
David pernah berkata padaku jika pelacuran merupakan pekerjaan tertua di muka bumi ini selain bertani dan berternak. Peradaban sudah mencatat jika setiap zaman selalu ada wanita-wanita penghibur yang dieksploitasi demi hasrat seksual pada pria. Bahkan, pria pun begitu, hingga Tuhan mengguncangkan tanah orang-orang Gomora karena penyimpangan mereka. Ada tuntutan-tuntutan duniawi yang harus dipenuhi hingga para wanita dipaksa untuk menjajakan diri mereka, menjual secuil daging sebagai objek seksual orang lain.
Aku berpikir lebih luas dari itu. Ada makna tersembunyi kenapa pelacura indentik dengan para wanita. Salah satunya ialah wanita dirancang untuk memberikan cinta dan kasih sayang. Secara biologis, tubuh wanita satu-satunya yang berpotensi untuk menciptakan kehidupan dengan hamil dan melahirkan seorang anak. Dari wanita itu pula hidup peradaban dunia yang bisa kita lihat hingga saat ini. Pria pun menganggap wanita sebagai dasar dari cinta dan kasih sayang. Secara normal, hanya wanita yang bisa memberikan mereka kenikmatan cinta. Namun, kita pun menatap realita jika cara-cara itu turut menciptakan penyimpangan, salah satunya ialah pelacuran.
Pelacuran ialah tempat tumbuhnya cinta sesaat yang tidak bisa kita pungkiri, meskipun para wanita tersakiti karena menjual etika moralnya kepada orang lain. Kondisi ini sangatlah terstruktur, mereka tidak punya pilihan banyak karena zaman bergerak begitu cepat. Ketimpangan sosial menjadi faktor utama suburnya tempat lokalisasi dan praktik perdagangan wanita.
Wanita bisa lebih dari itu ….
Aku terbangun tatkala seseornag mengetuk pintuku dari luar. Dengan separuh mengantuk di pukul tujuh pagi, aku pergi menghampiri sosok yang telah membangunkanku itu. Ia berdiri dengan mata sayu, menatap cemas padaku yang hanya mengenakan baju tidur tipis. Tidak berbeda dengannya, hanya saja rambutnya masih dalam keadaan berantakan seperti malam tadi.
“Maaf buat tadi malam. Aku enggak ada bermaksud untuk enggak menghargai kamu,” ucapnya dengan pelan.
“Kau udah baikan?” tanyaku.
“Iya … lumayan.”
Ia berbohong, wajahnya tidak bisa menutupi ekspresi jika ia sedang kacau. Terdapat luka lebam di pelipis kiri akibat pukulan pria bule biadab itu. Tidak lama kemudian, ia mengangkat plastik putih dan menunjukkannya padaku.
“Mari sarapan di kamar aku. Ada bubur ayam buat kami. Itung-itung terima kasih ….”
“Sebentar, aku cuci muka dulu. Nanti aku ke kamarmu, oke?”
Belum sempat ia mengatakan iya, aku sudah menutup pintu. Segera aku mencuci muka dan mengganti baju. Setelah itu, aku masuk ke dalam kamarnya yang masih berantakan. Enggan aku duduk di atas ranjangnya tersebut karena sudah pasti menjadi tempat berpanas-panasan tadi malam. Terlalu banyak jejak sidik jari dari pria bule itu. Bubur ayam sarapan pun dinikmati dengan beralaskan lantai dingin.
Nama wanita itu Semara Laskmi. Sangat identik dengan Bali namanya.
“Jadi kau pelac ….” Aku hampir mengucapkan kata yang mungkin saja bisa menyakiti hatinya. “Kau memang bekerja seperti ini?”
Tanpa beban, Semara mengangguk sebagai respon.
“Sudah sekitar tiga tahun aku jadi wanita malam. Yang seperti tadi malam udah biasa aku dapati. Jadi, jangan khawatir.”
“Jangan khawatir bagaimana? Kau bilang kalau kau capek seperti ini. Kenapa masih dilakuin juga?” tanyaku.
“Bertahan hidup di dunia yang keras ini. Untuk orang-orang yang enggak punya pendidikan seperti aku, enggak ada tempat untuk pekerjaan yang lebih baik,” balasnya.
