Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 16 (S2)



EPISODE 16 (S2)


Percayakah kau kepada takdir?


Benarkah lemahnya hidup yang menari di atas dunia merupakan sebuah suratan?


 


Suratan yang ditulis dari pena kosmik, lalu membuncah menjadi kenyataan tatkala manusia berkelana di dalam ruang dan waktu. Benarkah semua yang terjadi merupakan sebuah takdir? Ataukah ada sebab akibat yang bermain di dalamnya? Aku mencoba berpikir sejenak tatkala aku tatap helai bulu burung hantu putih yang meronta-ronta ingin keluar. Kini aku bertemu dengan sepotong takdir yang aku pikirkan dengan bijaksana mengenai apakah benar adanya takdir itu.


 


Tentu ... aku ini orang yang ber-Tuhan. Aku adalah orang yang bertuhan kepada tak tampak, seperti otakmu yang tersembunyi itu. Maka, jangan tanya lagi wahai teman-teman mengenai eksistensi Tuhan bagiku. Walaupun, aku tetap mempertanyakan arti sebuah takdir. Bukan menolak, namun aku akan terus mencari tahu tentang semua hal. Sejatinya manusia akan terus berpikir, walaupun sudah ada aturan mutlak yang bermain. Layaknya pertanyaan kenapa angin bergerak, jawaban umum yang diberikan ialah angin merupakan udara yang bergerak. Maka, angin sejatinya akan terus bergerak. Namun, mengapa angin bergerak? Padahal tidak ada mesin yang terlihat dalam bilik angin.


Jika takdir merupakan sebuah hal yang melekat dengan kemutlakan, maka setiap detik waktu yang terjadi di dunia ini sudah digariskan jauh dari hari di mana kau dilahirkan. Semuanya mutlak terjadi dan sudah diatur. Maka, tidak ada celah untuk menghindarinya, termasuk posisi berjongkok Pak Cik Milsa di depan bakaran kayu api dengan sebatang rokok pada bibirnya. Yang menjadi pertanyaanku ialah, adakah kesempatan hal itu berubah ketika takdir bukanlah sebuah kemutlakan? Maksudku ialah di mana takdir yang dituliskan berubah kalimat dan kata-kata. Jika bisa berubah, maka takdir bukanlah sebuah kemutlakan.


Baiklah, di dalam ajaran teologi yang aku anut, takdir berupa dua hal. Pertama ialah takdir yang bisa dirubah dan kedua ialah takdir yang dapat berubah. Jalan mencari kehidupan merupakan takdir yang tak akan bisa dirubah karena setiap manusia sudah dijatah rejekinya masing-masing, dan tidak akan mati sebelum rejeki itu sudah habis diberi semuanya. Jalan terbaik Tuhan untuk membuat manusia tetap berusaha ialah dengan bermain dengan rahasia takdir itu sendiri. Manusia tidak tahu takdir di masa depannya, maka dari itu ia akan terus berusaha agar tidak menempuh takdir terburuk. Sekuat apa pun manusia berusaha, takdir itu tidak akan pernah berubah.


Jika takdir merupakan sebuah kemutlakan, di mana letak kausalitas sebab akibat empiris di dunia ini? Hal itu sudah menjadi perdebatan filsuf sejak ratusan tahun yang lalu, hingga di dekade ilmu pengetahuan mulai berjarak dengan ilmu teologis. Jika masih ada ruang bagi kausalitas sebab akibat di dalam takdir, maka takdir bukanlah kemutlakan yang mutlak. Masih ada celah untuk berubah dengan sedikit usaha dan dorongan. Seperti, malam tadi kami tidak akan ke sini jika aku dan Reira tidak melakukan perjalanan ke Manggar, hingga aku duduk bersama dengan Pak Cik Milsa pada meja bundar itu. Kami bisa bersama malam ini di pondok itu ialah karena serangkaian peristiwa yang saling sambung menyambung.


Benarkah pertemuan aku dan Reira merupakan bagian dari takdir-takdir itu? Aku harap Tuhan sudah menggariskan semuanya, bukan sekedar hasil kolaborasi sebab akibat. Aku harap ialah eksistensi jodoh, bukan sekedar harmonisasi perasaan. Satu lagi pertanyaan ialah takdir burung hantu putih yang sebentar lagi akan menjadi milik Reira.


