
Aku rasa David mencium bau-bau kedatanganku di Jakarta. Entah dari mana ia tahu, satu kemungkinan ia melihat rumahku telah diisi oleh orang lain. Bisa jadi David menyempatkan lewat ke depan rumah, tetapi menurutku untuk apa juga ia masuk ke dalam komplek rumahku yang dijaga oleh security. Beruntung Borneo mengatakan jika ia menyewa rumah ini atas nama Reina, lalu David pergi dengan dahi bengkak pada saat itu.
Ya … David itu pengecut. Dari dulu ia memang begitu. Tubuhnya yang kecil tidak memungkinkan menang berkelahi, apalagi Borneo yang berbadan kekar hasil bertahun-tahun berkerja sebagai buruh kapal. Kata Borneo, David sama sekali tidak melawan tatkala dikira maling. Ia malah minta ampun sembari mengatakan jika ia sedang mencariku.
Pagi ini Semara bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan. Aku lihat meja makan sudah tersedia nasi goreng sederhana dengan telur ceplok sebagai topingnya. Borneo ternyata sudah duduk selayaknya seorang bapak-bapak yang sedang membaca koran. Terdapat kopi dan asbak rokok. Sudah berbuih mulutku mengatakan jika dilarang merokok di dalam rumah, tetapi ia malah menawar dengan mengecualikan bagian dapur.
“Semara … kamu pisahin kan daging celengnya di freezer?” tanyaku pada Semara.
Tadi malam Borneo meminta Semara untuk membuatkan hidangan khas Bali. Aku tidak mengapa, asalkan tempat memasaknya tidak dengan barang-barang di dapur. Penghidangannya pun mereka akan menggunakan tempat sekali pakai. Bukan mengenai diriku, melainkan aku hanya menghormati Bunda sebagai pemilik rumah.
“Udah kok, nanti siang aku bikin sate pakai bumbu khas Bali.”
“Kau harus coba sekali aja seumur hidup.” Borneo menoleh padaku.
“Gue ga pernah sekolah agama, tapi bunda gue ngelarang kalau makan itu,” balasku.
“Tapi kau minum alkohol, apa bedanya?”
“Plis … jangan bahas tentang moral di sini. Kau juga udah berapa tahun enggak ke gereja?” Aku menuangkan kopi ke atas cangkir. Sungguh, aku tidak pernah menjumpainya ke gereja, meskipun ia tetap menyebut nama Jesus setiap kali ada kesialan.
Borneo hanya diam dan terus membaca koran paginya.
“Nanti aku bikin sate daging sapi juga buat kamu. Bumbunya kita samain aja. Borneo udah beli arang kemarin buat dibakar di belakang rumah,” sambung Semara.
“Terima kasih, Semara.” Aku menoleh kepada Borneo. “David enggak ada ke sini lagi seminggu ini? Atau tanda-tanda batang hidungnya celingak-celinguk di depan rumah.”
Borneo menggeleng. “Enggak, mungkin dia takut sama aku. Kenapa? Kau berharap dicari sama David?”
“Gue cuma nanya, goblok!” Aku melipat tangan di dada. “Aku curiga kalau Alfian keceplosan sama Mawar, terus Mawar bilang ke David. Tapi Alfian bilang enggak ada bilang begituan.”
“Ya, aku mana tahu bagaimana caranya dia ke sini. Lagi pula, apa salahnya sih kalian ketemu?” balas Borneo.
“Aku malas aja.” Sejenak aku diam, sebelum aku menunjuk pria itu. “Nanti siang kau jaga café Bunda. Sekalian aja belajar bikin kopi, aku udah bilang ke baristanya buat ngajarin kau.”
“Iya … nanti aku ke sana.”
“Pakai aja mobil Kak Reina, aku pakai mobil sedan Bunda ke kampus.”
Borneo hanya mengangguk singkat. Meskipun responnya kelihatan cuek, tetapi aku senang ia ingin belajar membuat kopi. Aku ada rencana untuk membuka cabang café tersebut dan Borneo bisa bergabung sebagai barista. Ia tidak ingin menjadi manager karena merepotkan. Membuat kopi lebih berseni, katanya yang seperti orang sok paling berseni.
