
Pernah aku ceritakan pada kalian mengenai wanita yang pernah menyelimutiku dengan sweater merah mudanya ketika hujan mengguyur. Air tumpahan hujan menyesap ke seragam sekolah yang sedang aku kenakan. Gigiku bergeretak hebat karena dingin yang menusuk. Hangat sentuhan tangannya menyelimuti pundak ketika ia berusaha mengenakan sweater-nya padaku. Aku tidak akan pernah lupa bagaimana lekuk bibirnya yang membentuk senyum, gerak matanya yang menyipit dalam tatapan, garis wajahnya yang riang ketika kubalas jasanya dengan pujian.
Cinta yang kutanam kini tumbuh menjadi batang rapuh yang diterpa badai hati. Terlalu lemah untuk bertahan oleh hantaman cinta yang bertepuk sebelah tangan. Mata hatiku terasa dipaksa untuk menutup ketika menyadari kenaifan untuk tersenyum kepada seorang wanita. Aku salah menyimpan rasa pada seseorang. Hatiku berlabuh kepada orang yang bahkan saja tidak peduli jika aku mencintainya. Perasaanku terkelabui oleh angan-angan yang kubangun sendiri bahwa ia akan selalu menjadi milikku.
Hari-hari kulalui kini tanpa kehadiran Fasha sedikit pun. Ia menghindar semenjak dimiliki oleh pria yang berkali-kali lebih tampan dan kaya dariku. Aku pun begitu, kerendahan diri yang kumiliki memaksaku sadar untuk mengindar. Aku rindu candaan garingnya yang ia katakan hanya untuk menghiburku. Berdua di dalam mobil sembari mendengarkan musik folk, lalu ia akan bercerita mengenai kurcaci tanah yang ia dapatkan melalui dongengan orangtuanya.
Langkahku menapak di trotoar kampus menuju ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas. Panas sekali hari ini. Matahari dengan garang menampakkan diri. Tidak ada sedikit pun awan tempat berteduh. Bersih dan biru seperti lautan cerah yang kulihat ketika bersama Reira.
Seseorang menyalip langkahku. Dengan cepat ia menggenggam tanganku untuk memaksaku mengikutinya. Sudah jelas bayang-bayang wajahnya yang pikirkan sebelum kupalingkan wajahku. Sentuhan ini begitu melekat, sangat aku hapal garis-garis tangannya. Wangi tubuhnya juga sudah jelas menyimpulkan semuanya.
"Mau ke mana?" tanyaku pada Fasha.
Ia tetap memaksa untuk memasuki celah jemariku. Ia tidak menjawab pertanyaanku. Ia terus membawaku ke rimbun pepohonan di tepi danau kampus. Langkahnya tergesa-gesa seakan mengejar sesuatu.
Kami beratapkan dedaunan pohon yang terkadang jatuh melayang-layang menghantam tanah. Beberapa di antara sempat mendarat di atas lembutnya helaian rambut Fasha. Bunyi bergemericik air terdengar. Riak air di danau timbul akibat ada kumpulan ikan yang tengah bermain ke permukaan. Cukup tenang, tidak ada gelombang seperti yang kulihat sewaktu sedang bersampan ria bersama gadis laut itu.
Aku tidak melihat tanda-tanda Reira yang suka bermain air di sana, bersampan hingga ke tengah danau, dan memberi makan ikan-ikan yang mungkin saja jumlahnya ribuan. Ia hobi melakukan hal gila sendirian. Kadang, ia memaksaku untuk ikut dalam kegilaannya sendiri.
"Aku minta maaf," kata Fasha. Tangannya melingkar di tubuhku. Ia tak menangis, hanya saja tatapannya berkaca-kaca. "Pertama, karena aku enggak pernah cerita kalau aku sedang punya hubungan dengan orang lain. Hubungan kami bahkan hampir satu tahun. Aku bahagia bersama Bagas. Kedua, karena aku minta kamu buat menjauh. Aku menarik kata-kata itu kembali."
"Kenapa kamu harus minta maaf, sih? Itu hak kamu mau pacaran sama orang lain." balasku. "Sekali lagi aku jelaskan, dia itu bukan pria baik. Dia itu playboy. Aku dan Reira melihat Bagas jalan sama cewek lain."
"Bagas enggak pernah selingkuh dari aku. Dia cuma ngumpul sama teman-temanya. Mungkin saja teman-temannya belum datang dan kalian cuma melihat Bagas berdua dengan teman ceweknya. Aku tahu Bagas pergi malam itu," jawab Fasha. Ia begitu melindungi pria yang jelas-jelas mengkhianatinya.