 


Padahal, baru tadi malam berkata di kegelapan bahwasanya ia menginginkan Minerva berwarna putih. Bagaimana bisa takdir itu berkata tepat, ia mendapatkan hal yang diharapkan. Bagiku, sebab dan akibat tidak berlaku bagaimana Reira mendapatkan burung putih atau hitam. Tidak ada usaha baginya agar kesempatan mendapatkan Minerva putih lebih besar daripada Minerva hitam.


Itulah kemutlakan takdir, kawan. Hal itu sering sekali terjadi di dalam hidup. Di saat manusia tidak berusaha apa pun, namun takdir yang diharapkan pun datang. Tuhan mendengarkan kata hati yang berharap. Maka, jangan berhenti berharap karena berharap itu gratis. Tidak perlu membeli bahan bakar untuk jauh-jauh ke rumah ibadah terbaik, cukup di dalam hati. Bagiku hati adalah tempat ibadah yang paling dekat.


Reira mengangkat sangkar burung kayu yang diambil oleh Pak Cik dari kotak kayu besar di belakang bak mobil. Ia tampak begitu riang seraya memeluk takdirnya itu, lalu menjulurkan lidahnya padaku jika ia akan membuatku cemburu. Reira berkata bahwa untuk selanjutnya, hatinya hanya untuk Minerva. Manusia bodoh mana yang cemburu dengan seekor burung hantu. Aku pun tidak tahu jika burung itu jantang atau betina. Jikalau Minerva ialah seekor burung jantan, pria mana yang akan cemburu akan hal itu. Ada-ada saja alien betina cantik itu, kurasa.


Mie instan membangunkan Razel yang sedari tadi tertidur. Aku rasa ia sudah terbangun semenjak Reira membangunkannya dan mengatakan tepat di telinga Razel bahwa ia mendapatkan Minerva putih. Sejak saat itu, Razel mulai risih dan sedikit membuka mata, namun tertidur lagi. Barulah aku mendekatkan mangkuk plastik berisikan porsi mie instan rebus kari ayam ke hidungnya.


Anak laut itu langsung bangkit dengan mata yang menyala. Senyumnya bermekaran seperti lekuk bibir Reira yang kini menatap Minerva sembari menyendokkan mie instan ke mulutnya pelan-pelan.


“Rei, makan dulu ... baru lihatin Minerva,” saranku padanya.


Ia tetap menatap Minerva dengan seksama. Burung itu tak lagi memberontak, ia diam dan bingung mengapa di sini tampak ramai dan mengapa ia dikurung. Padahal, ia tidak melakukan kesalahan apa pun sebelumnya. Reira yang jahat itu saja yang memasang jaring, lalu membuat Minerva terjebak.


“Lo mulai cemburu, kan? Hmm ... sudah gue bilang, pacar gue sekarang Minerva.”


“Bagaimana bisa lo bilang itu pacar lo, lo sendiri enggak tahu kalau Minerva itu jantan atau betina.”


Ia menoleh padaku. “Ia jantan.”


“Sekarang lo jadi ahli burung semenjak tiga puluh menit yang lalu. Gue rasa lo enggak ada tertariknya sama peliharaan burung.”


“Dia berbicara pada gue, Dave. Dia bilang kalau dia adalah pria petarung yang tangguh.” Reira memejam matanya, seperti merasakan sesuatu.


Gue rasa cewek gue udah mereng sedikit, ucapku di dalam hati.


Persis tatkala kami melakukan perjalan di Bromo, ia berkata bahwasanya ia sedang mendengar sesuatu. Padahal, aku sama sekali tidak mendengar sesuatu, kecuali suara tapak kaki kami yang melangkah mendaki. Hal yang hampir sama ia katakan, alam sedang berbicara kepada gue. Itulah Reira dengan segala imajinasinya yang gila.


“Minerva itu burung hantu jantan,” sambung Pak Cik Milsa. Ia menyuapkan mie dengan sendok besar, tidak peduli seberapa panas kuah di dalamnya.


“Wah, beneran?” tanya Reira balik, lalu menatapku. “Apa gue bilang.”


Aku pun dibuat menggaruk kepala. Aku rasa ia dan Pak Cik sudah bekerja sama untuk mengalahkanku.


