Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 56 (S3)



“Pegang ini dulu ….”


Tangan Abimana menerima satu plastik kodian roti-roti di pusat pembelanjaan grosir. Aku sudah lama tidak ke kampung nelayan. Anak-anak nelayan biasanya selalu menginginkan makanan dariku. Kebiasaan dari dulu ketika aku berkunjung. Mau bagaimana pun, aku turut besar di lingkungan nelayan tatkala dititipkan ke Kakek Syarif. Razel mengenalkanku kepada teman-temannya, lalu kami bermain di sekitaran kapal menikmati angin laut.


Abimana semakin tidak percaya denganku. Pertama aku mengaku sebagai pimpinan perusahaan dan anak dari politisi terkenal se-Jakarta, kedua aku malah bergaul dengan anak-anak nelayan kumuh. Dua diksi yang saling kontradiktif. Tidak hanya dia, bahkan aku pun terkadang tidak mempercayai jika aku bisa begitu. Namun, itulah aku apa adanya. Satu dasar yang membuatku peduli dengan anak-anak terlantar karena setidaknya aku pernah menjadi satu di dalam komunitas mereka.


Satu jam lebih karena macetnya Ibu Kota, kami tiba di bagian utara Jakarta. Rumah-rumah nelayan tampak dengan kesederhanaan mereka. Mobil-mobil pick bau amis ikan berselisih jalan dengan kami. Beberapa orang aku kenal pun aku sapa, termasuk pria-pria pos ronda yang dulu kecilnya pernah bermain bersamaku.


“Rumah ini estetik banget.”


Abimana terpana dengan arsitektur Melayu rumah Kakek Syarif. Rumah itu berbentuk panggung dengan tangga batu menuju terasnya yang di atas. Ornamen-ornamen lebah bergantung⸻istilah hiasan tepi atap khas Melayu⸻memanjang mengelilingi rumah. Selayaknya batik Melayu yang kami beli waktu itu, kini terukir di kayu pembatas rumah. Warnanya kuning keemasan, tidak luput dimakan lumut luar.


Bunyi hentak kaki kami di kayu teras membuat Kakek Syarif keluar. Ia tersenyum menyambut kedatanganku, tetapi memicing ketika memandang Abimana.


“Aku kira David sudah pakai kacamata, ternyata orang lain.” Ia memajukan wajahnya. “Kau siapa?


“Saya Abimana, Pak⸻” Kalimatnya terhenti ketika aku memukul tangannya


“Kakek … bukan Bapak.”


“Ha iya, saya Abimana, Kakek. Teman kampus Reira.”


“Oh, Abimana … orang yang berharga diri dan berbudi pekerti. Sedangkan Reira … aku enggak tahu apa arti namanya.” Kakek Syarif menyalami Abimana. “Apa hal kalian ke sini?”


“Apa hal?” tanya Abimana padaku. Ia yang tidak mengerti mengenai dialek Melayu.


“Mau ngambil kunci starter Kapal Leon. Kami mau melaut sebentar,” balasku.


Kakek Syarif melihat langit. Wajahnya tampak tidak yakin. “Langit utara mendung. Dua jam lagi ombak naik. Jangan lama-lama, tetap di laut dangkal.”


Prediksi Kakek Syarif mengenai cuaca bisa diancungi jempol. Selalu saja tepat ketika disampaikan kepadaku.


“Kami di tepi aja kok. Abimana enggak percaya kalau aku punya kapal.”


“Iya … apalagi kalau lo mengemudi kapal,” balas Abimana.


Kakek Syarif tersenyum sembari menepuk pundak Abimana. “Reira pernah mengemui kapal ke Belitung sendirian. Mereka juga pernah sampai ke Bengkulu.”


Abimana melihat aku dan Kakek Syarif bergantian. “Saya baru percaya kalau saya lihat sendiri.”


“Ini … hati-hati di luat. Jangan banyak tingkah,” ucap Kakek Syarif sembari memberikan kunci starter padaku.


Kami pun melenggang berjalan kaki menuju Kapal Leon. Seperti biasa, anak-anak nelayan sore hari selalu bermain di dekat kapal. Ada yang duduk di tepian, bermian bola di atas semen, dan berenang di sekitar kapal. Terkadang mereka berlomba mengumpulkan kerang yang menempel di bawah kapal. Kerang-kerang itu memang merugikan, sering membuat kapal bolong.


“Hey sini … Kakak bawa makanan!” teriakku pada mereka.


“Kak Reira!!!”


Mereka pun saling berlari mengejar dan mengerumuni diriku. Abimana sampai kerepotan kerena mereka berebutan mengambil makanan. Mereka yang di bawah tepian dermaga terlihat malang karena tangga naik cukup jauh. Aku pun melemparkan makanan ke bawah agar mereka mengambilnya dengan segera.


“Jangan rebutan dong. Semuanya pasti dapat ….”


“Mereka antusias banget, Rei!” Abimana sibuk membagikan roti tersebut satu per satu.


“Sepertinya lo harus biasakan berbagi seperti ini,” pungkasku.


