Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 146 (S2)



EPISODE 146 (S2)


Mataku menadah ke langit malam Kota Pekanbaru yang terang. Bertaburan seperti biasanya bintang gemintang pada posisi yang sama dengan malam lalu. Mereka berkedip menggodaku untuk memetiknya, lalu aku telan bulat-bulat. Aku harap bintang itu rasa leci, manis, tetapi sedikit asam. Atau ia manis seperti taburan cokelat di atas sebuah donat, aku tidak tahu. Hanya orang gila yang berpikiran benda langit itu terbuat dari bahan yang sama seperti makanan. Tak ubah layaknya Reira yang menganggap bulan terbuat dari keju.


Aku beritahu kepada kalian. Terdapat cara terbaik untuk melihat masa lalu. Sangat kelas dan nyata, bahkan dengan mata telanjang kita sendiri. Masa lalu yang tampak bukanlah masa lalu biasa, tetapi mungkin ada di jutaan tahun yang lalu. Aku tak berbohong, pandanglah bintang itu, lalu kalian akan melihat bagaimana proses pancaran cahaya yang terjadi semenjak jutaan tahun yang lalu. Langit menyimpan misteri itu semua, bagaimana alam raya ini tercipta.


Kali ini aku akan bercerita agar kalian tidak menganggapku sebagai orang gila. Pernahkah kalian mendengar berapa kecepatan cahaya? Dari salah sumber―semoga aku tidak salah―sedetik kecepatan cahaya sebanding dengan jarak tiga ribu kilometer. Sangat cepat sekali hingga mata sendiri tak akan bisa melihat bagaiman pergerakan gelombang cahaya itu. Butuh alat khusus mungkin.


Jika kalian berdiri di atas api emas monas itu, lalu peganglah sebuah senter bertenaga kuat yang bisa sampai jauh ke sebuah gedung cahayanya. Temanmu akan berdiri di gedung tersebut untuk menyambut cahaya senter yang kau pancarkan. Ia akan menghitung detik dari kau memencet tombol senter hingga cahaya itu sampai menyentuh dirinya. Maka misalnya ia mendapatkan 0,005 detik, maka kalikan saja dengan 3000. Kalian akan mendapatkan jarak dari ujung monas ke gedung itu sejauh 15 km.


Dari sini kita dapat simpulkan bahwasanya cahaya yang timbul adalah cahaya yang datang semenjak 0,005 detik yang lalu. Itu merupakan sebuah realitas yang datang dari masa lalu, menyentuh tubuh temanmu di gedung seberang. Dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa jaraknya adalah 0,005 detik cahaya.


Dari analogi sederhana ini, kalian harus tahu ada sangat banyak bintang dengan jarak jutaan tahun dari bumi. Jika kita mengambil contoh sebuah bintang dengan jarak 1 juta tahun, maka bisa kita ambil kesimpulan bahwasanya cahaya bintang itu butuh waktu 1 juta tahun hingga sampai ke pelupuk matamu. Cahaya itu terus menembakkan gelombang cahaya tanpa berhenti, seperti aliran sungai yang tak pernah padam. Ada sebuah realitas dari jutaan tahun lalu yang baru saja sampai ke matamu.


Sangat menakjubkan alam raya ini, menyimpan misteri jutaan tahun yang lalu dan bisa kita lihat hingga sekarang. Kini aku paham bagaimana ilmuan sains menghitung jarak matahari dan bumi, yaitu dengan cara menghitung seberapa lama cahaya matahari bisa sampai ke bumi, lalu dikalikan dengan rumus kecepatan cahaya. Sesederhana itu, tetapi butuh ribuan tahun bagi manusia untuk memecahkan masalah itu.


Aku menghela napas tatkala Mawar menceritakan itu semua. Ia cerdas seperti biasanya, menarik ketika matanya memicing senang kepadaku. Kami berdua tidak hobi makan, sepiring kecil saja sudah membuat kami kenyang. Oleh karena itu, kami meninggalkan Reira, Candra, Razel, dan Bang Syamsul yang masih makan bertambuh di rumah makan Minang sederhana, masih di kawasan perkumpulan mobil truk tronton ini. Setelah itu, kami duduk di bagian depan rumah makan untuk menghirup udara malam yang dingin.


“Gue baru tahu kalau bintang di atas sana adalah bentuk bintang jutaan tahun yang lalu, kebetulan cahayanya baru sampai ke mata kita sekarang.”