Aku memasuki mobil sedan Corolla lama yang dibeli oleh Bunda tahun 2000. Mobil ini terparkir di samping CRV baru milik Kak Reina. Entah kenapa aku lebih suka memakai mobil bunda yang kelihatan kuno, daripada mobil mewah yang ada di samping ini. Meskipun tua, mesinnya masih bagus untuk dibawa ketika perjalanan kota. Keseharianku ketika masa kuliah juga dihabiskan dengan mobil ini, meskipun Papa berkali-kali memintaku untuk membawa mobil mewah hasil bekerja sebagai wakil rakyat.
Hari ini merupakan jadwal pengiriman berkas pendaftaran program magister. Aku harus berada di kampus untuk mengurusi beberapa berkas yang masih belum selesai, padahal aku ingin mengirimkan berkasnya segera. Merasa prosesnya lama, aku segera mengambil berkas yang hanya tinggal tanda tangan Bapak Dekan.
“Pak … tanda tangan ini.” Aku meletakkan kertas itu di hadapannya.
Ia melepaskan kacamatanya. “Kamu ini ngerti proses alur pembuatan surat ga?’
“Aduh Pak … tinggal tanda tangan doang lama banget. Itu pegawai bapak kerjaannya cuma nonton youtube aja saya lihat. Makanya saya ambil aja berkasnya buat diantar ke Bapak. Saya mau ngirim berkas buat S2 nih,” ucapku sembari duduk di hadapannya.
“Ya udah sini ….” Ia menuliskan tanda-tangannya segera. “Lain kali harus tertib ikut prosedur.”
“Kalau alurnya jelas, saya ikutin. Ini bertele-tele, masa saya dioper sana sini dulu sama pegawainya, katanya dia sibuk.” Aku mengambil berkasnya kembali.
“Untung ketua program magister bukan saya, jadi enggak sibuk ngurusin mahasiswi bandel kaya kamu,” balas Bapak Dekan. “Tiga hari lalu saya ke rumah Papa kamu, katanya kamu kabur lima tahun ini dari rumah? Itu benar?!”
“Lah kata siapa?” tanyaku balik.
“Kata Papa kamulah … siapa lagi!”
“Bapak ngapain ke rumah Papa saya?”
“Jawab dulu pertanyaan saya, malah nanya balik!” Wajahnya mulai kesal.
“Enggak kok, saya tinggal di rumah kakak saya. Di sana juga ada kakek saya. Saya kok dibilang kabur.”
“Kalau kamu enggak balik-balik lagi, itu namanya kabur. Pergi deh kamu pulang ke rumah papa kamu.”
Aku menggeleng. “Saya kan udah dewasa Pak. Saya bukan anak sekolahan lagi yang tanggungan hidupnya masih sama orangtua.”
Bapak Dekan fakultasku memang mengenal Papa secara personal. Beliau merupakan mantan staff ahli Papa di periode sebelumnya. Atas rekomendasi Papa juga beliau bisa menduduki jabatan Dekan di fakultas ini.
“Papa kamu titip pesan kalau kamu ketemu sama saya,” ucapnya.
“Apa itu?”
“Temui dia … itu saja.”
“Wah, tentu aja Pak karena saya rindu sama ibu tiri yang seumuran sama kakak sendiri.” Aku menyalami Bapak Dekan. “Permisi, saya pergi dulu. Terima kasih tanda tangannya.”
Tidak heran jika Bapak Dekan mengunjungi Papa. Mungkin ia ingin meminta pengucuran dana atau apalah itu, aku tidak tahu. Yang pasti, selama aku di sini sama sekali tidak terpikirkan untuk ke sana. Jangankan menginjakkan rumah, berkeliaran di sekitarannya saja tidak. Padahal, di sana ada kamarku yang penuh dengan kenangan kecil bersama Bunda. Aku harap kamar itu tidak pernah disentuh dan memindahkan poster-poster pejuang revolusi yang aku tempel di sekeliling dinding. Sebenarnya aku mengunci pintu itu rapat-rapat dan membuang kuncinya di bawah laut. Namun, Papa bisa saja membukanya secara paksa.
Senandung siang hari membuatku lapar. Panasnya terik mentari mengeringkan tenggorokanku. Mengingat Semara dan Borneo sedang berpesta sate daging babi di rumah, aku pun tidak sabar untuk menyaksikan bagaimana rupanya daging terlezat sebumi itu, katanya. Namun, keinginanku sedikit diurungkan berkat satu tempat yang belum aku kunjungi. Berbekal minuman boba dingin untuk penyangga haus dan sebuah payung lebar agar terhindar dari panas, aku pun berjalan kaki menuju ke sana.
