
EPISODE 28 (S2)
Menatap harmonisasi pasar dengan teriakan para penjaja yang menarik pembeli, mengingatkanku atas sebuah kata, yaitu kesederhanaan. Kesederhanaan merupakan kata paling mulia dalam strata kehidupan, bukan meliputi limpahan harta dan uang yang menjadi penopang diri menapaki dunia. Ibu-ibu terlihat melangkah bersamaan menenteng tas pandan untuk meletakkan bahan makanan yang dibeli. Walaupun pagi, anak-anak sudah berpeluh kumuh berlarian di setapak pasar yang becek. Satu fenomena yang tak pernah ditemukanpada gedung-gedung liberal berpendingin udara yang dikunjungi oleh orang-orang berpakaian modis. Belum lagi, para preman pasar yang lalu lalang meminta uang jaminan keamanan. Reira malah bukan menantangi mereka untuk berkelahi, ia justru memberi uang lebih agar mereka dapat makan enak siang nanti.
Jujur, aku lahir di sebuah keluarga yang cukup berada. Sebagai orang yang punya segalanya, keluarga kami dihormati di tengah masyarakat. Tidak sedikit pun kami kekurangan materi yang sering dipusingkan oleh deretan rumah sebelahku. Ibu tak pernah memikirkan seberapa biaya yang akan dihabiskan untuk makan hari ini, namun selalu mengenai makanan apa yang akan dihabiskan hari ini oleh kami. Tak pernah pusing, selalu ada di dalam keberadaan.
Namun, Ayah merupakan orang yang keras. Besar di dalam keluarga yang kekurangan membuatnya tak ingin ketiga anaknya hidup terlena oleh materi. Kami persis dibesarkan seperti anak-anak sebaya kami di komplek, yang selalu membawa uang recehan tatkala pergi sekolah, mengayuh sepeda menapaki jalanan berdebu tanpa ada mobil yang menjemput, serta lapar yang dirasakan tatkala puasa jajan selama sebulan untuk membeli handphone baru. Ayah tak pernah leluasa memberikan kami semua fasilitas itu. Dan satu hal yang kami syukuri ialah kami tak pernah iri melihat teman-teman yang memakai mobil ke sekolah, berpamer ke restoran mahal tiap malam, serta kemilau outfit mahal yang mereka kenakan tatkala bermain di luar. Kami tetap berada di garis kesederhanaan itu.
Dari sekelumit kisah yang diberikan oleh keluargaku itu, aku menyadari bahwasanya semua itu berguna ketika kami sudah sama-sama besar. Dari ketidakpunyaan apa-apa―Walaupun kami bisa meminta semuanya pada Ayah―ternyata mendidik kami untuk lebih bersyukur dengan apa yang kami punya. Mereka tahu jika mereka tidak akan selamanya mendampingi kami. Ada kalanya mereka pergi tanpa meninggalkan apa-apa, kecuali secarik surat hutang yang harus Dika lunasi hingga saat ini. Kami tak lagi terkejut ketika kami sadar bahwasanya kami tidak punya apa-apa karena dari dulu kami tak terlalu mengharapkan apa-apa.
Hanya kesederhanaan itu yang mendidik kami untuk tegar hingga saat ini, tanpa merengek kepada kiri-kanan keluarga bahwa kami membutuhkan bantuan. Kaki dan tangan kami sudah kuat berkat lecut rotan seorang Ayah yang mengajari kami untuk terus tidak melakukan kesalahan. Hati kami sudah tegar berkat amarah Ayah yang memaki kami tatkala diri ini takluk oleh dunia.
Aku berdiri di samping Candra sembari melayani ibu-ibu yang membelikan pakaian untuk anaknya. Hari ini lapak kami cukup laku, walaupun tidak sebanyak di hari pertama. Reira berada di luar area lapak untuk mencobakan pakaian itu kepada anak-anak, persis seperti seorang kakak yang memasangkan baju kepada adiknya. Apabila sudah dianggap cocok oleh orangtuanya, barulah giliran kami melipat dan membungkusnya dengan sebuah plastik. Para orangtua pun pulang dengan senang hati dan tak sabar untuk memotret centil anaknya yang memakai pakaian baru.
