
EPISODE 169 (S2)
Dunia ini terlalu sempit apabila lo selalu berjalan di satu titik, sekiranya itu yang pernah aku simpulkan dari pemikiran wanita itu. Analogi dunia ini baginya adalah sejauh tangannya yang mengembang, lalu yang bisa dilihat hanyalah sesempit telunjuk dan jempolmu. Bola mata terlalu kecil untuk melihat dunia secara keseluruhan. Keminiman makna membuat pemikiran kerdil mengenai luasnya kehidupan, hingga gerak kecil tubuh ini terlalu sempit dalam mobilisasi. Semua ini hanya mengantarkan kita terpuruk di dalam sudut pandang yang tertutup, tak ingin keluar dari zona nyaman.
Apa arti zona nyaman bagi wanita itu?
Menurutku, tak ada tempat baginya untuk merasa nyaman, hingga terus mencari tempat berteduh dan bernaung. Ketika ia mendapati titik itu, ia kembali pergi karena selalu merasa kegerahan. Aku masih belum paham mengenai pemikiran seperti itu, atau aku saja yang terlalu sempit dalam berpikir. Ia adalah Reira, wanita terberani yang aku kenali dengan baik, hingga semua yang baik menjadi buruk akhir-akhir ini. Akhirnya, Reira kembali pergi dari titik nyamannya itu untuk mencari zona-zona yang belum pernah ia tempuh sebelumnya.
Aku pernah mengatakan tak ada sebenarnya makna dari zona `tak` nyaman, sebuah defenisi ketika kita keluar dari zona nyaman. Zona `tak` nyaman hanyalah sekadar tempat nyaman baru setelah kita berhasil keluar dari titik yang pernah dipijaki. Kita hanya berusaha mencari zona nyaman baru karena zona sebelumnya telah tak mampu lagi memberikan kesejukan, bahkan kebahagiaan.
Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Reira, setiap manusia terus bergerak. Waktu akan terus berjalan, hingga setiap manusia dicambuk untuk berpindah tempat.
Sebuah sungai tak akan pernah menjadi sungai yang sama ketika kita melihatnya kembali. Mungkin kau akan takjub tatkala menatap aliran sungai yang jernih, penuh dengan ikan-ikan berenang di tepian. Lalu, burung-burung pemangsa tampak terbang rendah di permukaannya untuk menangkap makanan. Monyet-monyet bergelantungan pada ranting pohon tepian. Namun, sadarlah ... ketika kau mengerjap sedetik saja, sungai itu bukanlah sungai yang kau lihat sebelumnya. Air sudah berganti dengan yang di hulu, yang di hadapan akan pergi menuju ke hilir, sehingga sungai itu tak lagi sama. Begitu pula defenisi kehidupan ini yang memaksa setiap manusia untuk terus bergerak.
Sebegitu besar benci yang aku ucapkan kepadanya, tak mampu untuk menutupi harapan untuk Reira kembali. Ia pernah menjadi orang yang berperan dalam menggerakkan dinamika kehidupan. Kehidupan yang sebelumnya berdetak dalam ritme statis, kini bergelombang dinamis sehingga aku merasakan makna-makna itu. Ia tak menyuapi diriku dengan makna-makna karena aku sendiri yang mencari makna tersebut. Aku pun sadar, tak ada seorang pun yang lebih baik daripada dirinya untuk soal menggerakkan kehidupan, setidaknya untuk saat ini.
Teman-teman sudah dihubungi untuk mencari Reira. Ia menghormati keputusanku, terutama Bang Ali. Ia menyerahkan penggerak kapal ini kepada pemangku keputusan kedua, yaitu diriku sendiri. Reira pernah menitipkan bahwasanya dirikulah yang akan menggantikan kapten kapal. Maka, kini dengan segenap asa yang masih tersisa, kami bergerak untuk mencari Reira di mana punia berada. Aku yakin ia tak jauh dari tempat-tempat yang biasa aku kunjungi.
Tiga puluh menit menunggu mereka tiba ke rumah Bu Fany, selama ini itu pula aku mengira-ngira di mana Reira berada. Ia tak mungkin sudah berada di Antartika sekarang, atau di puncak Gunung Salak. Bang Ali tiba bersama Redi dengan motor modifikasinya itu. Sedangkan Candra memberanikan diri untuk menyulik Zainab dan Mawar menggunakan mobil van pet shop.
“Kalau lo bilang kita bakal mencari Reira, maka gue bakal mencarinya sampai dapat,” ucap Bang Ali dengan semangat.
“Semua ada di keputusan lo kali ini. Jika Reira benar-benar kembali, gue hanya menuntut kata maaf dan penjelasan. Hanya itu. Enggak ada manusia yang benar-benar jahat, bukan?” sambung Candra.
