Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 111 (S2)



EPISODE 111 (S2)


Entah iya atau tidak mengenai donat berumur belasan tahun itu. Jikalau itu benar, manusia mana kira-kira yang akan menyimpan donat dengan selama itu. Meskipun aku kurang mempercayainya, tak bisa dipungkiri lagi terkadang perkataan dari wanita itu benar adanya. Hatiku hanya menyiapkan bagaiman respon yang tepat ketika aku benar-benar melihat benda yang ia maksud.


Kini kotak yang lumayang besar itu sudah ada di hadapan kami. Kotak persegi itu lapuk ternyata masih kokoh, walaupun tampak usang dan menghitam di bagian permukaannya. Aku yakin kayu kotak ini terbuat dari kayu yang bagus. Tidak tahu pula diriku mengenai durasi kotak harta karun ini telah terkubur. Jika perkataan Reira benar bahwasanya harta karun ini telah terkubur belasan tahun, ini sebuah keajaiban. Kotak ini masih ada hingga sekarang dengan bentuk rupa yang sedikit berubah warnanya.


Terdapat gembok yang mengunci harta karun di hadapan kami. Reira mencoba kunci-kunci yang ia miliki, tetapi tidak ada satu pun yang dapat membukanya. Bertegak pingganglah Reira di hadapanku sembari membuka tas ransel motif militernya. Ia mengeluarkan palu dan pahatan yang sudah bisa aku tebak untuk membuka gembok itu.


“Ini tugas gue lagi?” tanyaku.


“Tangan gue terlalu bersih buat ngelakuin hal kotor seperti ini.”


Mendengar ucapan itu, aku langsung berdiri untuk menyambut barang darinya.


“Lalu, sabit itu buat apa?” tanyaku kembali.


“Berjaga-jaga kalau jalur ke sini semaknya udah nutupin jalan. Sumpah udah bertahun-tahun gue enggak ke sini.”


“Yaudah ... biar gue buka gemboknya.”


Aku posisikan dengan tepat mata pahatan tersebut ke gembok yang sudah berkarat itu. Jika dilihat dari gembok itu, keadaannya sudah rapuh dengan karat yang merusaknya. Beberapa kali pukulan kuat akhirnya melepaskan besi yang mengunci kotak tersebut. Aku campakkan dua benda di tanganku itu kepada Reira. Namun, Reira malah menggeser paksaku dari hadapan kotak harta karun ini.


“Setiap harta karun yang ditemukan adalah hak milik kapten sepenuhnya.” Ia mengelus permukaan atas kotak tersebut. “Sekarang lo minggir.”


“Ini gue udah minggir gara-gara lo dorong!” kesalku. Aku berpindah ke seberangnya.


Berhadap-hadapan aku dengan Reira sembari menaruh penasaran terhadap harta karun di dalam ini. Reira membukanya perlahan. Bibirnya melingkar senyum, sesekali melihat padaku seakan tak ingin aku mencurinya.


“Bertahun-tahun benda ini terkubur, tapi dalamnya masih awet!” seru Reira. Ia mengangkat sesuatu seperti balutan kain. Ternyata, benda harta karun yang ia sebutkan telah dibalut dengan selembar kain agar tidak rusak.


“Apa di dalamnya?” Aku mendekat.


“Dua benda berharga dan satu benda bodoh.”


Ia membuka ikatan kain tersebut, tetapi tidak langsung menunjukkan padaku apa yang ada di dalamnya.


“Cepetanlah! Gue penasaran, nih!” paksaku.


Terlalu banyak basa-basi wanita ini. Aku langsung membuka paksa kain tersebut. Terlihatlah tiga benda usang yang sedari tadi ia rahasiakan dariku. Terdapat sebuah dokumen pasport dan sebuah arloji liontin bertali rantai warna emas. Aku heran melihat benda yang satu lagi. Ada kotak makanan berwarna putih.