“Alhamdulillah ... lumayan juga,” ucapku tatkala Reira menyempil di tengah-tengah kami.
“Syukurlah ... enggak sia-sia hari ini.” Ia menarik napas sejenak. Sepertinya ia kehabisan napas mengajaki para ibu-ibu untuk berbincang. “Lihat wajah para orangtua itu, sungguh tulus.”
“Penuh senyuman,” sambung Candra.
“Hei ... lo memahaminya juga, ternyata.” Reira menoleh kepada Candra. “Walaupun baju-baju ini tak semahal baju di mall, namun lihatlah betapa senangnya mereka ketika gue pasangin baju itu ke anaknya.”
“Gue rasa, kalau seminggu penuh kita jualan di sini, pakaian di karung bisa habis semua,” sambungku.
Reira mengangguk. “Gue rasa juga begitu. Tapi, kita harus kembali.”
“Kira-kira Kakek Syarif bakalan datang cepat, enggak?” tanya Candra.
“Entahlah ... Kapal Leon bukanlah kapal besi yang bisa melaju cepat.” Ia menarik tubuh kami untuk mendekatinya. Kami saling berdembetan tanpa jarak. “Sayang sekali kalau kita di sini cuma berjualan. Apa kalian enggak mau liburan?”
“Ini sudah liburan bagi gue, daripada main game di rumah dan jadi kasir di bengkel Dika,” balasku.
“Betul juga. Ini lebih mendingan daripada ngurusin pet shop seharian.” Candra tersenyum pada Reira.
Kadang, aku senang melihat anak berdua ini akur satu sama lain.
“Gue berencana mau kemah sama kalian. Apalagi Razel yang pingin banget kemah,” ucap Reira.
“Ide yang bagus, tapi mau di mana?” tanyaku.
“Kita tanya Pak Milsa. Dia peta-nya gue."
Aku lihat Razel berjalan di ujung pasar sehabis meminta izin untuk buang air besar di tepi laut. Sudah sedari tadi ia menahan panggilan alam dengan berjongkok di bawah lapak. Terpaksa aku menendangnya keluar karena takut tiba-tiba ia bocor di sini. Namun, mataku dibuat bergeser ke sampingnya.
Terdapat sepasang mata yang menarik perhatianku. Tubuhnya sedikit lebih tinggi dari Razel. Tubuhnya molek dibalik pakaian berwarna merah―sebagai orang keturunan Tionghoa, ia lebih suka hal berbau warna merah―lalu berjalan lambat di samping Razel. Terdapat sebuah bawaan sayur mayur yang bisa aku lihat jelas tatkala wanita itu mulai mendekat ke sini.
Reira ternyata melihat hal yang sama.
“Anak itu izinnya buang air besar, eh pulang bawa cewek cantik. Udah pakai parfum belum?” Jemarinya mencolekku.
“Lah, itu Mawar, bukan?” tanya Candra.
“Iya, itu Mawar kayanya deh.”
“Sebagai anak yang suka berdiam diri di rumah, ternyata ia cukup rajin belanja di pasar,” puji Reira.
Razel meloncat tepat di depan lapak sesampainya di sini. Wajah anak itu persis seperti bocah yang baru saja mendapatkan barang kesukaan, lalu ingin menggoda kami untuk memiliki hal yang sama.
“Lihat, siapa yang gue bawa.” Ia melipat tangannya.
“Bukan siapa yang lo bawa, tapi lo enggak ada megang Mawar, kan?” sindirku.
Mawar menoleh pada Razel. “Emangnya dia kenapa?”
Reira sontak mengepal tangan, lalu menutup mulutnya untuk menahan tawa. “Enggak ada. So ... lo ke sini mau mengabdi jadi awak kapal gue, kan?”
“Hey, lo itu memang ceplas-ceplos, ya?” tanya Mawar. “Gue kebetulan di pasar dan melihat Razel habis dari tepian.”
“Nah, kalau mau tahu Razel habis ngapain, tanyain dia kenapa dari tepian. Hahahah,” canda pria ketiting itu.
“Oh, gue paham.” Mawar tersenyum kecil.
“Sialan lo semua .... hahaha,” tawa Razel.
