Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 22 (S2)



EPISODE 22 (S2)


Tatap indah aroma asmara tercium jelas dari wajah kusut pria berambut keriting itu. Matanya sedikit berkedut menatap tanah cokelat, sembari memetik cabai tanpa melihat. Oh begini orang yang sedang jatuh cinta .... Bukankah aku pernah juga melaluinya berkali-kali? Semenjak cinta pertama di sekolah dasar kepada seorang gadis kecil yang menjadi akar di mana aku mengenal asmara. Proses menjadi inti pergerakan cinta, dari mulai tatap mata yang pertama kali, lalu merekah menjadi tunas-tunas baru yang menyentuh hati. Tunas-tunas itu akan tumbuh menjadi pohon yang aku sebut sebagai pohon cinta. Tatkala dekat, kita bisa memetik buahnya yang manis seperti gaduh senyum wanita impian di tengah lamunan. Tatkala jauh, buah itu jatuh berdentum yang membuat hati semakin gaduh, itulah yang aku sebut sebagai rindu.


Aku pun menghela napas. Selama ini aku mengenalnya luar dalam dan bahkan tahu aktifitasnya rutinnya di kamar mandi, baru kali ini ia bercerita tentang risalah hati. Aku rasa inilah gunanya pertemanan, tempat mencurahkan cerita yang tak akan dibagi kepada setiap orang. Cerita yang sangat rahasia, hanya hati dan Tuhan saja yang boleh tahu. Namun, sebagai manusia yang bisa saja merasakan sepi, perlulah seseorang untuk berbagi cerita. Salah satunya ialah dengan seorang teman. Selama ini hanya aku yang menjadikan Candra sebagai tong sampah masalah tanpa pernah bosan, kali ini aku yang bergantian.


Candra ragu melihatku. Langkahnya tetap berjalan ke depan sembari memetik cabai dan meletakkannya ke sebuah baskom yang ia peluk. Sesekali ia menatap kepada bapak tua berkumis tipis yang sedang memakai baju partai. Palung hatinya pasti sedang berteriak, terimalah aku sebagai menantu! Tidak mungkin ia ucap dengan keras apabila tidak ingin kami segera diusir dari rumahnya tersebut.


“Lo suka sama Zainab?” tanyaku pelan.


“Menurut lo?” tanya Candra balik.


“Santai, dong. Apa benar orang yang sedang jatuh cinta sesensitif ini?” tanyaku menyindir.


“Gue malu kalau lo nyebut nama dia. Iya benar, gue suka sama Zainab.”


“Pak Cik ... ade yang ingin jadi menantu Pak Cik,” candaku seakan benar-benar berteriak.


Candra menggaruk kedua kepalanya. “Ah ... jangan bercanda, dong. Kalau Pak Cik tahu bagaimana?”


“Urusan lo, bukan urusan gue.”


Tatap wajahnya langsung terlihat datar. “Itu tidak membantu sama sekali, Dave.”


“Mampus lo kalau cerita ini tahu sama Reira. Lo bakalan diejek seumur hidup lo sama dia.”


Candra menunjukkan ekspresi ngeri. “Gue tahu orang yang pertama kali gue cemplungin ke laut, kalau bukan lo siapa lagi! Jangan sampai tahu dia, dong. Anak itu enggak punya mulut yang bisa direm!”


Aku membantunya memetik cabai. Kami sampai pada ujung barus tanaman, lalu bergeser ke barisan selanjutnya.


“Kalau mau dekatin cewek, jangan pakai cara mainstream.”


“Gue mendengar ini kaya lo udah berpengalaman aja, ya?!” sindirnya.


Aku tertawa sejenak. Benar juga apa yang dikatakan oleh Candra. Aku bukanlah orang yang tepat


“Memang begitu, bukannnya gue sok berpengalaman. Kita ini tipenya sama, enggak terlalu suka basa-basi. Kaya nge-chat cewek, atau ngajakin dia makan seblak.”


“Trus, gue harus ngapain?” tanya Candra. Nadanya terdengar serius.


Aku menyentuh pundaknya. “Sentuh hatinya, Kawan.”


