Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 109 (S2)



EPISODE 109 (S2)


Malam semakin larut saja. Reira seru sekali aku dengar berbincang dengan Pak Dadang di teras belakang. Mawar tidur setelah menemani Reira makan besar. Terpaksa ia memasak kembali karena Reira sendiri yang meminta. Seperti yang dikatakan oleh Reira, anak itu selalu menuruti apa saja permintaannya. Memasak di tengah malam pun diiyakan oleh Mawar demi melayani Reira. Sementara itu, aku berbaring sembari mendengarkan lagu di atas sofa. Sesekali aku menerima pesan dari Candra yang bertanya-tanya hal apa yang aku lakukan hari ini. Jelas sekali aku ingin membuatnya iri dengan mengatakan bahwasanya aku berenang bersama Reira dan Mawar yang mengenakan bikini. Tentu saja anak itu tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan.


Ya memang, lelaki sejujur itu. Benar yang aku katakan dengannya, tak sedikit pun aku berbohong. Namun, kejujuran terkadang hanya dinilai sebagai candaan. Itu pula yang aku suka dari pertemanan antara lelaki. Ia pun membalas bahwasnya ia tadi bersama Zainab di cafeku. Turut pula Candra mengirimkan foto bersama Reina yang sedang menggantikan Reira di sana. Aku kadang masih tak percaya jika Candra seberani itu untuk menembak Zainab. Hitunganku padanya sama dengan diriku, memendam rasa hingga terkubur sendiri di dalam sunyi. Namun, Candra berhasil keluar dari zona biasanya itu.


Baru saja mataku terpejam dalam tidur yang dangkal, Reira menepuk pipiku dengan keras. Tangan kiri Reira tergenggam sabit, sementara tangan kananya terdapat cangkul. Ia menyodorkannya padaku tanpa tahu maksud dan tujuannya. Segera aku bangkit dengan tatapan lemah, nyawaku belum terkumpul sempurna saat ini.


“Buat apa sabit sama cangkul?” tanyaku dengan heran.


“Apakah menggali harta karun bisa dengan menggunakan pancingan?”


Bukan Reira namanya jika tidak membuat diam lawan bicaranya dengan pertanyaan yang sinis. Mau tidak mau aku menyambut dua benda itu darinya.


“Oke, terserah deh gue mau lo bawa ke mana. Asal nyawa gue masih ada jaminan sampai esok pagi.”


“Ayo, waktu tak pernah menunggu para pemalas.”


Reira menyandang tas ransel militernya. Aku tak tahu apa saja isi di dalamtas tersebut. Sementara itu, aku hanya membawa kotak rokok serta handphone untuk berjag-jaga apabila ada hal buruk terjadi. Keluarlah kami dari villa dengan meminta izin kepada Pak Dadang. Siapa yang tak aneh ketika seseorang membawa sabit dan cangkul di larut malam, Pak Dadang pun bertanya. Aku kira Reira akan berbohong demi menyelamatkan rencana ini. Namun, wanita itu malah berkata jujur bahwasanya kami akan menggali harta karun.


“Pakai ini.” Reira mengeluarkan senter kepala dari tas motif militernya itu.


Tanpa bertanya kembali. Aku memasangnya segera. “Pak Dadang kok enggak curiga kita mau ngapain?”


“Selagi gue enggak bilang kalau sabit ini buat bunuh orang dan cangkulnya buat nguburin, dia bakalan ngelepas gue.”


“Ya ... manusia mana yang enggak aneh kalau ngelihat kita kaya gini di tengah malam.”


Reira bergerak melangkah menuju kiri villa. Ia pun berhenti tepat di tepi pagar yang ada jalan setapaknya.


“Kita lewat jalan ini. Jangan takut, kita bakalan aman,” ucap Reira dengan memimpin jalan.


Gagah berani Reira daripadaku menembus kegelapan dengan jalan kecil ini. Kiri kami merupakan tembok pagar villa, sementara sebelah kanan terdapat pohon lebat dan semak-semak tinggi. Gelap sekali jalan setapak yang kami lalu. Jika tidak menggunakan senter, tentu saja kami tidak mengetahui jika di depan ada sebuah jurang dalam penuh bebatuan. Reira meneruskan perjalananya hingga di ujung tepi tembok belakang villa. Berbelok ia ke kiri dengan hati-hati. Medan yang kami lalui masih berupa jalan setapak dan pepohonan gelap di sebelah kanannya.