“Bang, gue minta rokok.” Tiba-tiba suara Redi memecah keseriusan kami. Menyadari ia sedang ditatapi serius oleh kami semua, ia pun menarik tangannya dari kotak rokok. “Oke, maaf ... lanjutin.”
Kak Reina menghisap rokok elektriknya perlahan. “Entah kenapa, gue ngerasa Reira benar-benar serius kali ini. Memang, ini bukan pertama kalinya Reira kabur dari rumah. Tapi, melihat dari serangkaian peristiwa sebelumnya, gue punya kecenderungan bakalan ngehilang.”
“Pak Bernardo udah tahu?” tanya Zainab.
“Sudah ... tapi hilangnya seseorang tunggu sampai waktu tertentu, baru bisa lapor polisi. Setidaknya, kalau besok Reira enggak ada kabar, kami bakal lapor ke polisi,” balas Kak Reina.
“Baiklah ... jadi gini rencananya.” Aku memajukan tubuh sembari membakar sebatang tembakau. “Bang Ali ke timur di dekat kawasan kampus. Temui siapa saja yang berhubungan dengan Reira karena pasti Bang Ali lebih tahu. Candra dan yang lain ke barat, terutama ke rumah sakit Dokter Alfian dan gedung tempat biasa Reira ketemu sama anak-anak. Gue dan Kak Reina ke utara, terutama urusan kampung nelayan. Kalau sampai sore enggak ada sinyal keberadaan Reira, kita keluar dari kota ini bagi yang mau. Kita ke kawasan villa Bu Fany. Kalau enggak ketemu juga, selebihnya urusan polisi buat mencari.”
Semuanya mengangguk paham atas penjelasnku. Setelah itu, kami bergegas bergerak untuk mencari keberadaannya.
Perjalan dimulai dengan orang-orang sekitar di mana Reira sering bergumul di sana. Warung-warung, toko-toko, dan tempat makan pinggiran jalan menjadi pilihan kami untuk bertanya. Rata-rata, mereka pasti mengetahui Reira. Sekiranya tidak tahu nama, pasti mereka kenal dengan wanita berambut terikat yang ke mana-mana memakai kaos warna hitam dan celana jeans robek-robek. Reira selalu menyempatkan diri untuk berbincang dengan orang-orang toko, meskipun hanya sebentar. Namun, usaha aku dan Kak Reina belum menemukan titik terang. Kami berpindah tempat ke lokasi yang lebih luas.
Reira senang memancing, Kak Reina mengakui hal tersebut. Kami pun berangkat ke taman kolan pancing yang biasa Reira kunjungi. Seperti sebelumnya, tidak ada Reira berkunjung hari ini, kecuali seminggu lebih yang lalu. Bertandang pula kami ke lokasi berkuda dan memanah. Aku baru tahu Reira memiliki kesukaan di bidang ini dari Kak Reina. Pemilik wahana yang berjanggut tipis dan pecian itu pun mengatakan tidak ada Reira berkunung. Biasanya, Reira selalu berkunjung setidaknya dua kali dalam sebulan.
Posisi kami berakhir di kedai Batak yang menyediakan **** panggang khas Karo. Entah kenapa Kak Reina mengajakku ke sini untuk bertanya tentang Reira. Lagi-lagi, pemilik warung kecil ini tak menyebutkan Reira ada ke sini.
Aku dan Kak Reina duduk di sebuah meja. Sebagaimana nama tokonya, tentu saja percakapan yang kami dengar merupakan Bahasa Batak. Kami tak mengerti satu pun, kecuali kata `kau` yang selalu identik penuh dengan penekanan. Bapak-bapak berperut buncit tampak berkumpul di sebuah meja yang penuh dengan kartu remi. Di hadapan mereka tersedia teko-teko yang berisikan tuak atau air fermentasi nira kelapa.
“Mau tuak?” tanya Kak Reina. “Atau **** panggang khas Karo?”
“Terima kasih ... gue butuh air teh atau kopi saja cukup,” balasku.
“Oke, deh.” Kak Reina menoleh kepada bapak-bapak pemilik warung yang ada di dapur. Ia pun berkata dengan logat Batak apa adanya, “Opung ... dua gelas nira manis aja, Opung. Kawan awak ini enggak minum tuak ternyata.”
“Oke, kau tunggu di situ ya,” sahut bapak pemilik toko.
Logat Batak Kak Reina terdengar lucu dan terasa dipaksakan. Kak Reina mengambil kacang kulit kemasan yang tersedia di atas meja.
“Ngapain Reira ke sini? Aneh banget,” ucapku.