"Kamu terlalu melindungi Bagas. Aku udah bilang sejak awal, Bagas itu bukan pria baik. Dia playboy." Aku tekankan kata di akhir kalimatku. "Ia bahkan memukulku."
Kadang, aku tidak habis pikir mengapa Fasha begitu membela pria itu. Aku seakan tidak mengenal Fasha yang jeli untuk melihat keadaan. Ia terlalu bodoh, seakan dibutakan oleh cinta.
"Itu karena kalian mencari gara-gara sama Bagas." Ia diam sejenak. Tangannya bermain pada rumput yang sedang kami duduki. "Kamu menjauhi aku karena itu, kan? Kamu enggak suka kalau aku pacaran sama dia." Ia menyorotku dengan tegas.
"Kamu sendiri yang minta, kan? Selain itu, kesibukan yang membuat kita seperti ini. Kamu tahu sendiri kan kita punya kesibukan masing-masing." Aku berusaha melepaskan pelukannya.
"Jangan pernah menghindar untuk ketiga kalinya," ancam Fasha dengan telunjuknya.
Aku heran. Rasanya baru kali ini aku menghindarinya.
"Ketiga kalinya?" tanyaku.
"Kamu sibuk sama Reira. Aku enggak pernah kamu lihat. Bahkan, kamu enggak pernah bilang kalau kamu sedang sakit. Malah dia yang tahu duluan. Padahal, aku pengen banget bawain buah ke rumah kamu. Aku tahu Dika enggak akan pernah peduli."
Aku tertawa mengingat hal itu. Hal tersebut dikarenakan tercebur ke dalam danau.
"Kemarin handphone aku kecebur ke danau gara-gara main sampan sama Reira. Jadi, aku enggak sempat cerita ke kamu," jawabku.
"Lah, kamu ngapain?
Kudekatkan tubuhku saat duduk bersama Fasha. Hanya krikil-krikil basah yang menjadi alas tempat kami berteduh dari teriknya mentari hari ini. Terkadang, gelombang kecil danau merangkak hampir mengenai kaki kami.
"Aku tercebur ke dalam danau. Alhasil, handphone aku rusak. Besoknya, Reira langsung menggantinya dengan yang baru. Anak orang kaya mah bebas," kataku.
Andai saja ia tahu bahwa aku sedang menyembunyikan gemeretak patahnya hatiku darinya, kuharap ia akan menarik kata-katanya pada malam itu. Tepat di puncak biang lala yang menjadi detik pengakuan mengenai hubungannya dengan Bagas. Aku berusaha tersenyum untuk sebuah kepalsuan. Aku berharap ia mencabut kalimat yang pernah mengantarkanku ke dalam ruang hampa, hingga aku secara tidak langsung belajar artinya sebuah kehilangan.
"Kamu suka dia, kan?" tanya Fasha tiba-tiba.
"Kami enggak akan jatuh cinta. Dia bilang kalau hati itu kaya magnet, dan aku punya kutub yang sama dengan Reira─" Tiba-tiba handphone-ku berdering. Aku melihat nama Reira tertera di layar.
Aku mengangkatnya. Ia langsung memulai pembicaraan.
"Hallo, menurut kode etik yang gue buat sendiri. Seorang awak kapal enggak pernah menjadikan kapten kapalnya sebagai bahan rumpi dengan orang lain. Tertanda, Kapten Reira. Lihat ke depan lo." Sambungan telepon dimatikan.
Daguku terangkat. Penglihatanku mengedar ke sekeliling danau. Aku lihat di seberang danau seseorang tengah melangkah menjauhi danau. Ia tengah memakai jaket cokelat dan menyandang sebuah tas ransel. Sangat kontras terlihat dari kejauhan sesuatu yang sangat aku ingat, seseorang yang selalu memakai ikatan berwarna merah pada rambutnya. Itu adalah Reira. Sedari tadi ia tengah memerhatikanku dari sana.
"Oh, begitu." Fasha terdiam sesaat. "Maaf, aku enggak terlalu peka."
"Maksudnya?" tanyaku.
"Kamu suka sama aku, kan?"
Aku terdiam beribu bahasa. Tidak sanggup rasanya aku menjawab pertanyaan itu. Aku harap ia mengerti bahwa aku sangat tidak ingin menjawabnya.
***