Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 143 (S2)



EPISODE 143 (S2)


Cinta tak lebih dari sebuah tujuan, prosesnya hanyalah perasaan suka yang tak berputik, menunggu menjadi bunga mekar dan ranum semerbak. Mungkin ada sebagian orang yang memilih untuk tidak menikah dengan menimbang banyak faktor, mungkin saja masalah ekononomi, biologis yang tak mampu menurunkan regenerasi, dan lain-lain hal. Namun, lebih banyak lagi yang menentang bagaimana proses itu terjadi. Bisa jadi masalah ekonomi merupakan proses, tak menjadi permasalahan bagi sebagian orang untuk mencapai tujuan cinta itu sendiri.


Ya benar, menikah merupakan awal dari mekarnya cinta tersebut. Satu kata sepakat untuk menjadi satu, bukan berdua. Kita akan berdua selamanya, kata orang-orang pada umumnya. Namun sadarlah, pada dasarnya pernikahan merupakan penyatuan dua insan sehingga menjadi satu, tidak ada batas satu sama lain, melebur dalam satu atap singgasana cinta. Sudah mekanisme alam di dunia ini sebagai wadah untuk bercinta, yaitu menikah. Cinta akan eksis apabila mencapai kata tersebut, tak ada perdebatan sudah.


Namun, bagaimana orang-orang yang tak menikah? Apakah cinta itu akan eksis?


Sudah aku jelaskan sebelumnya bahwa cinta itu bermakna luas. Cinta hanya satu diciptakan oleh Tuhan, ia berikan kepada manusia agar manusia tahu bahwasanya Tuhan itu penuh cinta, lalu disisakan sedikit agar manusia bisa merasakannya satu sama lain. Orang-orang yang memilih tidak menikah akan selalu bertumbuh rasa cintanya pada seseorang, tetapi tidak akan pernah menjadi satu. Mereka terpisah satu sama lain tanpa pernah mengurangi rasa cinta itu sendiri. Cinta tak pernah memilih-milih manusia, ia tumbuh bagaikan parasit yang menguntungkan.


Lalu, bagaimana ketika cinta itu telah berubah makna dari hukum alam?


Aku banyak menemukan bagaimana seorang pria menyukai pria lainnya, begitu pula dengan wanita. Ya, menentang hal tersebut, tetapi aku tak pernah melarang karena aku bukanlah Tuhan yang bisa menilai baik dan buruknya seorang manusia dari hatinya. Jangan kita ambil peran Tuhan dan Tuhan tak butuh bantuanmu untuk menilai seseorang.


Bagiku tetap saja sama karena cinta itu satu dan tergantung dipergunakan untuk apa.


Itulah cinta dengan segala makna yang tersurat mauapun yang tersirat. Butuh ribuan tahun bagi manusia untuk mendefenisikan cinta, tetapi cinta tak mampu untuk didefenisikan. Ia begitu subjektif, tak pernah objektif, sehingga setiap orang memiliki intepretasi masing-masing mengenai cinta. Kita hanyalah manusia yang sekadar bisa merasa.


Kantin kini sedang sunyi. Baru saja lima belas menit setelah jemaat mesjid kampus pulang dari ibadah jumat. Aku bertandang menuju kantin bersama Candra yang aku hubungi. Ia tak pulang-pulang sejak kemarin dikarenakan mengerjakan revisi skripsi yang sedang ia garap perlahan.


“Bro, gue ini lagi bokek ... lo malah nyuruh gue buat pergi jauh.” Candra masih dengan mata kantuknya berkat tertidur di kos teman tadi. Tak mau ia melangkah ke rumah ibadah sebagai kewajiban pria di hari jumat.


“Reira kok yang nanggung semuanya, dia udah janji,” balasku sembari menghisap rokok.


Ia diam menatapku. “Dave, gue tahu dia itu cewek lo. Lo percaya banget kalau dia enggak bakalan pernah ninggalin kita-kita. Ditambah lagi, dia anak dari orang kaya. Tapi, bukan berarti kita selamanya bergantung sama Reira. Lo enggak pernah mikir itu? Mungkin Reira enggak bakalan pernah nyampai kepikirian itu.”


