
EPISODE 32 (S2)
Ia adalah Mawar, seorang wanita paling jenius yang pernah aku temui di dalam hidupku. Penghapal buku sejati tak ubahnya layaknya sebuah mesin pencari. Tutur katanya terkadang lurus tanpa basa-basi, terdengar serius, tidak ingin terlalu memperpancang sebuah diskusi. Kalau bisa, ia menghindari tatap muka secara langsung, berbicara dengan mulut dan arah mata yang berbeda. Aku rasa ia tipe orang yang pemalu hingga ia seperti itu, terlihat sekali dari caranya menggigit bibir setelah mengucapkan sebuah kalimat, memikirkan bahwa benarkah apa yang telah diucapkan olehnya.
Kini aku duduk berhadapan dengannya yang baru saja menyelesaikan seporsi nasi goreng dan hanya menyisakan seiris tomat yang mungkin saja ia tidak suka. Sendawa aku tahan dalam-dalam agar tidak terlihat memalukan. Apabila ia merupakan Reira, aku sudah menyuarakan sendawaku sekeras mungkin, tanpa ragu dan tanpa bimbang sedikit pun. Ya begitulah kami tanpa batas-batas yang mengekang kebebasan. Kali ini aku berusaha mungkin menjaga sikap karena aku baru saja mengenalnya.
“Tidak ada orang yang berbahagia, kecuali ia mengenal hal yang dibencinya,” bahas Mawar setelah aku menceritakan mengenai Reira.
Aku pun bergeming memikirkan arti dari kalimat itu.
“Apa hubungannya hal itu dengan Reira?” Aku menyedot es teh manis yang dipesan.
Ia memangku wajahnya menggunakan tangan. “Kebahagiaan itu enggak semena-mena lo ngelakuin hal yang lo suka. Tetapi karena ia tahu apa yang dibencinya, apa yang enggak dia suka, sehingga ia menghindari hal-hal tersebut.”
“Maksud lo, kita semua ini berbahagia karena kita berusaha meninggalkan apa yang kita benci, begitu?” tanyaku.
Mawar mengangguk setuju. “Iya seperti itu. Lo tahu apa yang enggak disukai Reira?”
Aku terdiam sejenak. Selama ini aku hanya mengetahui hal-hal yang disukai Reira karena aku tahu bahwasanya Reira selalu melakukan hal yang ia suka, termasuk memanjat gunung dan menganggu Candra dengan kedegilannya itu.
“Gue rasa Reira enggak suka yang berbau kemewahan. Dia pernah berkata, jika boleh memilih ia akan memilih menjadi orang yang terlahir dari keluarga sederhana. Jika lo kira penampilan Reira itu selaras sama kasta keluarganya, maka lo salah. Reira itu dari keluarga terpandang.”
“Oh, ya? Gue kira dia dari orang-orang yang biasa aja. Ya ... tiap akhir bulan makan mie instan, atau sarapan pagi cuma pakai roti seribuan yang dibeli tadi malam,” balas Mawar seraya tersenyum.
Aku tertawa mendengar kalimatnya. Ternyata ia memahami kehidupan orang-orang sepertiku dan teman-temanku yang tinggal dengan menyewa kos. Sudah hal lazim bagi orang seperti kami makan mie instan kalau benar-benar sedang tidak ada uang dan sarapan roti seribuan, atau bahkan tidak sarapan sama sekali.
“Kakek Reira yang punya kapal itu merupakan pelaut pengantar barang, bahkan sampai barel minyak ekspor ke luar negeri sewaktu mudanya. Dulu punya banyak kapal dan bawahan, namun yang tersisa cuma satu karena udah dibagiin sama nelayan yang membutuhkan. Turun ke mamanya seorang pengusaha cafe di salah satu mall di Jakarta. Dan lo tahu papanya?”
Ia menaikkan alis menanggapi pertanyaanku. “Pengusaha batu bara di Kalimantan? Atau punya berhektar-hektar sawit di Sumatera?”
“Bukan ....” Aku menggeleng. “Papanya anggota dewan dari partai sebelah. Sebagai aktivis dan anak dari anggota dewan yang berpartai paling banyak korupsi, gue rasa Reira selalu ada kontra sama papanya.”
“Hahah ... beneran?” tanya Mawar kembali.
“Iya, makanya jangan heran kalau Reira enak aja ngeluarin uang. Hape gue aja kecemplung di danau langsung diganti waktu malamnya.”
“Tapi, penampilannya ... seperti yang lo tahu biasa aja. Hahaha,” tawanya sejenak. “Gue rasa Reira selalu ingin mendemo papanya yang anggota dewan itu.”
