Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 80 (S2)



EPISODE 80 (S2)


Awalnya aku hanya mengira Reira merupakan anak tunggal dari seorang janda sederhana yang tinggal di rumah dengan arsitektur Belanda. Perlahan, barulah aku tahu jika Bu Fany merupakan pemilik dari sebuah cafe terkenal yang terletak di salah satu mall besar. Tentu saja awalnya aku mengira bahwasanya Reira anak biasa, sama sepertiku. Namun, aku salah memandang dirinya seperti itu. Anak itu bergelimpangan harta, tetapi ia tidak menyukai itu. Bukan tidak bersyukur, ia tidak ingin menjadi orang kaya. Jika ia terlahir dari keluarga kaya, maka jalan satu-satunya ialah menjadi terlihat biasa-biasa saja. Takdir tidak akan bisa dirubah. Sudah garis baginya untuk terlahir dari keluarga seperti itu.


Dari jalan pengenal kami itu pula aku tahu bahwasanya ia memiliki saudara perempuan kandung. Aku sempat takjub ketika ia menyebutkan bahwasa kakaknya itu sedang kuliah di Paris, Prancis. Satu hal yang sangat tidak bisa dibayangkan olehku untuk kuliah di sana. Jangankan berharap, terlintas pun tidak dengan segala keterbatasan yang dimiliki keluargaku. Beliau berkuliah di jurusan keuangan, namun memiliki ketertarikan dengan tanaman-tanaman, terutama tanaman langka yang membawanya berpetualang di kaki Bromo saat itu. Namun, ia malah berkarir di dunia busana. Aneh pula bagiku orang-orang yang memiliki pemikiran bercabang seperti itu.


Reina namanya, hampir mirip dengan nama adiknya itu. Mereka hanya berbeda satu huruf dari seluruh penggalan nama. Wajah mereka berdua mirip, selaras dengan kecantikan Bu Fany yang menurun pada mereka berdua.


Awalnya aku mengira jika Kak Reina memiliki sifat yang lemah lembut, manis, anggun, tak ubah layaknya Bu Fany kepadaku. Ternyata, dua bersaudara itu memiliki karakteristik yang sama, bisa jadi Kak Reina lebih frontal kepada lawan bicara.


Aku dan Kak Reina bersama-sama melangkah ke teras belakang untuk menikmati angin malam yang sejuk. Dua piring mie goreng resep rumahan buatannya menjadi teman kami mengisi perut. Tak lupa pula kopi hitam pahit yang ia minta agar aku menyeduhnya sendiri. Aku harap ia akan menyukai kopi seduhanku sendiri.


Kami habiskan sepiring mie masing-masing dengan ditemani oleh suara ayam di kandangnya. Ayam-ayam Reira masih ada yang bangun di jam-jam segini. Lalu, kenyangnya perut ditutup oleh pahitnya kopi yang bergemulat di dalam perut.


Aku menuangkan teko kopi ke cangkir untuk kami masing-masing.


“Reira itu sekarang sibuk banget sama skripsi. Dia paling enggak mau kalau gue ganggu di kamar,” ucap Kak Reina.


Aku menyetujuinya. “Iya, Kak. Soalnya dia kalau ngerjain skripsi, minta gue buat enggak nemuinnya sama sekali.”


Kak Reina mengeluarkan sebuah benda di kantung celannya. Kemudian, Kak Reina membuka ujung benda tersebut dan menuangkan semacam cairan dari sebuah botol kecil. Ternyata, Kak Reina penikmat POD atau semacam rokok elektrik. Ia pun menghisap perlahan, lalu menghembuskannya ke tengah-tengah kami. Wangi harum kue pun menyeruak ke hidungku. Bau berbeda dengan rokok berat yang aku hisap, kontras dengan wangi cengkeh yang menyengat.


“Wah, ngisap POD juga, Kak?” Aku menyentuh botol liquid miliknya.


“Enak juga buat santai-santai, makanya gue beli.” Ia menghisapnya kembali. “Jadi, Reira ketiduran di mana? Gue kira dia pulang mabok.”


“Emang dia pernah pulang mabok begitu?” tanyaku.


Kak Reina menggeleng. “Belum, sih. Kalau dia pergi clubbing, dia enggak pernah minum alkohol. Katanya, gue enggak tahu juga. Mungkin lo enggak tahu sama circle Reira yang lain. Dia banyak berteman sama anak pejabat-pejabat kaya.”


“Reira juga pernah bilang kalau dia anti banget mabok.” Aku mengangguk kemudian.


“Gue enggak heran sih kalau Reira punya teman-teman hedon seperti itu. Tapi, kayanya Reira lebih cenderung berteman dengan orang-orang seperti gue.”


“Kebanyakan teman elitnya dari kalangan SMA Reira. Dia memang enggak terlalu suka, tapi cuma ngehargai aja kalau diajak ngumpul bareng.”


“Oh, soal pertanyaan tadi.” Aku diam sejenak mengenai kejadian Reira yang tiba-tiba menangis. “Reira tadi nangis dan sehabis nangis dia tidur. Kakak tahu Reira sedang ada masalah apa?”