“Sangat tidak masuk diakal gue bagaimana cara menyentuh hati seorang wanita.” Ia menggeleng beberapa kali. “Udahlah ... lo petik barisan ini cabe yang masak. Nih, wadahnya. Gue mau ke kamar kecil dulu.”


Aku tertawa mendengar responnya yang seakan tidak mengerti. Ia pergi begitu saja tanpa meninggalkan pertanyaan lanjutan, padahal di sini aku bersedia sepenuh hati memberikan jawaban yang membuatanya kebingungan.


Sejenak aku pun terpikir, bagaimana menyentuh hati seorang wanita?


Masih ingat aku teori yang dikemukakan oleh ahli sok segala bidang. Entah dari penelitian mana dia mengambil teori ini, yang pasti tidak ada hubungannya dengan jurusan yang sedang ia geluti. Hati manusia itu terbuat dari magnet, yang saling tarik-menarik dengan magnet hati lainnya. Oleh karena itu, baginya tidak akan mungkin antara dua insan pria dan wanita untuk bersahabat, karena pasti akan ada kecenderungan untuk ikut dalam gaya tarik-menarik itu. Satu hal yang membuat aku tersentak saat itu, aku dan Fasha tidak akan pernah bisa untuk bersahabat karena salah satu dari kami akan terjebak di dalam risalah hati, yaitu jatuh cinta.


Sayangnya, kita terbuat dari kutub yang sama. Kalimat itu pertanda jika Reira sudah memastikan kami tidak akan saling jatuh cinta. Sebuah magnet berkutub sama akan selalu tolak-menolak. Namun, akhir percakapan kami di rooftop gedung terbengkalai itu meninggalkan semacam ramalan. Aku rasa ia menjadi cenayang dan ahli percintaan di saat yang sama.


Tapi, enggak tahu juga. Mana tahu lo yang jatuh cinta sama gue lebih dahulu.


Pak Cik Milsa memanggilku di depan pintu belakang untuk menyudahi kegiatan kami memanen cabai. Sementara itu, Candra sedari tadi tak kunjung kembali dari kamar kecil, mungkin saja ia sedang bermenung di gazebo di muka rumah, sembari memikirkan cara untuk mendapatkan pujangga hatinya itu. Dua wadah berukuran sedang penuh dengan cabai merah ranum yang siap dijadikan stok bahan makanan di rumah. Pak Cik memujiku tatkala sampai dihadapannya.


“Lumayan juga yang kau petik.” Ia memanjangkan lehernya mencari sesuatu.


“Mana anak keriting itu?”


Aku menyimpan senyum licikku di dalam hati. Ingin sebut jika Candra sedang jatuh cinta pada anaknya. Namun, demi menjunjung tinggi ekosistem pertemanan yang telah kami bangun sejak lama, aku tidak mungkin membeberkan rahasia penting ini.


“Tadi katanya ke kamar mandi. Tapi, belum balik.”


“Oh, begitu ... anak itu rajin juga. Cocok dijadikan mantu. Hahaha ....”


Kode keras! teriakku di dalam hati.


“Benar, Pak Cik. Cocok buat Zainab, kan? Hahaha,” rayuku.


“Ah, Zainab calonnya harus aparat. Aku ingin foto dengan dua mantu berseragam.” Ia membuka pintu belakang.”


Ah ... Candra harus mengurung diri setahun untuk memilih dukun mana yang tepat, kurasa.


“Wah, mantu bapak yang satu memangnya aparat?” tanyaku.


“Benar, suami anak pertama aku seorang polisi.”


“Keren ... dua mantu pengabdi negara. Hahaha.”


Ia menepuk punggungku sembari meletakkan wadah cabai di atas meja. “Hahah ... bercanda. Aku tak pernah memaksa anak-anakku kawin dengan siapa. Asalkan dia baik, bertanggung jawab, tak perlu mapan karena mapan bisa diusahakan sama-sama. Tapi .... dia harus menang main catur dengan aku.”


