Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 98 (S2)



EPISODE 98 (S2)


“Kenapa berhenti?” tanya Mawar.


Satu hela napas terakhir sebelum aku berkeinginan melanjutkan tanganku, masih terpikir mengenai alasan aku melakukan hal ini. Apakah aku telah menjadi lebih baik dan lembut? Atau aku memang dasarnya punya hati yang seperti ini? Aku terkadang merasa menjadi orang yang paling bodoh amat tentang hal-hal seperti ini. Namun, entah kenapa aku yang merasa paling peduli. Aku lanjutkan tanganku menggosok kaki Mawar hingga bersih, hingga akhirnya aku menepuk kuat telungkup kakinya.


“Udah ... berterima kasihlah,” ucapku. Aku berdiri sesaat. “Kalau lo bersihin bagian dalam, bersihin sendiri. Enggak mungkin gue juga yang ngebersihinnya.”


“Iya, makasih banyak ya. Nanti malam kita makan enak.”


Aku ambil kotak rokok yang aku letakkan di atas sumur cincin. “Ucapan terima kasih udah cukup.”


Setelah itu, aku beranjak menelusuri halaman belakang yang ditumbuhi oleh tanaman bahan masakan. Dua buah pohon mangga dan sebuah pohon rambutan rimbun menaungi pondok kecil di bawahnya. Masih terdapat puntung rokok yang bertumpuk di pondok tersebut, beserta sisa-sa makanan ringan yang belum dibersihkan. Perhatianku lebih tertuju ke seberang halaman belakang ini. Terdapat sawah hijau yang berdesir dihembus angin, membawa hatiku untuk segera melangkah ke sana.


Bibirku melepas candu dengan menjepitkan rokok di antaranya. Lalu, menyulutnya perlahan sembari menghindari angin yang lewat. Beberapa kali suara petikan api menyambar kecil ke atas, lalu terciumlah wangi khas tembakau beratku. Dengan hamparan sawah hijau ini, aku helat senja untuk menghormati waktu perenungan. Sehari ini belum ada waktuku untuk merenung di alam bebas. Aku butuh waktu-waktu kesendirian seperti itu dan inilah waktu yang paling tepat.


Hisapan kedua membuatku berpikir. Kenapa aku rela melakukan hal tersebut? Hatiku seakan mengangkat kapas yang ringan tak bertulang, lalu diangkat-angkat ke atas untuk melihatnya melayang. Sangat ringan tanpa beban, tanpa canggung, tanpa ragu. Harusnya aku canggung seperti biasa-biasanya. Namun, tak sedikit pun terbesit di dalam hati kecilku ini. Aku hanya fokus memerhatikan setiap detail kaki Mawar yang menggugah inti sifat pria.


Aku berhenti mengisap rokok, lalu mengambilnya dengan ujung tangan. Ingin aku bertanya kepada padi yang bergoyang itu, apakah aku salah? Hatiku berkata jujur pada semua yang melihat kesendirianku kali ini. Perenungan yang aku helat menimbulkan jawaban di ujung.


Aku menikmati hal tersebut ....


Tubuhku tersetak reflek seketika tatkala Laras tiba membawakan secangkir kopo. Perutku langsung berkemelut. menyadari aku tadi siang baru saja meminum kopi.


“Kang David, ini kopinya atuh.”


“Oh, makasih banget Laras. Mana Kak Mawar?” Aku menyambut kopi darinya.


“Itu lagi ganti celana di dalam,” balasnya. “Saya pamit dulu.”


Satu hal sakral yang aku yakini di dalam hidup ini ialah secangkir kopi yang diberikan oleh orang lain. Filosofi yang aku pegang ialah rasa menghargai pemberian orang lain, tak peduli besaran yang diterima. Kopilah salah satunya yang wajib diterima ketika orang memeberikan padaku. Sembari menyeruput melalui piring kecil setelah aku tuang sedikit kopinya, terlihat Mawar yang tersenyum kepada Laras. Celana basah akibat pekerjaan bodohnya tersebut kini berganti menjadi sarungba batik yang menjulur ke bawah.


Sementara aku duduk di sini dengan merenungi senja, mereka berdua memulai wawancara di atas pondok kecil tersebut. Aku biarkan Mawar dengan nyaman melakukannya agar mendapatkan informasi lebih dalam lagi. Dari sini, aku pun masih bisa mendengar apa yang sedang mereka bincangkan. Mawar pandai sekali melakukan pendalaman jawaban, tidak sepertiku yang sekali tanya dan sekali jawab, lalu berganti pertanyaan selanjutnya. Itu pula nilai mata kuliah wawancaraku tak mendapatkan nilai A, walaupun masih cukup makan atau standar.


