Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 14 (S2)



EPISODE 14 (S2)


 


Kadang aku pikir-pikir, wanita yang suka sekali mengikat rambutnya itu tidak punya apa yang disebut syaraf ketakutan. Entahlah, apakah ada syaraf ketakutan di dalam tubuh ini karena aku bukanlah dari jurusan neurosciense. Yang aku tahu ialah ketakutan merupakan salah satu emosi yang berasal dari respon terhadap lingkungan luar. Namun anehnya, anak itu aku lihat benar-benar tidak memiliki ketakutan sedikit pun. Lingkungan luar tidak terlalu kuat untuk memberikan stimulus kepada indranya, hingga mengirimkan sinyal ke otak dan membentuk emosi takut. Ataukah tubuhnya tidak bisa merespon perasaan takut itu sendiri.


Ketakutan merupakan hal dasar yang dimiliki manusia untuk tetap bertahan hidup. Tuhan menciptakan mekanisme pertahanan diri itu agar manusia bisa menghindari dari segala marabahaya. Bayangkan saja, jika seseorang tidak takut akan kematian, hidupnya akan dimakan oleh ganasnya kehidupan. Ketakutan kematian akan membawa seseorang untuk mencari zona-zona aman dalam ruang lingkup dirinya, mencari perasaan tentram dengan terus memenuhi kebutuhan. Pikirkan saja ketika seserang tidak dilengkapi oleh perasaan takut terhadap hal-hal menyeramkan, aku tebak wanita itu sudah diterkam harimau pedalaman Sumatera karena ia menganggapnya masih satu keluarga sebagai felidae atau kucing. Sayangnya di Belitung tidak tidak ada harimau pedalaman. Jika ada, mungkin Reira sudah mengelusnya duluan.


 


Ya benar … kita hidup di dalam ketakutan-ketakutan itu. Salah satunya ialah cinta. Cinta bukan berarti persamaan kata kasih sayang, namun juga ketakutan. Cinta menjadi ketakutan tersendiri di sendi kehidupan manusia ribuan tahun lalu semenjak tragedi Habil dibunuh oleh saudaranya, lalu ketakutan Romeo akan kehilangan Juliet, hingga ketakutan Rahwana terhadap hilangnya cinta kasih dari Sinta. Cinta mengusik ketakutan-ketakutan manusia di muka bumi, hingga mereka rela melakukan apa saja agar tidak kehilangannya. Kadang, kita harus berpikir terbalik, tidak terlalu konsisten mengatakan cinta merupakan sebagian dari kebahagiaan. Namun, ada sisi gelap dari cinta, yaitu ketakutan sukma terhadap hilangnya semua rasa.


 


Bagiku, tidak semua ketakutan melekat erat seperti perangko terhadap defenisi sakit. Ternyata ada ketakutan yang berupa rasa nyaman, berujung kepada rasa bahagia. Itulah kontradiksi dalam harmoni yang pernah aku sebutkan sebelumnya. Sebuah defenisi yang bertolak belakang namun diam-diam saling bergandengan tangan, salah satunya ialah sisi gelap dari cinta itu sendiri.


Reira sedang menuntun untuk melawan ketakutanku sendiri. Tanpa menggenakan alas kaki selapis pun, ia tapaki jalan berbecek. Layaknya orang bunian yang meninggalkan jejak kaki bagi para petualang, aku menjadi ngeri sendiri ketika ia hilang di kegelapan. Telinganya kini sedang berkonsentrasi mengingat arah suara jatuh durian tadi. Senternya bersinar ke segala arah, menunjuk setiap sudut sisi gelap untuk menemukan barang yang ia cari. Terdengar suara girang Reira ketika ia mengangkat bola harum manis berduri yang kusebut sebagai durian. Ia meloncat berkali-kali seperti kera yang baru diberi sebuah pisang, sangat girang sekali.


Aku tersenyum betapa jenakanya dari sisi kebebasan yang ia tunjukkan. Reira yang begitu pemberani menempuh ketakutannya sendiri, berakhir dengan menunjukkan sisi kekanak-kanakannnya.


“Yeay … gue dapat satu. Kalian enggak boleh minta!” teriak Reira.