Seruput hitamnya kopi di hadapan kini bertambah pahit ketika Candra mengatakan hal tersebut. Kalimat itu bagai pukulan bagiku sendiri. Ya benar, sudah terlalu banyak Reira memberi tanpa pernah diberi kembali. Loyalitasnya kepada kami tak akan pernah kami ganti dengan materi apa pun.


“Hmm ... gue mikir begitu juga, sih.” Aku menunduk sejenak, lalu kembali mendongak padanya. “Reira terlalu loyal sama teman hingga kita sendiri ngerasa enggak enak.”


“Sorry, Dave. Kayanya gue enggak bisa ikut. Bukan gue mikirin ngerjain skripsi, gue mikirin masalah biaya. Mungkin Reira bakalan ngebiayai gue, tapi gue enggak mau dengan itu.”


Aku mengetuk meja dengan telunjukku. “Gini, deh. Gue ngebiayain lo semuanya.”


“Lo gila? Lo punya uang dari mana?”


“Can, uang bisa dicari. Kalau seorang teman tinggal, gue enggak pernah mikirin uang lagi. Gue pernah ada di masa gue ditinggalin orang lain. Lo harus ikut.”


“Lo gila, ya? Biaya pesawat pulang pergi itu enggak murah.”


“Kita cari yang paling murah. Ratusan ribu ada kayanya. Biaya kita berdua biar gue yang nanggung. Kalau Reira ngasih kita dana, gue bakal tetap nerima. Reira paham kok kalau yang beginian.”


Tak kunjung Candra menjawab tawaranku. Ia masih berpikir mengenai hal itu.


“Urusan rokok, biar gue yang nanggung. Lo cukup biaya transportasi. Makan gue bisa dari mana aja nanti.”


“Deal?” tanyaku.


Ia dengan tanggap menyambut tanganku.


“Setengah deal. Nanti malam kepastiannya karena gue harus bilang ke orangtua.”


Aku tersenyum. Sebelah tanganku menggeser kotak rokok setelah aku ambil sebatang untuk menyambung asap.


“Mari kita nyebat lagi.”


Sesi berdua antara aku dan Candra akhirnya selesai. Berkumandang nikmat kopi dan tembakau di balik bibir kami masing-masing. Tak pernah membebankan biaya kopi kepada orang lain, kami sudah terbiasa untuk membayar sendiri, kecuali bungkus rokok yang selalu dihabiskan bersama. Ya begitulah di pergaulan lelaki, bungkus rokok yang tergeletak di atas meja merupakan milik bersama. Batang terakhir yang tampak merupakan milik dari yang punya bungkus. Saling menghargai satu sama lain, saling memenuhi candu dengan cinta.


Kami menunggu di depan fakultas, hanya berdua antara aku dan Candra. Mawar tengah bertarung dengan pertanyaan dosen penguji. Bunga tergenggam di tangan Candra, sementara hadiah khusus ada di pelukan dadaku. Sebuah buku, itulah yang disukai Mawar daripada bunga. Namanya memang harus seperti semerbak bunga merah berduri, tetapi ia tak terlalu suka dengan hal-hal seperti itu. Sikap kakunya ternyata lebih berjodoh kepada ilmu pengetahuan, terlihat dari bagaimana ia bersikap.


Reira melebarkan tangannya ketika sampai di hadapan kami.


“Gue rasa Mawar enggak sepintar yang kalian kira.” Reira menaikkan alisnya. “Dia ragu menjawab pertayaan gue.”


“Lo ngelihat dia sidang?” tanya Candra.


Tangannya menyinggung Mawar. “Gue yang membantu cleaning service menyusun meja. Tanya Mawar kalau enggak percaya.”


Mawar tertawa oleh kalimat itu. “Hahah ... entah dari mana Reira kenal sama cleaning service kita. Malah dia yang ngepelin lantai. Gue lihat sendiri.”


“Dia sering buat masalah di sini, sampai-sampai diburu sama security gara-gara memanjat fakultas. Dia alien ....” Aku menyerahkan buku filsafat Tan Malaka yang berjudul Madilog. “Hadiah buat lo.”


Tidak ingin ketinggalan, Candra menyerahkan bunga tersebut. “Ini bunga dari Zainab, bukan dari gue. Ingat?”