“Lanjut ke topik, trus ngapain lo ke sini?” tanya Reira. “Enggak mungkin mau beli pakaian buat Ana? Tapi boleh sih soalnya banyak yang cocok untuk adik lucu itu.”
“Lo kenapa sih pengen banget gue ikut kalian?” tanya Mawar balik.
“Udah gue bilang, gue butuh orang waras di kapal gue. Lo adalah orang yang tepat.”
Reira menjentikkan jari atas keberhasilan.
“Nah, gitu dong dari tadi. Jangan malu-malu.”
“Ingat ya ... gue ikut bukan karena lo!” Ia melipat tangan. “Ini karena memang gue pingin.”
“Terserah alasan lo apa, gue enggak peduli. Pokoknya mulai sekarang lo gue nobatkan sebagai awak kapal dengan julukan Si Waras.” Ia menunjuk kami satu per satu. “Ini Si Patah Hati, yang keriting ini Si Homo, dan bocah baru boker itu Si Aneh.”
“Sembarangan ngasih julukan orang lo.”
Candra mendorong pundak Reira.
“Hahah ... gue bercanda. Kalian ada teman-teman terbaik gue.” Ia menoleh kembali kepada Mawar. “Jadi, di mana di tanah Belitung ini tempat terbaik buat kemah.”
“Hmm ... di mana, ya?” Jemarinya menyentuh dagu. “Gue rasa di Pantai Tanjung Tinggi. Mungkin kalian lebih mengenalnya dengan Pantai Laskar Pelangi. Ada banyak batu-batu indah di sana.”
Reira mendempetkan kedua telapak tangannya. “Baiklah ... kita ke sana esok hari. Besok kalian gue liburkan.”
“Yeay liburan!!!” teriak Razel dengan semangat.
“IH! Jangan sentuh jualan gue! Tangan lo habis―” Reira menarik pakaian yang disentuh Razel.
“Heheh ... iya maap.” Razel tertawa mendengarnya.
Kegiatan kami lanjutkan hingga tengah siang terlewati. Pasar mulai tampak sepi di jam dua siang, hanya sedikit pedagang yang masih bertahan di dalam pasar. Panas terik menghampiri seakan matahari hanya sejengkal lagi dari atas kepala. Belum lagi perut yang mulai memberontak ingin diisi, berteriak bahwasanya sungguh butuh makanan di dalam sini. Melihat kami yang sudah lemas dan terduduk di bawah lapak tanpa ada satu pun pembeli yang datang, Reira berinisiatif untuk membereskan jualan ke dalam goni. Tanpa diminta, kami membantunya untuk memasukkannya juga.
Reira cukup berjasa berhasil mengambil alih truk kuning itu tak ubah layaknya menjadi milinya sendiri. Jika sebelumnya Pak Cik Milsa membawa balik truk tersebut hingga kembali lagi mengambil barang jualan. Namun, kali ini Reira membawanya sendiri sehingga kami tak perlu menunggu Pak Cik datang ke dermaga. Seperti orang yang sudah lama mengendarai truk, tangan kecil Reira handal memutarkan belakang truk hingga menghadap kami. Dengan mudah kami masukkan empat buah karung pakaian anak-anak ini ke dalam bak belakangnya.
“Ayo masuk ... Ikan panggang kita mungkin udah siap di makan!” teriak Reira dari dalam truk.
“Emang muat?” tanyaku.
"Dimuat-muatin!” teriaknya kembali.
Benar saja, kami harus bersempit-sempitan di muka truk dengan tubuh berkeringatan. Pengap yang kami rasakan sedikit lebih lega tatkala Reira melajukan mobil di jalanan. Tentu saja Reira tidak ingin bersempit-sempitan, ia menendang Razel untuk tetap berdempetean dengan kami. Anak itu memang tidak ingin mengalah, tetapi ia butuh ruang juga untuk mengenarai truk kuning ini.
Reira membawa kami melaju di jalanan lurus. Kesegaran pun di dapati melalui angin-angin yang menyelinap datang dari pepohonan kelapa. Jalanan yang kami lalui mengarah ke Kedai Kopi Mawar. Reira melambatkan kecepatan truk tatkala hampir mendekati depan rumah dan benar-benar menepi di tepi kiri. Aku dan yang lain saling menatap mengenai kenapa ia berhenti di depan Kedai Kopi Mawar.
