
Mobilnya melaju menuju suatu tempat yang tidak kuketahui. Aku mengikuti arah tanganya yang sebagai penuntunku untuk menyetir mobil. Reira tidak memberitahukan padaku sebelumnya mengenai rencana mengajakku keluar malam ini. Lima belas menit kemudian, ia memerintahkanku untuk berhenti di sebuah restoran ayam cepat saji.
Telapak tangannya memainkan sebuah ikat rambut merah untuk dikenakan. Gerakan jemarinya begitu handal karena sudah terbiasa. Setelah itu, ia mengenakan sebuah topi yang di depannya terdapat huruf dari awal namanya. Kurasa, setiap topinya selalu ada lambang itu. Reira menampilkan huruf itu sebagai lambang dari jiwa petualangnya.
"Kadang, gue lupa kalau lo itu sebenarnya adalah cewek," ucapku ketika memarkirkan mobil.
"Tidak ada cowok yang punya dada menonjol," balasnya dengan frontal.
Aku tidak menjawab. Jika kujawab, ia selalu mempunyai kalimat yang bisa mematahkan pendapatku.
Restoran cepat saji ini sedang ramai dikunjungi oleh pelanggan. Reira sedikit kebingungan mencari tempat untuk duduk. Pilihannya jatuh kepada meja yang terletak paling sudut restoran, di dekat wahana mainan anak-anak. Ia duduk dengan mata seperti mengawasi sesuatu. Kepalanya berkali-kali berpindah sudut pandang. Entah apa yang sedang ia cari. Yang pasti, ia ingin menunjukkan sesuatu padaku.
"Kita mau apa di sini?" tanyaku.
"Lo udah makan?" tanya Reira balik. Tidak sempat kujawab, ia sudah menjawab pertanyaannya sendiri. "Dari tampang lo, lo belum makan. Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana dan jangan main ke wahana itu. Lo udah besar."
Urat keningku menegang karena kesal ketika ia mengatakan itu. Aku tahu jika aku sudah tidak pantas bermain di wahana anak-anak. Tetapi, ia malah memberitahukannya kembali padaku.
Beberapa menit kemudian, ia tiba dengan membawa burger dan minuman softdrink. Ia tidak memandangku ketika duduk. Matanya kembali menerawang ke para pengunjung yang ramai.
"Rumah lo aja yang besar, tetapi kehidupannya seperti anak kos. Jam segini belum makan. Silahkan ..." Reira memberikan satu burger untukku.
"Rei, kalau lo mau ngajak gue makan, bilang aja dari tadi." Kalimatku sedikit tidak jelas karena mulut yang penuh dengan makanan.
Reira menggeleng. Kini matanya penuh menyorotku. "Enggak, ini bukan rencananya. Rencananya akan dimulai sebentar lagi. Lo akan tahu."
Wanita itu selalu punya teka-teki yang harus aku pecahkan sendiri. Setiap kalimatnya terkandung sebuah misteri yang sangat sulit untuk diungkap. Jalan pikirannya terlalu berbeda dengan orang banyak, selalu berlika-liku yang acap kali membuatku bingung. Tetapi, itulah daya tariknya. Ia kembali menyeretku ke dalam momen-momen yang tidak terduga. Aku dipaksanya untuk bermain di dalam skenario cerita yang dibuatnya.
Tangannya menunjuk sesuatu. Perhatianku langsung tertuju ke arah telunjuknya.
"Gue kan enggak tahu. Lo aja yang tiba-tiba manjat rumah gue dan ngajak gue keluar," balasku dengan kesal.
Aku kembali memerhatikan arah yang ia maksud. Kudapati seorang pria tinggi dengan wanita dalam gandenganya. Wajah pria itu terlihat familiar dalam ingatanku. Badannya yang tegap semakin bertambah maskulin dengan brewok tipis dan rambut klimis. Penampilannya terlihat elegan dengan jam tangan mengkilap dan sepatu sneaker yang kutahu orgininal. Wajahnya bermaniskan senyuman lembut kepada wanita yang sekarang di hadapannya. aku tahu, wanita itu tengah berbunga-bunga karena sedang bersama pria famous di fakultasku. Hingga genggaman tangannya terlepas, aku menatap Reira.
"Itu Bagas! Siapa wanita itu?" tanyaku pada Reira.
"Rencana baru saja dimulai. Kita punya rencana yang berbeda. Lo dengan Bagas karena sudah menyelingkuhi Fasha, gebetan lo. Gue dengan wanita itu, wanita yang sudah membuat Bang Ali enggak selera makan selama seminggu."
"Betul dugaan gue, Bagas itu playboy. Gue udah memperingatkan Fasha sebelumnya. Tapi, dia enggak mau dengar," kataku. Meja kuhentak dengan jemariku.
"Cinta itu buta, wahai kawan. Logika enggak bisa berkutik jika sudah dipengaruhi cinta," balas Reira.
"Dari mana lo tahu dia bakal ke sini?" tanyaku.
"Kadang, informasi itu bisa dibeli. Kebetulan sekali wanita itu punya teman-teman yang buruk. Gue bisa dapat informasi jadwal kencan mereka dengan mudah. Dia masih satu angkatan sama gue." Suaranya sedikit dipelankan. Padahal jarak kami dengan mereka cukup jauh.
"Ayo, kita bereskan malam ini." Aku berdiri dengan cepat karena sudah tidak sabar memergoki mereka berdua.
Tangan Reira menahanku. "Bukan itu rencananya. Melabrak bukanlah cara pelaut."
"Lalu?" tanyaku sekali lagi.
Ia tersenyum licik. Cengkramannya pada tanganku semakin kuat. "Kita hancurkan kapalnya."
***