“Sebelum gue menjawab, kalian habis dari mana?” tanya Kak Reina.


“Kami habis ngecoret mobil Nauren. Katanya Nauren teman SMA-nya Reira. Dia mau balas dendam gara-gara ada temannya Reira yang disakitin sama dia.”


Ia menatapku lama, berkedip dua kali. Tidak lama kemudian, ia hembuskan uap POD ke arahku. Asap kami saling beradu menjadi satu.


“Wah, ngeri banget kenalan Reira. Beda sama gue yang kenalannya anak bengkel. Hahahah ....”


“Tapi, itu pula keistimewaan anak itu. Dia menghindari hidup seperti teman-temannya yang seperti itu,” balas Kak Reina. “Soal Reira menangis .... akhir-akhir ini Reira memang banyak pikiran.”


“Banyak pikiran?” Aku keheranan.


“Di antara kami berdua, Reira yang paling khawatir sama keadaan Mama. Reira sekarang juga pusing selain ngerjain skripsi, dia juga yang mengelola cafe Mama. Gue udah yakin pasti dia yang ngelanjutin usaha Mama kalau Mama enggak sanggup ngurusin itu gara-gara kesehatannya. Dan .... yang paling terberat adalah masalah Papa.”


“Reira memang enggak bisa berdamai dengan papanya,” balasku.


Ia menyeruput kopi sejenak, lalu menoleh padaku. “Asal lo tahu, sebenarnya Reira yang paling perhatian sama Papa. Lo kira gue enggak bermasalah dengan Papa? Gue enggak pernah lagi tidur di sana semenjak mereka cerai. Gue minta diasuh sama Mama, walaupun hak asuh kami jatuh sama Papa. Tapi, Reira enggak nolak sama sekali. Dan di antara benci yang kami simpan, mungkin gue yang paling enggak suka dengan Papa.”


“Gue enggak ngerti sama kalian berdua.” Aku diam sejenak. “Gue heran sama kalian yang bermasalah dengan orangtua sendiri, padahal kalian bisa dapat apa saja dari dia. Sedangkan gue, kedua orangtua gue udah enggak ada. Gue enggak bisa seperti kalian, punya rumah besar, ke mana-mana pake mobil, dan lain-lain.”


Ia menjentik dahiku dengan keras. “Kami memang terlahir sebagai orang kaya, tapi tidak untuk menjadi seperti orang kaya. Kakek Kumbang mengajarkan kami untuk terus sederhana. Dan Papa ... memang dia bisa beri kami segalanya, tapi enggak dengan kenyamanan. Lo bayangin aja, Reira tiap hari ngelihat cewek yang enggak dikenal masuk ke rumah, sementara rumah itu adalah rumahnya sendiri.”


“Itu bukan jadi pembenaran kalau kalian tetap membenci Bernardo itu,” balasku.


Ia tertawa kemudian, lalu mengubah posisi duduknya mengarah padaku. “Gue enggak bisa bayangin kalau gue tinggal di sana, dan gue duduk ngangkang di ruang tengah sambil dilihatin sama banyak pembantu. Gue juga enggak kebayang kalau malam-malam gue udah ngeracunin cewek muda yang singgah ke rumah, sementara itu dia enggak ada sama sekali nyapa kami. Padahal, kami itu pemilik rumah. Papa ngebangun rumah buat kami! Masa kecil kami ada di rumah itu!”


Nada Kak Reina terdengar besar. Sepertinya, masalah papa mereka itu sedikit sensitif buat dibahas.


“Oke, sorry kalau gue lancang bilang begitu. Gue berkali-kali bilang sama buat berdamai dengannya.”


“Enggak apa-apa, sih. Gue senang kalau lo perhatian sama Reira. Ya ... begitulah permasalahan kami dengan papa kami sendiri. Seperti yang gue bilang, kenapa Reira masih mau tinggal di sana karena mau ngelihatin papanya sendiri, ada yang ngingatin papanya sendiri, nemanin papanya sendiri. Dia sayang sama papanya, walaupun seiringan dengan benci.”


“Gue harap Reira lepas sama pikiran yang bikin dia sedih.”


“Dua hari yang lalu Reira kelahi sama Papa. Gue tahu kenapa Reira nangis tadi.”


“Kenapa?” tanyaku.


“Gue orangnya jujur-jujur. Gue enggak suka nyembunyiin segala sesuatu yang penting.” Ia menghisap POD yang ia genggam. “Sepertinya Papa enggak menyukai hubungan kalian berdua. Reira berkali-kali nyebutin kalau lo itu orang yang baik saat itu. Kebetulan gue lagi di sana buat ngopi sama tukang kebun.”


“Dia enggak suka gue?”


“Jangan khawatir ....” Ia membelai rambutku. “Kami ini cucu Pak Kumbang. Ombak sebesar apa pun bakalan kami hantam.”


Seketika hatiku terenyuh mendengarnya.


***