Setelah anak-anak nelayan puas mendapatkan roti, kami pergi ke anjungan kemudi. Starter mesin kapal diputar, bergetarlah mesin dengan bunyi berderu. Dentum bunyi klakson mengejutkan anak-anak yang berenang di sekitaran. Kapal pun bergerak menuju laut, lalu aku pinta Abimana untuk memegang kemudi.


“Sekarang lo percaya kan gue bisa mengemudi kapal?” tanyaku padanya.


Abimana kaget dengan aksinya sendiri. Ia memutar kemudi kapal terlalu jauh sehingga kapal berbelok. Aku pun memperbaiki caranya memegang.


“Pegang aja dengan tenang seperti pakai mobil. Lurus aja, ikuti garis awan yang ke depan.” Aku melangkah pergi ke belakang.


“Tunggu … lo mau ke mana?” tanya Abiman dengan panik.


Tangannya membuka sepetak kayu yang ada di dasar lantai anjungan kemudi, lalu memasukkan kaki ke sana. “Ada yang mau ambil. Lo ngerokok? Gue ada cerutu kuba.”


“Gue enggak ngerokok.”


“Kalau anggur? Vodka? Arak Bali?”


“Rei … gue anak baik-baik. Enggak pernah minum yang begituan.”


“Oke … gue memang anak nakal!”


Aku masuk ke dalam sana, lalu mengambil sebotol wine Prancis yang aku titip dari Reina dua tahun yang lalu. Waktu itu, ia menyempatkan diri untuk berlibur ke Prancis. Tidak lupa pula aku menyempatkan untuk mengecek penyimpanan kas kapal. Ada sejumlah uangku dan emas milik Kakek Kumbang di penyimpanan rahasia. Sungguh naif sekali diriku menyimpan benda berharga di sini, tetapi Kakek Syarif menjamin keamanannya. Menurut Kakek Syarif, Kapal Leon punya penjaga yang tidak akan bisa aku lihat. Selama ini, Kapal Leon tidak pernah kecolongan maling.


Keanehanku pun muncul. Aku mematahkan kalimat Kakek Syarif pada saat itu. Jika Kapal ini punya pagar gaib yang menjaga dari bala, kenapa Kakek Tarab bisa masuk dan mencuri emas seberat satu kilogram? Kakek Syarif pun tersenyum. Ia memintaku untuk tidak memikirkan hal tersebut karena memang tidak bisa dipikirkan secara logika. Kakak Tarab punya sisi lain tersendiri, bahkan emas satu kilogram itu bisa bertahun-tahun berada padanya.


“Gue datang ….”


“Cepet ke sini Reira. Gue gemeteran.”


Aku tertawa melihatnya yang cemas. “Hahah … lo takut apa sih? Ini bukan jalanan aspal yang bisa nabrak kendaraan lain dengan mudah. Lo bisa mengemudi sambil tutup mata tanpa tertabrak, paling sesat ke tengah laut. Ayo ikut gue ke belakang. Kita lepas jangkar dulu.”


Jangkar kapal sudah dimodifikasi, tidak manual sebagaimana awal-awal kapal ini aku miliki. Aku hanya tinggal melepaskan tuas penyangga, lalu jangkar turun ke dasar laut. Keuntungannya ialah jangkar bisa ditarik otomatis ke atas. Razel tidak lagi bersusah payah memutar tuas untuk itu karena ia sering mengeluh sakit pinggang setelah melakukannya.


Kami duduk di depan dengan sebuah meja tempat meletakkan botol wine. Aku menyediakan dua gelas piala, satu untuk Abimana jika mau menyicipi.


“Wine ini harga sepuluh juta kalau dikonversikan ke kurs Rupiah.”


“Emangnya lo beli di mana?”


“Di Prancis, Kakak gue ke sana buat ketemu teman-teman kuliah.”


Wajahnya tampak antusias. “Wow, Kakak lo hebat banget bisa kuliah ke Prancis.”


“Dia memang cerdas, dapat beasiswa ke Prancis di program magister.”


“Sebaiknya lo ngambil S2 ke luar negeri juga. Malah ngambil di kampus kita, lo tahu sendirikan enggak sebagus kampus-kampus lainnya.”


Aku mengangguk sembari mengecap wine ke langit-langit mulut. Lezatnya membuatku terpejam. “Ada banyak yang enggak bisa gue tinggalin. Bukan mengenai geografis, tapi mengenai kenangan dan tanggung jawab.”


“Sok puitis,” sindirnya.


Aku seketika bergeming menatapnya. Waktu terasa terulang kembali, mengguncang ingatan dulu yang pernah terpendam. Aku mencoba menggalinya untuk menemukan titik di mana aku berada pada momen itu. Mengenai rasa yang berbunga, mengenai rindu yang terus menggerutu. Aku bersumpah kalimat yang terucap seperti mengulang suatu kejadian.


David yang mengucapkan kalimat itu, lalu aku menyindirnya yang selalu sok puitis.


“Rei, lo kenapa?”


Aku menghapus air mataku. “Enggak ada … mata gue kelilipan angin laut.”


***