“Gue mulai takut, Rei. Sebenarnya kita pengen ke mana, sih?” tanyaku dengan melihat ke sekitar. Aku takut jika ada sepasang mata merah yang menatap kami dari kejauhan.


“Enggak ada perjalanan menggali harta karun seperti nyari baju di mall. Tentu aja ada tantangannya, dong. Gimana, sih!” sindirnya.


“Sumpah ini gelap banget.” Seketika aku mendengar suara yang bergema dari kejauhan. “Apa itu?”


“Suara burung hantu.”


“Burung hantu?” tanyaku dengan cepat.


“Iya ... gue tahu karena peliharaan gue juga burung hantu,” jawab Reira.


Sekitar dua menit kami menelusuri jalan setapak di dalam hutan ini, mulailah kami menempuk medan yang menurun. Reira mengatakan padaku untuk tetap hati-hati karena ada akar-akar pohon yang melintang jalan setapak. Langkah yang kami helat penuh ke hati-hatian. Sedikit saja gegabah, kami bisa tergelincir bersama ke bawah sana yang tak tahu bentuknya seperti apa.


Bulan terang sekali dari bawah sini, tetapi cahayanya tak mampu untuk menembus pepohonan yang lebat. Dari celah pepohonan, aku lihat bukit di seberang semakin dekat saja. Namun, Reira masih belum memberikan sinyal bahwasnya kami mulai mendekati lokasi harta karun yang entah benar adanya itu. Anak itu sesekali membuat jantungku berdebar-debar ketika dirinya berhenti secara tiba-tiba, lalu menyenter ke sela-sela peohonan. Setelah memastikan tidak ada apa-apa, Reira kembali melangkah ke depan. Entahlah, tidak sedikit pun Reira takut kali ini seakan sudah berkali-kali melewati jalan ini di larut malam.


Reira berhenti kembali secara tiba-tiba. Kepalanya menoleh padaku.


“Lo dengar itu?”


Darahku berdesir mendengar pertanyaannya. Aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang ia dengar. Entah hanya dia yang mendengar, aku pun tidak tahu.


“Jangan aneh-aneh, Rei. Kita di tanah yang enggak bertuan.”


Ia memejam mata. Aku tahu karena sedikit cahaya yang terpantul ketika Reira menyenter tubuhnya sendiri.


“Suara alam ... lo sesekali harus merasakannya. Dengarlah suara serangga dan burung-burung. Terkadang ada suara kera yang samar-samar berteriak. Atau suara seringai hantu yang terkadang lo dengar dari telinga batin lo. Cobalah sesekali merasakannya.”


Aku ingat sekali perkataannya ini ketika kami berhenti di anak tangga Gunung Bromo. Ia mengatakan hal yang sama bahwasnaya alam berbicara kepada setiap hati penikmatnya. Dulu, aku sama sekali tidak mengetahui maksud dari suara alam tersebut. Namun, kali ini aku ingin merasakan seperti yang Reira lakukan.


Mataku terpejam sepertinya, lalu memusatkan pikiranku penuh ke dalam hati. Aku coba merasakan apa yang tidak aku rasakan. Kucoba menguak segala hal yang tertutup. Aku pun terkejut. Di dalam kegelapan dan kesunyian ini, seketika setiap terasa jernih sekali. Perlahan aku mendengar suara-suara yang sedari tadi ditutupi oleh rasa takutku. Terdengar begitu jernih dan indah.


“Apa yang lo dengar?” tanya Reira.


Aku masih menutup mata. “Serangga paling dominan, gesekan antar daun, hmm ... gue rasa ini suara primata. Lalu .....”


Telingaku mendengar hal unik dari seluruh gelombang suara yang kudapati.


“Apa itu?”


“Suara air ... gue dengar suara air,” jawabku penuh dengan antusias.


Reira kembali melangkah ke depan. “Benar, di depan kita ada sebuah sungai.”


Seperti berada di ujung goa, aku melihat cahaya bulan terang di seberang sana. Tanah berdaun yang kupijiak, kini berganti dengan batuan kecil ketika kami mulai berada di ujung jalan setapak ini. Aku takjub ketika seluruh pemandangan bisa dilihat dengan jelas.


Terdapat aliran sungai yang penuh dengan batu-batu besar. Reira pun berbalik menatapku.


“Inilah suara alam itu. Lo berhasil mendengarnya,” pungkasnya.


Wanita ini sangat menakjubkan.


***