“Setiap hari kayanya, sih. Soalnya Reira orangnya bandel, enggak bisa diatur. Tapi, gue senang Reira seperti itu, ya ... biasa-biasa aja.”
“Kenapa?” Kepalanya memiring.
“Gue muak sama orang-orang yang cuma bergaya ngandalin uang orangtuanya. Gayaan ke kampus pakai mobil mewah, trus pulangnya duduk di restoran cepat saji cuma buat makan burger. Bikin story kaya orang palin keren sedunia, padahal semua itu cuma pakai uang orangtua. Mungkin aja karena gue enggak bisa kaya mereka sih ... hahaha ... sirik banget gue. Ya, andai aja orangtua gue masih hidup, pasti gue bisa kaya mereka. Tapi, kayanya memang modelan gue kaya gini sih, enggak bakalan jadi kaya gitu.”
“Hmm ... begitulah keadaan generasi muda seperti kita.” Ia terdiam sejenak. Tatap matanya lurus padaku, tanpa menghindar seperti tadi. “Gue tahu apa yang lo benci.”
“Apa?” tanyaku penasaran.
“Kehilangan, kesendirian, kemewahan, apalagi ya ... hmmm.” Jemarinya menyentuh dagu.
“Lo bener-bener dukun,” balasku.
“Hey, udah gue bilang sebagai anak Psikologi lo harus mempertajam kemampuan observasi. Sedari tadi lo ngeceritain mengenai orangtua lo, menceritakan sahabat-sahabat lo, semua itu mencerminkan hal-hal yang lo benci. Lo takut buat sendiri.”
“Hmm ... bisa jadi, sih.”
“Dan itulah cara lo buat bahagia dengan menghindari hal-hal yang lo benci itu.”
Aku tersenyum mendengarnya. Jauh tersemat di dalam hati kecilku yang imut ini, tertuliskan sebuah peraturan yang mengatakan bahwasanya aku sangat benci kehilangan dan kesendirian. Serangkai goresan peristiwa sebelumnya telah mengajarkan aku untuk membenci hal-hal yang seperti itu, hingga sebisa mungkin aku tak ingin bertatap muka dengan sebuah kata, yaitu kehilangan. Dari kehilangan itu pula aku merengkuh bersama kesendirian yang membelenggu. Aku selalu butuh orang-orang kuat di sekitar untuk mendukung kekuatan moral dan mental yang rapuh ini. Aku pun mulai sedikit demi sedikit berdamai dengan masa lalu.
Ia tidak berekspresi, hanya berdiri dengan merapikan bagian pakaiannya yang kusut.
“Mari kita pulang. Mungkin aja mereka udah kembali.”
“Ayo,” pungkasku.
Kembali aroma mobil bersemayam di dalam penciuman, bercampur dengan wangi parfum Mawar yang selalu melekat di dalam mobil sedari tadi. Sembari menyetir mobil dengan hati-hati―aku pun tak ingin mobil ini lecet sedikit pun karena bukan milik pribadiku―aku kembali mengilas balik mengenai kalimat yang diucapkan Mawar tadi. Kalimat itu menyentuh inti perenungan, membuatku kembali memikirkan kata-kata yang memiliki makna yang dalam. Sungguh, apa yang dikatakan Mawar tadi benar sekali adanya.
Aku sangat membenci kehilangan.
Bagaimana cara berdamai dengan masa lalu?
Pertanyaan ini selalu mencuat tatkala obrolan sepihak bersama senja dan bau asap tembakau yang aku helat di muka rumah. Diiringi dengan denting besi di bengkel Dika yang menganggu konsentrasiku untuk menulis, sebisa mungkin aku mencari cara bagaimana seseorang akan berdamai dengan masa lalu.
Perdamaian tidak akan mungkin hadir ketika semuanya baik-baik saja. Bodoh sekali orang mengatakan, hidup kita penuh dengan kedamaian. Namun, tidak ada serangkaian peristiwa yang mendatangkan sebuah konflik. Konflik batin itu yang menekan urat syaraf antara dua pemikiran. Perdamaian tentu saja butuh persetujuan, bagaimana mungkin kata sepakat untuk berdamai tanpa ada menyamakan pendapat? Aku rasa tidak akan terwujud kata itu. Ada hal-hal yang diluruskan, dihentikan, atau bahkan dirubah di dalam kesepakatan perdamaian.
Namun, apakah kita bisa berdamai dengan masa lalu?