“Aku cuma dengar kalimat orang yang putus asa.” Aku menunjuk ke luar. “Di sana pasti ada toko-toko yang butuh karyawan wanita. Kau cantik, pasti cepat diterima.”
“Terima kasih pujiannya.” Ia tidak menatapku, melainkan ke wadah bubur ayam. “Semua orang bisa ngomong dengan mudah, tapi realitanya itu enggak akan cukup. Aku enggak punya siapa-siapa, kecuali diri aku sendiri.”
“Baiklah … aku enggak akan lagi mengomentari pekerjaanmu. Jadi, kau tinggal di sini?”
“Enggak, aku ada kosan. Kamar ini cuma jadi tempat bekerja,” balasnya. Kini Semara mulai berani menatap mataku. “Kamu dari mana? Sepertinya kamu turis.”
“Aku lebih suka dibilang pengelana. Ya, aku penjelajah, bukan turis.”
“Haha … jadi, kamu mau berkelana ke mana?” tanya Semara.
“Aku mau ke kawasa Sangsit, tepatnya di area dermaganya. Kau tahu di mana itu?”
Ia mengangguk. “Sekitar tiga jam ke utara naik motor. Kamu mau bertemu siapa?”
Sebagai orang baru, ia berani mempertanyakan kepentinganku. Namun, itu tidak apa-apa bagiku.
“Erasmus, dia teman kakekku. Ada perlu sesuatu,” balasku.
“Aku bisa ngantarin kamu pakai motor. Kamu pasti enggak ada kendaraan, kan? Lagi pula, kamu juga enggak tahu jasa travel di sini.”
“Oh ya? Oke … aku mau. Tenang … urusan minyak dan makan aku yang bayar.”
Ia tersenyum padaku. “Kita siap-siap satu jam lagi buat berangkat.”
Aku beruntung menolong orang tadi malam. Ya benar, ternyata semester beresonansi dengan pribadi diri sendiri. Apa yang telah dilakukan akan selalu ada balasannya, meskipun seseorang tidak pernah mengharapkan itu. Aku pun bersiap mengangkut semua barang-barangku ke bawah menuju kendaraan bermotor milik Semara. Karena koperku ini cukup besar untuk dibawa perjalanan jauh, ia menawarkan agar ditinggal dulu di kosan miliknya, sekalgus mengambil helm untuk aku gunakan selama perjalanan. Aku juga tidak mau memberikan sejumlah uang kepada petugas lalu lintas hari ini.
Sawah terasering dan perbukitan menjadi pemandangan menarik bagi orang kota sepertiku. Hampir seluruh hidupku dihabiskan untuk melihat gedung-gedung kapitalis yang berlomba untuk mencapai langit. Belum lagi wajah orang-orang sok sibuk yang berjalan di trotoar dengan headset mereka, tanpa senyum sedikit pun. Angin segar menyerbak ke wajahku dengan bercampurkan embun hujan yang baru saja turun.
Kami tiba di dermaga kawasan Sangsit. Semara menepikan motor di bawah pohon kelapa agar mencari cara bagaimana bisa aku menemukan Erasmus Si Kompeni itu. Sama sekali tidak aku lihat bule di sini, apalagi orang yang sudah tua renta.
“Kamu tahu di mana Kakek Erasmus itu?” tanya Semara.
“Tunggu …” Aku melihat kembali catatan yang diberikan oleh Borneo sebelumnya, Di sana tertera aku harus menuju ke kapal nelayan dengan lambang bulan sabit di bagian sisi kanannya. “Kita harus mencari kapal yang ada lambang bulan sabitnya.”
“Ada banyak kapal di dermaga, kita cek satu-satu”
“Harusnya begitu biar selesai urusannya.”
Kami parkirkan motor di depan warung seseorang, lalu pergi mencari kapal yang dimaksud borneo. Aku lihat kapal-kapal kayu nelayan sedang bersender di tepian. Sebagaimana aktivitas dermaga pada umumnya, kami disuguhi sibuknya para kuli angkut yang mengangkat ikan-ikan ke pengepul. Di tengah sibuknya aktivitas nelayan, kami mengecek satu per satu kapal agar menemukan lambang bulan sabit. Namun, tidak ada ada satu pun yang berlambang seperti itu.
“Bulan sabit, kan?”
“Iya, jangan bulan purnama,” balasku.
“Itu ….”
