
EPISODE 83 (S2)
Begitulah Fasha dengan keterbukaan hatinya padaku. Sejak di zaman itu pula ia seakan pernah membuka hati, padahal ia sama sekali tak pernah menyingkapkan gerbangnya padaku. Aku yang telah bodoh menyimpan rasa, menafsirkan seluruh perlakuan lembutnya sebagai cinta. Ya memang, aku ini terkadang bodoh tentang risalah hati. Aku hanya mengikuti kata hatiku sebagai orang yang bebas, padahal jalan yang aku tempuk naif untuk dilangkahi. Resikonya hanya satu, yaitu patah hati. Sudah berapa kali wanita bergitar itu membuatku mengurut dada ketika melihat kedekatannya dengan orang lain.
Kalian harus tahu, Kawan. Jalan yang bersemak akan menjadi lapang apabila dilalui setiap hari. Begitu pula diriku. Patah hati yang sering dirasakan membuatku merasakan kebas. Belenggu cinta yang mencambuk diriku seakan tidak membuatku jera. Rasa cinta itu pun semakin dalam dan semakin dalam saja. Seakan ibaratkan ilmu seperti sumur tak berdasar, begitu pula cinta yang aku rasakan. Aku tak tahu betapa dalamnya lautan cinta itu. Kail yang aku lepas telah salah memilih lautan.
Spinoza pernah berkata bahwasanya Tuhan bukanlah dalang. Jika berkata bahwasanya semua ini suratan takdir dari Tuhan agar aku belajar mengenai patah hati, maka kau salah. Tuhan memang mengatur segala sesuatu, namun manusia sebagai pemilik otoritas diri berhak untuk menggerakkan diri sendiri. Manusia mengatur dirinya sendiri, namun bergerak dengan mekanisme hukum alam yang diatur oleh Tuhan. Begitulah aku yang memilih jalan ini. Aku sendiri yang rela untuk dipatahkan hatinya, bergerak di dalam aturan Tuhan bahwasanya jika engkau berlutut terlalu lama di dalam ranah cinta, maka kau akan merasakan patah hati.
Begitulah kawan ... kini dirinya tengah bersanding berdua dengan seorang pria yang berkali-kali lipat melebihi diriku. Bukannya aku merasakan patah hati, namun ia masih bersifat layaknya dahulu. Sebagai orang yang bersikap biasa saja, ia tak akan mengecup diriku di hadapan pasangannya. Namun, aku maklumi hal tersebut dari dirinya yang masih seperti biasa. Ingin aku katakan pada kalian, kali ini aku tak lagi melempar pada lautan yang salah. Aku yakin hal itu, walaupun aku bukanlah cenayang yang bisa menembak masa depan. Lautan tetap saja tak pernah diterka dasarnya, namun kapal dari seorang kapten bernama Reira telah menuntun diriku yang tersesat. Tangan kecilnya merangkulku dari sebuah papan yang mengombang-ambingkan diriku ke tujuan tak bertuan.
“Bermenung saja,” ucap Mawar.
Pandanganku teralih kepadanya. Sedari tadi aku melihat Reira yang bercanda ria dengan teman sepergaulan yang semuanya ialah para lelaki. Meja bundar itu penuh oleh mereka.
Aku menggeleng. “Bukan ... gue enggak lagi bermenung.”
“Lo lagi bermenung ....”
“Apa defenisi bermenung?” tanyaku balik.
Ia diam sesaat mencari kalimat. “Secara teoritis gue enggak tahu. Tapi, secara istilah lo sedang berdiam diri tanpa tujuan di satu titik, baik itu berdiri maupun duduk.”
“Lo pandai juga berdefenisi,” pujiku sembari mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya. “Berarti gue enggak lagi bermenung sekarang."
“Oh, ya?”
“Iya ... tujuan gue berpikir. Berarti berdiri gue masih ada tujuan.”
“Hahaha ... kita berdebat tentang sesuatu yang enggak penting.” Ia tertawa sesaat.
“Jadi, apa yang lo pikirin?”
“Ada banyak hal, ada Reira .... ada Fasha ... dan ada lo.”
Ia menunjuk dirinya sendiri. “Gue? Gue enggak ingin dipikirkan oleh orang lain.”
“Hahah ... berarti lo enggak ingin dipedulikan sama orang?” sanggahku.
“Bukan begitu, gue enggak mau dipikirkan mengenai sesuatu yang enggak penting.” Ia menggeser tubuhnya ke arahku. “Jadi, apa yang lo pikirkan tentang gue.”
“Seandainya lo itu punya cowok, trus cowoknya sama pintar dengan lo, apa kalian enggak sering berdebat.”
“Kita sedang berdebat sekarang.”