“Dari postur tubuhnya dan bentuk tulang ekor. Sewaktu muda, Pak Cik juga punya burung hantu. Hasil berburu di malam hari. Hahah ....”


“Akhirnya gue dapat Minerva jantan. Bisa nih gue jadikan senjata buat nyerang burung di dekat rumah gue. Hahahah.” Reira tertawa jahat.


“Mana bisa lo suruh Minerva yang kaya gitu, Rei.”


“Tenang aja, gue pasti ngelatih dia.” Ia menatap Mineva. “Nanti kita takut-takuti Candra. Dia pasti takut. Hahahah ...."


Sebelum matahari benar-benar mengganas dengan teriknya, kami bergegas pulang menuju rumah Pak Cik Milsa. Kami juga punya rencana besar hari ini untuk berjualan pakaian anak-anak. Hari ini merupakan hari perdana, tentu saja Reira sangat bersemangat. Ia tak sabar untuk melihat wajah calon pembelinya yang menawar harga terlalu murah. Bahkan sejak di mobil ketika menuju pulang, Reira sudah mempersiapkan kata-kata untuk berdebat dengan calon pembelinya mengenai harga. Padahal, seharusnya ia meninggalkan perdebatan untuk menarik pembeli. Entahlah, ia pikir pasar merupakan sebuah kelas yang bisa ia gunakan untuk berdebat.


Sesampainya di rumah, terlihat truk kuning bersiap-siap pergi menuju ke pasar. Seluruh barang jualan kami sudah diangkut di belakang truk. Candra duduk bersama Zainab di gazebo kecil rumah Pak Cik Milsa. Persis seperti sepasang suami istri yang baru menikah, Candra disuguhi oleh sepiring lontong sayur dan segelas kopi hitam. Ia duduk bercengkerama ringan sebelum menyadari kami tiba di depan rumah. Anak itu pasti akan terkejut ketika melihat Reira membawa peliharaan barunya. Apalagi Reira berencana menakuti anak itu.


Sepiring lontong sayur sudah habis dilahap oleh Candra. Hanya sisa sayur nangka yang tidak ia sukai. Kopi di hadapannya pun sudah habis setengah. Mulutnya keluar tembakau pagi yang ia semburkan dengan sebisa mungkin tidak mengenai Zainab di depannya. Aku hanya tersenyum curiga terhadapnya yang tidak seperti biasa, yaitu berbicara dengan seorang wanita.


“Wah, pagi-pagi udah disuguhi kopi,” pancingku.


Aku berharap anak itu sudah mandi dan memakai wangi-wangian agar terlihat keren. Selain itu, agar sebanding dengan Zainab yang sudah siap menemani kami di pasar. Ia terlihat rapi dengan jilbab yang dikenakan, lalu rok se-mata kaki yang semakin membuatnya terlihat anggun. Ditambah lagi kalimatnya yang berlogat khas, ia semakin kental seperti gadis Melayu. Binar mata Zainab memancar tatkala Reira memeluknya. Padahal, Reira belum mandi sama sekali.


“Kalian sudah sarapan? Masih jam tujuh. Emak buat lontong sayur pagi ini,” tanya Zainab.


Reira memberikan jempolnya. “Sudah, dong. Pak Cik memasakkan kami mie rebus di sana. Selain itu, kami pun kenyang makan durian. Lihat perut gue yang gembung ini.”


Tangan Reira menepuk perutnya berkali-kali sembari tertawa.


“Reira juga dapat burung hantu,” sambungku.


“Apa?” Wajah Candra memandang tidak percaya. “Burung hantu.”


“Wah jelas ... gue punya Minerva sekarang. Lo harus hormat sama dia dulu!” Suara Reira terdengar tegas pada Candra. Tentu saja Reira ingin membuat Candra kesal pagi ini.


“Bodo amat ... lo mau punya burung hantu, mau punya apa. Gue enggak mau!”


Pak Cik baru turun dari teras rumahnya. Setumpuk durian di dalam karung terlihat sudah diletakkan di atas teras, termasuk juga sangkar Minerva.


“Kalian mandi ... lalu kita pergi ke pasar,” pinta Pak Cik Milsa.


“Oke, Pak Cik.” Tangan Reira menarik Razel.