“Makasih banget buat kalian berdua.”


“Btw ... gue hadiahnya apa, ya?” Reira menyentuh dagunya. “Nanti ajalah ... kita berfoto dulu. Gue minta security buat fotoin.”


“Hajar,” sindirku pada Reira. Sudah tahu ia pernah bermasalah dengan security fakultasku.


Berfoto ria bersama menjadi momen bersejarah bagi kami semua. Ada senyum-senyum yang akan kami ingat di suatu hari nanti, bahwasanya ada momen di mana kami pernah berbangga diri atas keberhasilan seorang teman. Tak ada beban lagi bagi Mawar, tak sepertiku yang masih berjuang, begitu pula Candra. Dua wanita hebat ini sudah melewati titik krusial tersebut. Masa depan menanti di depan mereka.


Namun, masa depan hari ini menjadi daya tarik sendiri. Aku tak melihat masa depan jauh bertahun-tahun di mana kami akan bertemu lagi, melainkan hari di masa kini itu sendiri. Reira membelokkan mobilnya menuju danau kampus di mana aku dan dia pernah bersampan bersama. Dibawanya langkah kami menuju dermaga kayu kecil di sana, lalu tanpa diduga Reira naik ke atas sampan kayu tersebut.


“Ada sebuah hadiah yang enggak bisa dinilai dari harga buku dan bunga, yaitu pengalaman.” Ia memanjangkan tangannya agar Mawar segera naik ke sana. “Lo belum pernah bersampan di kampus, kan? Sekarang gue ajak lo bersampan.”


Ragu tangan Mawar menyambut tangan Reira. “Rei, lo yakin ini aman?”


“Gue pernah juara satu lomba bersampan ngalahin Bang Ali. Jadi, tenang aja ....”


Aku dan Candra saling bertatap. Tahu sekali diriku jika Candra ragu akan hal ini. Namun, keragu-raguan tidak pernah berlaku bagi Reira. Siapa saja yang ragu akan segera menutup rasa ragu itu selagi bersama wanita itu.


“Gue terakhir,” ucap Candra padaku.


Mawar naik ke atas sampan tersebut, diikuti oleh diriku selanjutnya. Candra sangat berhati-hati naik ke atas sampan karena pernah aku ceritakan jika aku pernah tercemplung tepat di tengah danau. Masing-masing dari kami diberi dayungan oleh Reira, lalu diajari cara mendayung yang benar. Layaknya seorang kapten kapal, ia berdiri di atas sampan tersebut, meneduhkan mata dengan tangan seakan ada pulau yang terlihat di ujung sana.


“Gue melihat naga di tengah danau.” Ia melihat ke belakang. Sementara itu, kami terus mengayuh tanpa tahu tujuan. “Ayo kita ke sana.”


Kayu perlahan mengantarkan kami ke tengah danau. Berselimut cemas jika sampan ini akan terbalik kembali, aku was-was melihat Reira jika ia melakukan gerakan yang berbahaya. Wanita itu berdiri tanpa ingin ikut mendayung. Ia pun berteriak ketika kami sampai di tengah danau.


“Ini sampan baru, lebih besar dari yang sebelumnya. Gue dan Bang Ali ngirim proposal ke rektorat buat dibelikan sampan baru buat anak Mapala.”


“Iya, nih ... kemarin cuma muat kita berdua.” Aku menyentuh bagian bawah sampan tersebut.


Reira membuka tas ransel motif militernya tersebut. Duduk ia berhadap-hadapan dengan kami, lalu meminta Mawar sedikit ke belakang agar ada ruang kosong sedikit.


“Mari kita masak mie instan di sini. Ini hadiah dari gue.”


Seperangkat alat masak anak gunung ia keluarkan sebagai hadiah kepada Mawar. Ia gila sekarang, memasak sesuatu di tengah danau.


“Ini yang terbaik,” balas Mawar dengan mengangguk.


“Suatu hari kalau gue menghilang kembali kaya kemarin, kalian harus ingat kalau ada orang yang pernah ngajakin kalian makan mie di tengah danau kampus. Hahaha ....”


Aku dan Reira saling menatap. Raguku berkata di dalam hati, apakah ia akan benar-benar menghilang?


***