
EPISODE 85 (S2)
Aku lihat pemandangan di sana, seperti seorang pelaut tangguh yang sudah lama meninggalkan pujaan hati dan bertemu kembali ketika senja menyalak dalam rindu-rindu yang mereka semai bersama. Begitu dalam harmoni yang mereka ciptakan di bawah terik mentari tersebut, terasa sejuk oleh kami yang memandangi. Mungkin memang begitu daya magis cinta yang membolak-balikkan suasana, ternyata tak hanya hati saja yang bisa dibolak-balikkan.
Senyum Candra padam di pelukan tersebut, berganti dengan tatap tak percaya melihat sosok gadis di hadapannya. Bisa jadi inilah satu titik di dalam hidupnya yang tak pernah menyangka, ada seorang gadis menyambut rengkuh peluk erat darinya.
Langkahku pelan ke sana dan berhenti tepat di samping Reira. Ia langsung menggenggam tanganku.
“Cinta tak perlu jarak,” ucap Reira seiring wajahnya menoleh padaku. “Hanya rindu yang membentang jarak itu, bukan ruang. Seperti yang lo bilang.”
Aku mengangguk memahaminya. “Sepertinya lo mulai memahami gue.”
“Gue memahami lo daripada lo memahami diri lo sendiri.”
“Jadi bagaimana bisa? kok bisa di sini, sih .....” Aku menunjuk Zainab yang sedang memberikan bunga kepada Candra.
“Lo tanyakan nanti sama Razel di mobil gue. Dia lagi tidur,” balasnya.
Reira melangkan ke depan menyambut handphone Zainab. Tentu saja mereka ingin berfoto ria bersama. Gaya mereka malu-malu berdekatan satu sama lain. Wajah mereka merah merekah menyembunyikan seluruh rasa yang tengah bercambur saat ini. Aku tidak tahu apakah Zainab merasakan hal yang sama kepada Candra, yang sudah aku pastikan ialah rasa dari Candra kini tengah bertumpah riah. Namun, aku merasa tak percaya ketika tangan Candra melingkar ke pinggul Zainab. Kepala wanita itu pun jatuh ke lengan Candra, persis seperti pasangan kekasih.
Ngeri banget tarikan gas anak ini?
Aku pun mencolek Reira.
“Ini gue enggak salah lihat?”
Reira sontak mendongak padaku. “Mereka pacaran.”
Aku terbatuk sembari membuang puntung rokok ke bawah. Bagaimana bisa kisah pendekatan Candra bisa sesingkat itu tanpa pernah bertemu? Aku masih tidak percaya. Jika aku mengira pelukan tadi pertanda sebagai sesama sahabat, maka aku telah salah. Mereka mengartikan pelukan itu tak hanya sekedar sahabat, namun kini sebagai seorang kekasih. Candra telah menjalin hubungan dengan Zainab tanpa sepengatahuanku.
“Hei ... sejak kapan, *******?” tanyaku frontal kepada Candra.
Keduanya tertawa melihatku yang kebingungan. Tentu saja aku kebingungan dengan berita ini. Sebagai orang yang sangat dekat dengan Candra, anak itu malah tidak memberitahukan berita ini padaku.
“Inilah tepatnya gue ngasih tahu sama lo dan alasan gue ngenyembunyiin hubungan ini,” balas Candra.
Bunyik jepretan foto di handphone yang sedang ada di tangan Reira. Tepat beberapa kali mereka berganti gaya, aku pun kembali bertanya kembali.
“Jadi, kapan kalian jadian.” Aku menutup wajah. “Sumpah ... gue enggak tahu dan gue masih enggak percaya saat ini. Lo juga kan, Mawar?”
Mawar tersenyum. “Gue tahu gara-gara main ke rumah Reira dan di sana ada Candra.”
Aku melangkah ke arah Candra. Bisa-bisanya anak ini tidak memberitahukannya padaku. Tanganku menarik Zainab menghindari dari pria kriting yang sekarang rambutnya sudah pendek. Ia pun seketika merintih sakit ketika aku apit kepalanya di ketiak, ditambah gesesokan kepalan tanganku ke kepala Candra.
“Oh ... jadi gini main lo sekarang, ya?!” Nadaku terdengar bercanda.
Reira masih memegang kamera di sana. Jelas sekali ia mengambil gambar ketika kami sedang bergelut ringan di sini.
“Seminggu yang lalu gue ke Bandung. Modus ngejemput mama gue ke sana. Bukan modus juga, sih ... gue memang jemput Mama di Bandung. Sekalian aja ketemuan Zainab di mall sekalian ngajakin nonton. Hahahah ... dan ...”
Zainab menaikkan alis. “Di sana Candra nembak aku.”
Aku mengangguk curiga. Diam-diam begini ternyata Candra gercep juga mendekati seorang wanita. Jika aku menjadi dirinya, aku tidak akan sanggup mengajak seorang wanita untuk ketemuan dan pergi nonton bioskop. Tapi begitulah, setiap orang punya jalan romantisnya masing-masing.
“Yaudah, deh ... selamat. Gue enggak peduli.” Aku melepaskan tanganku dari kepala Candra. “Sekarang foto kami berdua. Selamat buat lo yang udah proposalan. Doain gue buat nyusul.”
Dengan gaya paling cool yang aku mengerti, aku memasukkan tangan ke dalam saku. Ucapan selamat berkali-kali aku sematkan dalam doa di dalam hati. Ada hal yang membuatku senang hari ini. Pertama, hari berhasilnya Candra menjalani sidang proposal. Kedua ialah hari bahagia Candra menuang rindu kepada kekasihnya di hari yang spesial. Ada banyak pasang mata yang menyaksikan kebahagiaan ini, kecuali Razel yang sedang tertidur pulas di bangku kemudi.