“Ini bendanya?” Aku mendongak kepada Reira.


Reira mengangguk. “Iya, ini pasport Kakek Kumbang dan ini arloji liontin yang paling berharga sedunia.”


Tangannya membuka liontin tersebut. Tersimpan foto kecil hitam putih yang menunjukkan wajah seorang wanita muda. Dielusnya dengan lembut foto hitam putih itu sembari menutup mata, seakan ada yang sedang ia rasakan dari sentuhan tersebut.


“Ceritakan sejarahnya,” pintaku.


“Sebelum kita cerita panjang lebar ....” Ia menarik tas ranselnya. “Kita ngopi dulu, ya ... hahaha ....”


Kami saling melempar senyum. Pandai sekali Reira menciptakan momen yang tepat untuk berbincang. Di bawah cahaya rembulan terang ini, berbunyi kompor kecil khas anak pendaki gunung. Duduk kami berdua di atas batu yang paling besar di sini, saling memberatkan tubuh ke tubuh lainnya. Menggelegak air panas seduhan sebagai penetes kopi dari alat yang Reira bawa.


Tangan Reira yang lentik terlihat sangat estetik ketika memutar cattle air panas ke corong V60. Meneteslah titik kopi racikannya yang nanti akan kami seruput berdua. Pantas saja tas itu besar, terdapat mie kemasan gelas dan beberapa makanan ringan untuk dinikmati bersama.


Hangat perut kami berdua dan kenyang di kegelapan malam. Tembakau aku sulut di ujung pemantik api, bersatu wangi cengkeh dan aroma kopi yang khas. Renyahnya kunyahan kripik dari Reira menambah syahdu malam ini. Kami saling berhadap-hadapan sembari menikmati malam dengan melodi musik beralunan lambat. Di tengah-tengah kami sudah tergeletak tiga benda berharga yang ia maksud. Rasa penasaranku tidak terbendung lagi, ingin segera aku tahu mengenai sejarah benda-benda ini.


“Jadi, ceritakan apa sebenarnya benda-benda ini?” Aku menghembus asap tembakau melawan arah posisi duduk Reira.


Ia menghela napas panjang, seakan berusaha mengilas balik ingatan masa lalu. “Pasport ini milik Kakek Kumbang, begitu pula dengan arloji liontin ini. Foto hitam putih di dalam sana adalah nenek gue yang sama sekali belum pernah gue temui. Beliau meninggal sewaktu melahirkan Mama.”


Arloji liontin itu lebih menarik perhatianku. Aku ambil liontin tersebut dan memerhatikan isi dalamnya. Terlihat antik sekali, aku rasa memiliki nilai jual yang tinggi di zaman sekarang. Jarang sekali orang memiliki benda seperti ini. Aku pun baru pertama kali melihar arloji liontin. Biasanya hanya melihatnya di adegan film yang mengambil latar zaman klasik.


“Terlihat masih sangat muda. Pipi kalian kayanya sama, tirus. Tapi, nenek lo lebih sipit daripada kalian bertiga.” Aku mengelis permukaan foto itu.


Reira mengangguk. “Nenek gue keturunan Tionghoa. Buyut lelaki gue warga asli Singapura, merantau ke daerah Kepulauan Riau. Di sana mereka bertemu.”


“Sepertinya kakek lo tertarik sama cewek sipit. Kakek Syarif juga pernah bilang kalau dia pernah jatuh cinta sama gadis Tionghoa hingga dia sendiri belajar Bahasa Mandarin.”


“Bisa jadi. Alhasil, kami bertiga bermata sipit, tapi enggak sesipit Mawar. Mawar kalau senyum sama sekali enggak kelihatan matanya.”


“Gila banget kalian nguburin benda penting seperti ini.” Aku menarik kotak makanan tersebut. Aku pun mencoba membukanya. Menyeruak bau busuk sekali dari makanan bulat yang tak lagi berbentuk. Sontak aku menyampakkannya ke depan. “Apa ini?!”