“Hahah … bagilah kami sedikit. Hahahah,” canda Pak Cik Milsa. Kepalanya menggeleng menyadari betapa gilanya anak dari orang yang pernah ia sukai di masa lalu, persis sekali seperti ibunya.


Reira mengajak Pak Cik Milsa berjabat tangan. “Pak Cik, aku beli tanah di sini boleh? Biar tiap bulan aku ajak anak Mapala kampus ke sini. Bang Ali pasti senang mendengarnya.”


“Hahah … mana boleh! Kau kira orangtua Pak Cik tak memijak duri sewaktu membuka lahan ini? Hahahah.” Pak Cik tertawa mendengar permintaan reira yang tidak masuk akal.


Aku hanya menggeleng sembari menepuk dahi, betapa gilanya anak itu. Memang, aku tahu sekali ia meminta kepada ayahnya yang kaya raya itu, tanah ini sudah berpindah tangan kepadanya esok hari. Tapi, hey … orang gila mana yang mau membeli tanah dengan segitu mudah? Aku tertawa di dalam hati.


Razel membantu Reira untuk membawakan durian besar tersebut, hampir sama besarnya dengan satu bola basket. Reira mana mau mengerjakan pekerjaan kasar seperti itu, ia lebih memilih bawahannya seperti kami untuk melakukannya. Dasar seorang kapten kapal yang tirani!


 


Aku tebak isi durian itu pasti berlapis-lapis jika melihat dari besarnya. Kami pasti sudah kenyang malam hanya dengan itu. Tapi, tidak tahu jika Razel meminta tambah. Di atas mobil tadi, ia berkata bahwasanya sangat gila dengan durian. Pantas saja Pak Syarif memperingatinya untuk tidak makan durian berlebihan apabila tidak ingin bocor keesokan harinya.


 


Parang Pak Cik Milsa menancap keras di antara permukaan berduri buah itu. Reira yang tak sabaran meminta berkali-kali Pak Cik Milsa untuk secepatnya membuka. Bunyi sobekan kulit durian terdengar tatkala Pak Cik menekan kulit yang sudah terbelah, lalu terciumlah wangi durian yang mengengat. Bagi sebagian orang, wangi ini merupakan bau yang tidak menyedapkan. Namun, bagiku wangi durian sangatlah mengguggah selera. Tampaklah daging-daging durian yang putih dan lengket itu, memaksa Reira untuk mengambilnya lebih dahulu dengan alasan bahwa durian itu merupakan miliknya. Padahal berasal dari lahan milik Pak Cik. Kebetulan saja ia yang menemukannya lebih dahulu.


Isi durian berlapis-lapis, terlihat sekali dari bentuk durian yang lumayan besar. Kulit masih bisa dibelah untuk mencari biji berlapis daging yang tebal. Empuk sekali dagingnya. Ketika masih ke dalam mulut, langit-langit mulutku segera merasakan betapa melelehnya daging durian itu, memberikan sensasi yang cukup untuk memejamkan mata menikmatinya. Reira tampak antusias sekali, ia mengambil lebih dari yang kami cicipi. Tidak ada yang mempermasalahkan karena masih banyak lagi durian yang bergantung di atas sana.


Malam semakin larut. Burung-burung malam berdengkur di ranting untuk menghantui perasaanku yang kecut oleh gelap. Pak Cik Milsa berdendang melayu di tepi pondok sembari mengasah bambu yang ia ambil dari bawah pondok. Bambu itu akan digunakan sebagai pancang bendera pegelaran lomba volley pemuda yang akan diadakan sebentar lagi. Beberapa durian sudah kami dapati, lagi-lagi Reira yang lebih dahulu menyentuhnya ketika cahaya senter tepat tertuju pada titik jatuh. Sembari menunggu durian selanjutnya yang jatuh, Reira berdongeng kepada Razel mengenai misteri inyiak balang, sebuah misteri harimau yang menjaga tanah Sumatera. Ia sangat antusias di bagian inyiak balang menyatu dengan pendekar-pendekar sakti pada saat itu. Rumornya, masih banyak sisa-sisa pendekar yang masih memiliki penjaga berupa seekor harimau di dalam tubuhnya.


