka mainkan bersama. Aku hanya duduk di atas kursi sembari melanjutkan tulisan. Konsentrasiku sedikit buyar karena mereka tidak henti-hentinya menghujat teman satu tim, padahal aku yakin mereka sama saja dengan yang dihujatkan. Tatkala menang, soraknya lebih besar daripada anak-anak di dalam rumah tadi. Mungkin saja hantu penunggu rumah ini kesal dengan mereka, lalu berencana menganggu tidur malam mereka nanti.
Jiwaku terasa menggerakkan jemari ini untuk menuliskan setiap kata di layar laptop. Seperti sungai yang mengalir, aku biarkan seluruh jiwa ini melakukan aksinya. Seakan ada yang mengendalikan, kalimat-kalimat diuntai membentuk baris demi baris paragraf. Malam yang ramai ini terasa sunyi seketika, aku hanyut di dalam gelap bersama langit yang berbintang. Lalu, menari-nari di atas sana membiarkan tubuhku dikendalikan oleh jiwa yang menulis kata demi kata. Begitu lancarnya hati ini mengungkap kata untuk dituliskan, berirama diam dan hanya berbunyi tatkala aku eja kembali. Bunyi itu pun terasa sunyi, namun merdu ketika jiwaku mengucapkan kembali di dalam hati. Seperti penyair klasik yang membentang kertas di depan penguasa, menggetarkan hati yang mendengar setiap kata-katanya. Hati itu kini hanya satu, yaitu aku sendiri. Jiwaku sang penyair itu.
Jiwaku berhenti mengucapkan kata kembali. Suara alat musik dari rumah Bang Ali meniatkan diriku untuk segera menyimpan tulisan. Candra dan Razel mengintip di celah kayu menuju rumah. Mereka saling bertanya suara apa itu. Aku tergerak untuk melihatnya dari pintu. Orang-orang sudah ramai di dalam rumah. Penduduk desa diundang di acara malam ini, menikmati syukuran dengan sajian masakan tadi siang.
“Orang udah ramai, ganti baju dulu,” pintaku pada mereka berdua.
Baju melayu kuning yang dicuci Reira seminggu lalu menjadi pilihanku saat ini. Wanginya sama, seperti parfum Reira yang selalu ia pakai saban hari. Kopiah hitam bersemayam di kepala, aku seperti orang Melayu sekali saat ini, meskipun aku sama sekali tidak tahu aku ini orang apa. Mungkin Jawa, mungkin saja orang Palembang karena nenekku adalah orang sana.
Kami masuk ke dalam rumah, duduk di antara bapak-bapak yang mayoritas memakai pakaian adat Melayu. Para orkestra Melayu Kuansing melakukan aksinya, tepat di sudut kiri ruangan tengah. Ada yang menabuh gendang dengan gerakan menarik, sebuah biola merdu beralunankan cengkok Melayu, Seruling bambu yang menggetarkan hati karena seperti suara seorang wanita yang menangis, dan tepat di posisi paling depan terdapat alat musik semacam gamelan yang dipukul membentuk ritme irama. Syair dikumandangkan dengan bahasa setempat, aku sama sekali tidak bisa mengartikannya. Namun, aku cukup menikmati bersama orang-orang di sini.
Di ruangan tengah ini, Bang Ali berbaring di atas kasur tebal, berbantal banyak di bagian kepala hingga dirinya bisa bersandar dengan nyaman. Ibu-ibu mengerumui dirinya untuk melukiskan tangan Bang Ali dengan inai berwarna cokelat. Jari-jemari kaki dibungkus kain putih satu per satu, di dalamnya ada daun inai yang ditumbuh untuk memberikan warna. Musik orkestra beriringan dengan nyanyian syair ibu-ibu tersebut, setiap bait pun berpindah dengan jari-jemari lainnya. Anak-anak menari dengan gerakan tidak jelas, membuat gelak tawa para pengunjung di sini.
Reira, Mawar, dan Aisyah berkumpul dengan pemudi lainnya. Mereka saling menghias diri dengan inai di tangan. Telungkup tangan mereka melikuk motif bunga dan daun, saling membantu satu sama lain, lalu bergantian.
Beginilah suana pra-nikah masyarakat Melayu. Penuh sukacita melepas seorang bujangan yang sebentar lagi akan membentuk hidup baru bersama pasangan.
Seorang wanita berkerudung kuning menatapku. Tangannya terangkan untuk ditunjukkan betapa indahnya lukisan inai itu di tangannya. Sementara tangan yang lain sedang disentuh oleh Mawar untuk dibentuk motif selanjutnya. Senyum Reira membentuk cekungan tipis bermakna dalam. Dua bola hitam berbentuk cincin dengan tepian putih itu membentuk pandangan kepadaku. Matanya menyipit mesra.
Akankah aku yang akan ada di suasana ini?
Seperti Bang Ali yang dikerumuni ibu-ibu dan wanita itu melakukan hal yang sama di rumah lain, hingga esok kami bertemu untuk disandingkan berdua. Dua yang menjadi satu, satu untuk selamanya. Yang selamanya bersemayam tak akan pernah lepas, dihantam badai dan petir sekali pun.
***