Tempat itu merupakan satu tempat kecil di ketinggian Fakultas Psikologi. Aku dulu sering mengunjunginya karena tempat itu satu-satunya tempat agar aku bisa melihat anak basket universitas berlatih tanpa perlu untuk masuk ke dalam lapangannya. Cukup akui, anak basket universitas tampan dan rupawan, aku kan juga seorang perempuan. Selain itu, bersantai di sana di kala sore hari juga menyenangkan, seperti sedang menunggu matahari terbenam di tepi pantai.
Aku bertegak pinggang melihat tangga besi menuju ke bagian lantai tiga tersebut. Rasanya terakhir kali aku lihat tidak berkarat seperti ini. Sembari memegang minuman di sebelah kiri dan mengapitkan payung pada ketiaknya, aku memanjat perlahan menuju ke atas sana. Tidak perlu takut untuk jatuh karena aku sudah ahli dalam hal begini. Berharap tidak ada security yang melihat, aku pun sampai di atas dengan selamat. Sepetak tempat kecil bekas tank air ini aku duduki dengan nyaman.
Tanganku menyentuh pasir yang menempel di atas permukaannya. Rasanya baru kemarin aku berbaring berdua di sini bersama David sembari melihat bintang dan makan risoles isi keju. Ia tampak ragu untuk mengecupku pada saat itu, padahal suasana begitu tenang dan romantis.
“David … David … semoga lo enggak malu-malu dengan Mawar.”
Mataku mengarah ke ujung tangga. Kepala muncul dengan sepasang mata yang mengintipku. Minuman boba yang aku genggam sampai terjatuh oleh penampakan itu.
Ia memunculkan wajahnya secara sempurna. Ternyata itu Abimana yang turut memanjat ke sini. Ia merupakan pria yang aku kenal tatkala di tepian danau dua minggu yang lalu. Aku pun menutup wajah karena aku kira ia security yang memergoki. Aku sudah kapok kejar-kejaran dengan security Fakultas Psikologi karena memanjat tempat ini dan masuk ke ruang kelas David melalui jendela.
“Lo kira siapa sih yang sebelum bunuh diri minum boba dulu?!” Aku menghela napas panjang. “Gue kira lo security, sumpah! Lo ngapain ke sini?!”
“Gue lihat lo jalan ke belakang fakultas ini dan ternyata lo manjat ke sini. Siapa yang enggak aneh sih kalau ada perempuan sendirian manjat ke sini siang-siang bolong?”
“Ya udah naik ….” Aku menyambut tangannya. “Daripada lo nampak sama orang lain.”
Aku dan Abimana duduk bersamping-sampingan di bawah naungan payung teduh. Wangi tubuhnya jelas tercium jika sedekat ini. Rasanya sudah lama tidak bersamping-sampingan dengan pria harum karena selama ini aku duduk berdempetan dengan Borneo dan Razel. Apalagi semasa kami melaut bersama, keringat mereka tidak pernah habis aku rasa.
“Minum?” tawarku kepada Abimana.
“Oh enggak, terima kasih.” Ia menggeleng sembari menoleh padaku. “Bagaimana lo bisa tahu tempat ini?”
“Tempat ini? Hmm … ga tau … gue orangnya suka iseng. Kalau gabut gue suka aneh-aneh. Makanya jumpa tempat ini.”
Ia memicing aneh kepadaku. “Lo tidur di tepi danau aja udah bikin gue aneh, apalagi berada di sini.”
“Tapi lo cukup berani naik sendirian. Soalnya dulu gue pernah ajak orang ke sini, dia ketakutan setengah mati. Ciih … cowok pengecut.”
“Oh ya? Siapa?”
Aku menoleh padanya. “Lo enggak perlu tahu.”
“Baiklah …. Lo kerja?”
“Apa pentingnya buat lo?” tanyaku balik.
“Ya ga ada … seharusnya lo udah punya kerjaan sebelumnya sebelum daftar S2.”
“Gue CEO di sebuah perusahaan jasa kapal,” jawabku singkat.