Entah dari mana anak itu mendapatkan cerita itu. Aku tahu jika di dalam kamarnya terdapat sepetak kulit harimau yang ia dapati dari Pamannya di Sumatera Barat. Kulit harimau itu pun berdampingan dengan bangkai serangga kupu-kupu yang ia awetkan seperti mummy, tergantung pada dinding kamarnya. Sebuah hobi yang aneh bagi seorang wanita pada umumnya. Mungkin saja Reira sedang melakukan penelitian untuk menjadikan kupu-kupu sebagai mutan. Ia adalah seorang alien betina yang sedang terdampar di planet penuh polusi dan liberalisasi ekonomi. Aku tertawa tatkala mengarah ini di dalam imajiku.


Aku kira pemuda laut yang telah menjadi pengemudi kapal utama di perjalanan kali ini merupakan seorang yang tahan akan serangan kantuk. Namun, nyatanya ia malah tidur ketika denting jam tanganku hampir menunjukkan waktu pukul satu dini hari. Ia memeluk dirinya sendiri ketika tertidur, tidak tahan dengan dingin malam yang semakin mencekam. Hanya satu orang di sini yang masih aktif seperti di siang hari, yaitu Reira.


 


Tawanya tak menghargai para makhluk yang mungkin saja berada di balik-balik pohon, ia tetap mengeluarkan tawanya yang menggelegarkan itu. Pak Cik membuat kami terpingkal menceritakan betapa jenakanya ia di masa muda. Percakapan kami semakin hangat oleh segelas kopi malam yang dimasak melalui ceret di perapian.


 


“Bapaknya Pak Cik menendang hingga tercebur ke laut.” Ia menjentikkan ujung tembakaunya. “Itu karena Pak Cik menolak untuk jadi tukang ikan sepanjang hidup. Ia menyeburkan Pak Cik biar tahu kalau anak pelaut harus menjadi pelaut. Darah daging kami berasal dari kekayaan laut. Tapi, ujung-ujungnya Pak Cik tetap melaut karena tidak lulus kuliah. Hahaha ....”


“Hahah ... bapaknya Pak Cik parah banget.” Reira tertawa terpingkal. “Tapi, Pak Cik termasuk orang yang sukses menyekolahkan anak-anaknya.”


“Itulah yang disebut rejeki. Ada banyak orangtua di luar sana yang susah, tapi anaknya bisa sekolah ke luar negeri. Berarti, walaupun dengan harta yang sedikit, namun harta itu berkah,“ balas Pak Cik. Ia menyeruput kopi hitamnya. “Aku dengar ayahmu seorang anggota DPR? Pak Syarif cerita sama Pak Cik.”


Reira mengangguk. “Benar, kami adalah musuh. Sebagai aktivis, kami selalu menggedar-gedor pagar gedung DPR.”


“Jadi, di mana jaring yang Pak Cik bilang?” tanya Reira.


Aku pun menoleh padanya. Aku tidak tahu untuk apa jaring baginya malam ini. Tidak ada kupu-kupu yang terbang di malam hari. Memang, masih ada serangga di malam ini, namun untuk apa yang jauh-jauh ke Belitung untuk menangkap serang.


Tangan Pak Cik mengarahkan senternya ke luar. “Sekitaran sana. Ada cukup jarak antar pohon buat masang jaring.”


“Kami akan memasangnya sekarang,” kata Reira.


“Buat apa jaring sama lo, Rei?” tanyaku dengan heran.


Ia menoleh padaku. “Lihat saja nanti. Lo akan tahu.”


Aku hanya menangkat bahu. Entah kejutan apa yang akan ia bawakan padaku. Aku berharap ia tidak menjerat seekor **** bertaring untuk dijadikan peliharaan di belakang rumahnya. Lalu, ia akan memintaku untuk membawakan sayur mayur setiap hari untuk menjadi pakan peliharannya itu.


Reira bergerak menuju jalan setapak sembari membawa sebilah tongkat dan senter di tangan kanannya. Tanpa rasa takut setetes pun, wanita itu menuntunku melangkah pada kegelapan. Ia sesekali menyenter ke sebalik pohon seperti mencari sesuatu. Sebagai wanita aneh, aku pun tak heran ia melakukan hal ini dan meminta aku untuk turut ikut bersamanya. Hanya saja, aku belum tahu maksud dan tujuannya menuju tempat gelap ini.