Cukup lama Mawar menggelar wawancaranya. Sebagai orang yang profesional, tentu saja aku tidak akan berharap Mawar menyingkat wawancaranya hanya lima belas menit saja. Aku menunggu duduk di sini hingga satu jam. Matahari sudah mulai condong ke barat. Hijaunya padi bercampur jingga senja yang membelai setiap helai daunnya. Burung-burung sudah mulai pulang, begitu pula suara anak-anak yang berlari di pematang sawah sana. Sudah berkali-kali playlist laguku berganti judul, tetapi Mawar masih bertahan dengan percakapan asyiknya di sana.


“Baiklah ... sampai di sini dulu. Terima kasih udah bersedia untuk diwawancarainya. Untuk wawancara selanjutnya, akan dilakukan esok hari.”


Telingaku berdiri ketika Mawar mengatakan hal itu. Sudah waktunya untuk pulang dan berbaring-baring pada empuknya sofa depan televisi. Mawar memanggilku dari sana, aku segera menghampiri mereka.


“Oh, udah selesai?”


Mereka berdua mengangguk. Aku lihat mata Laras yang sembab dan selembar tissue di genggaman tangannya, pertanda bahwasanya sudah terjadi pembicaraan intim di sini. Aku sama sekali tidak mendengar percakapan mengenai hal itu. Bisa jadi berlangsung tatkala aku mendengarkan musik di sana.


“Udah, ayo kita pulang.” Mawar merapikan kertas-kertasnya.


Aku menyerahkan cangkir di tanganku.


“Makasih ya, Laras. Udah mau diwawancarai sama Kak Mawar, udah ngerepotin pula gara-gara dia. Hahah ....”


“Iya, enggak apa-apa, kok. Besok bisa datang lagi.”


Mawar berdiri. Ia menyalami Laras, diikuti olehku selanjutnya.


“Sekali lagi makasih, ya. Kami izin pamit dulu.” Mawar mendunduk.


“Assalamualaikum,” ucapku.


“Walaikumsalah ....”


Matahari turun ke bawah di balik Gunung Salak yang megah. Bayang-bayang gelap pun timbul mulai dari pucuk gunung hingga ke pangkalnya. Teranglah rumah-rumah warga tak ubah layaknya bintang yang berkemilau manja di langit. Bergerak lamban mobil kami menuju ke villa. Tak ingin aku tutup kaca mobil, aku ingin menikmati malam yang sejuk dengan langit terang berembulan. Berbakti mata kami dimanjakan suasana lambat dari gemulai musik yang dimainkan. Bergerak-gerak kepala Mawar ke kiri dan ke kanan, tak menimbang hal konyol yang ia lakukan tadi.


Wanita di sampingku masih dengan sarung pinjaman Laras. Sementara itu, celana kotornya ia simpan di dalam kresek. Aku tidak tahu apa yang ada di otaknya kali ini. Apakah ia masih mengingat hal konyo tadi atau tidak, aku tidak tahu. Yang jelas, Mawar menikmati mobil yang bergerak mengikuti alunan musik dan angin, tenang memanjakan. Sandar tubuh Mwar terlihat nyaman sekali. Sebelah tangannya menyender di kaca mobil.


“Jadi, apakah tadi lancar kaya harapan lo?” tanyaku.


Ia menoleh. “Anaknya asyik. Mudah diajak berbicara. Gue rasa pintar, buktinya dia banyak wawasan dan sangat condong meneritakan minatnya menjahit.”


“Gue lihat matanya sembab. Laras nangis, ya?”


“Itu waktu gue tanya bagaimana perasaan Laras ketika memberitahukan kepada orangtuanya kalau dia hamil akibat pemerkosaan oleh pamannya sendiri. Ia terpaksa dipindahkan ke desa itu agar mengalihkan isu. Rumah itu bukan rumah orangtuanya, melainkan bibi sebelah ibu.”


“Masyarakat tahu kalau dia punya anak dari kecelakaan?” tanyaku.


“Hanya Kepala Desa dan beberapa saudaranya aja. Untung aja Laras itu berwajah dewasa, dan tubuh yang gempal selepas hamil. Jadi, mereka terpaksa membuat kabar kalau Laras diceraikan sebelum ia hamil. Tuhan selalu punya cara untuk menyembunyikan aib hambanya. Tak ada warga yang curiga.”


“Oh, begitu. Sayang banget akibat itu, Laras terpaksa enggak sekolah buat setahun. Gue rasa dia sedang kelas 3 SMA sekarang.”


“Iya, tahun depan ia bakal pindah lagi ke Jakarta di tempat orangtuanya. Semuanya akan berjalan lancar, menurutnya. Gue harap juga begitu.


“Lalu, gimana nasib pamannya yang bejat itu?” tanyaku.


Mawar diam sesaat. Ia menghela napas.


“Mati ketika di masa melarikan diri. Ditemukan gantung diri di Surabaya."


Nadanya yang rendah membuatku merinding.


***