“Kenapa aneh?” tanya balik Kak Reina.
Aku terdiam sejenak. “Ya ... aneh aja. Biasanya kan orang Batak yang ke sini. Lalu, di sini warung **** panggang. Tahu sendiri kan makan **** itu ... hmm ....”
Kak Reina menunjuk diriku. “Lah, elo minum alkohol ... sama-sama enggak boleh, kan?”
Aku tertawa kemudian. Ia menghentikan argumenku. “Oke, jadi alasan kita ke sini?”
“Jadi, opung itu dulu pernah nolongin waktu mobil kami mogok. Dia ternyata mantan teknisi roda empat, terkhusus truk lintas. Akhirnya, kami diajak ke warung ini. Karena dia tahu kami enggak makan ****, dia masakin kami mie instan dan nira manis.”
“Oh, gue kira ....”
“Lama kelamaan, kami jadi sering ke sini buat minum nira manis sama makan mie instan.” Kak Reina tersenyum lebar karena pesanan nira manis kami tiba diantar oleh opung-opung pemilik warung. “Makasih banyak ya, Opung.”
“Ah, macam enggak biasa aja kau. Hahah ....” Opung itu menepuk pundak Kak Reina, lalu balik ke dapur.
Untuk pertama kalinya aku mencoba nira manis di warung Batak asli. Rasanya benar-benar manis, sedikit atas rasa kelat. Teman yang baik untuk menikmati ujung tembakau yang tersulut. Sekitar sepuluh menit kami bercerita sembari mendengar bahasa Batak bapak-bapak yang sedang bermain kartu remi, ponselku berdering di atas meja. Aku segera mengangkatnya karena Candra yang telah menghubungiku.
“Kami di proyek bangunan temannya Reira. Kami ke sini dari informasi Dokter Alfian yang bilang Reira sering ke sini.”
“Lo mau nyampaikan berita baik atau buruk? Kalau mau nanya kami di mana, kami lagi di kedai **** panggang khas Karo.”
“Apa? Ah, bodo amat,” tanya Candra tak percaya. “Reira ke sini sebelumnya buat ngembaliin truk yang ia bawa.”
“Reira ke sana sebelumnya?” Aku memandang kak Reina. Terlihat ekspresi dirinya yang tak sabar untuk mendapatkan jawaban.
“Iya, setelah dia mengembalikan truk, Reira pergi lagi. Temannya Reira bilang kalau anak itu mau pergi ngelihat laut. Itu barangkali―”
Kalimat Candra aku potong tiba-tiba.
“Dia ada di kampung nelayan.” Aku kembali memandang Kak Reina. “Ya benar, tidak mungkin ada tempat selain kampung nelayan buat ngelihat laut!”
“Iya! Ayo kita ke sana. Gue hubungin yang lain!” Candra mematikan handphone sepihak.
Gelas Nira manis itu langsung ditenggak Kak Reina setengah. Terhentak bagian bawah gelas ke meja kemudian. “Jadi, kesimpulannya?”
Aku melakukan hal yang sama. Nira ini terlalu sayang untuk disia-siakan. Rasanya nikmat di tenggorokan. “Ayo, kita ke kampung nelayan. Kemungkinan besar dia di sana.”
Batas antara senja dan malam masih bersisa tiga jam lagi. Perjalanan dari tempatku menuju kampung nelayan hampir menempuh satu jam perjalanan. Tak ingin terlambat, aku melajukan mobil lebih cepat dari sebelumnya. Kak Reina berkali-kali menepuk tanganku karena khawatir akan menghancurkan mobilnya sendiri. Kami sampai di kampung nelayan hampir empat puluh lima menit. Sempat berkeliling sebentar untuk melihat keberadaan Reira hingga menunggu yang lain datang, tetapi karena tak ditemukan apa yang sedang kami cari, kami bergegas menuju rumah Kakek Syarif.
Kakek tua itu tak sedang ada di rumah, entah ke mana dia. Sempat aku menghabiskan dua batang rokok di teras panggung ini untuk menunggu dirinya tiba. Bisa jadi Kakek Syarif masih dipasar karena istri beliau berjualan rempah di sana. Teman-teman yang lain bahkan mendahului Kakek Syarif untuk datang. Sekitar lima belas menit menunggu, kami akhirnya bertemu dengan Kakek Syarif yang tiba menggunakan mobil pick up sendirian.
“Wah, kalau kalian mencari Razel ... Razel sudah bekerja di kapal pesiar.” Kakek Syarif turun dari mobil. “Aku baru pulang tadi malam setelah mengantarkannya ke kapal. Kebetulan aku punya orang dalam di sana.”
