Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 132 (S2)



EPISODE 132 (S2)


Persiapan demi persiapan untuk menyambut kedatangan jenazah sudah selesai. Menunggulah kami hingga tengah hari di rumah Reira. Merasa bosan menunggu, Bang Ali sempat mengajak aku, Razel, dan Candra ke minimarket untuk menikmati mie dalam cup dan bermain game sejenak. Sesampainya kami ke rumah Reira, sudah semakin banyak saja pelayat yang datang untuk menunggu jenazah Bu Fany. Mobil-mobil mewah dinas terpakir berjejer, memanjang hingga satu jalanan ini. Papan bunga ucapan duka kini mewarnai satu blok jalan, hingga mobil-mobil pusing untuk parkir di mana.


Sekitar jam dua lewat, berbunyi serine ambulance di muka rumah. Kami yang sedari tadi bersandar di pohon rambutan, kini tegak sembari memandang satu sama lain. Razel kembali memasukkan ayam kampung jantan milik Reira yang tadi ia elus-elus seperti anak sendiri. Sementara itu, aku meletakkan piring daging ayam yang aku suir untuk makanan Minerva. Bergegas kami berlari menuju ke depan. Orang sudah ramai berkerumun melihat ambulance yang datang diiringi oleh dua mobil polisi.


Benar yang aku duga, sekelas Ketua DPR turut hadir ke rumah Reira. Beliau berpakaian batik sederhana, tapi jamnya mahal mengkilau. Samar-samar aku melihat tokoh-tokoh politik yang tidak aku ketahui namanya. Namun, mayoritas yang datan ialah para tetangga sekitar. Mereka pula yang berperan besar membantu seluruh persiapan.


Menangis di sana Reira dan Kak Reina. Tunduk sedih mereka begitu dalam melihat tubuh Bu Fany yang tertutup oleh kain putih. Kakek Syarif memimpin pengangkatan jenazah Bu Fany, diikuti oleh Pak Bernardo yang sedang bermata merah berkat tangis. Duka menyelubungi suanana kali ini. Tangis terdengar di setiap sudut. Ibu-ibu mengisakkan air mata di ujung pintu, menyambut jenazah Bu Fany yang dibawa masuk. Kami tak sempat mendekat, pelayat terlalu ramai untuk kami tembus.


Jenazah disegerakan sesuai dengan aturan agama yang dianut oleh Bu Fany. Sebagai anak perempuan, aku menyarankan kepada Reira untuk ikut memandikan mamanya tersebut. Aku tidak tahu apakah ia pandai memandikan mayat atau tidak, entahlah ia tidak pernah belajar semasa sekolah internasional tersebut, aku tidak tahu. Setidaknya, pasti ada para orangtua yang mengajarinya di sana. Persis sepertiku yang ikut memandikan Ayah sewaktu itu, diajari oleh Rio yang tahu mengenai tata caranya.


Doa dipanjatkan di masing-masing hati. Jenazah disembahyangkan dengan diimami oleh Pak Bernardo langsung. Kakek Syarif mundur selangkah untuk memberikan kesempatan kepada Pak Bernardo. Itulah kesempatan penghormatan terakhir untuk seseorang yang pernah menabur kasih bersamanya. Kata amiin dituangkan ketika Pak Bernardo meminta kepada pelayat untuk turut mendoakan Bu Fany ditempatkan pada tempat yang mulia serta ikut memaafkan kesalahan yang pernah terucap atau tersirat dari beliau. Berangkatlah kami ke pemakaman yang sudah disedikan dari RW setempat. Semakin deras tangis Reira melihat jenazah Bu Fany yang damai masuk ke liang lahat.


Ya, aku sangat terpukul sekali ketika seorang Ibu meninggalkan kami untuk selamanya. Ketika seluruh pelayat sudah pergi dari pekuburan, aku masih bertahan sendiri sembari menghisap tembakau. Aku memainkan kerikil yang diletakkan di atas gundukan dengan pikiran yang hampa, sembari berharap mendengarkan suara Ibu kembali.


Beginilah Reira sekarang. Duduk termenung menyentuh kerikil gundukan tanah. Kepalanya tersandar di pundakku. Sunyi bersenandung dalam suara angin yang menyentuh dedaunan, berbicara seakan mengusir kami segera dari sini. Reira tak kunjung bergerak, berbicara pun tidak. Sementara itu, Bang Ali dan yang lain menunggu di depan lokasi pemakanan umum.


“Masih ada yang disampaikan di dalam hati lo sekarang?” tanyaku memulai pembicaraan.


“Enggak ada, gue bosan berdoa sejak malam.”


“Kalau lo masih pengen di sini, gue bakalan tetap nungguin lo. Yang lain pasti pahamlah. Kalau lo ngerasa udah cukup, mari kita pulang.”


“Begini ya rasanya kehilangan?” tanya Reira sejenak.