Masa lalu bukanlah sebuah benda atau orang yang bisa aku pukuli karena aku benci dengan sebagian kecil darinya. Masa lalu adalah sebuah hal yang abstrak, namun ada dengan jelas. Aneh juga rasanya memikirkan ada sebuah hal asbrak, namun sebenarnya dia ada tanpa bisa kita lihat. Termasuk pula masa depan yang penuh teka-teki, kecuali masa kini yang sedang kita alami secara pasti. Keabstrakan itu timbul karena masa lalu hanya hadir di dalam ingatan, terlukis di dalam bayang-bayang, kadang sedikit imajinatif pula. Ia tidak akan bisa berbicara bersamamu, menyentuhmu untuk bersalaman, dan bahkan berdiskusi untuk perdamaian.
Kadang ingin aku hujat orang-orang yang mengatakan kepadaku bahwasnya kita harus berdamai dengan masa lalu. Masa lalu itu selalu melekat karena ia sebagian dengan dimensi waktu, tetapi tidak dengan ruang karena ia sudah pernah terjadi. Jadi, masa lalu tidak akan pernah lepas pada setiap orang karena setiap langkah yang dihelat akan tetap menjadi masa lalu, dan setiap napas yang dihela selalu menyimpan beban-beban masa lampau. Bagaimana bisa aku berdiskusi dengan masa lalu bahwasnya aku ingin mencapai kata damai.
Hey, masa lalu ... mari kita berdamai dan tidak bergelut lagi seperti tadi malam karena kau sudah menumpahkan air mata yang boros ini. Aku ingin menambalnya sejenak.
Masa lalu itu selalu berkonflik di dalam ingatan, maka tidak akan bisa mencapai kata sepakat untuk berdamai. Maka, hal yang tepat untuk aku jadikan penyelesaian dari pertanyaanku tersebut ialah, ketulusan di dalam kerelaan. Kerelaan itu akan mengatasi permasalahan individu yang tidak akan bisa berdamai karena rasa rela dan kata ikhlas tidak perlu menuju kesepakatan. Sifatnya sepihak, namun dampaknya menembus melebihi kata perdamaian, apalagi dengan masa lalu. Dengan menyatakan bahwa diri rela pada masa lalu yang pernah terjadi, maka timbullah rasa tentram walaupun sebenarnya kita tidak akan benar-benar bisa berdamai dengan masa lalu tersebut.
“Keikhlasan,” ucapku pelan tatkala sampai di depan rumah Zainab.
Mawar melihat ke samping. “Keikhlasan? Lo bicara sendiri?”
Aku menggeleng. “Ah enggak ada ... hanya kata yang bagus buat ditulis sebagai puisi. Gue suka puisi.”
“Oh, begitu. Selera yang bagus.” Mawar keluar dari mobil.
Rumah terasa sunyi tatkala kami masuki, kecuali di dalam kamar yang berisikan Candra dan Razel yang menghujat karena game dengan suara kecil. Sementara Pak Cik tak ada aku lihat, mungkin saja ia sedang pergi keluar. Reira dan Zainab belum juga pulang sedari tadi. Beruntunglah kami tidak menunggu mereka kembali pulang ke rumah.
Udara di luar terasa dingin. Aku dibuat memasukkan tangan ke dalam saku. Sementara itu, Mawar berdiri kaku di samping pintu mobil setelah membantuku untuk mengangkat semua barang yang telah kami beli. Ia berusaha mengeluarkan senyum walaupun tipis sekali. Hanya sebagaian kecil dari sudut bibirnya yang melebar.
Aku melambaikan tangan.
“Oke, sampai jumpa besok. Jangan lupa istirahat karena besok pasti kita enggak bakalan tidur.”
“Iya, mana bisa tidur kalau kemah kaya gitu, kecuali memang capek banget.” Ia menarik gagang pintu mobil. “Gue pulang dulu, sampaikan salam kepada Reira dan Zainab.”
Aku mengangguk. “Pasti ... hati-hati di jalan.”
Pintu mobil yang ditutup terdengar. Mesin mobil pun dihidupkan. Klakson yang dibunyikan seiring dengan gerak mundur mobil ke jalanan aspal. Ketika mobilnya sudah pergi, terbesit di dalam hatiku untuk berterima kasih padanya karena aku telah memetik satu hal dari perkataannya tersebut. Aku merasa beruntung memiliki teman-teman yang penuh makna, termasuk dirinya sendiri.
***
Terima kasih sudah membaca Captain Reira sebulan penuh ini :) Tunggu terus makna-makna yang bisa kalian kutip dari sepenggal cerita Reira dan teman-teman.