Kami segera turun dari teras panggung khas Melayu ini.
“Kami bukan mencari Razal, kami mencari Reira.”
“Wah ... mencari Reira? Tumben? Katanya dia baru keluar dari penjara tadi.”
“Keluar tadi penjara?” Kak Reina menyentuh dahinya. “Tunggu dulu, Kakek bilang `tadi`?”
“Iya ... aku dibohongi, ya?” Kakek Syarif tertawa keci. “Hahah ... emangnya ada apa dengan Reira?”
“Kakek ngelihat Reira di mana?”
Tangan kakek itu terangkat untuk melihat jam tangan. “Hmm ... sekitar setengah jam yang lalu di pasar. Dia mengunjungiku untuk ngasih rokok. Aku heran tiba-tiba dia sebaik itu. Lalu, Reira pamit ingin ke kapal.”
“Reira kabur dari rumah. Kami sedang mencarinya, Kakek,” balas Kak Reina.
“Kak ... kita baru dari kapal, enggak ada siapa-siapa,” ucapku padanya.
Ia menggeleng. “Bukan ... itu karena Reira masih belum sampai waktu kita ke sana. Cepat kita ke kapal!”
Kak Reina berlari dengan cepat diikuti oleh kami dibelakang.
“Tunggu dulu, Reira kenapa?!” teriak Kakek Syarif.
“Nanti kami jelaskan!” balasku sembari berlari.
Benar ... sewaktu kami di kapal tadi, tidak ada satu pun orang yang tengah menginjaknya kecuali kami berdua. Hal itu menjadi tanda bahwasanya Reira belum sampai jikalau perkataan Reira kepada Kakek Syarif itu merupakan kejujuran. Tatkala kami baru pergi dari kapal, setelah itu baru Reira tiba di sana sesuai perkataannya. Kami tidak sempat berselilih jalan atau bertemu dengannya di kapal.
Mata kami berharap bahwasanya akan ada sepasang mata yang tengah menatap kami sedang memanggilnya. Kami sangat ingin ada orang yang akan kembali tatkala kami tarik tangan kecilnya itu. Lalu, ucapan maaf yang sedari tadi sudah kami maafkan tersampaikan darinya begitu tulus. Tak akan ada yang lebih tulus daripada itu karena berasal dari kerelaan hati terdalam. Desak napas dari langkah yang berlari kami sorakkan semangat di dalamnya, berharap momen-momen itu akan terwujud nanti, tatkala kami sampai di pangkal dermaga. Hatiku berkali-kali meneriaki namanya, berharap wanita itu terbatuk bahwasanya ada orang yang sedang mengharapkannya kembali.
Tunggu, Rei! Kita akan bertemu! teriakku di dalam hati.
Lari terus berbunyi di jalan kayu bertonggak tinggi tepian laut. Gemuruh langkah kami bahkan lebih parah daripada anak-anak yang sedang mengejar satu sama lain. Ingin rasanya tercebur ke bawah apabila tak sanggup mengendalikan diri. Kami terus menambah kecepatan tanpa henti, agar sampai tepat bersama Reira di dermaga.
Harapan kami sudah di ujung mata. Kami melihat kapal yang sedang mengapung di atas laut, layaknya kapas terombang-ambing di atas permukaan air. Namun, harapan di ujung mata itu pun sirna seketika tatkala kapal sudah berlayar di kejauhan. Hanya suara samar-samar dari gaharnya suara mesin kapal. Reira sudah pergi mendahului kami.
Tak ada gunanya berbaris di ujung dermaga ini sembari melihat harapan itu pergi. Tak ada yang bisa dicari selain dari semilir angin senja yang mendayun lambat. Hampa terasa, dirinya menghilang di tengah laut. Hatiku tampak redup dengan rindu-rindu yang meletup, ingin keluar untuk meneriakkan seberapa besar keinginan untuk bertemu. Cukup perpisahan panjang sebelumnya tak berpihak kepadaku dan kini aku sangat ingin menatap matanya sekali lagi. Namun, waktu dan ruang tak mengizinkan itu semua terjadi.
Waktu membuat kami tak bertemu dalam satu titik. Ruang memisahkan dalam jarak yang terbentang. Dua hal itu berkolaborasi membentuk dinamika kehidupan, dinamika yang menghilangkan seseorang untuk terlelap dalam layar kapal di hadapan kami. Hingga, tak satu pun dari kami bisa melihat kapal Leon. Ia mengecil, semakin kecil, hingga hilang ditelan cahaya.
Tak bisa kami kejar karena dirinya sudah terlampau jauh. Hanya satu harapan yang sampaikan di dalam hati bahwasanya ia akan kembali lagi besok.
***