“Anjir, udah enggak berbentuk lagi. Buang aja, ga guna juga.”


Reira meyampakkannya jauh-jauh ke semak di belakang kami. Aku rasanya ingin muntah mencium makanan yang sudah basi bertahun-tahun itu.


“Bagaiman bisa lo juga ikut nguburin donat kaya gitu?”


“Hahah ... jadi gini ... waktu kami ke sini, gue dan Reina bawa tiga buah donat buat disantap di tepi sungai. Jadi, kami dapat jatah satu per orang. Nah, tinggal yang satu itu, kami pun berebut donat itu. Akhirnya, kami putuskan buat nguburin donat itu juga sama kotaknya sekalian. Parah, kan?”


Aku menggeleng. “Parah banget, sih! Apa enggak dibuang aja gitu ke sungai atau dibuang aja, kek.”


“Demokrasi, Kawan. Suara kami bulat buat nguburin donat itu.”


“Jadi, apa alasan kalian nguburin dua benda penting ini?” tanyaku.


Wajahnya padam dari senyum. Tangannya merebut arloji liontin itu dariku, lalu melihat wajah neneknya yang tersenyum di sebuah foto hitam putih.


“Kami tahu Kakek bakalan pergi berlayar. Padahal, gue dan Reina pingin dia ikut di acara ulang tahun Papa yang dirayain di rumah. Menurut kami, cara biar Kakek enggak pergi atau menunda jadwal perginya yaitu dengan nguburin pasport pentingnya ini. Tapi, Reina yang enggak punya otak itu malah minta sekalian arloji liontin karena ada foto Nenek. Tapi, ternyata rencana kami enggak seperti yang diharapkan. Kakek tetap pergi.”


Teringat olehku bagaimana perilaku papa mereka yang tidak terpuji tersebut. Mereka pada saat itu sama sekali belum mengetahuinya karena Kakek Kumbang sendiri yang merahasiakan dari mereka. Aku yakin alasan itu pula yang membuat Reira dan Kak Reina ingin sekali Kakek Kumbang ikut di acara ulang tahun Pak Bernardo.


“Gue denger dari Pak Dadang kalau―” Reira tiba-tiba menyela kalimatku.


“Gue tahu semuanya, Pak Dadang jujur setelah kami beranjak dewasa. Dulu, kami cuma tahu kalau Papa ingin nikah lagi. Tapi, ternyata perilaku Papa lebih dari itu. Padahal, sebelum Papa dan Mama cerai, semuanya berjalan baik-baik aja. Kami ngumpul dengan bahagia, makan bareng, bahkan sama Kakek juga. Ternyata, Papa udah sejak lama main di belakang.”


“Sorry, gue ngebuat lo jadi ingat itu lagi,” balasku.


Reira menggeleng. “Enggak apa, sih. Udah lama juga, kan? Seperti yang lo bilang, cinta dan nafsu itu beda. Gue sepertinya sadar, Papa masih cinta sama Mama hingga saat ini. Kemarin sebelum dia pergi, Papa nangis-nangis gara keadaan Mama yang makin buruk. Dia meluk gue kaya gue meluk elo. Enggak mungkin Papa kaya gitu kalau bukan karena masih cinta. Tapi, terkadang cinta itu enggak bikin dia sadar dengan nafsu. Buktinya, di kala Papa cinta sama Mama, Papa masih main di belakang sama perempuan lain.”


“Gue juga ngira begitu, kan? Papa lo masih cinta sama Mama lo. Kali aja karena dia ngerasa bersalah karena masa lalu mereka dan itu pula yang enggak bisa bikin mereka rujuk lagi.”