Aku tersentak mendengar pertanyaan tersebut. Helaan napasku terasa berat, ditambah tumpuan beban tubuh Reira tertuju padaku.


“Iya, memang sakit, sedih, marah, ngerasa enggak adil. Tapi ... kita bisa apa?” balasku.


“Tahu enggak lo ... kita begini kaya lagi di hadapan Mama. Gue mana sanggup nyandar sama lo di hadapan Mama langsung. Tapi, gue ngerasa dia tersenyum sekarang karena gue sedang bersama orang yang selalu ada buat gue.”


Aku mengangguk. “Tapi, kayanya bikin iri para jomblo yang belum sempat dapat pasangan sebelum mati. Mereka mungkin melihat.”


Ia memandangku. “Ini bukan waktunya buat bercanda.”


“Oke, maaf. Gue cuma usaha buat ngecairin suasana.”


Perlahan Reira tersenyum, meskipun tipis. “Terima kasih.”


“Sama-sama,” balasku dengan senyum pula.


Reira berdiri. Tanganku terangkat berkat ia genggam. “Mari kita pulang. Minerva pasti belum makan.”


“Iya, gue enggak sempat ngasih daging ayamnya.”


“Di bawah pohon rambutan.”


Dahiku terkena tepukannya. “Bodoh! Bakalan dipatok ayam!”


“Hahah ... maaf ....”


Kami pulang bersama-sama menggunakan mobil sedan hitam Reira yang disupiri oleh Bang Ali. Untuk menghibur wanita itu, Bang Ali mentraktir kami makanan khas depan SD yang tak sengaja kami lewati. Reira meminta porsi tiga kali lebih banyak daripada kami semua. Bang Ali pun mengiyakan permintaan tersebut tanpa sedikit pun melarang. Bahkan, Bang Ali mengelus rambut belakang Reira persis seperti adik sendiri. Makanlah kami di jalan sembari mendengarkan musik pop rock dari playlist musik Reira. Tak ada satu pun kami membahas mengenai kematian, tidak ada pula yang menyinggung kalimat belasungkawa yang sebenarnya selalu ingin mereka sampaikan. Pembicaraan lebih hangat dan santai, bersinggungan pula dengan kritikan mereka mengenai kampus yang dimulai dari Bang Ali. Semangatlah Reira membahas hal tersebut bersama-sama.


Kami turun dari mobil seiring dengan sendawa yang dihelat oleh Reira. Ucapannya lantang berterima kasih kepada kami yang bertahan dengannya hingga sampai saat ini.


Kami memutuskan tetap bertahan di sini hingga senja hari. Reira pun senang mendengarnya dan berniat membuatkan kami kopi terbaik untuk dinikmati nanti.


Aku bertatapan lurus dengan seseorang tatkala Reira sedang berbicara pada kami. Tepat di samping rumah ini, pria tinggi berkacamata itu tengah berada di atas teras. Aku potong kalimat dari Reira.


“Papa lo kayanya mau ketemu dengan lo, deh.” Aku memotong kalimatnya. “Itu dia di teras.”


“Oh, iya?” Alisnya naik, kemudian berbalik arah. “Ayo, ikut sama gue.”


Aku turut tertarik olehnya yang memaksaku untuk ikut. Jantungku berbedar dengan cepat sebelum berhadapan dengan orangtua lelakinya tersebut. Kini, aku tepat bersamping-sampingan dengan Reira di hadapan papanya. Masih dengan mataku dan mata Pak Bernardo yang beradu, ia tersenyum sedikit untuk menyambutku. Lalu, ia menoleh pada Reira.


“Keluarga Mama besok akan datang. Nenekmu dan yang lain dari Surabaya kira-kira sampai ke sini Malam. Kalau Pak De sama Bu De-mu sekarang masih nunggu penerbangan dari Singapura.”


“Reira senang bertemu dengan mereka lagi. Tapi, Reira lebih senang kalau Pak Cik Milsa yang datang. Dia lagi di perjalanan kapal sekarang.”


“Sudah lama Papa enggak ketemu Pak Cik Milsa. Apa kabarnya?”


“Baik ... semakin sukses dengan bisnisnya. Aku mau kita membeli kebun durian miliknya itu.”


“Permintaan yang bagus, kamu lebih memilih kebun durian daripada mobil yang Papa tawarkan.” Ia mengelus rambut Reira. “Nanti Nauren dan keluarganya akan datang. Bersikap yang baik pada mereka.”


Reira terdiam. “Nauren?”


“Iya ... Nauren.”


“Aku harap ban mobilnya bocor di tengah jalan.” Ekspresi Reira santai menanggapi hal tersebut. Ia tersenyum, lalu berbalik melangkah meninggalkan papanya tersebut.


Aku pun segera menunduk pada Pak Bernardo untuk pamit.


Tidak ada jawaban dari Pak Bernardo, kecuali menarik napas panjang atas jawaban anaknya sendiri.


Namun, hatiku pun bertanya. Ada apa dengan keluarga Nauren?


***