Ia diam sejenak melihatku. Tidak lama kemudian, ia tertawa seakan ucapanku ialah sebuah khayalan semata. Menurutku wajah juga ia tertawa melihatku yang begini. Mana ada pemimpin lima ratusan karyawan seperti gembel yang sedang iseng memanjat sebuah gedung.
“Hahaha … lo bercanda pasti.”
“Kalau kerjaan lo apa?” tanyaku balik.
“Gue dulu pernah kerja tiga tahun di perusahaan kertas. Terus, tahun 2020 gue kena PHK karena waktu itu masa-masa pandemi. Tapi setelah dapat pesangon yang enggak seberapa itu, gue bikin usaha pembuatan perabotan.”
“Oh ya? Selaras sama ilmu yang lo pelajari, tentang perkayuan.”
Aku tersenyum padanya. Jika dipikir-pikir lagi, aku turut berdosa mem-PHK banyak karyawan pada saat krisis pandemi terjadi. Mau tidak mau, jika tidak, perusahaan pun ikut terkena imbasnya. Apalagi pemasukan paling besar ada di jasa travel jalur sungai dan laut. Orang-orang dilarang untuk berpergian.
“Jadi, pekerjaan lo apa?”
Ia masih belum yakin dengan diriku.
“Gue punya café. Lo pasti kenal café Reira di Mall CSA. Itu cukup terkenal di sana.”
“Oh itu punya lo. Gue tahu, cuma belum pernah ke sana. Ga nyangka gue kalau yang punya itu seorang mahasiswi. Waktu jaman-jaman kita kuliah, tempat itu juga udah ada.”
“Itu punya bunda gue Semenjak wafat, gue yang kelola.”
“Oh maaf, gue enggak tahu.”
“It`s okay, semoga nyusul.”
“Apaan sih? Ngaco!”
Aku dan Abimana turun setelah itu. Beruntung tidak ada orang yang mengetahui aksi kami berdua kali ini. Tanpa payung, kami berjalan menelusuri trotoar jalanan kampus. Tidak mungkin juga anak itu memegangi payung untukku. Bahkan jika itu David, aku tidak ingin dilihat warga kampus sedang berduaan di bawah payung.
Sepanjang perjalanan, Abimana banyak bercerita mengenai kesehariannya yang senang mengoleksi jamur. Lalu, jamur itu akan ia awetkan sebagai koleksi pribadinya. Suatu kesamaan denganku yang suka mengoleksi serangga. Mungkin aku lebih ekstrim lagi karena tidak pernah pandang serangga, apa pun aku koleksi sewaktu itu.
“Wow … gue pernah makan jamur beracun. Kami sampai halusinasi. Sewaktu itu di atas puncak Gunung Kerinci.”
“Apa? Kalian makan magic mushroom?” Abimana melihat aneh kepadaku.
“Sebut saja ada seseorang yang masukin jamur itu ke panci sup. Alhasil, kami teler. Hahaha … itu pengalaman gila gue rasa.”
“Itu gila, Reira. Untung aja kalian enggak bad trip terus bisa bikin hal-hal berbahaya.”
Istilah bad trip itu merupakan efek sensasi negatif dari suatu zat psikoaktif, seperti halusinasi yang menakutkan, delusi parah, dan lain-lain.
“Ya gue beruntung bisa ngerasain narik awan. Termasuk good trip gue waktu itu. Kalau mau diulang, gue enggak bakal sih.”
Kami berhenti di halte kampus. Beruntung bus kota sedang nangkring di sana untuk memasukkan penumpang. Abimana berlari agar tidak ketinggalan bus.
“Gue pulang dulu, bye!”
Ia malah meninggalkanku dengan berlari. Di tengah lambaian tanganku padanya, aku berselisih jalan dengan seorang pria memakai motor tua. Helm tanpa kaca itu mempertemukan arah mata kami ke satu titik. Aku memandang wajah teduhnya yang lemah itu. Tiba-tiba saja ia berhenti dengan menepikan motor.
“REIRA!”
Aku pun berlari, berusaha menggapai bus yang mulai bergerak pelan. Satu kakiku bisa menginjak bus, sementara tanganku bergantung pada besi belakang bangku.
Ia benar-benar David, bukan imajinasi mimpiku. Aku entah kenapa menghindar, tidak siap untuk menemuinya saat ini.
***