“Iya kayanya, sih.” Reira meletakkan kembali arloji liontin itu di atas permukaan batu. “Tapi walaupun begitu, gue masih enggak setuju kalau Papa rujuk sama Mama. Gue enggak peduli seberapa pun Papa masih cinta, gue masih kesal dengan perilaku Papa yang diceritakan sama Pak Dadang langsung. Pak Dadang tahu semuanya karena bisa dibilang kaya bodyguard-nya gitu, ke mana-mana pasti sama dia. Akal papa itu hilang sama hawa nafsunya sendiri. Gue yakin Pilkada ke depan, Papa nyalonin jadi gubernur.”


Sontak telingaku berdiri mendengar hal tersebut. “Apa? Gue enggak salah dengar?”


“Iya, nama Papa kan udah gede. Dua kali berturut-turut jadi anggota dewan, punya pengaruh sana-sini. Dan beberapa waktu yang lalu, orang partai datang ke rumah, termasuk Ketua Umum partainya sekarang. Mereka ngebicarain Pilakada ke depan. Padahal, Ketum-nya itu sering gue demo, parahnya lagi gue yang orasi.”


“Gue enggak kebayang muka lo waktu ketemu sama dia langsung,” candaku.


Reria tertawa keras mendengarnya. “Hahah ... ya gue langsung sindir dong kenapa bisa partai mereka punya kasus korupsi tertinggi. Gue enggak peduli orangnya mau siapa, Ketua DPR aja gue ajak debat.”


Sekali lagi terkadang aku tidak menyangka memiliki orang terdekat yang memiliki relasi dengan orang penting seperti itu. Aku kira aku akan tetap berteman dengan orang bengkel, partai malam pos ronda, terkadang musuhan sama anak komplek sebelah gara-gara main futsal antar komplek.


“Gimana sih perasaan lo bisa kenal sama orang-orang kaya gitu? Setidaknya mereka tahu kalau seorang Reira adalah anak Pak Bernardo,” pancingku.


Ia diam sejenak memikirkannya. Kepalanya mengadah ke atas untuk melihat bulan.


“Biasa aja, sih. Mereka itu sama kaya kalian, sama-sama makan nasi dan boker kalau lagi kebelet. Kebetulan aja punya jabatan. Tapi, seperti yang pernah gue bilang, gue lebih suka terlahir sebagai anak petani di kampung daripada punya orangtua yang punya segalanya.”


“Kalau gue, gue tetap memilih jadi anak orang kaya tapi memilih hidup jadi sederhana,” sanggahku.


“Sesederhana diri lo, lo enggak bakalan dibiarin buat berjuang dari nol. Lo lihat aja, kenapa seorang jendral anaknya bisa jadi jendral. Bapaknya gubernur, anaknya bisa mudah jadi wali kota atau bupati. Lah, anak petani harus berjuang dari nol buat jadi jendral. Anak tukang pecel lele harus berjuang mati-matian biar dia jadi orang besar.”


Aku mengangguk memahaminya. “Terkadang hidup itu enggak adil. Berarti lo milih hidup di ketidakadilan itu sendiri?”


“Iya benar, gue lebih suka berusaha dari nol.” Ia berbaring di pahaku. Matanya tertutu setelah menguap besar karena kantuk yang menyerang. “Jangan tidur, gue mau terus di paha lo.”


Paksaannya terdengar begitu berat. Ia tega membiarkan aku tidak tidur demi dirinya yang ingin berbaring di pangkuanku. Terpejamlah dengan manja mata Reira di hadapan mataku yang terkantuk. Tak ia biarkan tanganku lepas dari genggaman, ia tempelkan di dekap dadanya yang hangat. Romantisme ini berlalu di dinginnya malam yang panjang. Dengan mata yang terbuka setengah, aku mengelus rambutnya sebagai pembawa tidur.


“Coba lo tebak Kakek ke mana setelah kami kubur barang-barang pentingnya?” Tiba-tiba Reira berbicara.


“Akhir dari perjalananya?” tebakku.


“Iya benar, kami enggak ketemu Kakek selama-lamanya.”


Benda-benda ini penuh dengan kenangan.


***