Semara menunju kapal paling ujung dermaga yang sedang bersender. Melihat sinyal itu, aku segera berlari ke sana. Jarak kapal dan dermaga cukup jauh untuk aku lompati, sehingga aku memanggil-manggil siapa saja yang ada di dalam sana. Tidak ada jawaban, kecuali deru ombak yang bersahutan di bawah.
Beruntung kami menjumpai seorang anak kecil yang sedang membawa pancingan. Aku berkata jika sedang mencari pemilik kapal tersebut. Ia kemudian meminta kami untuk mengikutinya ke sebuah rumah nelayan yang berjarak lima menit dari tepi dermaga. Selayaknya hantu, ia langsung pergi berlari, katanya ingin pergi memancing di tengah hari ini.
“Selamat siang ….” Aku mengetuk pintu rumah.
Tidak lama kami menunggu jawaban, seorang pria paruh baya membukakan pintu dengan bertelanjang dada.
“Iya, ada perlu apa?”
Serama menyenggol tanganku.
“Oh ini Pak, saya rekannya Borneo⸺”
“Dia masih hidup?”
Aku pun heran kenapa ia bertanya seperti itu, seakan Borneo sudah mati.
“Dia masih hidup, dia selamat setelah dibuang sama Kakek Kumbang.”
“Oh begitu, jadi ada perlu apa?” tanya bapak tersebut.
“Kami mencari Kakek Erasmus Kompeni ….”
Ia diam sejenak memerhatikan kami berdua yang sangat asing baginya. “Mohon maaf, ada perlu apa dengan Pak Erasmus?”
“Dia teman kakekku, aku ada perlu.”
“Kakek?”
Aku menggapai tangannya untuk bersalaman. “Perkenalkan saya Reira, cucu dari Kakek Kumbang.”
“Gusti Tuhan, kamu cucunya Pak Kumbang?”
Kepalaku mengangguk tegas. Ia jelas mengenal kakekku secara pribadi.
“Bapak kenal dengan kakekku?
“Ya, saya kenal dengan Pak Kumbang. Dia pernah menolong saya waktu kapal saya karam di laut. Jadinya, kalau setiap dia ke sini, saya jadi senang. Tapi, beberapa tahun ini Pak Kumbang ndak pernah menampakkan diri.”
Sayang sekali, ia tidak bisa dijadikan informan mengenai keberadaan kakekku.
“Bisa antarkan kami ke rumah Kakek Erasmus?”
“Aduh … saya ndak bisa ngantarin kalian. Tapi saya bisa nunjukin rumahnya di mana. Kalian punya hape, kan?”
Aku meminta Serama untuk menunjukkan handphone-nya. Sebagai orang yang sudah tua, ternyata bapak itu masih menggunakan teknologi dengan memanfaatkan fitur share location. Terdapat rekannya yang bekerja di rumah Kakek Erasmus. Alamat itu kami dapati. Kami segera meluncur ke tempat yang dimaksud. Tiga puluh menit perjalanan kami tempuh menuju arah pulang. Ternyata, kawasan rumah Kakek Erasmus sudah kami lewati sebelumnya.
Kami melewati jalan kecil beraspal, kira-kira hanya memuat satu mobil saja. Oleh karena itu, terdapat tanda hanya bisa dilalui satu arah. Kami memasuki jalan dengan tepian kiri berupa persawahan yang masih hijau. Sebelah kanan kami merupakan bukit, tetapi peta hanya mentok di ujung jalan mendaki. Mau tidak mau, aku turun agar Serama bisa mendaki jalan simpang mendaki itu dengan mudah.
Terdapat banyak motor yang terparkir ketika kami berada di atas. Sepertinya tempa ramai dikunjungi oleh orang-orang. Aku selalu kagum jika melihat arsitektur rumah Bali. Begitu banyak relief-relief ukiran berciri khas yang membuat mataku dimanjakan. Sebagaimana pura peribadatan umat Hindu, begitu pila gapur menuju tempat tersebut. Serama tampak melakukan penghormatan di hadapan sebuah pohon yang dilapisi kain kotak-kotak hitam putih. Terdapat pula sesajian yang aku sama sekali tidak mengerti maksudnya apa, yang pasti itu merupakan simbol peribadatan.
“Itu maksudnya apa?” tanyaku.