“Makdus lo ... lo menganalogikan gue sebagai cowok lo?”
Tatapannya datar melihatku. Ia sadarkan tubuhnya ke dinding container sembari melihat keluar.
“Hmmm ... lo cemerlang di pemikiran. Wawasan lo luar dan literatur lo beragam.”
“Lalu, apa itu bisa jadi dalil dasar kalau gue ini pintar?” Ia memicing padaku. Matanya semakin kecil saja aku lihat. Sangat minimalis, namun manis. “Gue pernah berpikir kalau kepintaran gue ini adalah kutukan.”
Aku hembuskan asap rokokku menjauh dari wanita itu. Sejenak aku berpikir, bagaimana anugerah yang diberi Tuhan berupa kepintaran dianggap menjadi sebuah kutukan. Apakah Tuhan telah adil kepada hamba-Nya dengan memberikan kutukan berupa sebuah anugerah. Setahuku, kutukan itu merupakan hal-hal yang bisa menjerumuskan diri dan mencelakai diri sebagai akibat dari perbuatan seorang manusia. Namun, wanita itu malah menganggapa anugerah yang telah diberikan sebagai kutukan.
“Gue enggak mengerti dengan perkataan lo. Bagaiman kepintaran jadi kutukan?”
Ia mendongak ke langit-langit, lalu menghela napas panjang. “Gue enggak ingin dibilang pintar karena itu beban tersendiri. Sedari dulu gue selalu disanjung sebagai orang pintar dan yang paling pintar di antara keluarga gue. Gue direkomendasikan sekolah buat kuliah di luar negeri dan didukung oleh para keluarga, namun gue menolak. Karena apa?”
“Karena apa?”
“Itulah beban itu. Gue dibebani dengan perkataan orang lain kalau gue itu pintar. Gue kuliah ke luar negeri karena gue pintar?” Ia menggeleng sesaat. “Bukan ... gue melakukan sesuatu karena gue mau, bukan karena anggapan orang lain kalau gue itu pintar. Dua hal yang sangat berbeda bukan?”
“Dosen gue pernah bilang, kalau orang jenius punya pemikirannya sendiri.”
“Kita jenius dengan bidang masing-masing. Lo dan gue jenius di bidang berbeda, jadi defenisi jenius mana yang bakalan lo pilih?” Ia menaikkan kedua alisnya padaku. “Sedari kecil, gue selalu ambisius buat mengalahkan orang lain. Ketika seseorang tidak tahu, gue ada niatan buat menyanggah habis-habisan dengan kepintaran gue. Terkadang gue merasa sombong dengan hal itu. Itulah kenapa gue beranggapan kalau ini kutukan.”
Anak ini sedang salah dalam berpikir. Harusnya ia mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan padanya. Ia diberi kepintaran, kesantunan, kecantikan yang melebihi orang-orang seumurannya. Bagaimana bisa ia berpikiran seperti itu? Aku tidak mengerti dengan pola pikir orang-orang jenius sepertinya. Jikalau panci bisa membalikkan pikiran seseorang, akan aku hantamkan tepat di ubun-ubunnya, lalu mengelusnya perlahan agar kembali sadar.
“Ada banyak orang yang ingin seperti lo. Gue mendengar hal itu dari setiap bincang anak-anak satu angkatan kita. Siapa yang enggak tahu lo di fakultas? Pemenang cerdas cermat mengalahkan anak semester tujuh yang udah melewati seluruh materi. Tapi, lo menang ... dosen aja enggak percaya kalau ada ada anak mahasiswa baru yang bisa mengalahkan senior tingkat akhir di jurusannya sendiri. Dan lo menganggap itu kutukan? Hanya satu yang bisa gue bilang, lo harus bersyukur dengan hal itu semua.”
“Suatu hari gue bakalan jadi pemilik warung kopi kecil seperti Mama biar orang-orang yang pingin seperti gue bakalan berpikir ulang dan menarik keinginannya.”
Aku mengambil spatula di gantungan, lalu menempelkannya ke arah kening Mawar.
“Lihat spatula ini ... ingin gue pukul?” tanyaku dengan nada bercanda.
Ia tersenyum. “Hahah ... lo mulai bingung bicara sama gue?”
“Iya, gue bingung.”
“Itulah jawaban yang bisa gue sampaikan mengenai pertanyaan lo tadi.”
Aku memerengkan wajah. “Yang mana?”
“Apabila cowok gue sama-sama jenius dengan gue.” Ia menyingkirkan spatula itu dari keningnya. “Lo itu jenius, hanya saja sudah punya Reira.”
“Apa maksudnya itu?” Aku menghisap rokok panjang-panjang.
“Pikirkan saja sendiri ....”
Ia keluar dengan meninggalkanku seribu tanda tanya.
***