Aku tertawa mendengar syarat terakhirnya itu. Seorang mertua menyaratkan calon menantunya untuk menang bertanding catur. Sedangkan, syarat sebelumnya tidak begitu sulit untuk dicapai. Ia benar orangtua yang unik.


Wangi rumah kayu tercium tatkala aku tiba dimuka pintu kamar Zainab. Anak itu sudah kembali duduk pada meja belajarnya dengan sebuah laptop yang menyala. Hal ini berarti Mawar sudah kembali pulang ke kediamannya. Kebetulan sekali pintunya terbuka dan aku bisa melihat Reira yang tengah tertidur pulas. Lelah wajah anak itu seketika redup oleh tenangnya pejam mata tertidur. Aku pun tersenyum senang melihat Reira yang beristirahat, mengisi energinya untuk kembali ia gunakan pada hal gila.


Namun, aku dibuat menepuk dahi tatkala aku membuka pintu kamar kami. Candra tertidur pulas di atas ranjang. Izinnya padaku ke kamar kecil ternyata ia lanjutkan di atas empuknya bantal. Aku menghela napas dan tak ingin menganggunya tidur dengan tenang. Memang, seluruh orang kini butuh istirahat karena sudah berpenat ria seharian, terutama Reira. Hanya aku yang masih bertahan membuka mata.


Gelas kedua kopi hari ini bersemayam di atas meja. Sewaktu aku berjalan ke kamar mandi, aku temukan beberapa kopi dengan label nama yang berbeda. Aku pun meminta izin kepada Pak Cik untuk mencicip salah satu jenis kopi yang ia punya. Ternyata, Pak Cik rutin menyetok beberapa jenis kopi untuk dikonsumsi sendiri di kala senja dan malam hari. Kopi Aceh tubruk menjadi pilihanku untuk melanjutkan hari di hadapan meja. Sembari menanti senja tiba, aku buka laptop yang aku bawa.


Sudah lama rasasanya aku ingin menulis kisah ini. Menulis puisi dan menempelkannya di mading fakultas ternyata tidak terlalu diapresiasi, kecuali aku bersyair di atas pentas sastra kampus. Terbesit dalam benakku untuk mencoba ranah kepenulisan yang lain, yaitu menguntai kata pada sebuah cerita. Aku pikir, rencana itu harus dijalankan seiring hobiku untuk berdiksi masih tertanam pada diriku. Ingatanku tertuju mengenai kehadiran seorang wanita bertopi dengan awalan huruf namanya, lalu mengarungi laut yang luas. Ide gilanya memberi makan pinguin di kutub utara, melihat naga di Laut Cina Selatan, dan menangkap kodok sebesar kucing di daratan Afrika ternyata cukup unik untuk aku ceritakan. Rancangan cerita sudah aku buat sejak lama, waktu sudah menunggu untuk segara menekan tombol kata.


Baris pertama tertulis dengan rapi, menunggu baris-baris yang lain untuk segera diselesaikan. Bibir pun tak henti menyeruput pahitnya kopi Aceh tubruk buatanku. Ide semakin menggila oleh detak jantungku dipacu kafein. Baris demi baris aku telesuri, namun tanganku terhenti tatkala menekan tombol spasi.


“HAA! Ternyata menulis itu susah!” kesalku sembari memegang kedua tangan.


Baru satu halaman yang terisi oleh cerita, aku sudah muak dan menutup laptop. Aku rasa menulis itu membutuhkan kebiasaan, hingga sanggup meningkatkan kemampuan menulis lebih banyak dan lebih cepat. Selain itu, masih banyak aturan menulis yang belum aku pahami. Tidak seperti puisi yang tidak terlalu banyak aturan, namun dalam menulis cerita fiksi tentu saja banyak aturan yang harus diikuti agar tidak ditertawai oleh orang yang paham dengan kepenulisan.


Sudahlah ... nanti malam bisa aku sambung lagi, walaupun hanya setengah halaman. Itu lebih baik daripada tidak melanjutkan.


Saatnya aku menutup mata di atas kasur tipis yang secara sepihak Candra pilihkan agar ia bisa tidur di atas ranjang.


***