
EPISODE 123 (S2)
Lihatlah wanita itu dengan senang hati menyalami pria yang melamar pekerjaan. Harusnya diriku yang menyatakan jika dirinya diterima bekerja, bukan mala Reira yang baru saja menggeserku dengan paksa. Tersenyum Reira menyambut orang baru, seakan ada pendatang yang mengunjungi kapal kebanggaannya.
“Wah, beneran langsung diterima?” tanya pria tersebut.
“Iya, dong.” Reira melipat tangannya.
“Tapi, kan abang ini yang punya cafenya?”
Aku dan Mawar menahan tawa karena hal tersebut. Ternyata tidak hanya aku yang merasakan hal aneh, pria itu pun juga. Bergembira pelamar kerja itu ketika aku mengangguk menyetujuinya. Lagi pula, aku tidak mementingkan pengalaman kerja untuk para pelamar, melainkan kemamuan untuk belajar. Seperti diriku yang awalnya tidak tahu apa-apa, lambat laun menjadi bisa berkat melihat serta mempelajari bagaimana Mawar dan Reira meracik kopi serta memasak makanan. Ya, semua itu karena kegigihan. Tanpa kegigihan, hidup pun tak akan pernah seperti yang dikatakan oleh Reira, teruslah bergerak.
Untuk sementara, aku serahkan urusan dapur dan meja barista ini kepada mereka berdua. Kini, aku ingin berbincang-bincang bersama pelamar kerja. Duduklah kami di di salah satu meja, tepatnya pada bagian tanpa kanopi. Aku memilihnya agar suasana yang didapat semakin tanpa formalitas dan batasan. Namun, ia masih terlihat canggung ketika di hadapanku. Psikologis normal seseorang jika pertama kali bertemu dengan orang baru.
Entahlah, kawan. Tidak ada dalam hidupku ingin untuk disegani. Baru di titik ini aku merasa di atas orang lain, tetapi aku tidak ingin berada di perasaan itu. Aku sadar bahwasanya aku pernah kecil dan sedang berusaha untuk menjadi besar, tanpa merasa besar di antara orang lain. Jika Tuhan berbdeda dari makhluknya, lantas kita tidak perlu berada di titik merasa tinggi.
“Sudahlah, jangan kaku begitu.” Aku mengeluarkan sebungkus rokok untuk dihisap bersamas-sama.
Tidak lama kemudian, Mawar tiba memberikanku dua gelas espresso yang aku minta agar di antar ke sini. Hatiku tertawa ketika pria di hadapanku memerhatikannya sedikit lebih lama. Jangankan dirinya, Candra saja suka begitu. Memang aku akui jika Mawar sangat menarik.
“Sorry, Bang. Gue enggak ngerokok.”
Kedua alisku berdiri mendengarnya. “Oh, begitu. Nah, gue ngehormatin orang yang enggak ngerokok dengan cara membayar pajak lewat cukai, bukan ngelarang ngerokok di depan non-perokok. Hahaha ....”
“Hahaha ... iya, Bang. Gue paham, kok. Soalnya satu kosan ngerokok semua.” Ia sejenak mengulurkan tangannya padaku. “Oh, iya ... nama gue Zulqarnain. Panggil aja Ijul. Anak kosan kadang manggil Panjul.”
Aku menyambut tangannya yang menjulur untuk bersalaman. “Salam kenalan. Gue David. Owner cafe ini. Btw, asli mana?”
“Gue sebenarnya orang Sumatera, cuma kuliah di sini. Gue anak Pendidikan Agama Islam semester 2. Kampus kita sama, kok.”
“Oh, anak FKIP?” tanyaku. Aku mengingat beberapa nama teman SMA yang berkuliah di sana. “Gue juga punya beberapa temen di sana. Kalau gue anak Psikologi, sama kaya Mawar yang ngantarin kopi tadi. Kebetulan gue sama dia satu angkatan. Dan kalau cewek gila yang tadi itu anak Managemen. Kebetulan jadi pacar gue.."
“Wah, itu beneran Reira pacarnya Abang?” tanya Ijul.
Aku terheran ketika ia menyebutkan nama Reira dengan tegas. Pertanda bahwanya Ijul mengenali wanita itu.
“Lo kenal sama Reira?” tanyaku alik.
Ia mengangguk. “Anak Mapala mana yang enggak kenal sama dia, Bang? Hahahah ....”
Aku menghela napas panjang. Pantas saja Reira berani langsung menyambar salaman lamaran tadi. Aku kira Reira sedang di dalam mode gilanya dalam bertindak.
“Oh, pantes. Berarti lo kenal sama Bang Ali dong, ya?”
“Kami satu asal sebenarnya, beda desa aja. Tapi, Bang Ali lumayan dikenal sama mahasiswa asal sana. Soalnya kan ada paguyuban mahasiswanya.”
Ia menyeruput kopinya. “Gue siap bekerja kapan, pun. Gue ada pengalaman kerja di rumah makan Minang jadi pemasak lauk. Jadi, urusan masak kasih aja ke gue, Bang. Kalau urusan kopi, gue siap belajar.”