“Lo harus mandi sama gue!”


“Gila!” balasnya spontan.


Kami pun tertawa bersama-sama. Razel menolak mandi di rumah Pak Cik Milsa karena ia sama sekali tidak membawa baju ganti. Ia pun tipe orang yang malas mandi pagi. Entahlah ... aku tidak tahu ia mandi atau tidak sebelum pergi menemani kami ke kebun durian. Aku ingin menyemplungkannya ke dalam laut nanti untuk cepat-cepat membersihkan diri.


Semua persiapan sudah tuntas. Kami bergegas menuju ke pasar yang masih satu area dengan dermaga. Dari pernyataan Pak Cik Milsa, pasar tradisional itu berdampingan dengan pasar ikan, di mana para pengepul ikan melakukan aktivitas jual beli kepada para nelayan yang baru pulang menangkap ikan di malam hari. Aku, Candra, dan Razel berdiri di atas bak truk, sementara Reira dan Zainab sedang asyik mengobrol bersama Pak Cik di dalam. Aku rasanya senang juga berada di bak truk ini, angin pagi begitu segar. Selain itu, kami menertawai Razel yang merasa tidak enak dengan perutnya. Anak itu tidak mengindahkan peringatan Kakek Syarif untuk tidak memakan durian dengan berlebihan. Ia menyentuh perutnya yang mengalami masalah sembari berkata bahwasanya ia ingin ke kamar mandi sekarang. Kami hanya menertawainya yang berdiri cemas di sudut bak.


Truk berhenti tepat di muka dermaga, tepat truk terparkir di saat pertama kali aku melihatnya. Detak suasana dermaga yang sibuk sudah dimulai jauh sebelum pagi muncul, kini sudah lalu-lalang para nelayan yang mengangkut ikan di dalam kotak-kotak gabus. Kapal Leon milik Reira bersandar kokoh di tepi dermaga dengan para awak kapal Kakek Syarif yang masih bersantai di atasnya. Aku tidak tahu aktivitas apa yang mereka kerjakan, padahal mereka ke sini hanya untuk mengantar barang pesanan Kakek Milsa dan mengantarkan kami ke sini


Aku rasa Kakek Syarif berbaik hati untuk menunggu di sana beberapa hari ini, sembari menantang bapak-bapak dermaga bermain domino di kedai kopi.


Reira berjalan menyambut awak kapal belianya itu. Ia peluk satu per satu seperti adik sendiri. Penuh kasih sayang dan rindu, padahal baru satu malam ia tidak bertemu. Satu ikat durian yang berisikan beberapa buah ia hadiahkan untuk mereka. Dengan wajah bahagia mereka menyambut pemberian dari Sang Kapten.


“Bagaimana malam kalian?” tanya Reira.


“Wah, kami menangkap ikan yang banyak. Kami pun kenyang malam tadi karena makan ikan bakar!” seru salah satu dari awak kapalnya.


“Baiklah ... kalian pasti sudah siap membantu Kapten buat jualan, kan?” tanya Reira kembali.


Mereka memberikan sikap hormat dengan tangan menempel pada dahi.


“Siap, Kapten!”


Langkah diayunkan menuju lapak yang kami persiapkan kemarin sore. Reira memimpin kami di depan, diikuti oleh para awak kapalnya di belakang. Candra berdampingan dengan Zainab seperti seseorang yang sedang kasmaran, aku sarankan ia segera meminta nomor telepon Zainab sebelum ada pemuda lain yang datang menemuinya. Sementara itu, aku di belakang sedang membantu para awak kapal Kakek Syarif untuk membawakan barang-barang kami. Sesampainya di lapak kami, seluruh jualan dipamerkan kepada pembeli. Awak kapal Reira berdiri di muka lapak untuk menarik pembeli. Sementara itu, aku, Candra, dan Zainab berdiri diam sembari memerhatikan sesorang paling mencolok di sini.


Siapa lagi kalau bukan alien betina itu.


“TOLONG BELI PAKAIAN KAMI!” ucapnya seraya berteriak.


Aku menepuk dahi untuk menahan malu. Entah kenapa aku mencintai dirinya yang aneh itu. Satu hal jawaban yang bisa aku berikan kepada kalian, wahai kawan. Ia berbeda dengan keunikannya sendiri.


***