“Rasa syukur terhadap Tuhan yang menciptakan alam,” balasnya singkat.
“Jika di tempatku, ini akan diamuk ormas,” sindirku.
“Terlalu banyak orang bodoh sekarang ini, Reira.”
Kami memasuki area rumah tersebut. Orang-orang yang melintas menyapa kami dengan baik, padahal kami tidak pernah saling bertemu sebelumnya. Terdengarlah bunyi musik gamelan yang mengiringi anak-anak gadis menari di atas rerumputan hijau. Di antara pohon-pohon, orang-orang duduk sembari melukis sesuatu mengenai alam. Aku tidak melihat tempat ini sebagai rumah, melainkan seperti sanggar seni.
Seampainya kami di depan bangunan utama, kami disambut oleh seorang pemuda berpakaian putih dan sarung warna cokelat. Di kepalanya ia kenakan aksesoris penutup rambut dari kain putih yang tidak aku ketahui namanya. Ia menunduk sembari memberikan hormat tangan sebagaimana orang Bali.
“Selamat datang di Sanggar Bumi Asri. Kalau boleh tahu, ada yang perlu saya bantu ….”
Karena Serama melakukan penghormatan yang sama, aku pun turut mengikutinya.
“Terima kasih udah menyambut kami. Maksud kami ke sini mau bertemu dengan Kakek Erasmus.”
Ia memandang diriku tanpa tersenyum. “Mohon maaf, ada perlu apa dengan Pak Erasmus kalau boleh saya tahu?”
“Sulit buat menjelaskannya, yang pasti saya ini cucu dari rekannya dulu. Kalau boleh, sebut aja nama Kumbang dengan beliau, beliau pasti mengizinkan kami masuk ….”
“Kumbang? Mari ikut saya ….”
Kami mengikutinya dari belakang. Seisi rumah tidak lepas dari karya-karya seni yang menurutku hasil dari anak-anak sanggar. Terdapat berupa ukiran patung, lukisan, serta guci-guci yang bernilai seni tinggi. Pada satu lukisan besar, aku mendapati seorang berwajah kaukasoid yang berdampingan dengan seorang wanita Bali.
Pemuda itu tidak melangkah ke luar teras belakang, ia meminta kami untuk menemui pria tua yang sedang duduk di kursi roda. Kami mendekat perlahan kepada Kakek berkepala pelontos dengan rokok yang masih menyala di atas asbak.
“Namaste,” ucapku seperti salam orang Hindu India. Aku tidak tahu apakah dilakukan di sini dikarenakan perbedaan Hindu Bali dan Hindu India.
Ia memutar kursi rodanya. Aku mendapati seorang pria tua kaokasoid bermata biru dengan hidung mancung seperti paruh burung gagak. Beliau hanya mengenakan singlet dan sarung. Dengan tatapan lemah, ia melihat kepada kami berdua.
“Namaste,” balasnya dengan heran. “Kalian mau mendaftar ke sanggar? Istriku sedang tidak ada di sini.”
Logat beliau masih tersisa seperti orang Eropa, meskipun sudah berpuluh tahun tinggal di negeri ini.
“Bukan, Kakek. Saya mau bertemu dengan Kake sendiri.”
“Untuk apa bertemu dengan saya?” tanya Kakek Erasmus.
“Saya mau bertanya tentang kakek saya, Kumbang.”
Ia diam sejenak, lalu mengambil napas panjang. “Adhi … kita ada tamu. Buatkan mereka minum.”
Tidak lama kemudian, pemuda yang menyambut kami tadi pun datang. Dirinya menyiyakan permintaan Kakek Erasmus untuk menyediakan kami minum. Tidak ada perdiskusian selanjutnya, melainkan Kakek Erasmus meminta kami untuk duduk di kursi yang sudah tersedia. Sementara itu, ia masuk lagi ke dalam rumah dengan dibantu oleh pria bernama Adhi tersebut.
Sepuluh menit kemudian, Adhi tiba dengan dua cangkir teh dan cemilan biskuit sederhana yang ditaruh di atas meja. Kakek Erasmus pun datang, ia sudah mengenakan batik untuk bertemu dengan kami.
“Kami Reira?” tanya Kakek Erasmus.
“Iya, Kakek. Saya Reira ….”
“Kumbang belum hati, itulah yang pertama yang harus aku beritahu ….”
***