Mawar tersenyum. Lepas cahaya wajahnya itu padaku, bernaung lampu kuning kecil di atas. “Iya, jika detik ini sebuah bintang meledak jadi supernova, lo bakalan ngelihat ledakan itu dengan teleskop jutaan tahun lagi. Menakjubkan sekali sains itu ....”


“Iya, menakjubkan ilmu pengetahuan alam. Tapi, gue lebih suka ilmu sosial.”


“Hahah ... lo kan orangnya sosialis. Gue sedikit liberal orangnya,” jawab Mawar.


Hembusan asap tembakau menjauh dihembus oleh angin. Mengawang di udara yang gelap tanpa penerangan.


“Perbedaan itu penting, biar jadi tempat tukar pikiran. Beda sama yang sering teriak-teriak komunis, teriak khilafah, teriak antek mamarika. Hahah ...”


Kalimatku berhasil menimbulkan tawa kecil darinya. “Hahaha ... tahu enggak, kalau dijaman orba ... orang kaya lo dan Reira udah ada di dalam karung tepi jalan.”


“Iya, sekarang pun sama, tapi dengan cara yang beda. Bukan menghilangkan nyawa, tapi harga diri. Itu lebih pedih karena diri bisa melihat harga dirinya jatuh ke bawah.” Aku menoleh ke depan, melihat truk yang baru saja tiba. “Lo yakin perjalanan ini bakalan seru?”


Mawar mengangguk padaku. Tak terselipkan ekspresi ragu dalam dirinya. “Kita enggak bakalan diajak Reira kalau perjalanan ini membosankan. Selain itu, sebenarnya kita semua udah yakin buat pergi karena pengorbanannya besar. Kaya lo bakal ninggalin proposal, Candra nunda ngerjain skripsi, gue revisi, kayanya Razel aja deh yang happy-happy aja.”


“Gue udah janji bakalan ikut dia ke mana pun petualangan yang bakal Reira jalani. Sumpah seorang awak kapal. Mungkin kedengaran konyol, tapi percayalah jangan anggap remeh kalimat konyol dari anak itu.”


“Lo bisa bayangin, lo bakalan ngapain aja kalau enggak kenal kami?” tanyaku.


Jemarinya menyentuh dagu untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan.


“Hmm ... mungkin gue saban hari di kamar buat baca buku dan minum kopi. Sorenya gue main sama kelinci, malamnya tidur, paginya ngampus, gitu aja setiap hari. Oh, iya ada satu ... nolakin cowok yang ngajak chatting.”


“Hahah ... yang terakhir kedengaran nyombong, ya?”


“Kalau lo, lo bakalan ngapain aja jikalau kemarin enggak kenal sama Reira?” tanya balik Mawar.


Pertanyaan itu bagai boomerang bagi diriku.


“Hmm ... gue pastikan gue ngabisin waktu dengan kopi dan rokok, menulis puisi atau novel barangkali, jadi tambal ban di bengkel Dika. Membosankan memang ... enggak ada spesialnya. Sama dengan Candra, dia bakal ngabisin waktu jadi penjaga pet shop. Kadang, dia kabur ke rumah gue gara-gara bosan.”


“Kalau bisa dibilang, Reira itu kaya kuas lukis dan kita kanvasnya.”


“Gue menolak, masing-masing dari kita bakalan jadi kuas lukis dan kanvas dalam waktu bersamaan.”


Mawar tersenyum kecut. “Ingin berdebat?”


“Boleh―”


Suara panggilan Reira menyemak dari pintu rumah makan. Ia bercerita seru dengan Bang Syamsul. Tampak Reira menepuk-nepuk perutnya yang kenyang sekali karena makan bertambuh. Pantas saja tubuhnya melebar, tak seperti dirinya yang pertama kali bertemu. Berbeda denganku yang tetap kurus kering, kulit pembalut tulang.


“Sumpah cincang dagingnya maknyus banget kaya dimasak sama Gusret Gokce.”


“Kaya pernah aja makan di restoran Salt Bae.”


Ia menarik batang leherku dan diapitnya tepat di telinga. “Hey, gue di Paris makan di sana. Yang cuma makan di warteg, jangan sok keras.”


“Dasar sombong!”


Aku balikkan aksi itu kepada dirinya hingga Reira merintih untuk dilepaskan. Semua orang akan bertanya-tanya tentang kami, apa beneran mereka pacaran?


***