Kami cukup jauh dari pondok. Rasanya, aku tidak ingin melihat ke belakang karena terlalu gelap. Entah kapan aku memiliki keberanian seperti wanita itu yang tidak mengenal takut sedikit pun. Bahkan, ia memanggil-manggil sepenggal nama yang sama sekali tidak kau ketahui. Seakan, sesuatu yang ia senter di balik pohon itu merupakan sosok dari nama yang ia panggil.


“Minerva!” panggil Reira. Reira berhenti sesaat, lalu menoleh ke kanan. “Nah, ini barangnya. Bantuin yaa ....”


Aku mengernyikan dahi. “Minerva? Siapa itu?”


Terdapat dua buah batang bambu panjang yang sudah diikatkan jaring rapat. Batang bambu itu tergeletak begitu saja di atas rumput.


“Minerva ... kita akan menangkap Minerva malam ini.” Ia berjongkok di dekat bambu itu, lalu memisahan salah satu bambu yang tergeletak. Tangannya memberikan bambu yang tersisihkan padaku. “Tolong angkat ini bersamaan, jangan sampai koyak jaringnya. Ingat!”


“Tunggu, gue belum tahu siapa Minerva dan untuk apa bambu dengan jaring ini.”


“Kita akan menangkap Minerva, David.”


Aku tersenyum kecut. “Reira yang aku sayang ... aku tidak mengetahui siapa itu Minerva."


“Hahah ... Minerva adalah dewi perang Yunani, simbol dari pengetahuan dan kebijaksanaan. Sebagai penyuka filsafat Yunani, gue heran kenapa lo tidak tahu Minerva."


Kami mengangkat bambu tersebut bersamaan. Terbentanglah jaring yang lebar itu di antara bambu. Melihat Reira yang mundur, aku pun turut ikut mundur untuk membentangkan jaring yang melekat.


“Filsafat itu ilmu akal, bukan mitologi. Jadi, wajar gue enggak tahu. Apa hubungannya Dewi dari Yunani dengan bambu ini?”


“Asal lo tahu, Minerva punya peliharaan seekor burung hantu. Itulah penyebabnya burung hantu menjadi simbol akan pengetahuan dan kebijaksanaan,” balasnya.


“Jangan bilang jaring-jaring ini buat nangkap burung hantu?” Aku menyenter wajahnya.


Reira tersenyum di balik kegelapan. Gigi putihnya saja yang kontras terlihat. “Benar, kita akan menangkap burung hantu.”


Aku menepuk dahi. Ada-ada saja yang ingin ia lakukan. Apa tidak cukup ulat bulu yang ia pelihara di sebuah kotak kecil, lalu menunggunya hingga menjadi kupu-kupu. Parahnya lagi, jika kupu-kupu itu sudah mati, ia akan menjadikannya sebagai mummy. Kamarnya juga sudah berbau jangkrik karena ia turut memelihara itu sebagai pakan ikan arwana berwarna merah yang kata Reira seharga ratusan juta.


“Seorang kapten kapal selalu punya peliharaan. Kapten Barbossa di Film Pirates of Carribian punya peliharaan monyet yang bisa jadi mayat hidup. Ada banyak film bajak laut yang kaptennya punya peliharaan burung kakak tua. Gue harus punya, dan gue pingin seekor burung hantu.”


“Hobi lo aneh sekali.” Aku tertawa kecil.


“Sedari tadi gue mendengar suara burung hantu. Pak Cik Milsa juga cerita kalau di sini banyak burung hantu liar yang bisa ditangkap.” Ia melangkah semakin jauh ke belakang, hingga ke jarak maksimal jaring tersebut. Lalu, ia menancapkan bambu itu ke tanah. “Semoga kita dapat hasilnya besok pagi. Gue pingin warna putih.”


Aku turut menancapkan bambu yang aku pegang. Terbentanglah bambu dengan jaring setinggi lima meter dan lebar hampir tiga meter. Memang, aku tahu cara ini merupakan salah satu metode yang tepat untuk menangkap burung tanpa menembaknya. Namun, aku tidak tahu jika burung hantu bisa dikelabuhi. Mengingat jika burung hantu mempunyai mata yang tajam jika di malam hari. Aku berharap jika burung hantu yang menjadi target sedang mengalami rabun jauh, seperti Candra yang terkadang memakai kacamata.


 


***