“Oke, seminggu ini lo training dulu. Nanti diajarin sama Mawar dan Reira soal resep makanan atau kopi. Kalau soal teknik memasak, mungkin lo udah pandailah dari pengalaman kerja sebelumnya.”
Beliau tersenyum senang. Terdapat secercah harapan yang timbul dari balik wajahnya yang riang. Tangannya mengepal bahagia karena mendapatkan pekerjaan baru. Aku paham sekali bagaimana seorang mahasiswa yang senang karena mendapatkan uang tambahan. Jangankan pekerjaan pasti seperti ini, aku yang mendapatkan honor penulis lepas di media cetak saja sudah bahagia sekali, padahal tidak setiap bulan tulisanku lolos oleh para editor media tersebut.
Dapatlah aku satu orang yang bisa dipercaya untuk membantu kami dalam melola cafe. Sebenarnya aku bisa mendapatkan tenaga tamabahan gratisan, yaitu Reira. Tetapi, anak itu tidak setiap malam hadir di sini karena harus mengelola cafe mamanya yang ditinggal semenjak jatuh sakit ibundanya tersebut.
Tutuplah kami di dini hari. Ijul belajar dengan cepat bersama Mawar untuk resep-resep makanan. Tentu saja kami memiliki resep tambahan rahasia agar rasanya berbeda dengan yang lain. Reira tak tinggal untuk menggoda Ijul karena sedang berdekatan dengan Mawar. Entahlah anak itu, siapa saja dia ganggu asal dirinya senang. Keakraban pun terjadi hingga perujung kisah malam ini. Anak baru itu cepat beradaptasi, ditambah dengan dirinya yang sudah kenal terlebih dahulu dengan Reira. Aku berani bertaruh bahwasanya Bang Ali yang menawari pekerjaan ini kepada anggotanya, khususnya Zulqarnain si calon guru agama.
Senja hari esok penuh dengan kegelapan hati yang dirundung olehku semenjak hari kemarin. Tepat pagi hari tadi, aku mengirimkan sebuah pesan singkat kepada orang yang telah meluaskan lembah hati hingga aku kacau seketika. Tanpa diduga, tepat di pukul dua siang, dengan tidak percaya aku melihat balasan pesan singkat itu. Bapak Bernardo bersedia bertemu denganku di sore hari ini.
Seperti yang dikatakan oleh Kakek Syarif, bahwasanya badai haruslah dihantam meskipun nyawalah taruhannya. Kini, aku benar-benar mempertaruhkan hargad diri di ujung kemenangan yang belum pasti. Aku yang rendahan ini berdiri di depan gerbang mewah kediaman Pak Bernardo. Kecil hatiku ketika menyadari orang yang sedang aku hadapai merupakan bukan orang yang sembarangan. Bayangkan saja, seorang anggota DPR biasanya bertemu dengan masyarakat sepertiku ketika ingin mencalonkan diri kembalil. Namun, kini kami sedang dalam hubungan yang jauh lebih serius, masalah hati yang sangat sulit untuk dipecahi.
Gerbang dibuka oleh seorang security berwajah masam. Bagaimaan tidak masam, aku hanya berpakaian biasa dan berkendaraan vespa butut yang bisa mati kapan saja di jalanan. Ia menuntunku untuk duduk di sebuah meja, tepat di depan teras rumah yang lebarnya hampir satu bengkel Dika. Besar sekali rumah ini, seperti mall saja aku lihat. Pantas saja oran-orang seperti Reira dan Kak Reina tidak akan betah di rumah yang seperti ini. Berjalan ke dapurnya saja mungkin lelah, atau aku saja yang kampungan.
Pak Bernardo keluar dengan baju rapi berkemeja dan bersepatu pantofel. Ia melihat jam tangannya, pertanda ia sangat memerhatikan detail waktu dalam melakukan sesuatu. Tentu saja orang seperti Pak Bernardo sangat sibuk dan aku senang ia bersedia meluangkan waktu untuk ini. Ia duduk di hadapanku, sementara itu aku yang mati kutu.
“Sudah dipikirkan uang yang kau minta?” Pertanyaan sangat menusuk.
“Aku tak butuh uang, Pak. Kehidupan kami sudah cukup dengan kesederhanaan. Tapi, aku benar-benar mencintai Reira.”
“Kau kira cinta saja bisa membangun hidup?” tanya Pak Bernardo dengan sinis.
Aku terdiam oleh pertanyaan itu.
“Kenapa bapak enggak setuju dengan hubungan kami?”
Pak Bernardo memajukan wajahnya. “Kau punya apa?”
Ingin aku hantamkan tangan ini segera ke wajah sombongnya itu.
***
nah hari ini update lagi. Baru bisa nulis malam ini, itu pun di tempat badminton sambil nungguin giliran main sama temen. jadi tadi malam kan rencana mau nulis, tapi malah ditarik paksa sama temen buat diskusi santuy.
Jujur, Author memang suka diskusi sama temen-temen. terkadang kata-kata di sini berasal dari diskusi bersama teman-teman yang suka ngebicarain apa pun secara radikal. Apa pun dibiacarin, gosiplah, blackpink lah, filsafat, agama, politik, sampai pacarnya temen. pokoknya asyik dah.
author main dulu ....