“Tunggu di sini,” pinta Reira.
Pintu pun tertutup rapat setelah itu. Reira berlari menyeberang jalan hingga sampai ke kedai kopi. Tanpa ragu dan tanpa bimbang, ia malah masuk ke dalam dapur yang seharusnya tidak orang semabarangan yang memasukinya. Sembari menungguya kembali datang, kami pun menyulut tembakau bersama. Tempat duduk sedikit lebih longgar selepas Reira pergi. Razel dengan nyaman memanjangkan kaki dan menyandarkan diri kepada kami.
“Lama-lama, Kak Reira cantik juga gue lihat,” ucap Razel tiba-tiba.
Aku menepuk tepat pada dahinya. “Punya gue itu! Sembarangan ....”
“Yaa siapa juga yang mau nikung lo, Bang!” Ia bangkit dari menyandar ke tubuhku.
Tidak sampai rokok kami habis sebatang, Reira terlihat keluar dari kedai kopi dengan menggandeng tangan Mawar yang bening itu. Ia tiba dengan menepuk pintu truk sebelah kiri.
“Kalian di belakang. Gue enggak sudi Mawar deket sama kalian,” ucap Reira.
“Walah ... kok di belakang sih? Panas tahu!” protes Candra.
“Yaudah, lo pulang naik becak sono!” Reira membuka pintu truk secara paksa.
Mau tidak mau, kami menuruti apa yang diminta wanita itu agar perjalanan kami sedikit lebih aman daripada marahabaya yang akan ia datangkan nantinya. Alhasil, kami bertiga berdiri di bak belakang sembari menyaksikan para pengendara yang lewat. Razel yang tak tahu malu menggoda para gadis yang tak sengaja beriringan jalan. Aku dan Candra tertawa melihatnya yang tak berhasil membuat para gadis itu berbalik menatapnya.
Sesampainya di rumah Zainab, kami disambut mesra oleh Pak Cik yang sedang mengasah parang di gazebo kayu. Denting parang yang beradu dengan batu asahan berkali-kali kami dengar tatkala memindahkan goni-goni itu ke atas teras. Bermainkan sebuah senandung Melayu di bibirnya, kami turut beristirahat di gazebo melihat Pak Cik Milsa mengasah parang. Sementara itu, Reira dan Mawar masuk ke rumah .
“Ayo masuk ke dalam, makan!” teriak Zainab dari jendela.
Pak Cik Milsa memandang kami. “Nah, ayo ke dalam cepat. Pak Cik udah makan sedari tadi. Kalian aja yang belum.”
“Oh, kalau begitu ... kami permisi dulu, Pak Cik,” ucapku sembari berdiri.
Rokok dimatikan di bawah tanah dengan dua kali injakan. Langkah pun diayunkan ke dalam rumah. Terdapat makanan yang menanti untuk disantap di dalam sana. Tatkala kami sampai di dapur, hidangan makanan sudah tersedia di atas tikar pandan. Sesegera mungkin kami mengambil posisi untuk bersantap ria. Layaknya seorang suami yang disambut oleh seorang kekasih, sepiring nasiku diisikan oleh Reira sendiri. Ucapan terima kasihku terucap padanya yang tak memandang.
Satu hal yang membuatku tertarik. Sentuh tangan Candra yang sama-sama memangku piring berdua dengan Zainab. Piring lauk ikan bakar itu tak sanggup diangkut sendirian oleh tangan kecil Zainab, lalu membutuhkan pertolongan yang kebetulan saja Candra yang menyanggupi hal itu. Aku lihat senyum Candra begitu tulus tatkala sesendok nasi Zainab letakkan di atas piring makan Candra.
Mereka saling bertatap, mungkin saja saling merasa karena dari tatapan itulah timbul sebuah rasa. Namun, waktu tak memberikan mereka begitu banyak makna. Reira sialan itu berdehem secepatnya.
“Ayo kita kemah!” seru Reira di tengah-tengah kami. “Kita susun rencana di sini!”
Candra pasti mengutuk di dalam hati karena wanita itu telah mengganggu momen spesialnya.
***