Reira sama sekali tidak menyukai upacara penyambutan mahasiswa yang baru selesai sidang. Baginya, tanda orang yang lulus atau setengah lulus seperti Candra bukanlah bunga dan cokelat yang diberikan setelah seseorang baru saja selesai dari satu tahapan. Kadang, di sinilah letak di mana aku menelusuri labirin pola pikir pelaut wanita itu.
Ia berkata bahwasanya tanda orang yang berkuliah ialah ia mampu berpikir cerdas, tanpa ada tanda formalitas seperti yang biasa dilakukan orang lain. Aku pun sebenarnya tidak menyukai hal-hal yang bersifat formalitas. Formalitas hanya membuat otak menjadi kusut tak bisa berpikir bebas. Terkurung dengan berbagai aturan yang dijalankan hanya untuk memenuhi standar. Namun, aku rasa setiap orang senang diberi bunga dan cokelat. Hanya wanita itu saja yang tidak menyukainya.
Candra senang sekali didatangi oleh orang banyak. Termasuk teman-teman satu fakultas yang memberikan tanda selamat kepada pria itu. Dalam hati kecilku, aku pun berharap seperti dirinya, cepat menyelesaikan tahap awal penelitian. Ya ... begitulah nasib. Aku menyetujui pendapat Reira untuk mengikuti arus hidup yang telah ditakdirkan, walaupun aku tak mempercayai takdir. Bukannya aku tidak mengakui eksistensi Tuhan di dalam takdir. Namun, bagiku semua ini bukanlah takdir. Hanya diriku sendiri yang membuatku menempuh jalan ini.
“Ayo ... kita foto sama-sama,” ucap Reira yang sedang memotret Candra dan Mawar berdua.
Tentu saja Mawar sedikit berjarak ketika berfoto dengan pria berambut keriting itu.
Jelas sudah hijab menawan seorang Zainab telah membuat Candra mengeksekusi wanita itu menjadi kekasih.
“Ayo!” seru Candra.
Kami bersamaan mengambil posisi untuk berfoto bersama-sama. Namun, Reira bertegak pinggang untuk menyalahkan aksi kami.
“Lo tega adik gue enggak ikut foto?” Reira menunjuk mobilnya yang di dalam sana ada Razel nan tengah tertidur.
“Razel lagi molor ... gue enggak mau bangunin dia,” balasku.
Reira mengisyaratkan tangannya untuk kami beranjak dari sana. Kami pun mengikuti langkahnya menuju mobil yang kaca bagian kemudi terbuka. Ia meminta kami berjejer membentuk formasi foto dengan wajah Razel tertidur di sana. Aneh sekali untuk sebuah pose foto, tengah-tengahnya bolong menunjukkan kaca terbuka dengan wajah Razel tertidur pulas di atas bangku kemudi.
“Anak ini kok bisa nyaman banget tidur?” tanya Candra.
“Mawar mereng dikit ... nah pas ... senyumnya manis banget, enggak kaya Candra,” ucap Reira sembari melihat layar kaca kamera handphone. Kemudian, ia melihat Candra yang telah bertanya. “Gue paksa dia enggak tidur gara-gara mengemudi ke Bandung. Liat aja itu matanya kaya panda.”
“Gila! Lo baru aja dari Bandung buat jemput Zainab?” Candra menujuk Razel yang menganga dalam tidurnya. “Ya Tuhan ... Razel udah kaya budak aja.”
Wajah Reira terpasang seakan menantang Candra. Pantang sekali bagi Reira untuk dibegitukan. “Siapa bilang gue ngejadiin Razel budak? Dia sendiri yang nantangin gue buat ngebayar dia jadi asisten gue buat semalam.”
“Dia dibayar?” tanyaku.
“Hmm ... kemarin dia enggak mau gue kasih uang setengah juta buat jadi supir pulang balek enggak pakai tidur. Trus, gue ngerasa terhinalah! Gue telpon langsung pemilik koko-koko Cina langganan gue beli handphone. Denger I-Phone terbaru, Razel langsung ambil kunci mobil gue. Hahaha ....”
“Anda butuh saya konseling ... hahaha .....” Candra tertawa.
“Rei ... gue bilang kemarin jangan ngehamburin uang kalau enggak penting banget,” sanggahku. Anak itu sering sekali mengeluarkan uang besar yang terkadang tidak masuk akal. Aku mengerti jika ia bisa meminta apa saja dengan papanya. Namun, bagiku hal-hal seperti itu sangat tidak masuk akal.
“Dia itu adik gue. Jadi, gue berhak ngasih dia hadiah.” Reira kembali melihat layar handphone sembari mengatur posisi kami. “Nah ... pas. Sekarang siapa yang fotoin coba?”
Kepala Reira tegak melihat seorang bapak-bapak berpakaian rapi. Ia menghampirinya tanpa ragu. “Pak ... tolong fotoin kami, ya. Temen kami baru selesai proposalan.”
Aku, Mawar, dan Candra sontak menutup mulut melihat aksi Reira. Ia tanpa ragu dan tanpa beban meminta pria yang sama sekali tidak dikenalinya.
Sebenarnya bukan masalah kenal dan tidak mengenal.
Masalahnya .....
Pria tersebut ialah Dekan Fakultas Psikologi. Hanya satu orang yang berani melakukan itu, tiada lain dan tiada bukan adalah Reira itu sendiri.
***